Sukab & Sepatu


Judul: Sukab & Sepatu
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Diterbitkan: harian Kompas, 6 Agustus 1995. Dimuat dalam buku Dunia Sukab, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001.

***

“Ceritakanlah padaku tentang kesetiaan,”kata Upik kepada tukang cerita itu. Maka, tukang cerita itu pun bercerita tentang sepatu.

***

Sukab masih tercenung memandang sepatunya. Ia seperti memikirkan sesuatu. Lana seolah bisa membaca pikirannya.

“Dijahit apa, solnya diganti, lantas disemir lagi.”

Sukab menggelengkan kepala.

“Kamu rupanya memang tidak pernah mencoba berpikir untuk membeli yang baru.”

“Kenapa harus begitu?”

“Apa salahnya dengan membeli sepatu baru? Kit tidak hidup di zaman Orla, ketika uang seribu bisa jadi satu rupiah. Sekarang ini, sepatu lebih dari satu bukan kemewahan. Kalau ada yang bagus dan kita kepingin, ya beli saja, tidak usah menunggu sepatu yang lama sampai rusak hancur tanpa sisa. Lagipula kita kan tidak miskin-miskin amat?”

“Eh! Nerocos! Kok tumben? Ini bukan soal politik. Ini bukan soal ekonomi.

Ada apa dengan kamu? Sudah tujuh belas tahun kamu pakai sepatu itu. Setiap kali mengkap dijahit, kalau sol menipis diganti, warnanya kusam tinggal disemir. Kenapa tiba-tiba berubah?”

Sukab menghela napas.

“Aku sudah bosan.”

Tapi ucapan Sukab tidak meyakinkan.

“Kukira tidak. Kamu bukan pembosan. Sebetulnya kamu orang yang setia,” ujar Lana sambil berlalu, “sudah, berangkat sana. Kalau masih ada kamu, aku tidak bisa menyapu.”

Sukab mengenakan sepatunya. Memang sudah butut, tapi harus diakuinya, memang enak dipakai.

Dalam perjalanan, Sukab berpikir tentang sepatu, dan kesetiaan.

“Benarkah sebetulnya aku orang yang setia?” Sukab bertanya kepada dirinya sendiri.

***

“Lho, masih dipakai?”

Sukab tersenyum masam, mengajukan sepatunya.

“Masih enak dipakai,” katanya.

Dhuar! Maya membanting pintu.

“Kamu jangan pernah masih rumah ini selama sepatu itu belum diganti,” teriak Maya dari dalam, “sudah berapa kali aku minta sepatu jelek itu dibuang? Aku jijik sama kamu. Pergi!”

Sukab menyenderkan keningnya di pintu. Terpandang lagi sepatunya yang butut.

“Mampus,”batinnya, “mampus.”

***

Sebelum masuk kantor, Sukab meninggalkan sepatunya di tukang sol sepatu di seberang jalan. Ia berjalan sepanjang koridor sambil menenteng kaos kaki.

Orang-orang melihatnya berjalan tanpa sepatu. Gadis-gadis tersenyum. Pakai dasi, tapi kaki cakar ayam!

Tapi Sukab tampaknya tidak peduli. Ia bekerja sepanjang hari tanpa sepatu.

Menjelang senja, seseorang mengetuk pintu ruangannya.

“Pak, ada tamu.”

Ternyata Maya, datang membawa sepatu beru.

Sukab terharu. Maya memang betul-betul memperhatikannya. Sepatu itu ukurannya pas sekali. Mengkilat. Dan telah dicoba, enak juga dipakainya. Sepatu model baru. Gaya mutakhir. Pasti mahal. Tapi, Sukab merasa dirinya menjadi orang lain mengenakan sepatu itu.

“Aku juga merasa terasing dengan diriku sendiri,” ujar Sukab.

“Kamu ini bagaimana sih! Ini Cuma soal sepatu, bukan ideologi,” kata Maya dengan tegas, “mulai sekarang kamu pakai sepatu itu. Mana yang lama?”
Sukab mengangkat bahu.

“Buang!” Maya menegaskan.

Setelah Maya pergi, Sukab memandang sepatu yang baru sepuluh menit dipakainya. Memang hebat, tapi ia merasa dirinya terlalu sederhana untuk sepatu itu.

“Nanti lama-lama juga terbiasa,” pikirnya.

Namun ia teringat sepatunya yang lama.

***

Sebelum pulang ke rumah, Sukab mampir ke tempat Muntu. Ia menitipkan sepatunya yang baru, lantas mengenakannya kembali sepatu yang lama.

Muntu menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu tidak capai hidup seperti itu?”

Sukab ikut menggeleng-gelengkan kepala.

“Ruwet,” bisiknya perlahan, “ruwet.”

***

“Lihat, apa bedanya dengan sepatu baru?” Lana tersenyum puas, “tidak ada seorang pun yang akan mengira itu sepatu yang sudah kamu pakai selama tujuh belas tahun. Dunia ini pun sudah kuno Sukab, tapi manusia selalu berhasil memperbaruinya kan? Jangan suka membuang barang lama. Habis manis sepah dibuang. Tidak baik begitu.”

Lana tahu. Diam-diam Sukab menggertakkan geraham.

***

Malam pun lengkap. Semua orang tertidur. Itulah saat benda-benda mati berbicara.

“Kamu tahu apa yang dialami Sukab?” tanya Sepatu Lama Kiri.

“Entahlah. Setahuku dia sekarang lebih sering gantu kaus kaki,” jawab Sepatu Lama Kanan.

“Nah, itu masalahnya. Kaus kaki itu semuanya dari Maya.”

“Apa hubungannya dengan kita?”

“Maya itulah yang menggantikan kita dengan sepatu baru. Padahal sudah tujuh belas tahun kita bekerja penuh pengabdian, tanpa Sukab sendiri keberatan. Gara-gara Maya itulah, Sukab menukar sepatu di rumah Muntu.

Jadi, kalau kita dulu selalu ikut ke mana pun Sukab pergi, ke luar kota, ke luar negeri, ke ujung dunia. Sekarang kita cuma dipakai sampai rumah Muntu. Apa kamu tidak sakit hati?”

“Tapi, kita bisa berbuat apa? Sukab sendiri maunya begitu. Apa yang bisa diharap dari orang yang tidak setia?”

Rumah itu gelap. Semua lampu mati. Hanya lampu neon di luar byar-pet setengah hidup setengah mati.

Sepatu Lama Kiri bergeser mendekati Sepatu Lama Kanan.

“Apakah kamu akan tetap setia kepadaku?” bisiknya.

Sepatu Lama Kanan mengangguk-angguk.

Tiba-tiba Sepatu Lama Kiri menjerit.

“Aaahhh! Ada tikus masuk!”

***

Di rumah Muntu yang gelap gulita, Sepatu Baru Kiri dan Sepatu Baru Kanan bercakap-cakap.

“Baru bertugas sebentar, sudah ditaruh.”

“Iya, rupanya kita ini cuma bertugas separo, dari rumah Muntu ke kantor, sepulang kantor, kita dicopot dulu. Kenapa sih?”

“Manusia memang penuh teka-teki. Tidak seperti sepatu.”

“Iya ya, tapi jadi sepatu juga tida gampang.”

“Misalnya?”

“Sepatu bukan sepatu kalau tidak sepasang.”

“Apa manusia bukan manusia kalau tidak berpasangan?”

“Mana aku tahu? Aku cuma sepatu. Masih baru lagi.”

“Masalah manusia adalah mereka tidak pernah tahu apakah pasangannya memang akan cocok.”

“Kalau sepatu jelas ya?”

“Jelas, ada ukurannya.”

Dua ekor kecoa merayap di dekat sepatu itu.

“Majikan kita yang baru ini rupanya tidak setia pada sepatunya. Masak cara memakai sepatu seperti itu, separo di sana separo di sini.”

“Jangan asal omong, apa kamu juga bisa setia padaku?”

Kedua sepatu baru itu tali-talinya bergerak, berpelukan.

***

Rembulan masih terang. Lawa-lawa beterbangan.

Dalam mimpinya, Sukab berpikir tentang kesetiaan. Ya, aku sebetulnya orang yang setia, pikirnya. Masalahnya, kepada siapakah aku harus setia? Apakah aku harus tetap memakai Sepatu Lama? Apakah aku harus tetap memakai Sepatu Baru? Apakah aku harus memakai Sepatu Lama Kiri dan Sepatu Baru Kanan? Tapi bagaimana nanti kata orang? Lagi pula apakah sepatu-sepatu itu mau dipasangkan begitu? Bagaimana kalau tidak usah bersepatu saja?
Sepanjang malam Sukab tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sukab merasa selama ini ia memang tidak bisa setia kepada siapa pun ia hanya setia kepada hidup.

Cahaya fajar menerobos jalusi.

Begitu bangun, Sukab sudah mengambil keputusan.

***

“Keputusan apa?” tanya upik kepada tukang cerita itu.

“Lho, kamu kan sudah tahu,” jawab tukang cerita itu, yang segera berkemas siap meneruskan perjalanan.

“Selamat tinggal, Upik,” katanya.

Jakarta, 9 Juni 1995

~ oleh ~*~ pada 4 Januari 2009.

Satu Tanggapan to “Sukab & Sepatu”

  1. SY INGIN KETEMU LANGSUNG DENGAN PENULIS CERPEN..TIDAK HANYA MEMBACA DAN TDK PERNAH KETEMU MUKA…KAPAN BISA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: