Nurjanah


Judul: Nurjanah
Penulis: Jujur Prananto
Diterbitkan: harian Kompas, 10 Maret 1991. Dimuat dalam buku Kado Istimewa, Cerpen Pilihan Kompas 1992, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Juni 1992.

***

Suasana seperti tak terkendali. Siulan-siulan panjang melengking tak henti-henti. Warna lampu panggung sudah berubah merah. Dentuman gendang mulai membahana. Dan begitu suara seruling kedengarannya mengalun nyaring, puluhan penonton pun berteriak-teriak ganas.

Dengan hentakan kecil Nurjanah meloncat ke atas panggung. Begitu kakinya menapak, tubuhnya yang terbungkus rok terusan merah berkelip-kelip itu langsung berputar satu lingkaran dan berhenti persis menghadap penonton dalam posisi membungkukkan badan. Sorak-sorai panjang memenuhi lapangan. Nurjanah mencabut mikrofon dan berteriak lantang.

“Kita joget sampai pagi???”

“Sampai pagi…!!”

“Goyang sampai pagi???”

“Sampai pagi…!!”

Segera setelah itu orang-orang seperti terpimpin untuk bersama-sama melenggak-lenggokkan badan. Satu ayunan. Satu irama. Satu desah. Satu napas. Saat sebelah kaki Nurjanah terangkat tinggi-tinggi, saat pinggulnya berputar delapan kali ke kanan delapan kali ke kiri. Panas. Histeris. Birahi.

“Lihat rembulan, putih berseri. Derita sebulan lupakan malam ini. Kita joget-joget-joget… jangan berhenti! Kita goyang-goyang-goyang sampai pagi…!”
Bau keringat para penjoget merebak tajam, membaur dengan aroma tisyu kolonyet dan berbagai wewangian murah. Sementara di tepi lapangan banyak pula yang duduk mengerumuni warung, menenggak bir, minum TKW, anggur ketan-item, sambil mata mereka tak lepas-lepas menelanjangi tubuh Nurjanah, membayangkan pergelutan di ranjang dengan peremouan seronok itu. Semua terkesima. Tenganga. Teler.

Tapi tak jadi sampai pagi. Sebab selesai lagu ke tiga, mendadak Nurjanah minta berhenti. “Kepala saya pusing.”

Baru jam dua belas kurang seperempat. Di belakang panggung Nurjanah segera melepas kostum dan sepatunya. Satu-satunya stoking merah yang dimilikinya dibukanya hati-hati, tapi tetap saja menambah robekan yang memanjang di bagian paha kirinya.

Pimpinan orkes gusar. Terpaksa ia menyuruh anak buahnya membawakan instrumentalia. Bergegas ia menemui Nurjanah. “Katanya mau delapan lagu?”

“Saya pusing betul. Biar ganti Mas Udin saja.”

“Saya nyanyi separo penonton sudah bubar semua.”

“Mbak Zahro kan masih ada?”

“Suaranya serak.”

“Si Mus baru dua lagu.”

“Sudah grogi. Tadi ada yang minta Putusnya Tali Asmara dia tidak hapal.”

“Alaa, nyanyi ndak usah kompletlah. Yang pentiing goyangnya.” Nurjanah segera membungkusi pakaian dan sepatunya. “Saya pulang, ya?”

“Pulang apa janjian sama pak camat…?”

“Taik, ah! Sudah sini duit saya. Dua puluh saja, buat sewa mobil.”

“Memangnya pulang kemana?”

“Dongkal!”

“Malam-malam begini mau diperkosa di jalanan?”

“Biar! Sudah kapalan.”

***

Sesungguhnya Nurjanah merasakan sesuatu yang tiba-tiba saja menyelinap ke dalam inderanya. Suatu isyarat yang perlu diwaspadai. Nyaris seperti yang dirasakannya ketika menggung di depan pasar Paduraksa setengah tahun yang lalu. Suara musik yang berdebam-debam mendadak didengarnya menjadi hanya samar-samar. Telinganya dipenuhi suara mendenging tinggi. Perutnya mual. Badannya terasa panas tapi sama sekali tak berkeringat.

Waktu itu ia langsung bisa merasakan siapa yang mengirim isyarat permusuhan tersebut. Wajah orang itu begitu jelas terbayang di benaknya. Leha namanya, primadona orkes Kemilau Mutiara. Ia termakan gosip yang menyebutkan bahwa kedudukannya bakal tergeser oleh Nurjanah yang lebih bahenol dan konon “bersedia melakukan apa saja demi popularitas”. Leha cemas betul lantara Kemilau Mutiara berhasil dikontrak pabrik rokok Teh Poci selama tiga tahun, yang artinya, kalau ia sampai putus hubungan dengan orkes itu maka jaminan kesejahteraan dan popularitas dia selama tiga tahun akan lepas dari tangannya.

“Saya menyanyi yang penting buat menyalurkan hobi, jadi kamu tidak perlu merasa iri,” kata Nurjanah waktu itu, dalam pembicaraan empat-mata dengan Leha. “Tidak ada yang melarang kamu menjadi penyanyi kondang, tapi jangan pakai cara menjatuhkan saya di panggung. Bukan ngomong sombong, hampir semua orang pinter di Banten sudah saya anggap guru, jadi jangan coba-coba mengguna-gunai saya.”

Atau ketika ia ditanggap lurah seberang kali dalam rangka sunatan anaknya. Nurjanah baru menyanyi dua lagu ketika merasa “diganggu”. Pengirimnya gampang ditebak, istri lurah itu sendiri, yang hatinya panas dingin mengetahui suaminya tergila-gila pada Nurjanah.

***

Tetapi kali ini? Nurjanah memang merasakan gejala-gejala yang kurang lebih sama, tetapi tak tampak sama sekali barang sekelebat wajah di benaknya. Atau barangkali Bu Marsan? Rasa-rasanya mustahil. Ia istri yang kelewat baik. Dari wajahnya saja tak terbayang dia bisa mencurigai suaminya, apalagi main dukun-dukunan. Agamanya sendiri memang sudah kuat. Nurjanah tahu betul karena ia sering diundang ke rumahnya kalau ada acara apa saja, termasuk pengajian. Yang semula memperkenalkan dirinya dengan Bu Marsan malah Pak Marsan sendiri, seusai ia menyanyi pada perayaan tujuh belasan di kecamatan.

Begitu baiknya Bu Marsan sampai-sampai Nurjanah merasa batinnya tersiksa. Beberapa waktu yang lalu ketika diajak Pak Marsan ke Semarang, di kamar hotel ia memberanikan diri bertanya.

“Apa ibu benar-benar tidak tahu saya sering menemani bapak?”

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Saya merasa tidak enak betul kalau sedang berhadapan dengan ibu. Seperti berhadapan dengan malaikat saja. Wajahnya suci sekali, hingga di hadapannya kita serasa mau diadili.”

Waktu itu Pak Marsan terdiam lama sekali. Yang biasanya tangannya langsung gerayangan, kali ini membeku seperti patung. Nurjanah sendiri tidak berani memulai, sampai kedengaran azan subuh bersahut-sahutan.
Sejak itu Pak Marsan tak pernah mengajaknya pergi. Gosip terakhir menyebutkan, kedudukannya sebagai camat bakal berakhir sebelum masa tugasnya habis, konon karena ia harus mempertanggungjawabkan kebobrokan lima KUD di wilayahnya. Artinya, musibah yang menimpa diri Pak Marsan itu bukan lantaran terbongkarnya skandal cinta yang dijalaninya sekian lama dengan Nurjanah. Dengan kata lain, Bu Marsan tidak – atau belum – ada alasan untuk mendendam pada diri Nurjanah.

“Habiskan dulu rokok sebatang. Alau sudah, pakai kostum lagi,” pimpinan orkes masih ngotot.

“Jangan Mas, saya benar-benar pusing.”

Seusai instrumentalia terpaksa Zahroh naik panggung dengan suaranya yang serak. Satu demi satu penonton meninggalkan arena.

Nurjanah sendiri kemudian pulang naik becak ke tempat kostnya. Jalanan sudah sepi. Seorang lelaki berpotongan rambut cepak naik sepeda motor mengejar dari belakang lalu menyertainya.

“Ada pesan dari bapak, katanya Mbak Nur ditunggu di warung swike besok jam tiga.”

“Bilang saja saya lagi palang merah.”

***

Sampai dengan pukul empat pagi Nurjanah tidak bisa tidur. Pikirannya masih saja dipenuhi berbagai praduga. Baru lah ketika didengarnya ayam jantan berkokok, ia pun segera sadar atas penyebab kegelisahannya. Buru-buru ia mencuci muka dan menyiapkan beberapa pakaian yang dimasukkannya ke dalam tas. Kalau tadi ia mengatakan ingin pulang kampung semata-mata sekedar mengucapkannya begitu saja tanpa benar-benar berniat melakukannya, maka kali ini ia meyakininya sebagai semacam petunjuk bahwa memang itulah yang harus dilakukannya sekarang.

Dua puluh ribu rupiah dari pimpinan orkes dikeluarkannya dari saku celana. Tiga lembar lagi puluhan ribu diambilnya dari bawah tumpukan baju di almari plastik. Semua dimasukkannya ke dalam dompetnya yang berisi tiga lembar ribuan dan beberapa keping uang receh. Sesaat ia memandang tumpukan pakaian kotor di sudut kamar yang sudah tiga hari tidak disentuhnya. Semula ia berniat mencucuinya hari ini, namun niat itu begitu saja tersisih oleh dorongan untuk secepatnya meninggalkan rumah.

Matahari belum lagi terbit ketika ia sampai di terminal bis. Seorang calo yang badannya penuh tato setengah berteriak menegurnya. “Janah! Tadi malam dicari si Ping mau diajak minum-minum.”

“Saya ndak butuh minum. Saya butuh duit!”

Calo itu tertawa berkepanjangan, lalu menarik tangan Nurjanah mendekati sopir bis jurusan Purwokerto. “Titip pacar saya! Mau ke Dongkal!”

Di pasar Randudongkal dibelinya seekor ayam kate jantan, dipilihnya yang benar-benar gagah, juga sekian banyak jajan pasar yang masih segar. Dari situ ia berjalan kaki beberapa puluh meter dan menumpang ojek ke arah barat selama kurang lebih sejam perjalanan.

***

Tidak seperti biasanya pintu depan rumahnya terbuka. Sebuah sepeda motor bebek terparkir di halaman. Ayahnya duduk di amben bambu samping pintu, memegang tongkat panjang kayu melandingan. Nurjanah meraih tangan ayahnya dan menciumnya. “Pak…”

“Siapa ini?”

“Saya Nurjanah, pak”

“Nur… siapa?”

“Janah, anaknya bapak.”

“Ooo… adikmu Warso mana?”

“Tidak tahu, pak. Saya baru datang.”

“Darto?”

“Saya belum ketemu.”

“Jumiran?”

“Nanti saya cari, pak. Bapak mau suruh apa?”

“Sudah bayar uang sekolah dia?”

“Duitnya sudah saya kirimkan, pak. Dibayar atau belum nanti saya tanyakan.”

“Tembakai bapak mana, Pah?”

“Saya bukan Ipah, pak. Saya Nurjanah. Kakaknya Ipah.”

“Nur… siapa?”

Nurjanah meninggalkan ayahnya dan buru-buru ke dalam, pada saat yang sama ibunya ternyata sedang ingin keluar menyambutnya.

“Ipin…” katanya pelan.

Nurjanah cepat membaca gelagat buruk. Buru-buru ia masuk kamar anaknya. Empat adik perempuannya duduk di tepian ranjang mendampingi seorang mantri kesehatan yang tengah memeriksa Ipin. Mata bocah lelaki umur lima tahun itu setengah terpejam, bibirnya bergerak-gerak menyuarakan kata-kata yang tak jelas. Nurjanah mengangkat tubuh anaknya, memeluknya, menciumnya, mendekapnya erat. Badannya sangat panas. Sementara itu mantri kesehatan mengemasi barang-barang bawaanya. “Teruskan saja kompresnya,” katanya pelan sebelum berpamitan.

Tak sampai setengah jam dalam pelukan Nurjanah panas badan Ipin sudah turun. Gumamnya mulai jelas kedengaran.

“Ayam kate, mak…”

“Ya, mak sudah beli. Mak tak mungkin lupa apa yang diminta Ipin.”

“Gagah mak…?”

“Gagah, seperti Ipin.”

“Ipin sakit, tidak gagah.”

“Kalau sudah sembuh pasti gagah.”

“Lalu emak pergi lagi…?”

“Kalau tidak pergi, siapa yang cari uang buat beli ayam kate.”

“Bapak belum ketemu juga ya, mak?”

Nurjanah terdiam. Ia cuma bisa menjawab dengan isak-isak tertahan.

Jakarta, Januari 1991

~ oleh ~*~ pada 11 Januari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: