Jagung Panggang


Judul: Jagung Panggang
Penulis: M. Alwi Dahlan
Diterbitkan: majalah Siasat, Tahun VI, No. 27, 1953. Dimuat dalam buku Penyombong Kelas Satu, Penerbit: Dian Rakyat, Jakarta, Juni 2008

***

Hujan rintik-rintik dan awan ikut menggelapi kota. Gumpalan ini kadang-kadang terbang rendah dan segenap penjuru kota diselimuti oleh cadar hitam. Sejak dari Jam Gadang sampai ke jalan lurus di Birugo, kelip-kelip tukang kacang goreng dan jagung panggang menerangi setumpak-tumpak (1) daerahnya. Dan berkelompok-kelompok duduklah orang di sekelilingnya memamah kacang goreng atau menguliti jagung panggang sebutir demi sebutir. Omongan pun keluar demi melihat butir-butiran yang hangus di antara seluruh butir-butir jagung yang merah-merah kuning itu atau karena mendengar keretak-keretak butir-butir cukup hangus. Biar si tukang jagung mana saja demikian; juga pada tukang jagung yang ditemani tukang gerobak itu.

Tukang gerobak itu melihat cermat ke sebutir di antara jagung panggang itu seperti mantri-mantri juru rawat di rumah sakit memikroskopi bakteri, dan kemudian menawar sayu, “dua setalenlah (2) Kak!” Tukang Jagung itu diam sebentar, tidak menjawab. Terdengar ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya seperti orang dalam sekarat. Hanya kipasnya saja mulanya terdengar mengembusi bara pemanas jagung panggang itu.

Lambat-lambat ia berbisik, “Jagung sekarang agak mahal,” sambil mengambil sebutir jagung muda lagi dari keranjangnya yang tersandar di batang kayu. Di atas sedikit di batang kayu itu antara terang dan tidak tampak papan maklumat: terlarang berjualan di sini!.

Tukang gerobak melihat ke papan itu dan menggeleng tidak mengerti. “Sudahlah Kak, dua setalen saja kali ini!” bisik tukang gerobak itu. Kemudian lebih lambat lagi, “perut saya mengeong saja Kak, semenjak tadi.” Ia terhenti sebentar dan melihat kepada orang-orang yang mulai tampak di jalanan.

“Gambar hidup sudah habis,” katanya lagi lambat-lambat.

“Ya,” kata tukang jagung, “kau tak pernah lihat?”

“Tak pernah lihat, tak pernah.”

Tukang jagung menggeleng sayu melihat tukang gerobak, “Yah, kita punya gambar hidup sendiri.”

“Iya, ya.”

“Dan gambar hidup kita lebih bagus lagi.”

“Iy… eh, lebih buruk maksudmu?”

“Ya, ya juga, tapi gambar hidup itu apa ceritanya Kak? Kakak pernah lihat?”

“Cerita orang menipu, cerita orang membunuh, … heh, heh, itu dulu begitu. Sekarang aku tak tahu lagi. Tapi dulu ada juga cerita orang mengemis. Tetapi orang mengemisnya itu dapat uang kalau ia mengemis di gambar.”

“Mmm, harum Kak baunya, dua setalen Kak?”

Tukang jagung melihat lagi lambat-lambat, kemudian meneruskan ceritanya, “sebenarnya mengemis seperti itu juga baik…”

“Iya, tapi kita kan tak bisa, atau kalau bisa, hmmm. Dua setalen ya Kak, sekali ini!”

“Yang kecil-kecil itu jadilah.”

“Kurang bernas (3), Kak!”

“Yang kecil-kecil itu ya…”

Dan seorang tentara mendekati mereka itu. Garang ia berteriak, “Ada jagung yang setalen itu satu?”

“Yang kecil-kecil ini,” kata tukang jagung. Kemudian ia melihat bangga kepada tukang gerobak, “Hmmm, kau ambil apa tidak, ini anak mau mengambil setalen satu…”

“Yang besar?” teriak lantang.

“Lima puluh sen, Pak!”

“Kasih seringgit! (4)”

Dan sebentar kemudian, derap-derap sepatu tentara itu menjauh. Masih kedengaran suaranya, “anak-anak itu banyak cerewet” dan seorang anak sekolah mendekat.

“Mana yang enam seperak?”

“Ndak ada!”

“Ini?”

“Setalen satu.”

“Yang kecil ini?”

“Ya!”

“Hmmm,” kemudian anak itu bersungut, “Mahal, mahal amat sekarang. Huh, uang saku saya cuma seratus lima puluh sebulan. Lain kali saja.”

Dan terdengar lagi suara tukang gerobak, “Kak, dua setalen ya Kak?”

“Ndak ah, ini orang pulang dari gambar hidup, banyak memb…”

Dua polisi mendekat.

“Mengapa kakak jualan di sini?”

“Habis di mana lagi Pak, kalau tak di sini?”

“Tak panda membaca? Itu apa yang tertulis di sana? Untuk apa saja papan itu?”

Tukang gerobak melihat. Kemudian tertawa geli dan berkata jenaka, “Kalau saya sudah letih mendorong gerobak dan berhenti di sini, papan itu jadi sangkutan baju saya.”

Polisi itu tersenyum mengerti dan lambat-lambat berangkat dari sana. “Saya tak mau mengusir,” katanya pada kawannya.

Dan tukang gerobak mendesak lagi, “Dua setalen ya Kak? Dua setalen saja. Kalau tidak karena saya, kaka ditangkap jadinya! Ya, Kak!”

Tak terjawab. Dua buah dokar lalu. Terdengar keleneng-keleneng loncengnya dihiasi oleh telepok-telepok derap kuda di aspal malam. Serombongan anak-anak gadis pulang melihat film. Dan mereka berteriak-teriak bercerita atas mengatasi kawannya yang lain. Dan tiba-tiba seorang berkata, “Hehe, besokan Hari Kartini? Sudahkah diupahkan pakaian nasional kita?”

Seorang gadis genit menyahut, “Aku upah dua puluh lima perak tambah supaya cepat.”

Dan kegalauan suara itu pun semakin menjauh juga.

Seorang nyonya indo yang melancong datang dekat itu.

“Kasih lima perak ya?”

“Ya, Nyonya!”

Kemudian tukang jagung itu mengipas dan sambil menekur ia bertanya, “Pakaian nasional itu apanya? Kartini itu apanya?”

Nyonya itu diam. “Lima perak ya?” katanya keras-keras.

Dan ketika ia berangkat, tukang gerobak mendesak lagi, “Dua setalen ya Kak?”

Tukang jagung itu tersenyum menang, “Ambillah!”

Tukang gerobak mengambil dua buah jagung muda yang bernas dari dalam keranjang, “Bakarkan ini Kak!”

Dan tukang jagung mengipas. Api bara itu memerah, dan keretak-keretak butir-butir jagung yang mulai hangus terdengar lagi. Lambat-lambat api menjilat butir-butir yang mulanya kuning pucat itu, dan butir-butir itu berangsur merah, kemudian mulai kehitaman. Dan beberapa butir-butir terkelupas hangus terlempar dari tongkol jagungnya.

Tukang gerobak yang mulai tersenyum melihat gembira dan memperhatikan perubahan warna itu.

“Kita ini juga jagung panggang,” katanya.

“Mula-mula muda, muda mentah. Putih-putih pucat dibungkus daun jagung. Lama-lama kita dikupas, dibuang dalam api dan dibakari. Dan kulit kita berubah warna, memerah, merah sehat. Tapi lama-lama kita tak tahan dibakari lagi seperti ini. Dan kalau kita tak terkelupas dan terlepas, kita akan dihanguskan saja seperti itu.”

“Hmmmm, iya, ya.”

“Ya, ya dan lama-lama kita kisut. Dan dimakan orang lain…”

“Iya, ya…”

Bau harum mengepul. Keretak-keretak jagung masih terdengar dan lampu-lampu tukang jagung menerangi setumpak-setumpak daerahnya sepanjang jalan. Sebuah Henry J (5) baru meluncur lambat hampir tak berbunyi. Dari dalamnya terdengar suara, “Ah, aduh alangkah indahnya, lampu-lampu tukang jagung berderet itu.”

Dan seorang di atas mobil itu takkan menikmati pemandangan sebagus itu. Lampu-lampu tukang jagung dan tukang kacang berleret (6) di Birugo dan jalan ke Jam Gadang. Sekiranya tak ada orang-orang yang dibakari seperti ini.

Tukanng gerobak menuruti mobil itu dengan matanya, kemudian melihat ke pembakaran jagung. “Masak Kak?” tanyanya, kemudian tersenyum dingin.

“Iya, ya, kita ini sama dengan jagung panggang.” Kata tukang jagung.

Kemudian lambat-lambat ia menghitung lima buah uang lima sen-an yang baru diterimanya dari tukang gerobak.

***

(1) setumpak: sebidang (tanah, sawah bagian dari daerah)
(2) setalen: Rp. 0.25
(3) bernas: berisi penuh
(4) seringgit: Rp. 2.50
(5) Henry J: merek mobil

~ oleh ~*~ pada 8 Februari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: