<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sepercik</title>
	<atom:link href="http://sepercik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepercik.wordpress.com</link>
	<description>Cerita Pendek Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Nov 2011 13:15:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sepercik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sepercik</title>
		<link>http://sepercik.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sepercik.wordpress.com/osd.xml" title="Sepercik" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sepercik.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Di Kebun Binatang</title>
		<link>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/15/di-kebun-binatang/</link>
		<comments>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/15/di-kebun-binatang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 17:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~*~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sutardji Calzoum Bachri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepercik.wordpress.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Di Kebun Binatang Penulis: Sutardji Calzoum Bachri Diterbitkan: Harian Mahasiswa Indonesia Edisi Djabar, Minggu, 19 Januai 1969. Dimuat dalam buku Sutardji Calzoum Bachri, Hujan Menulis Ayam. Penerbit: Indonesia Tera, Magelang, 2001 *** Pada pagi-pagi Minggu orang banyak datang ke kebun binatang, pada sore-sorenya kebun binatang belum juga lengang. Pada pagi-pagi Minggu orang datang ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=366&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: <strong>Di Kebun Binatang</strong><br />
Penulis: <strong>Sutardji Calzoum Bachri</strong><br />
Diterbitkan: Harian <em>Mahasiswa Indonesia Edisi Djabar</em>, Minggu, 19 Januai 1969. Dimuat dalam buku Sutardji Calzoum Bachri, <a title="Hujan Menulis Ayam" href="http://sepercik.wordpress.com/sutardji-calzoum-bachri-hujan-menulis-ayam/" target="_self"><em>Hujan Menulis Ayam</em></a>. Penerbit: <em>Indonesia Tera</em>, Magelang, 2001</p>
<p>***</p>
<p>Pada pagi-pagi Minggu orang banyak datang ke kebun binatang, pada sore-sorenya kebun binatang belum juga lengang. Pada pagi-pagi Minggu orang datang ke sana untuk membuang Minggu sambil melihat binatang, dan orang yang pagi-paginya datang, pada tengah siang sudah pulang. Tapi, kebun binatang tidak pernah lengang pada hari Minggu karena selalu ada yang datang pada tengah-tengah siang, dan pada sore menjelang datang selalu masih juga ada yang datang. Mereka yang datang pada sore menjelang datang biasanya datang bukan untuk melihat binatang. Mereka biasanya datang berpasangan lelaki perempuan umur belasan, membeli karcis pada loket dan masuk terus ke belakang kebun binatang. Yang perempuyn biasanya melemparkan genggaman kacang dan senyumnya pada binatang. Mereka biasanya ingin cepat-cepat sampai ke bagian belakang kebun binatang.</p>
<p>Pada bagian belakang kebun binatang, puncak-puncak pohon pinus mengkisar-kisar daun-daunnya pada langit senja, dan pohon perdu membuat semak-semak yang kelam dan nyaman dengan senja dan angin yang datang. Kau dapat melihat pasangan itu menyandarkan bahunya pada batang pinus atau hilang dalam semak-semak yang kelam.</p>
<p>Tidak ada binatang yang ditempatkan pada bagian belakang kebun binatang, karena bagian belakang kebun binatang dijadikan taman. Kebun binatang itu luas dan bagian belakang kebun binatang itu juga luas dan tenang, tapi jerit dan keluh-keluh binatang selalu dapat kedengaran pada bagian belakang kebun binatang, dan angin selalu membawakan juga bau binatang, dan mereka yang berpasangan menjadi terangsang karenanya dan ingin bersatu dengan alam dan binatang.</p>
<p>Herman dan Lisa salah sati dari pasangan itu, duduk-duduk di samping sebatang pinus. Herman merasa penat karena dari tadi mengiyakan kata-kata Lisa dan rahangnya lelah karena banyak mengunyah kacang. Tiga anak kecil main gelut-gelutan berlari-lari dan berputar-putar di sekitar mereka dan di sela-sela pohon pinus. Ketiga anak kecil itu nampaknya dari keluarga yang dapat menikmati Minggu. Mereka bersepatu dan berpakaian baik. Tapi, mereka sudah menjadi kumal karena main gelutan. Ketiga akan kecil itu sama besarnya. Tapi, selalu saja yang berbaju belang-belang dapat mengalahkan kedua lawannya. Herman menunjuk pada anak yang berbaju belang.</p>
<p>“Nanti, anak kita macam begitu kuatnya,” kata Herman.</p>
<p>“Sejak bila aku mau kawain dengan kau? Cinta saja aku tidak,” kata Lisa. Lisa merasa terganggu karena dari tadi selalu saja diiyakan Herman.</p>
<p>Lisa memakai sweater kuning, dua tumpuk cahaya mentari senja pada bagian atas buah dadanya. Gadis itu cantik. Rambutnya lunak meluncur pada tengkuknya dan melingkar-lingkar jatuh di bahunya. Rambut itu bagus hitamnya, tapi mentari senja menggelut cahaya senja pada rambutnya dan memantulkan cahaya pirang. Dia memakai rok bunga-bunga yang menjuntai jatuh di atas lututnya. Lisa baru tiga kali dibawa Herman.</p>
<p>“O, pastilah kamu mau kawin,” kata Herman.</p>
<p>“Tidak, aku tak mau.”</p>
<p>“Ah, kau mau.”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Masa?”</p>
<p>“Kaupikir aku cinta sama kau karena aku mau jalan-jalan sama kau?!”</p>
<p>“Baiklah, tak apa-apa. Aku tak pikir. Kau pasti kawin samaku.”</p>
<p>“Kau gila. Orang tak cinta!” Lisa marah dan mencoba menahan keras suaranya.</p>
<p>“Aku yang cinta.”</p>
<p>“Gila, aku tak mau.”</p>
<p>“Aku yang mau.”</p>
<p>“Gila.”</p>
<p>“Ya, gila sama kamu.”</p>
<p>“Tak malu!”</p>
<p>“Gila sama kau buat apa malu?”</p>
<p>“Orang tak cinta, malulah!”</p>
<p>Ketiga anak-anak itu berlari-larian di sekitar mereka, berkejar tangkap-menangkap. Kemudian dua di antara mereka bersatu mengeroyok yang selalu menang, dan yang selalu menang, menang lagi sekarang, mencium-ciumkan kepala kedua bocah itu pada rumput dengan tawa dan geram.</p>
<p>“Pastilah macam gitu kuatnya anak kita,” kata Herman, tersenyum pada Lisa dan anak yang menang. Anak itu tidak memperhatikan mereka, dan Lisa bilang,</p>
<p>“Enak saja memastikan.”</p>
<p>“Ya, pasti kau kawin samaku,” kata Herman, hampir ketawa.</p>
<p>“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”</p>
<p>“Kau mau.”</p>
<p>“Gila. Aku tak mau.”</p>
<p>“Pasti kau mau.”</p>
<p>“Tidak. Demi Tuhan.”</p>
<p>“Baiklah, nanti-nanti kupaksa saja kau.”</p>
<p>“Tidak, kau takkan berani,” Lisa mengejeknya.</p>
<p>“Berani saja. Apa payahnya.”</p>
<p>“Tak ada kesempatanmu. Aku takkan mau jalan-jalan lagi sama kau. Kalau kau berani coba-coba, bapakku akan menembakmu.”</p>
<p>“Yang penting kau dulu kurayu,” Herman tersenyum.</p>
<p>“Monyet saja mau merayu segala. Cermin-cerminlah selalu!”</p>
<p>Herman selalu bercermin merawat kumisnya yang tipis. Lehernya tegap dan hahunya tegap dan sedap kelihatan. Herman tinggi dan kukuh dan matanya macam mata bocah, jernih hitam dan mukanya tampan, dan tak ada monyetnya.</p>
<p>“Baiklah, aku monyet. Nanti aku kerjakan kau. Mau tak mau kau kawin juga sama aku.”</p>
<p>“O, sopan-sopanlah, Herman,” Lisa mau menangis dan mencari-cari saputangannya, dan Herman  hampir ketawa karena dia tahu Lisa tidak membawa saputangannya, dan Herman memberikan saputangannya pada Lisa.</p>
<p>“O, Herm baik-baiklah,” Lisa menyeka matanya dengan sapu tangan Herman. Matanya belum basah, tapi Lisa mengusapnya lama-lama.</p>
<p>“Baiklah, aku baik-baik. Tapi pasti kau mau kawin sama aku?” Herman tersenyum.</p>
<p>“Tak mau.”</p>
<p>“Ah, kamu mau.”</p>
<p>“Tak mau. Binatang!” Lisa sangat gusar dan marah.</p>
<p>“Aku kerjakan kau nanti.”</p>
<p>“Diamlah, Herman. Aku menjerit.”</p>
<p>“Menjeritlah. Menjeritlah seperti binatang!”</p>
<p>Keluh dan jerit binatang masih saja kedengaran.</p>
<p>“Tidak. Aku tidak mau. Aku bukan siamang.”</p>
<p>Herman tersenyum mengalihkan duduknya dekat Lisa. Lisa menjauhkan duduknya dari Herman. Herman  terus tersenyum memandang lutut Lisa. Lutut itu terbuka sampai setengah paha. Dan apa yang terbuka dari Lisa bagai gading kuningnya, cuma lebih empuk dan lebih sedap kelihatan. Lisa menarik ujung roknya jauh-kauh ke bawah lututnya. Tapi rok itu memang dibuat sampai jauh di atas lututnya. Lisa jadi sangat gusar dan cuma dapat menjulurkan kakinya agar roknya sedapat-dapatnya menutup pahanya.</p>
<p>Seorang tua dengan seekor anjing lewat depan mereka sambil memberikan senyum pada Lisa dan Herman. Tali anjing itu tidak seberapa panjang, orang tua itu tertarik-tarik selangkah ke sana selangkah ke sini sebentar-sebentar. Orang tua itu tuanya tegap dan tua orang tua itu tak ada susahnya kelihatan. Barangkali orang tua itu hidup dari hasil simpanan uangnya. Barangkali dari pensiunan perusahaan. Barangkali anaknya jadi kaya dan senang. Dia memakai kemeja putih dari kain yang mahal. Celananya wol, sepatunya bersih, dan jam tangannya berkilat dan mahal. Anjing orang tua itu kecil dan baik dipelihara. Tarikan anjing itu tak ada kuatnya tapi orang tua itu sengaja senang mengikuti tarikannya.</p>
<p>Ketiga bocah itu sekarang sudah sangat capek, duduk saja sambil memandang lembah di depan mereka. Lembah itu di samping pagar belakang kebun binatang. Petak-petak sawah yang belum ditanami menempel dan bertingkat-tingkat pada dinding lembah. Bila senja datang, lembah itu cepat menjadi kelam karena cahaya mentari senja tak dapat mengalir ke bawah. Bila lembah itu belum kelam orang banyak di pematang mandi di pancuran air gunung di samping petak-petak sawah. Mereka mandi pakai basahan tapi lebih banyak yang telanjang.</p>
<p>Bila di kebun binatang, melihat orang telanjang tidaklah menjadi soal, karena binatang di kebun binatang mengingatkan kau selalu pada alam dan alam selalu biasanya dengan yang telanjang.</p>
<p>Orang tua itu telah jauh ditarik anjingnya menuju arah ke luar dari kebun binatang. Bocah yang selalu menang bilang, “Masa bawa binatang ke kebun binantang.”</p>
<p>“Tengoklah cerdiknya anak kita,” kata Herman.</p>
<p>“Aku mau pulang,” kata Lisa.</p>
<p>Lisa cepat-cepat meninggalkan kebun binatang dan Herman mengikuti saja di sampingnya.</p>
<p>Senja sedang menuju kelam dan kebun binatang sebentar lagi akan ditutup. Tapi, masih ada beberapa pasangan lelaki perempuan berlambat-lambat dan bergurau-gurau di sekitar kandang binatang sebelum menuju pulang. Seseorang gadis belasan dari salah satu pasangan itu lagi sedap-sedapnya mengganggu temannya, “Gil, kau persis unta ini,” katanya sambil ketawa sedap-sedapnya. Lelaki yang dipanggil Gil itu tinggi, kurus, dan bahunya agak naik. Dan dia pun mengetawakan dirinya juga karena gurauan temannya. Herman memberikan senyum pada mereka, tapi Lisa tak mengacuhkan mereka dan terus bergegas-gegas menuju pintu keluar kebun binatang. Gadis tadi mengulangi lagi gurauannya, “Kau persis unta Gil, cuma bedanya kau berpakaian,” dengan sesedapnya. Lelaki yang dipanggil Gil itu bilang, “Tidak. Kau mau melihat aku tidak berpakaian?” Gadis itu diam.</p>
<p>Di luar kebun binatang langit sangat luas dan lapang karena tak ada pohon-pohon yang menghalang pemandangan. Langit berwarna-warna, kemerah-merahan, jingga, kelabu, dan biru. Jauh di depan ada sebaris pepohonan, memanjang kelabu dan kelam dan menjadi dinding tipis pada kaki langit. Beberapa burung yang terlambat pulang mengepak-ngepak sayapnya di langit, letih dan perlahan-lahan, tinggi terbangnya dan hampir menjadi satu dengan tiap warna langit yang dilewatinya. Padang rumput yang luas di kiri-kanan jalan menjadi kelabu dan kelam pada garis di ujung sana pada bagian yang jauh dari kau berjalan, tapi pada bagian yang dekat dengan kau berjalan masih jelas hijaunya. Segalanya megah dan tenang: langit dengan warna-warna, tumpukan pohon yang tipis memanjang di depan, rerumputan yang luas di kiri-kanan jalan, kelepak burung yang letih dan yakin menuju pulang. Dan Herman di sampingnya dengan muka samping yang menonjol keras dan tenang juga bagian dari kemegahan. Lisa memikir-mikir mengapa dia menyenangi kemegahan di sekitarnya. Tapi, pikirannya tak dapat berjalan karena rasa harunya telah menariknya dalam kelapangan yang luas dan tenang dari sekitarnya. Dia seluruhnya merenggutnya sekarang dan dia membiarkan saja dengan rela dan senang. Dan dia melangkah pelan-pelan sekarang.</p>
<p>“Herman.”</p>
<p>“Hm?”</p>
<p>“Rasa-rasanya aku mau saja.”</p>
<p>“Hm?”</p>
<p>“Aku mau saja apa yang kaulakukan padaku.”</p>
<p>“Ah kau ini. Itu kan hanya di kebun binatang.”</p>
<p>Lisa kemerah-merahan pipinya karena malu, menunduk dan memalingkan mukanya dari Herman. Tapi, Herman memegang bahunya mengajak Lisa memandang langit senja dan kelepak burung yang pulang. (***)</p>
<p><a href="http://sepercik.wordpress.com/sutardji-calzoum-bachri-hujan-menulis-ayam/"><img style="margin:7px;" title="(Cover) Sutardji Calzoum Bachri - Hujan Menulis Ayam" src="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-sutardji-calzoum-bachri-hujan-menulis-ayam.jpg?w=140&#038;h=210" alt="" width="140" height="210" /></a></p>
<br />Posted in Sutardji Calzoum Bachri  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sepercik.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sepercik.wordpress.com/366/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=366&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/15/di-kebun-binatang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">~*~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-sutardji-calzoum-bachri-hujan-menulis-ayam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(Cover) Sutardji Calzoum Bachri - Hujan Menulis Ayam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembisik</title>
		<link>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/08/pembisik/</link>
		<comments>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/08/pembisik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 17:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~*~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisran Hadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepercik.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Pembisik Penulis: Wisran Hadi Diterbitkan: Harian Republika, 20 Februari 2000. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002 *** Keterlibatanku dalam dunia sandiwara dimulai dan berakhir sebagai pembisik. Membisiki dialog para aktor yang sedang bermain di panggung, sekiranya mereka lupa naskah agar sandiwara itu berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=199&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: <strong>Pembisik</strong><br />
Penulis: <strong>Wisran Hadi</strong><br />
Diterbitkan: Harian <em>Republika</em>, 20 Februari 2000. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) <a title="Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/" target="_self"><em>Pembisik</em></a>. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002</p>
<p>***</p>
<p>Keterlibatanku dalam dunia sandiwara dimulai dan berakhir sebagai pembisik. Membisiki dialog para aktor yang sedang bermain di panggung, sekiranya mereka lupa naskah agar sandiwara itu berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh sutradara. Sebab, banyak sekali aktor yang tidak setia pada naskah. Bukan karena mereka menolak dominasi sutradara, tetapi banyak di antara mereka yang lemah ingatan, tidak dapat menghafal dialog yang ada pada naskah dengan baik. Tetapi ada juga yang karena terlalu kreatif, mereka menciptakan dialog sendiri saat mereka lupa pada dialog sesungguhnya.</p>
<p>Sebagai pembisik aku selalu duduk di pojok, di wing pentas, di belakang layar. Dengan sebuah senter kecil aku ikuti semua dialog para pemain yang ada dalam naskah. Bila mereka lupa naskah, biasanya mereka pura-pura berjalan ke samping pentas, ke dekatku. Lalu aku membisikinya. Setelah itu mereka kembali berlakon sesuai dengan kata atau kalimat yang kubisikkan.</p>
<p>Menjadi pembisik memang tidak pernah terkenal. Yang selalu disanjung penonton adalah pemain yang tampak dan berakting di panggung. Tapi aku menyadari juga, memang tidak semua orang harus terkenal. Alasan begitu sebenarnya hanya untuk menentramkan hatiku sendiri, karena aku tidak mampu berakting seperti yang lain. Aku hanya mampu sebagai pembisik. Apalagi ketika aku dipuji-puji sutradara, bahwa aku adalah penyimak teks yang sangat teliti. Kenyataannya memang, kalau tidak ada pembisik para pemain atau sutradara akan selalu dikurung kecemasan. Mereka takut kalau-kalau pertunjukan tidak lancar. Betapa konyol sebuah pertunjukan, bila para pemain lupa naskah. Lalu, apa yang akan diucapkannya?</p>
<p>Sebelum pertunjukan, biasanya aku ditraktir sutradara minum kopi dan dipuji-puji tapi selesai pertunjukan, jangankan ditraktir menyalami aku pun mereka sering lupa. Dan segi itu memang malang menjadi seorang pembisik. Tapi dan segi lain, aku justru yang paling banyak mendapat rezeki. Aku dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pemain-pemain wanita, biasanya pemain-pemain pembantu dan cantik-cantik, yang sedang menunggu giliran muncul biasanya mereka berdiri di samping pentas sambil memperhatikan permainan yang sedang herlangsung. Mereka tidak peduli berdiri berdempet-dempet. Aku sering kebagian dempetan itu. Bahkan lebih rapat lagi. Apalagi kalau sayap panggung pertunjukan itu sempit sekali. Siapa pun tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya kalau seorang pembisik seperti aku berdiri berdempetan dengan gadis-gadis pemain begitu rapat dan begitu lama. Apalagi hari malam dan gelap gulita pula. Aku sering ganti celana bila sampai pondokan setelah pertunjukan.</p>
<p>Yang menjengkelkan sebagai pembisik bila membisiki pemain yang tidak setia pada naskah. Sewaktu latihan dia begitu setianya pada naskah. Tapi dalam pertunjukan dia bicara semaunya. Mereka memperlihatkan kehebatannya di luar kontrol sutradara. Sebab mereka menyadari, tidak mungkin sutradara akan menstop seorang pemain bicara dalam sebuah pertunjukan yang sedang berlangsung. Bila sudah demikian, aku tidak dapat lagi menyimak naskah dan mengikuti apa yang dikatakannya. Aku jengkel dengan pemain-pemain seperti itu. Dengan alasan kreativitas, mereka mengubah naskah semaunya. Tapi kalau sudah kehabisan kata, mereka mendekatiku minta dibisiki.</p>
<p>Dalam keadaan terdesak seperti itu, aku sengaja mempergunakannya dengan baik melepas sakit hatiku pada mereka. Ketikan Leon berperan sebagai Nimrod, seorang penguasa dunia yang berlagak ingin menandingi Tuhan, dia bicara sesuka hatinya. Aku bingung. Namun ketika dia lupa teks dan seharusnya mengucapkan: “Hai, spada! Di manakah Tuhan?” dia mendekatiku minta dibisiki. Inilah kesempatan bagiku. Kubisiki, “Hai, Tuhan. Bukankah kau setan?” Leon tak sempat lagi berpikir karena dia sudah gugup karena lupa naskah. Kata itu diucapkannya dengan lantang. Penontot kaget dan gelisah. Bahkan ada yang berteriak memprotes, menyamakan Tuhan dengan setan. Cerita jadi berubah karena pemain lain juga bingung mendapat protes tiba-tiba dari penonton.</p>
<p>Ketika pertunjukan selesai, aku dimaki sutradara. Dikatakannya aku telah menjerumuskannya. Aku dituduk sebagai pemutar balik cerita dan musuh kesenian. “Dalam ketentaraan kau disebut desersi. Hukumannya hanya satu, termbak mati!” kata sutradara. “Penonton kita sekarang bukan orang bodoh lagi. Mereka tahu kata-kata yang masuk akal dan yang tidak,” lanjut sutradara itu lagi.</p>
<p>Sebaliknya Leon dan para pemain lainnya memuji-mujiku. “Kau hebat!” kata Leon dengan bangga. “Bisikan yang salah itu telah membuat aku menemukan permintaanku yang sesungguhnya,” lanjutnya lagi.</p>
<p>“Memang aku tidak berniat sama sekali menjerumuskan siapa pun,” kataku pelan. Dalam hati aku berkata sendiri; “Mampuslah kau! Kau selalu tidak mengacuhkanku. Menghinaku. Kini rasakan, aku robah kalimat-kalimatmu. Aku plesetkan dialogmu.”</p>
<p>Ketika akan mementaskan drama Tuanku Imam Bonjol, aku dibujuk lagi untuk jadi pembisik oleh sutradara. Celakanya, aku juga suka dibujuk seperti itu. Mulanya aku pura-pura menolak, tapi sutradara mengatakan kepadaku bahwa aku harus jadi pembisik.</p>
<p>“Kalau sempat posisi itu diambil orang lain, aku tidak tahu apa yang akan mereka bisikkan pada pemain-pemain kita. Mungkin pertunjukan bisa kacau.”</p>
<p>“Tapi aku tidak dipercaya lagi sebagai pembisik.”</p>
<p>“Siapa bilang? Ah kau! Kau jangan ikut-ikutan sentimentil seperti aktor-aktor yang banyak itu. Kau pembisik, kawan! Hanya kau yang akan dapat menentukan apa yang akan dikatakan seorang aktor. E, Bung! Semakin hebat scorang aktor, semakin dia tergantung pada pembisik. Ingat kawan, tidak semua orang yang mampu jadi pembisik. Secara filosofis, pembisik itu penyampai suara Tuhan! Ah, kau.”</p>
<p>Empat hari lamanya sutradara itu meyakinkanku betapa pentingnya seorang pembisik terutama dalam pertunjukan yang akan datang. Sebuah pertunjukan kolosal, melibatkan banyak pemain dan figuran. Pertunjukan akan berdarah-darah. Kisah tentang Perang Paderi. Perang saudara, perang antarsuku dan antaragama. Perang antara pribumi penganut Islam dengan penjajah yang beragama Kristen.</p>
<p>“Kau kan tahu, bagaimana kesulitan Tuanku Imam ketika dia harus memilih kata apakah perang Paderi itu sebuah perang saudara atau perang antaragama? Kau bisa bayangkan kawan, bila Leo, aktor kita yang memerankan Tuanku Imam itu tidak dibisiki. Dia terlalu kreatif. Dia suka bicara semaunya. Sementara naskah menuntut agar dia tetap setia pada teks. Kesalahan membaca teks sama dengan kesalahan mengungkapkan data. Jika dia tidak dibisiki, perang Paderi itu pasti akan berubah bentuk menjadi perang kemerdekaan. Padahal waktu itu belum ada niat sama sekali untuk merdeka secara sendiri-sendiri.”</p>
<p>Memang harus diakui, Leon yang akan memerankan Tuanku Imam Bonjol itu seorang pemain yang berbakat tapi suka uring-uringan. Kalau soal akting, wibawa, ya bolehlah. Tapi kebiasaanya memplesetkan teks, lupa, tidak suka dengan kalimat yang ada dalam naskah lalu digantinya dengan kalimatnya sendiri, sering membuat latihan jadi kacau. Di dalam naskah jelas-jelas tertulis; “Kita harus mencari penyelesaian terhadap perselisihan paham antara masyarakat Lubuk Sikaping dengan masyarakat Agam yang sudah hampir satu setengah tahun berjalan dan memakan korban banyak sekali,” tapi Leon mempersingkatnya dengan nada suatu yang penuh irama dan wibawa; “Urusan orang Lubuk Sikaping dan orang Agam harus diselesaikan oleh mereka sendiri.”</p>
<p>Gila! Sutradara mana pun pasti akan marah. Tapi sutradara yang sedang menangani persiapan pementasan itu hanya diam saja. Dia takut, kalau-kalau Leon yang uring-uringan itu menarik diri sementara jadwal pertunjukan ke Jakarta sudah semakin dekat.</p>
<p>“Coba bayangkan Bung. Sekiranya hal seperti itu dilakukannya sewaktu pertunjukan berlangsung,” kata sutradara menarik napas panjang setelah selesai latihan yang kacau itu padaku.</p>
<p>“Tapi apakah ada jaminan kalau aku akan membisiki secara jujur dan sesuai dengan teks naskah?”</p>
<p>“Aku percaya padamu. Itulah sebabnya kau kupercaya sebagai pembisik. Tugasmu hanya satu. Membisiki Tuanku Imam. Yang lain tak perlu dibisiki karena mereka harus mengikuti apa yang dimainkan Tuanku Imam.”</p>
<p>Pertunjukan pun berlangsung. Aku sudah siap menjadi pembisik. Aku tidak akan mau seperti membisiki Leon seperti dulu lagi. Aku sudah berjanji untuk jujur sebagai pembisik. Dengan senter kecil bersinar merah, aku duduk di balik layar merah yang membatasi korsi singgasana Tuanku Imam dengan benteng Bonjol yang terkenal ampuh dan tangguh itu.</p>
<p>Huru-hara terjadi. Tembakan-tembakan bertubi-tubi, siang dan malam. Teriakan-teriakan, gemerincing suara pedang beradu, tombak melayang-layang melintasi panggung sejarah, jerit dan rintihan bertahan para suhada yang dibantai tentara penjajah, pidato-pidato berapi-api dan berbagai tokoh, pengkhianat dan provokator. Asap mengepul membumbung tinggi. Berpuluh masjid, surau dan sekolah-sekolah agama dibakar. Ribuan jenazah tergeletak. Ketika jenazah-jenazah itu diusung ke luar untuk dimakamkan, semua orang menangis.</p>
<p>Leon yang memerankan Tuanku Imam benar-benar aktor sialan! Dia juga ikut terharu dengan adegan itu. Semestinya dia harus berdiri di atas benteng Bonjol menyaksikan dengan tegar dan semangat membara atas tragedi yang telah menimpa rakyatnya, memberi komando jihad dan menghancurkan musuh. Dia harus memperlihatkan sosok sebagai pahlawan Indonesia sejati. Tanpa mengenal air mata dan sentuhan hati! Tapi Leon, Leon. Dia ikut menangis ketika semua penontot tersedu menyaksikan pembantaian dan pembunuhan para pejuang oleh penjajah tanpa mengenal belas kasihan. Kemudian Leon maju ke depan prosenium dan berbisik dengan suara serak; “Jangan sedih. Yang terbunuh hanya lima orang.”</p>
<p>Gerr! Gedung pertunjukan meledak oleh tawa penonton yang tiba-tiba. Leon gugup kenapa tiba-tiba penonton tertawa, padahal bagian itu adalah bagian yang memilukan.</p>
<p>Selesai pertunjukan aku kembali dimaki sutradara. “Kau telah menghancurkan data sejarah! Did alam naskah yang terbunuh itu tiga ribu orang! Tiga ribu! Kau bisikkan pada Leon hanya lima orang! Gila! Kau musuh sejarah, musuh kesenian,” katanya dengan suara melengking.</p>
<p>Aku sakit hati dengan tuduhan itu. Padahal aku tidak membisiki apa-apa padanya. Sejak Leon berperan menjadi Tuanku Imam, dia tidak peduli denganku. Dia maju ke prosenium, artinya dia tidak lupa naskah. Kalau lupa, pasti dida mendekatku, ke pinggir pentas. Aku harus membalas makian sutradara itu pada sang Tuanku Imam.</p>
<p>“E, Bung! Akuk kan tidak pernah membisikimu berapa orang yang terbunuh. Kenapa kau ucapkan yang terbunuh hanya lima orang. Padahal yang mati tiga ribu! Sutradara memaki aku karena kesalahanmu. Aku tidak suka memikul dosa orang lain, bung! Kau harus klarifikasikan persoalan ini dengan sutradara!”</p>
<p>“Yang diusung ke luar pentas waktu pertunjukan tadi benar lima orang kan?”</p>
<p>“lya! Tapi kenyataan yang sesungguhnya tiga ribu! Yang lima itu hanya simbol! Masa kau tidak tahu simbol?”</p>
<p>“Tunggu. Apa iya aku bilang lima orang?”</p>
<p>“Jadi, kau tidak sadar waktu mengucapkan bilangan itu?”</p>
<p>Tuanku diam. Ditolakkannya gagang kacamata yang melorot di pipinya ke atas dengan punggung tangannya.</p>
<p>“Tenang saja, Bung,” katanya setelah lama diam. “Apa bedanya bila kusebut lima, sepuluh, seratus, atau berapa saja. Toh angka-angka yang mati itu tidak akan dapat mengubah jumlah sesungguhnya,” lanjutnya.</p>
<p>“Lalu, menurut pemahamanmu, berapa jumlah yang sesungguhnya itu?”</p>
<p>“Menurut teks dalam naskah kan tiga ribu. Ya sebanyak itu.”</p>
<p>“Lalu, kenapa kau ucapkan lima orang!”</p>
<p>“Waktu itu aku lupa, Bung. Lalu aku dibisiki — Jangan sedih. Yang mati hanya lima orang! — Aku harus mengucapkan kata itu, sebab aku sedang dalam terharu berat.”</p>
<p>“Dibisiki? Siapa yang membisikimu? Kan aku satu-satunya yang jadi pembisik.”</p>
<p>“Ah masa,” jawab Tuanku ringan. “Ada pembisik lain, tapi kau tidak tahu.”</p>
<p>“Siapa yang mengangkat pembisik lain? Sutradara?”</p>
<p>“Bukan.”</p>
<p>“Lalu?”</p>
<p>“Aku. Aku kan juga punya banyak pembisik, Bung!”</p>
<p>Aku pulang tanpa menoleh lagi. Sepanjang jalan aku menyumpah-nyumpah. Ternyata pertunjukan yang berdarah-darah itu sudah tidak terkendali lagi. Sutradara menunjukku sebagai pembisik. Ternyata diam-diam Tuanku Imam telah menunjuk beberapa orang pembisik lain tanpa<br />
sepengetahuan sutradara dan tidak memberitahukan pula kepadaku. Ada pembisik lain yang lebih dipercaya Tuanku Imam daripada aku.</p>
<p>Sejak malam itu aku berhenti jadi pembisik, sementara Tuanku Imam terus mengadakan pertunjukan ke mana-mana.</p>
<p>“Selamat jalan sandiwara,” bisikku ketika kulihat Tuanku melambaikan tangan dan balik kaca buram bus yang berangkat membawa mereka ke gedung-gedung pertunjukan lain.</p>
<p>“Kami keliling dunia, Bung!” seru sang Tuanku. (***)</p>
<p><a href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/"><img style="margin:7px;" title="(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" src="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg?w=140&#038;h=210" alt="" width="140" height="210" /></a></p>
<br />Posted in Wisran Hadi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sepercik.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sepercik.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=199&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/08/pembisik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">~*~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mbok Jah</title>
		<link>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/01/mbok-jah/</link>
		<comments>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/01/mbok-jah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 17:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~*~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umar Kayam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepercik.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Mbok Jah Penulis: Umar Kayam Diterbitkan: Harian Republika, 23 Maret 1994. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002 *** Sudah dua tahun, baik pada Lebaran maupun Sekaten, Mbok Jah tidak “turun gunung” keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul, untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya, keluarga Mulyono, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=196&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: <strong>Mbok Jah</strong><br />
Penulis: <strong>Umar Kayam</strong><br />
Diterbitkan: Harian <em>Republika</em>, 23 Maret 1994. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) <a title="Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/" target="_self"><em>Pembisik</em></a>. Penerbit: <em>Republika</em>, Jakarta, 2002</p>
<p>***</p>
<p>Sudah dua tahun, baik pada Lebaran maupun Sekaten, Mbok Jah tidak “turun gunung” keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul, untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya, keluarga Mulyono, di kota. Meski pun sudah berhenti karena usia tua dan capek menjadi pembantu rumah, Mbok Jah tetap memelihara hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga itu. Dua puluh tahun telah dilewatinya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang sederhana dan sedang-sedang saja kondisi ekonominya. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan yang baik dan penuh tepa slira dari seluruh keluarga itu telah memberinya rasa aman, tenang dan tentram.</p>
<p>Buat seorang janda yang sudah selalu tua itu, apalah yang dikehendaki selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagi pula anak tunggalnya yang tinggal di Surabaya dan menurut kabar hidup berkecukupan tidak mau lagi berhubungan dengannya. Tarikan dan pelukan istri dan anak-anaknya rupanya begitu erat melengket hingga mampu melupakan ibunya sama sekali. Tidak apa, hiburnya. Di rumah keluarga Mulyono ini dia merasa mendapat semuanya. Tetapi waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi beban keluarga itu. Dia merasa menjadi buruh tumpangan gratis. Dan harga dirinya memberontak terhadap keadaan itu. Diputuskannya untuk pulang saja ke desanya.</p>
<p>Dia masih memiliki warisan sebuah rumah desa yang meskipun sudah tua dan tidak terpelihara akan dapat dijadikannya tempat tinggal di hari tua. Dan juga tegalan barang sepetak dua petak masih ada juga. Pasti semua itu dapat diaturnya dengan anak jauhnya di desa. Pasti mereka semua dengan senang hati akan menolongnya mempersiapkan semuanya itu. Orang desa semua tulus hatisnya. Tidak seperti kebanyakan orang kota, pikirnya. Sedikit-sedikit duit, putusnya.</p>
<p>Maka dikemukakannya ini kepada majikannya. Majikannya beserta seluruh anggota keluarganya, yang hanya terdiri dari suami istri dan dua orang anak, protes keras dengan keputusan Mbok Jah. Mbok Jah sudah menjadi bagian yang nyata dan hidup sekali dari rumah tangga ini, kata ndoro putri. Dan siapa yang akan mendampingin si Kedono dan si Kedini yang sudah beranjak dewasa, desah ndoro kakung. Wah, sepi lho mbok kalau tidak ada kamu. Lagi, siapa yang dapat bikin sambel trasi yang begitu sedap dan mlekok selain kamu, mbok, tukas Kedini dan Kedono.</p>
<p>Pokoknya keluarga majikan tidak mau ditinggalkan oleh mbok Jah. Tetapi keputusan mbok Jah sudah mantap. Tidak mau menjadi beban sebagai kuda tua yang tidak berdaya. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya diputuskan suatu jalan tengah. Mbok Jah akan “turun gunung” dua kali dalam setahun yaitu pada waktu Sekaten dan waktu Idul Fitri.</p>
<p>Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Mbok Jah menepati janjinya. Waktu Sekaten dan Idul Fitri dia memang datang. Seluruh keluarga Mulyono senang belaka setiap kali dia datang. Bahkan Kedono dan Kedini selalu rela ikut menemaninya duduk menglesot di halaman masjid kraton untuk mendengarkan suara gamelan Sekaten yang hanya berbunyi tang-tung-tang-tung-grombyang itu. Malah lama kelamaan mereka bisa ikut larut dan menikmati suasana Sekaten di masjid itu.</p>
<p>“Kok suaranya aneh ya, mbok. Tidak seperti gamelan kelenangan biasanya.”</p>
<p>“Ya, tidak Gus, Dan Rara. Ini gending keramatnya Kanjeng Nabi Mohamad.”</p>
<p>“Lha, Kanjeng Nabi apa tidak mengantuk mendengarkan ini, mbok.”</p>
<p>“Lha, ya tidak. Kalau mau mendengarkan dengan nikmat pejamkan mata kalian.” Nanti rak kalian akan bisa masuk.”</p>
<p>Mereka menurut. Dan betul saja, lama-lama suara gamelan Sekaten itu enak juga didengar.</p>
<p>Selain Sekaten dan Idul Fitri itu peristiwa menyenangkan karena kedatangan mbok Jah, sudah tentu juga oleh-oleh mbok Jah dari desa. Terutama juadah yang halus, bersih dan gurih, dan kehebatan mbok Jah menyambal terasi yang tidak kunjung surut. Sambal itu ditaruhnya dalam satu stoples dan kalau habis, setiap hari dia masih akan juga menyambelnya. Belum lagi bila dia membantu menyiapkan hidangan lebaran yang lengkap. Orang tua renta itu masih kuat ikut menyiapkan segala masakan semalam suntuk. Dan semuanya masih dikerjakannya dengan sempurna. Opor ayam, sambel goreng ati, lodeh, srundeng, dendeng ragi, ketupat, lontong, abon, bubuk kedela, bubuk udang, semua lengkap belaka disediakan oleh mbok Jah. Dari mana enerji itu datang pada tubuh orang tua itu tidak seorang pun dapat menduganya.</p>
<p>Setiap dia pulang ke desanya, mbok Jah selalu kesulitan untuk melepaskan dirinya dan pelukan Kedono dan Kedini. Anak kembar laki-perempuan itu, meski sudah mahasiswa selalu saja mendudukkan diri mereka pada embok tua itu. Ndoro putri dan ndoro kakung selalu tidak lupa menyisipkan uang sangu beberapa puluh ribu rupiah dan tidak pernah lupa wanti-wanti pesan untuk selalu kembali setiap Sekaten dan Idul Fitri.</p>
<p>“Inggih, ndoro-ndoro saya dan gus-den rara yang baik. Saya pasti akan datang.”</p>
<p>Tetapi begitulah. Sudah dua Sekaten dan dua Lebaran terakhir mbok Jah tidak muncul. Keluarga Mulyono bertanya-tanya jangan-jangan mbok Jah mulai sakit-sakitan atau jangan-jangan malah&#8230;.</p>
<p>“Ayo, sehabis Lebaran kedua kita kunjungi mbok Jah ke desanya,” putus ndoro kakung.</p>
<p>“Apa bapak tahu desanya?”</p>
<p>“Ah, kira-kira ya tahu. Wong di Gunung Kidul saja, lho. Nanti kita tanya orang.”</p>
<p>Dan waktu untuk bertanya kesana kemari di daerah Tepus, Gunung Kidul, itu ternyata lama sekali. Pada waktu akhirnya desa mbok Jah itu ketemu, jam sudah menunjukkan lewat jam dua siang. Perut Kedono dan Kedini sudah lapar meskipun sudah diganjal dengan roti sobek yang seharusnya sebagian untuk oleh-oleh mbok Jah.</p>
<p>Desa itu tidak lndah, nyaris buruk, dan ternyata juga tidak makmur dan subur. Mereka semakin terkejut lagi waktu menemukan rumah mbok Jah. Kecil, miring dan terbuat dan gedek dan kayu murahan. Tegalan yang selalu diceriterakan ditanami dengan palawija nyaris gundul tidak ada apa-apanya.</p>
<p>“Kula nuwun. Mbok Jah, mbok Jaah.”</p>
<p>Waktu akhirnya pintu dibuka mereka terkejut lagi melihat mbok Jah yang tua itu semakin tua lagi. Jalannya tergopoh tetapi juga tertatih-tatih menyambut bekas majikannya.</p>
<p>“Walah, walah, ndoro-ndoro saya yang baik, kok bersusah-susah mau datang ke desa saya yang buruk ini. Mangga, mangga, ndoro, silakan masuk dan duduk di dalam.”</p>
<p>Di dalam hanya ada satu meja, beberapa kursi yang sudah reyot dan sebuah amben yang agaknya adalah tempat tidur mbok Jah. Mereka disilakan duduk. Dan keluarga Mulyono masih ternganga-nganga melihat kenyataan rumah bekas pembantu mereka itu.</p>
<p>“Ndoro-ndoro, sugeng riyadi, nggih, minal aidin wal faifin. Semua dosa-dosa saya supaya diampuni, nggih, ndoro-ndoro, gus-den rara.”</p>
<p>“Iya, iya, mbok. Sama-sama saling memaafkan.”</p>
<p>“Lho, ini tadi pasti belum makan semua to? Tunggu, semua duduk yang enak, si mbok masakkan, nggih?”</p>
<p>“Jangan repot-repot, mbok. Kita tidak lapar, kok. Betul!”</p>
<p>“Aah, pasti lapar. Lagi ini sudah hampir asar. Saya masakkan nasi tiwul, nasi dicampur tepung gaplek, nggih.”</p>
<p>Tanpa menunggu pendapat ndoro-ndoronya mbok Jah langsung saja menyibukkan dirinya menyiapkan makanan. Kedono dan Kedini yang ingin membantu ditolak. Mereka kemudian menyaksikan bagaimana mbok Jah mereka yang di dapur mereka di kota dengan gesit menyiapkan makanan dengan kompor elpiji dengan nyala api yang mantap, di dapur desa itu, yang sesungguhnya juga di ruang dalam termpat mereka duduk, mereka menyaksikan si mbok dengan sudah payah meniup serabut-serabut kelapa yang agaknya tidak cukup kering mengeluarkan api. Akhirnya semua makanan itu siap juga dihidangkan di meja. Yang disebutkan sebagai semua makanan itu nasi tiwul, daun singkong rebus dan sambal cabe merah dengan garam saja. Air minum disediakan di kendi yang terbuat dari tanah.</p>
<p>“Silakan ndoro, makan seadanya. Tiwul Gunung Kidul dan sambelnya mbok Jah tidak pakai terasi karena kehabisan terasi dan temannya cuma daun singkong yang direbus.”</p>
<p>Mereka pun makan pelan-pelan. Mbok Jah yang di rumah mereka kadang-kadang masak spagetti atau sup makaroni di rumahnya hanya mampu masak tiwul dengan daun singkong rebus dan sambal tanpa terasi. Dan keadaan rumah itu? Ke mana saja uang tabungannya yang lumayan itu pergi? Bukankah dia dulu berani pulang ke desa karena yakin sanak saudaranya akan dapat menolong dan menampungnya dalam desa itu? Keluarga itu, seakan dibentuk oleh pertanyaan batin kolektif, membayangkan berbagai kemungkinan. Dan Mbok Jah seakan mengerti apa yang sedang dipikir dan dibayangkan oleh ndoro-ndoronya segera menjelaskan.</p>
<p>“Sanak saudara saya itu miskin semua kok, ndoro. Jadi uang sangu saya dan kota lama-lama ya habis buat bantu ini dan itu.”</p>
<p>“Lha, lebaran begini apa mereka tidak datang to, mbok?”</p>
<p>Mbok Jah tertawa. “Lha, yang dicari di sini itu apa lho, ndoro. Ketupat sama opor ayam?”</p>
<p>“Anakmu?”</p>
<p>Mbok Jah menggelengkan kepala tertawa kecut.</p>
<p>“Saya itu punya anak to, ndoro?”</p>
<p>Kedono dan Kedini tidak tahan lagi. Diletakkan piring mereka dan langsung memegang bahu embok mereka. “Kau ikut kami ke kota ya? Harus! Sekarang bersama kami!” Mbok Jah tersenyum tapi menggelengkan kepalanya.</p>
<p>“Si mbok tahu kalau anak-anakku akan menawarkan ini. Kalian anak-anakku yang baik. Tapi tidak, gus-den rara, rumah si mbok di hari tua ya di sini mi. Nanti Sekaten dan Lebaran akan datang saya pasti datang. Betul.”</p>
<p>Mereka pun tahu itu keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Lalu mereka pamit mau pulang. Tetapi hujan turun semakin deras dan rapat. Mbok Jah mengingatkan ndoro kakungnya kalau hujan begitu akan susah mengemudi. Jalan akan tidak kelihatan saking rapatnya air hujan turun. Di depan hanya akan kelihatan warna putih dan kelabu. Mereka pun lantas duduk berderet di amben di beranda memandang ke tegalan. Benar tegalan itu berwarna putih dan kelabu. (***)</p>
<p><a href="http://sepercik.wordpress.com/umar-kayam-lebaran-di-karet-di-karet/"><img style="margin:7px;" title="(Cover) Umar Kayam - Lebaran Di Karet, Di Karet..." src="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-umar-kayam-lebaran-di-karet-di-karet.jpg?w=140&#038;h=210" alt="" width="140" height="210" /></a><a href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/"><img style="margin:7px;" title="(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" src="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg?w=140&#038;h=210" alt="" width="140" height="210" /></a></p>
<br />Posted in Umar Kayam  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sepercik.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sepercik.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=196&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepercik.wordpress.com/2009/11/01/mbok-jah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">~*~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-umar-kayam-lebaran-di-karet-di-karet.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(Cover) Umar Kayam - Lebaran Di Karet, Di Karet...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengkhianat</title>
		<link>http://sepercik.wordpress.com/2009/10/25/pengkhianat/</link>
		<comments>http://sepercik.wordpress.com/2009/10/25/pengkhianat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 17:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~*~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Titie Said]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepercik.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Pengkhianat Penulis: Titie Said Diterbitkan: Harian Republika, 3 Maret 1996. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002 *** Wanita tua yang duduk bersedeku itu menundukkan kepalanya sampai rambutnya menyentuh lutut. Ia tak dapat menguasai pemberontakan air matanya, seperti air yang meluap dari kali Ciliwung dan menyebabkan banjir bandang Jakarta. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=193&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: <strong>Pengkhianat</strong><br />
Penulis: <strong>Titie Said</strong><br />
Diterbitkan: Harian <em>Republika</em>, 3 Maret 1996. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) <a title="Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/" target="_self"><em>Pembisik</em></a>. Penerbit: <em>Republika</em>, Jakarta, 2002</p>
<p>***</p>
<p>Wanita tua yang duduk bersedeku itu menundukkan kepalanya sampai rambutnya menyentuh lutut. Ia tak dapat menguasai pemberontakan air matanya, seperti air yang meluap dari kali Ciliwung dan menyebabkan banjir bandang Jakarta. Ia ingat suami, ipar, anak ketika ia membaca berita tentang kematian Hussein Kamel Hassan dan Saddam Kamel Hassan. Kematian Hussein dan Saddam oleh ‘orang luar’ dipercaya direkayasa oleh Saddam Hussein.</p>
<p>Hati keibuannya menjerit. Sebagai ibu ia pernah merasakan kepedihan seperti yang dialami oleh para wanita dari keluarga Hassan yang sekaligus kehilangan tiga anak lelaki dan suami. Empat tiang keluarga dalam waktu yang bersamaan hilang. Kematian bukanlah hal yang aneh, sebab tiap manusia akan mati. Kematian tidak menjadi puncak kesedihan. Ternyata duka paling dalam bagi seorang ibu adalah ketika anak yang dilahirkan dicap sebagai pengkhianat oleh bangsanya.</p>
<p>Ibu tua ini telah merasakan pahitnya kehilangan ketika suaminya gugur diberondong Belanda. Tragis, karena yang mengkhianati adalah adik terkecil suaminya. Bagaimana si kecil bisa pro Belanda? Mengapa tega menunjukkan di mana markas BKR? Imbalan apa yang diharapkan cuma keselamatan!</p>
<p>“Sungguh mati aku tidak tahu kalau Mas di desa itu,” iparnya bersumpah.</p>
<p>“Lagipula aku diancam akan disiksa oleh Nica. Aku bisa mati,” jelasnya lagi.</p>
<p>“Bisa,” ulang ibu itu dengan sinis. “Hampir mati saja kau sudah takut. Dan kau buka mulut. Kau seorang ko, koperator, tahu! Kau seorang hina. Ulahmu itu menyebabkan kakakmu sendiri mati. Kau akan dikutuk oleh rakyat selama hidup. Kau tak akan mendapat tempat di mana pun. Lebih-lebih di antara kita, orang non koperator, republiken tulen.”</p>
<p>Sebagai istri ia melanjutkan perjuangan suaminya, berjuang dalam barisan Palang Merah. Keempat anaknya (tiga kali melahirkan dan ada yang kembar) dititipkan pada ibunya. Ia muak mendengar adik iparnya sekolah di HBS di Surabaya, sekolah Belanda. Ia muak melihat pemuda itu enak-enak sekolah sedangkan pelajar lain bergabung dalam Tentara Pelajar Brigade 17.</p>
<p>Ketika pengakuan kedaulatan, ia memasuki kota bersama pejuang lainnya. Rakyat mengelu-elukan pahlawan dari medan laga. Ia melirik adik ipar yang berdiri di pinggir jalan menundukkan wajahnya. Tidak tahan di kota yang mengecapnya sebagai co adik itu pindah ke Jakarta kemudian melanjutkan kuliah di negeri Belanda. Setelah itu tidak ada beritanya sampai bertahun-tahun. Ya, bertahun-tahun itu ternyata telah menghapus kenangan pada pengkhianatan iparnya. Sepuluh tahun sejak pengakuan kedaulatan, adik ipar ini menjadi pejabat, semakin naik pangkat derajatnya. Sekali lagi ibu ini hanya menelan kepahitan hidup. Ia tak bisa lagi membedakan mana yang pejuang mana yang pengkhianat, sebab banyak penjuang yang hidupnya menderita sedangkan yang ikut Belanda mendapat kesempatan memegang jabatan. Hatinya memberontak, tapi apa daya?</p>
<p>Bagaimana pun Ibu ini konsekuen dan harus berjuang membesarkan empat anaknya. Angin kemerdekaan telah menghembus di dadanya, ia ingin memberikan pendidikan merdeka berpikir kepada ketiga anaknya. Anak-anaknya merdeka dan berhak memilih jalan kehidupannya.</p>
<p>Duka pertama kuhirup ketika anak pertama dalam usia 17 tahun, anak kebanggaan dan amat saleh. Ia bersahabat dengan seseorang yang kemudian ternyata pengikut Kartosuwiryo. Aku sudah menasihati anak-anakku untuk tidak ikut-ikutan politik, supaya ia belajar seperti pamannya yang pernah berkhianat dan kemudian menjadi pejabat. Tetapi darah ayahnya yang keras, kukuh dan kokoh mengalir deras di nadi anakku. Ia tak mendengar kataku. Ia ingin bebas dalam keyakinannya akan kebenaran pilihannya. Ia pergi ke daerah Jawa Barat. Dan tidak pernah kembali. Sebagai ibunya aku tahu bahwa anakku telah mati. Aku menyesal telah memberinya kebebasan memilih dan ternyata yang dipilihnya tidak benar. Aku pindah karena di daerah kecil ini semua orang tahu kalau aku adalah ibu dari anggota gerombolan DI/TII. Aku tidak tahan. Aku pindah ke Jakarta karena kota itu dapat menelan segala kepahitan yang pernah kualami dan manusianya tidak usil tentang riwayat seseorang. Walau satu kota tetapi aku tidak pernah menemui adik ipar yang sekarang semakin jaya.</p>
<p>Ibu tua itu membaca koran lagi. Ia bahkan mengkliping berita tentang kematian Letjen Hussein Kamal Hassan dan Kolonel Saddam Kamal Hassan. Kalau ia membaca berita itu selalu matanya basah, sebab ia mengalami hal yang sama: menjadi ibu pengkhianat. Sama dengan Hussein dan Saddam yang dianggap sebagai pengkhianat oleh bangsanya.</p>
<p>Kepedihan kedua, yang merupakan puncak kepedihan kualami ketika pemberontakan G30S PKI. Aku menyaksikan dua anak kembarku berdiri di kubu yang berlawanan. Yang satu ekstrim kiri dan satunya lagi menjadi anggota ABRI. Aku menjadi saksi ketika anakku – karena tugasnya – memburu kakaknya. Aku dapat merasakan ketika anakku yang ke dua mati.</p>
<p>Sebagai ibu aku merasa dadaku seperti dimartil dan tali jantungku putus.</p>
<p>Aku meratapi nasibku sebagai seorang ibu pengkhianat secara diam-diam. Aku menyembunyikan jati diriku. Aku harus melindungi kedua anakku. Kalau ketahuan bahwa saudaranya ikut pemberontak PKI, akan menggores mereka sebagai tak bersih lingkungan. Sebagai ibu aku merasa berdosa karena aku pernah bersyukur ketika anakku kedua meninggal dan tak ada makamnya sehingga aku tak perlu membawa kembang dan ‘nyekar’. Tetapi sebagai ibu aku wajib mendoakan arwahnya. Aku tak dapat mengingkari bahwa ia adalah anak yang lahir dari rahimku.</p>
<p>Tuhan rupanya memberikan penghibur dalam duka dan lara. Ketika menumpas gerombolan pengacau, anakku ketika gugur. Ia disambut sebagai pahlawan. Seluruh warga Jakarta mengantarkan jasadnya. Aku pun disanjung sebagai ibu pahlawan. Tetapi aku menangis, menangis dan menangis. Barangkali tangisku tak kalah derasnya dengan tangis keluarga Majid di Iraq, yang kehilangan dua putranya ketika mereka menghabisi Hussein dan Saddam. Walaupun keduanya disanjung sebagai pahlawan yang menebas akar pengkhianat dalam keluarga tetapi ibu mereka pasti menangis seperti diriku. Airmata darah seorang ibu yang kehilangan anak.</p>
<p>Aku tak dapat mengingkari bahwa dua anakku yang lahir dari rahimku menjadi pengkhianat. Pernah aku merasa beruntung ada anakku yang merelakan nyawa menjadi pembela Republik. Ah, mengapa aku mengatakan ‘untung’? Aku merasa berdosa karena terlepas mulutku mensyukuri hal ini. Aku menjadi ibu dengan dua wajah, ibu pengkhianat bangsa dan juga ibu pahlawan bangsa.</p>
<p>Pikiran ibu tua ini kembali melayang ke pinggir kota Bagdad. Ia dapat merasakan dua keluarga Hassan yang dicap sebagai pengkhianat oleh sebagian besar bangsnya sendiri. Ia pun ingat kisah mata-mata Amerika yang menjual rahasia negara kepada Rusia, sampai ia harus lari ke negeri tirai besi. Tetapi di sana di sebuah flat yang sederhana ia kesepian, merasa asing dan diasingkan dan rindu anak isteri. Akhirnya mata-mata ini kembali ke negerinya. Lebih baik hidup di penjara negeri sendiri. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri asing. Seorang pengkhianat tak pernah dihargai baik oleh anak bangsa yang dikhianati maupun yang menerima pengkhianatannya.</p>
<p>Kembali ibu tua ini menangis. Ternyata sumber airmatanya tak pernah kering. Ia menyesali diri karena secara langsung maupun tidak langsung sebagai ibu ternyata ia menjadi sumber mala petaka keluarga. Ia menyesal karena menebarkan kebebasan kepada anak-anaknya sehingga mereka merasa mempunyai hak untuk bebas memilih dan bertindak sesuai dengan hati nuraninya. Kini ia menuai badai dari keluarga yang terpecah belah dalam pandangan politik dan keyakinan. Hal ini mengalirkan duka yang amat dalam.</p>
<p>Sekarang pun ketika waktu mampu menghapus sebagian kepedihannya dan kedamaian merayapi hati, masih saja ada masalah keluarga. Anaknya yang terkecil membawa serta gejolak orang muda. Anak ini sering membantahnya. Apa yang dikatakan Paklik (adik ibu) yang menjadi pimpinan sebuah organisasi sebagai sukses hasil pembangunan selalu dicela oleh anaknya. Dua sudut pandang yang berbeda tetapi perbedaan ini justru disubur-suburkan sebab mereka berdiri di dua wawasan politik yang berbeda, walaupun dua-duanya mengatakan landasannya adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45.</p>
<p>Hidupku tidak tenteram. Aku ingin anakku yang cuma semata wayang ini diam saja. Bahkan aku pernah berpikir lebih baik anakku lumpuh sehingga aku bisa merawatnya dan mengasihinya tanpa takut kehilangan. Aku trauma telah kehilangan tiga anak lelaki. Tetapi anakku tertawa. Ia bilang bukankah dulu ibu yang mengobarkan kemandirian padaku? Yang menyuruh anak-anak merdeka memilih? O, Tuhan, mengapa semua ini berbalik padaku? Telah kutanamkan demokrasi secara tak tepat. Juga kebebasan yang melibas anak-anakku. Aku menyemai dan menuai badai dalam keluarga.</p>
<p>Adikku mengatakan semua ini adalah salahku. Ia mendidik anak-anaknya dengan tangan besi, ya kata dia ya pula kata anak-anaknya. Anak-anaknya menjadi anak yang penurut sekaligus penakut. Tetapi anak-anaknya selamat semuanya dan hidup normal.</p>
<p>Ibu tua ini terpuruk dalam duduknya yang semakin merunduk. Koran yang memuat berita kematian Hussein dan Saddam sampai basah. Ia membayangkan dua anak perempuan Presiden Saddam Hussein yang kini menjadi janda, karena minta cerai sebelum terjadi pembunuhan. Dibayangkan apa jawab dua ibu muda ini ketika anak-anaknya bertanya tentang ayahnya. Apakah mereka akan mengatakan ayahnya pengkhianat atau pahlawan? Bagaimana perasaan anak-anak itu ketika mengetahui bahwa ayahnya dicap pengkhianat?</p>
<p>Ah, mengapa aku memikirkan Raghda dan Rana serta keluarga Letnan Jenderal Hussein Kamal Hassan dan adiknya? Aku sudah pusing dengan keadaanku. Yang kutahu hanya sebuah kata: terlalu getir apabila menjadi ibu pengkhianat. Sebab seorang ibu tidak hanya ibu bagi anaknya tetapi harus menjadi ibu bangsa.</p>
<p>Ibu tua ini mengambil kliping koran kemudian membakarnya. Ia ingin kenangan pahitnya menjadi abu. Ia tidak mau mengingatnya lagi, walaupun ia menyadari tak bisa begitu saja menghapus bayang-bayang kehidupan. (***)</p>
<p><a href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/"><img style="margin:7px;" title="(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" src="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg?w=140&#038;h=210" alt="" width="140" height="210" /></a></p>
<br />Posted in Titie Said  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sepercik.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sepercik.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=193&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepercik.wordpress.com/2009/10/25/pengkhianat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">~*~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Libertella</title>
		<link>http://sepercik.wordpress.com/2009/10/18/libertella/</link>
		<comments>http://sepercik.wordpress.com/2009/10/18/libertella/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 17:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~*~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sori Siregar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepercik.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Libertella Penulis: Sori Siregar Diterbitkan: Harian Republika, 5 Desember 1999. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002 *** Wajahnya keruh. Beban berat seakan menindih kepalanya. Tubuhnya yang tinggi dan kekar tak mampu lagi menyangga beban berat itu. Ia terhenyak di sofa di ruang tamunya yang luas. “Samuel anakmu adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=190&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: <strong>Libertella</strong><br />
Penulis: <strong>Sori Siregar</strong><br />
Diterbitkan: Harian <em>Republika</em>, 5 Desember 1999. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) <a title="Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/" target="_self"><em>Pembisik</em></a>. Penerbit: <em>Republika</em>, Jakarta, 2002</p>
<p>***</p>
<p>Wajahnya keruh. Beban berat seakan menindih kepalanya. Tubuhnya yang tinggi dan kekar tak mampu lagi menyangga beban berat itu. Ia terhenyak di sofa di ruang tamunya yang luas. “Samuel anakmu adalah harimau liar.” Deretan kala itu sering mengganggunya. Padahal, Bavo melontarkannya sambil bercanda.</p>
<p>Bavo benar, pikir Samuel. Putranya yang cuma seorang itu sangat merepotkannya. Sepak terjangnya sebagai aktivis sebuah LSM benar-benar memojokkan Samuel. Ia merasa hampir setiap saat anak yang diberinya nama Libertella itu mendorongniya dengan paksa mendekati pinggir jurang.</p>
<p>Samuel berpaling ke dinding di sebelah kiri sofanya. Foto seorang pemuda berwajah tampan mengenakan toga tersenyum kepadanya. Samuel membalas senyum itu. Kemudian ia melihat ke sekelilingnya. Ruang tamu berukuran tujuh kali tujuh meter itu ditata oleh tangan yang cekatan.</p>
<p>Pojok kanan ruang tamu berlantai keramik buatan Italia itu hanya diisi perangkat sofa berwarna krem tempatnya duduk. Di pojok kiri belakang berhampiran dengan dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, empat buah kursi juga berwarna krem dan sebuah meja kaca bulat telah siap pula menunggu kedatangan tamu. Sebuah akuarium berukuran 1,5 x  0,5 meter dipajang di pojok kiri depan yang sejajar dengan tempat Samuel duduk. Sebuah pesawat telpon terletak di sebuah meja kecil di antara akuarium dan perangkat kursi di pojok kiri belakang.</p>
<p>Lampu kristal buatan Swiss tergantung di langit-langit dan foto Libertella yang berukuran 1,25 x 0,75 meter bertengger di dinding tepat di atas pintu masuk menuju ruang keluarga.</p>
<p>Setelah menatap ke sekelilingnya, Samuel merasakan sesuatu yang aneh. Ruang tamu itu hanya memajang sebuah foto, foto Libertella. Foto-foto lain hanya mengisi ruang keluarga. Ia kembali menatap foto anak yang merepotkan tapi dibanggakannya itu. Sarjana sosial politik jurusan hubungan internasional itu tampak menawan dengan senyum yang khas.</p>
<p>Molog dalam diri Samuel kemudian muncul begitu saja. Anak setampak dan seterpelajar itu disebut Bavo harimau liar. Candanya menyimpan makna serius. Libertella memiliki pendirian dan sikap yang tak mudah tergoyahkan. Pendirian dan sikap itu lahir dari kancah darah muda yang gemuruh. Mungkin ini yang sering disebut idealisme. Sikap yang dianggap ideal oleh pemiliknya.</p>
<p>Begitu meninggalkan kampus, Libertella tidak berupaya mengisi lapangan kerja yang ditawarkan beberapa temanku. Ia bahkan menolaknya dengan tegas. Ia menjatuhkan pilihan pada sesuatu yang selama ini tak pernah singgah dalam pikiranku, menjadi pekerja sosial. Ia bergabung dengan sebuah aktivis yang secara rutin mengadakan penelitian, membuat berkala, menyampaikan pemikiran alternatif, melancarkan kritik, memprotes, mengirimkan delegasi ke DPR bahkan berdemontrasi di jalan raya.</p>
<p>Tetapi, Libertella tetap juga seorang anak. Setiap bulan ia meminta uang kepadaku untuk keperluannya. Aku sadar, sebagian besar uang yang kuberikan itu digunakan untuk melaksanakan kegiatannya. Namun aku tidak dapat menolaknya. Bahkan, di luar keinginanku aku merasa melakukan sesuatu yang benar. Sesuatu yang berguna untuk anakku. Tapi, pada saat yang sama aku merasa sangat direpotkan oleh anak ini.</p>
<p>Terutama karena istriku ikut-ikutan mendukung semua aktivitas anaknya, “Tella berbuat kebajikan yang tidak pernah kita perbuat,” katanya dengan bangga. Lebih jauh ia mencoba mengingatkan, “Dulu kita sepakat memberikan nama itu kepadanya. Libertella, nama yang kita ambil maknanya dari kata Liberty, agar anak kita bebas menentukan pilihannya tanpa campur tangan kita. Patut sekali kalau kita bangga.”</p>
<p>Sebenarnya, aku juga tidak dapat mendustai nuraniku. Kebanggaan itu menyusup pelan-pelan ke dalam diriku dan mengental. Libertella memiliki cita-cita yang ingin digapainya walaupun dengan susah payah. Di sini perbedaan terasa mencolok antara kami. Aku sama sekali tidak memiliki cita-cita. Yang penting buatku adalah menjangkau kehidupan yang lebih jauh dari kemelaratan dan mempertahankannya. Untuk itu aku siap melakukan apa saja. Cita-cita buatku adalah sesuatu yang sangat mahal. Dan, idealisme adalah kata yang sangat asing buatku.</p>
<p>Libertella dibesarkan dalam keluarga yang bersikap seperti ini ternyata menyempal dan berpegang teguh pada pendiriannya. Ia sering berdiskusi dengan ibunya, tapi tidak denganku. Sekilas kutangkap percikan-percikan diskusi itu. Libertella menginginkan sebuah masyarakat yang lain. Masyarakat di mana sesama dapat saling menyapa dan mengingatkan tanpa rasa takut. Masyarakat di mana anak-anak dapat menikmati masa kanak-kanak mereka tanpa harus dibebani sebagian tanggung jawab orangtua mereka. Sebuah masyarakat di mana orang tahu kapan harus mendengar dan kapan harus didengar. Sebuah masyarakat dengan lingkungan sosial yang dinamis dan senantiasa mencari pelbagai pilihan yang paling baik bagi masyarakat itu. Pokoknya, sebuah masyarakat ideal yang mungkin hanya tercipta di atas kertas atau dalam benak manusia.</p>
<p>Anehnya, Libertella yakin bahwa masyarakat seperti itu akan dapat terwujud bila ada upaya sungguh-sungguh untuk mencapainya. Yang dilakukannya bersama teman-temannya adalah upaya ke arah itu. Ia merasa dirinya pejuang karena yang dilakukannya adalah ibadah.</p>
<p>Aku menilai Libertella dan rekan-rekannya begitu pula para pemuda dari generasinya yang menyimpan obsesi seperti itu sebagai para pemuda romantik yang menolak realitas. Konsep, strategi dan taktik yang mereka laksanakan merupakan hasil pemikiran setengah matang. Semua itu diwarnai emosi yang sukar dikekang.</p>
<p>Bagaimana mereka dapat menyembuhkan borok dalam masyarakat dan mengoperasi wajah bopeng seperti yang mereka kampanyekan itu? Memang, upaya mereka mungkin layak dicatat, tetapi tidak akan dapat mengubah keadaan.</p>
<p>Monolog terhenti di sini ketika telepon berdering. Samuel bangkit dan melangkah menuju telepon.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Wajah Samuel semakin keruh begitu meletakkan pesawat telepon. Peringatan terakhir itu menghadapkannya pada pilihannya yang sangat berat. Menolak berarti melepaskan jabatan yang kini dipegangnya. Mematuhi sama artinya memaksakan keinginan pihak lain ke pundak sang anak. Betapapun keputusan harus diambil.</p>
<p>Ketika berunding dengan istrinya, kata sepakat tidak tercapai. Samuel berunding lagi dengan istrinya untuk memecahkan jalan buntu ini. Istrinya tetap mendukung kegiatan Libertella.</p>
<p>“Jalan keluar yang kuusulkan cukup masuk akal. Dulu Tella ingin melanjutkan pendidikannya ke S2 di Amerika, tapi kita melarangnya, karena ia satu-satunya anak laki-laki di rumah ini. Aku rasa itu satu-satunya anak laki-laki di rumah ini. Aku rasa itu sebabnya ia tidak mau menerima berbagai peluang yang ditawarkan teman-temanku. Ya, semacam proteslah. Nah, kalau sekarang keinginannya itu kita penuhi aku rasa ia akan menyetujuinya,” ujar Samuel.</p>
<p>Istrinya diam. Kemudian ia menatap Samuel. Sang suami yang menerima tatapan seperti itu merasa akan mendengar suatu keputusan yang menggembirakan. Tapi keputusan itu tak juga keluar dan mulut istninya.</p>
<p>Apa yang harus kukatakan kepada lelaki yang satu ini, pikir istrinya. Di mata anaknya ia tidak lain dan seorang pesuruh yang patuh dan setia. Pesuruh yang melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya seperti yang diperintahkan. Pesuruh yang keinginannya untuk bertanya telah lama mati. Putranya, Libertella, tidak menyalahkan ayahnya, yang di luar keinginannya telah terbentuk seperti itu. Di mata Libertella, ayahnya telah menjadi makhluk aneh dengan sikap dan suara yang aneh pula sehingga ia tidak dapat memahaminya.</p>
<p>Sebagai istrinya, aku juga baru merasakan itu setelah Tella menyandang gelar sarjananya dan sering berdiskusi denganku. Tidak ada lagi tempat dalam diri Samuel yang dapat menerima sesuatu yang lain, di luar jalan yang ditempuhnya selama mi. Ia besar dan rnenjadi tokoh penting dalam sebuah bisnis milik bangsa. l.a ingin mewariskan kebesaran itu kepada anaknya. Tapi, anak im menyempal dan menggoyahkan kebesarannya.</p>
<p>Puncaknya adalah ketika organisasi kemasyarakatan tempat sang anak berkiprah menyebarkan hasil penelitian yang sangat mencemarkan nama baik bisnis yang ikut dikelolanya. Hasil penelitian ini disiarkan banyak media dan sangat memukulnya. Sebagai orang tua yang merasa sangat mengenal anaknya ia menyimpulkan, protes sang anak harus dihentikan dengan mengabulkan keinginannya. Sebuah kesimpulan yang ditarik dan penalaran sederhana.</p>
<p>“Bagaimana? Kamu setuju?” tanyanya kepada istrinya.</p>
<p>Istrinya menggeleng.</p>
<p>“Bukan aku yang harus memberikan persetujuan, tapi anakmu. Panggil Tella dan ajak berbicara.”</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Begitu Tella muncul di ruang makan, ibunya menyapanya.</p>
<p>“Sudah ada kesepakatan?”</p>
<p>“Sudah,” jawab Tella ringan sambil tertawa.</p>
<p>Ibunya yang tidak menduga masalah rumit ini dapat dipecahkan dalam waktu singkat — hanya dengan pembicaraan setengah jam — tidak yakin pada pendengarannya. Tella memahami apa yang berkecamuk dalam benak ibunya.</p>
<p>“Semula Bapak didamprat habis-habisan oleh bosnya karena hasil penelitian yang disiarkan koran-koran itu. Satu jam setelah itu bosnya dimutasikan dan Bapak menggantikan kedudukannya. Minggu depan Bapak dilantik.”</p>
<p>Penjelasan itu ternyata masih membingungkan ibunya.</p>
<p>“Bapak telah membaca hasil penelitian kami. Sebagai orang kedua di perusahaan, ternyata Bapak tidak banyak tahu tentang sepak terjang atasannya. Hasil penelitian kami telah membuka mata Bapak. Mulai minggu depan Bapak menjadi orang pertama di sana. Bapak yang diberi tugas untuk membenahi perusahaan itu.”</p>
<p>Ibunya yang tidak menduga kisahnya akan menjadi seperti itu benar-benar terperanjat. “Akibatnya akan buruk buat Bapakmu. Isu akan menyebar bahwa kamu diperalat Bapakmu untuk merebut jabatan itu.”</p>
<p>“Kalau memang benar begitu, memangnya kenapa?” ujar Tella mengusik karena ingin tahu reaksi ibunya.</p>
<p>“Kenapa?” sahut ibunya membelalak. “Itu namanya licik, curang, selingkuh. Orang yang berbuat seperti itu tidak akan selamat seumur hidupnya.”</p>
<p>“Aku dan Tella tidak serendah itu,” ujar Samuel yang tiba-tiba masuk ke ruang makan. “Kalau itu tugasnya bulan depan ia sudah berangkat ke Amenika, karena ia sukses dan perlu mendapat imbalan. Tapi, anakmu tidak akan pergi bulan depan. Ia baru berangkat tiga tahun lagi, setelah program kerja yang mereka rumuskan dengan susah payah telah mereka laksanakan. Dan ia akan berangkat bukan dengan biaya yang kuberikan, tetapi karena ada tawaran dan sebuah yayasan pendidikan asing.”</p>
<p>Istri Samuel menatap Tella. Anak muda itu mengangguk. Samuel yang sebenarnya selama ini menyadari bagaimana penilaian istri dan anaknya terhadap dirinya menutup keraguan istrinya.</p>
<p>“Aku juga sudah bosan menjadi pesuruh. Sekarang aku ingin menyuruh.” (***)</p>
<p><a href="http://sepercik.wordpress.com/pembisik-kumpulan-cerpen-republika/"><img style="margin:7px;" title="(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)" src="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg?w=140&#038;h=210" alt="" width="140" height="210" /></a></p>
<br />Posted in Sori Siregar  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sepercik.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sepercik.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sepercik.wordpress.com&amp;blog=5333016&amp;post=190&amp;subd=sepercik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepercik.wordpress.com/2009/10/18/libertella/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">~*~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sepercik.files.wordpress.com/2009/11/cover-pembisik-kumpulan-cerpen-republika.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">(Cover) Pembisik (Kumpulan Cerpen Republika)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
