Sebelum Hari Ini


Judul: Sebelum Hari Ini
Penulis: Sofia Trisni
Diterbitkan: harian Singgalang, Juni 1985. Dimuat dalam buku Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir, Korrie Layun Rampan, Jakarta: Bukupop, 2009.

***

Aku merasa angin mendesir dari jauh. Derunya mengantar bayangan pada ombak. Bila angin kuat dari laut, ombak meninggi. Tapi sejauh apa ombak bisa mendaki, ia akhirnya memilih pecah, menghempas marah kepada karang atau menghambur manja kepada pantai. Lalu pergi, angin meniup, ombak meninggi lagi dan menghempas diri. Derai-derainya ia kumpukan, derai-derainya yang pecah oleh karang. Ombak selalu membangun diri, tapi tak kuasa digoda angin, Tapi aku suka laut, tak henti bergelombang. Keluasan dan kebebasan ia bentang, jalin-menjalin dengan ombak. Kegelisahan berada pada kegagahan ombak. Kebuasan? Mungkin karena gelisah saja ombak kadang-kadang buas.

Aku suka laut. Warnanya biru. Aku suka warna biru karena aku suka laut. Kalau langit bersih, langit juga berwarna biru, awan putih-putih menghiasi. Bukankah indah sekali, ada laut, ada langit, berwarna biru. Ada pula awan menghiasi, ada pantai, ada karang dan ada angin laut yang menari. Angin berbisik dan menari, menggerakkan awan yang turut menari, menggerakkan laut melenggokkan gelombang.

Ombak juga suka menggagahkan diri. Diangkatnya gelombang meninggi dan ketika angin pun pergi, derainya ia kumpulkan lagi. Tapi, jika tak ada angin, tentu awan tak bergerak, laut tidak bergerak. Alangkah mati! Tak ada bisik, tak ada gerak, tak ada gelombang, tak ada ombak. Dan karang jadi sepi dan kering.

Aku mendengar suara angin malu-malu berbisik. Merdu sekali membuaikan pesona. Lebih merdu dari walsa yang dibuat Strauss, lebih indah dari melodi kontrapun yang dibuat Bach, lebih romantis dari simfoni yang dibuat Mozart atau Beethoven. Aku tidak percaya bisa mendengar suara itu, aku bahkan hampir tak percaya ada suara itu. Bernyanyilah angin, bernyanyilah!, kataku. Aku mendengar suara angin itu, aku dengarkan. Ia meniup-niup rambutku hingga kegelian, membelai-belai biji mataku hingga mengantuk. Ia ceritakan keindahan dan janji di atas kesedihannya. Kata angin, ia sepi, ia mengembara ke mana-mana, lalu merasa menemukan diri ketika menemukanku. Kuterima angin, maka aku pun terbuai oleh harapan dan bermimpi!

Tapi angin adalah angin yang tak mau berhenti membisik. Bila aku tak mendengarkan bisiknya lagi, ia menderu dan menyeru, kepada siapa ia bisa menyeru.

Aku melihat dari sini, angin mulai kencang, membuat gelombang pada daun, dahan, dan pohon berayun. Ia membuat gelombang juga dalam dadaku, percaya dan rasa setiaku pun berayun. Padahal jalibut yang kurajut berhari-hari, berbulan, bahkan bertahun telah hampir selesai. Tinggal mematikan buhul bila tiba saatnya. Kemudian kami akan naik perahu berkayuh ke laut. Dengan jalibut ini kami mengolah hidup, jalibut yang kurenda dari benang kasih.

Kami ikatkan ujung-ujung jalibut pada keikhlasan kami, ujung yang lain pada perahu, sedang ujung yang satu lagi kami jatuhkan ke laut hingga jalibut kami merentang seluas laut. Maka pada kami pun membentang hidup. Tentu kami akan bertemu gelombang, menggoyangkan perahu kami, membuat irama pada jalibut kami. Jalibut itu akan makin kuat rajutnya dan ombak tidak akan bisa membalikkan perahu kami. Sekalipun ombak mampu mencuri perahu kami, bukankah jalibut kami merentang seluas laut, ujung-ujungnya tertambat pada keikhlasan kami. Semakin besar keikhlasan kami, semakin kuat jalibut ini menyatukan kami,. Tapi seberapa besar keikhlasan masing-masing kami, aku tak hendak mempertanyakannya, kami masing-masinglah yang dapat mengukurnya.

Angin semakin kencang. Daun dan pohon semakin kencang juga berayun. Di laut, sebentar apakah ombak? Sekali ini angin tidak main-main. Tidak membisik atau menderu. Juga tidak merdu seperti dulu. Tidak lembut, tidak merayu, tapi melimbubu. Kurasa udara mulai sesak karena di langit awan sudah kelabu. Di dadaku juga sesak.

Kenapa angin jadi nakal, menampar-nampar mukaku, memasai-masaikan rambutku? Perahu dan jalibutku ia terbangkan, setia dan percayaku ia goyahkan. Jahatnya! Dan angin makin menggila, jendela dan tingkap ia sibak!

Maka terbukalah dan aku mengerti: Akan ada abadi!

Aku ingat adikku suka nyanyi.

“Nenek moyangku orang pelaut, pergi berlayar tengah samudera. Menentang ombak tiada takut, menempuh badai biasa saja…”

Waktu kecil, aku juga menyanyikan lagu itu, diajarkan oleh guru taman kanak-kanakku, kuajarkan pula pada adikku ketika ia baru masuk sekolah dan belajar membuat kapal-kapalan dari kertas. Mestinya aku mempelajari lagu itu kembali. Tidak hanya mengulangi menyanyikannya, tidak hanya cukup tahu notasi, tempo, dan dinamikanya, tidak hanya pas nada dasarnya, tidak hanya hapal syairnya. Lebih dari sekedar itu semua!

Kukenang pesisir Air Bangis, pesisir barat kampung halamanku. Sebahagian besar orang di sana hidup dari laut. Udang kering dan ikan salai dari sana enak rasanya. Setiap ada keluarga yang pulang, selalu kupesan agar dikirimi, karena di sini sudah mahal sekali harganya, melebihi daging atau ayam. Tetapi nelayan di sana tetap saja sederhana, mempertaruhkan hidup pada angin dan ombak atau juragan. Bila bertemu badai di tengah laut, keluarlah carut dari kerut, sebagai penangkal takut, kata Hasril kawanku yang pernah ikut melaut di sana, Tetapi kata lagu yang sering dinyanyikan adikku, nenek moyang menempuh badai dengan biasa saja.

Apa yang harus kupersiapkan menanti badai? Alangkah dingin dan beku sikapnya kepadaku. Tapi dimatanya kutangkap gelisah ombak. Kutawarkan kopi, ia menggeleng. Padahal dulu, “Ma, bikinkan kopi,” rengeknya, seraya melingkarkan tangan ke pundakku. Ia bagai kanak-kanak nakal dan manja yang menyembunyikan dirinya dari mataku, seperti dikatakan Oom Abrar. Itu dulu, ketika jalibut itu mulai urajut. Sekarang, jika badai memang datang, segalanya akan terberai. Jalibut itu akan tinggal bengkalai. Sia-siakah merenda selama ini?

Sudah begitu sesak. Angin yang berputar-putar, gabak yang kian membengkak berkumpul di dadaku membuat ombak. Kalau di dadaku ombak, ke mana ia akan menghempas? Kulihat langit, langit yang di dadaku, tidak ada warna biru. Semua mengelabu, sementara warna senja membias pelan-pelan. Warna kelabu ini akan bersambung menjadi hitam tanpa bisa kutahan karena petang akan bergerak menemu senja dan senja akan tenggelam ke dalam malam. Malam. Warnanya hitam. Apakah yang bisa diperoleh dari kelam? Tambah padat, tambah menekan di dadaku. Pohon-pohon seperti hendak tercerabut, daun-daun beterbangan, angin simpang siur, mendung telah pekat, udara mengental.

“Nenek moyangku orang pelaut, menempuh badai biasa saja… biasa saja…,”kataku menyanyi. Kuulangi keras-keras, keras-keras dan makin keras dalam hati, kuulangi berkali-kali. Tiba-tiba terbayang laut yang biru, langit yang biru. Awan putih dan terik matahari, karang yang diam, nelayan yang kembali kulitnya legam berkilat ditimpa sinar, para istri yang menanti bercemas hati tapi dengan kesabaran penuh berserah diri.

Mana yang lebih kelam, malam bagi istri nelayan itu atau malam bagiku? Aku hanya sendiri, esok yang kuragukan hanyalah esokku sendiri. Tetapi istri elayan itu mungkin berempat atau berenam dengan anaknya. Dan esok anaknya yang berempat atau berenam? Padahal anaknya belum kenal laut, belum tahu angin atau ombak, baru belajar hurup dan berhitung, bahkan kadang itu pun belum dapat.

Aku jadi malu. Banyak langit yang lebih kelabu, tapi orang bisa mencari warna biru di antara merah dan ungu. Datanglah badai, datanglah, seruku! Kutanamkan karang di hatiku.

Katanya, aku tak lagi setia dan ia tak lagi tempat kupercaya. Aku terlalu pencuriga, dan mengekang langkah-langkahnya. Ia mengepit lain wanita, ha, ha, ha, aku mau tertawa dan kadang kasihan.

“Baiklah,” jawabku, ketika ia putuskan bahwa kami mesti memilih jalan masing-masing. Alangkah mudah baginya, seperti membalik telapak tangan. Aku ingin menyalaminya, sebagai tanda keikhlasan atas segala kebohongannya padaku dahulu. Tapi ia buru-buru pergi, mungkin takut akan rindu lagi. Aku jadi geli, seperti habis nonton pertunjukkan lawak. Kenapa si konyol ini dulu kukagumi?

Gerimis sudah turun, angin masih berayun. Pada daun-daun, pohon, pada tiang-tiang, jalan-jalan dan pada hatiku juga. Tetapi tak ada lagi sesak, karena gabak sudah runtuh menjadi hujan. Hujan menjelang petang. Hei, kenapa dadaku jadi lapang? Tetes-tetes hujan membasahi kepalaku, meluncur berguling di rambutku, mengalir di wajahku, menyinggahi alis, mata, pipi, dan puncak hidungku yang bundar. Melalui bibir, masuk ke hatiku meresapkan kesejukan. Sejuk sekali, seperti sejuk langit bersih udara bebas, laut luas, dan karang bercadas yang kumiliki. Indah juga badai, kataku. Ke mana ombak yang di dadaku tadi menghempas.?

Uda yang baik hati itu menawarkan payung kepadaku. Sebuah payung tentu amat berarti di hujan begini. Aku memang memerlukannya, tapi ada ragu membersit. Apakah yang lebih dari sekedar sebuah payung? Sebuah payung hitam dan besar. Ia menyarankan agar kupakai bila saja kuperlukan, tetapi tidak memberi jawaban yang pasti kenapa ia begitu baik terhadapku. Apakah ia tangan Tuhan yang terulur menyadarkanku agar tetap melindungi diri dari pilek meskipun hujan adalah rahmat-Nya juga? Aku tentu tidak akan berpikir untuk dapat mendengar suara angin lagi, membuat jalibut lalu menanti badai berulang. Tetapi bagaimana menolak kebaikan hati!

Kubuka payung itu, ah berat sekali. Tangkainya mesti kupegang dengan dua tangan. Jika tidak, pasti digoyangkan angin dan tanganku bisa terpelintir, keseleo, bahkan parah. Bahaya, pikirku. Berapa lama aku bisa tahan memegang payung ini tanpa merasa pegal?

“Tunggulah hujan berhenti,” kata Bram. Aku menegun, benar juga, apa salahnya memiliki sedikit lagi kesabaran.

“Kutemani minum kopi, sekadar menghangatkan diri,” lanjutnya. Kutakup payung kembali, lalu duduk bersisian, menikmati kopi dari cangkir masing-masing sambil menunggu hujan berhenti. Kaki-kaki hujan yang panjang saling berkejaran. Gelombang di laut juga saling berkejaran. Aku pun pernah saling berkejaran dengan mimpi hingga tak pernah kurasakan kopi senikmat ini, sebab tak pernah kubuatkan kopi untuk diriku sendiri, hanya berpikir untuk dia saja dan sibuk menjalin jalibut.

Coffein dari kopi yang disuguhkan Bram bekerja cepat dalam urat syarafku, membukakan mataku, membukakan harapan kepadaku. Begitu hujan teduh akan kukembalikan payung ini, payung bagus, meski tak baru lagi, berwarna hitam, tapi terlalu berat bagiku. Aku ingin jalan melenggang memacu harapan yang tergenang.

“Pakailah jaket ini, angin masih kencang,” Bram mengulurkan jaketnya. Biru berkotak merah. Aku suka, pas, dan enak kukenakan. Kenapa selama ini aku tak pernah berpikir tentang orang banyak? Ternyata banyak orang berhati baik.

Tetes air sisa hujan melekat di ujung-ujung daun. Pohon dan jalan tampak lebih indah setelah basah. Langit terbuka dan lebih bersih, awan pun lebih putih. Angin ternyata sahabat setia yang telah memberi berita tentang badai tiba, meski tidak dengan kata-kata. Seharusnya aku bisa lebih arif, tidak menyimpan ombak dalam dada, membiaskan gelisah pada mata. Tetapi rasanya tak ada hari yang lebih berarti sebelum hari ini, karena telah kuakui sebuah kebodohan dan kuikhlaskan sebuah kebohongan. Di depanku laut semakin biru, aku semakin suka, apalagi derai ombak yang berserakan terantuk karang. Tak ingin kukumpulkan derai-derai itu, biar saja, cukup indah begitu. Memandangnya, aku daoat tersenyum pada hati, meski berlinang pada mata!

Padang, 1985

~ oleh ~*~ pada 25 Januari 2009.

Satu Tanggapan to “Sebelum Hari Ini”

  1. uni kemana aja kok liat di fb leo rauf lagi di washington dc, kangen tulis kabarnya dong di email apa di fb lilis permatasari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: