Lebaran Di Karet, Di Karet…


Judul: Lebaran Di Karet, Di Karet…
Penulis: Umar Kayam
Diterbitkan: Harian Kompas, 2000. Dimuat dalam buku Mata Yang Indah, Cerpen Pilihan Kompas 2001. Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001

***

Menjelang hari-hari Lebaran yang semakin dekat, Is merasa rumahnya semakin kelihatan besar dan kosong lagi. Betapa tidak. Empat ruang tidur di tengah rumah itu hanya dia tempati sendiri sejak istrinya meninggal setahun yang lalu. Ruang-ruang tidur selebihnya selalu kosong sejak anak-anaknya pindah ke luar negeri dan ruang tamu itu lebih lama lagi tidak disinggahi orang. Di bagian belakang rumah, dipisahkan oleh lorong belakang rumah, adalah kamar tempat tinggal sepasang suami-istri Sumo yang sudah ikut keluarga Is selama bertahun-tahun. Mereka akan muncul ke dalam rumah kalau Is memanggil mereka untuk keperluan ini dan itu. Selebihnya tidak ada komunikasi antara mereka.

***

Rumah yang sekarang terasa besar itu dibeli Is dan istrinya waktu mereka pulang dari New York sesudah mereka bertugas dinas selama bertahun-tahun di markas besar PBB. Dengan tabungan uang yang mereka kumpulkan, mereka membeli dua buah Impala dan berbagai perabotan rumah mewah yang lengkap. Dengan hasil penjualan mobil Impala dan perabotan itulah, sepulang di Jakarta, mereka berhasil membuat rumah besar yang mereka huni sekarang ini, Rumah itu besar dan mewah, yang oleh teman-temannya pegawai negeri diejek sebagai rumah menteri besar. Is dan istrinya hanya tersenyum mendengar ejekan itu.

Di rumah besar itulah Is dan istrinya bertahan dengan ulet dan liat mempertahankan kemakmuran dan sedikit kemewahan gaya hidup mereka sebagai diplomat dalam negeri di deparlu, sambil dari sedikit menjuali barang-barangnya sembari membesarkan anak-anak mereka yang masih harus menyelesaikan pelajaran mereka di New York. Dan, waktu dalam beberapa tahun trerakhir mereka menyelesaikan studi mereka dan menyebar mencari nafkah di Geneva, Amsterdam, dan New York, Is dan istrinya menyadari pula bahwa anak-anak mereka sudah waktunya membangun sarang-sarang di luar pohon besar mereka.

***

Dalam hari-hari mendekati Lebaran, Is berharap surat anak-anaknya akan mulai berdatangan, seperti layaknya kebiasaan pada hari-hari seperti itu. Dan, memang betul saja, surat mereka memang pada berdatangan. Tetapi surat-surat itu mengecewakan Is karena pendeknya. Dengan bersungut-sungut surat-surat tersebut dalam beberapa detik telah selesai dibacanya. Huh, wong surat Lebaran buat orangtua kok dikirim dalam kartu pos bergambar… Itu pun dalam beberapa baris… Nana yang menulis dari Geneva minta maaf liburan winter tahun ini tidak jadi pulang ke Indonesia karena sudah janji sama si Jon (kakak si temanten baru nih ye), buat mengajari main ski di Alpen. Opo ora hebat, Dad. Maaf banget, nggih Dad? Makam Mommy apa sudah ditutup nisan? Love kita semua. Kemudian Jon hanya titip salam “Hi, Dad”. Kemudian surat dari Suryo, anaknya yang sulung, yang masih menetap di New York yang masih kerja magang di IBM yang juga minta maaf tidak bisa pulang ke bapaknya karena sudah terlanjur janji untuk libur dengan pacarnya anak Puerto Rico. Sambil terus bersungut kartu pos bergambar dari anak-anaknya itu dilemparkannya ke meja. Huh, anak-anak! Yang tanya ibunya juga cuma satu! Itu pun soal sudah dinisan apa belum…

***

Sakit yang pada akhirnya merenggut nyawa istrinya, buat kanker yang tumbuh di sebelah payudaranya sesungguhnya tidak terduga kecepatan pertumbuhannya. Bahkan mulai dengan bisul yang kecil dahulu. Is juga tidak menganggap terlalu serius. Waktu bisul kecil yang kemudian mulai sedikit membesar, istrinya, Rani, secara iseng menanyakan itu kepada dokternya temannya. Sesudah diperiksa agak teliti teman dokternya mengatakan bahwa bisul itu mengandung gejala tumor. Rani dianjurkan agar lebih teliti dan intensif memeriksakan bisulnya itu ke rumah sakit temannya itu. Is ingat istrinya itu masih dengan senyum ceria melapor kepada suaminya.

“Hey, coba bayangkan, Is. Sesudah sekian tahun di New York baru sekarang di negeri kita yang primitif ini aku mungkin ketahuan kena kanker…”

Is ingat persitiwa itu. Dan, Is tidak dapat tersenyum. Dia takut. Dia khawatir akan kehilangan Rani.

Dan, hari-hari serta minggu dan bulan-bulan Is dan Rani semakin menyadari bahwa ajal Rani akan segera tiba. Mereka memutuskan dua hal. Satu, anak-anak harus diberitahu secepatnya, dan tentulah juga selugas mungkin. Mereka sudah dewasa dan dibesarkan di tengah kehidupan yang modern dan zakelijk. Kedua, bahwa anak-anaknya harus sadar bahwa pada suatu waktu kita akan meninggalkan dunia yang fana, dan semua yang pernah kita cintai dan sayangi karena itulah hukum alam yang tidak dapat kita elakkan. Ketiga, karena anak-anak masih berada di luar negeri, untuk menjauhi kesulitan baik yang emosional atau yang bukan, anak-anak tidak diharuskan hadir pada hari pemakamannya.

Sesudah suami istri itu mendiskusikan semua yang berhubungan dengan hari pemakaman Rani yang akan datang, Is dan Rani berbicara tentang pemilihan tempat pemakaman yang baik. Makam, meskipun hanya tempat jasad kita, mestilah kita usahakan yang baik, tidak rusak dan kotor lagi pula orang yang mau menziarahi makam tersebut tidak akan kesulitan menemuinya. Maka sesudah mereka berunding mereka memilih pekuburan Karet. Rani terutama yang mantap menjatuhkan pilihannya itu. Karet adalah pemakaman khas Jakarta. Semua orang-orang terkenal Jakarta dimakamnkan di situ katanya. Umar Ismail, Djayakusuma dan Chairil Anwar, si binatang jalang itu, Is. Masih ingat kau , Is, salah satu sajaknya… Di karet, di Karet tempat kita yang akan datang…

***

Is masih juga duduk di beranda depan yang luas menghadap halaman depan. Dilihatnya halaman depan itu sudah sejak pagi disapu bersih oleh Pak Sumo. Orang lalu-lalang mulai tampak di jalan depan rumahnya. Tanda hari sudah semakin pagi. Kartu pos bergambar dari anak-anaknya, yang sebelumnya dilempar di meja dibacanya lagi. Mulutnya menyungging senyum membayangkan wajah anak-anaknya, Those rascals… Wajah Nana dan Jon yang paling mereka sayangi muncul di depannya. Mungkin karena kedua anaknya yang perempuan dan bungsu itu yang biasanya selalu minta dimanja oleh orangtua mereka. Tapi toh mereka, pada pemakaman ibu mereka, menerima penjelasan Radi yang gagah itu. Anak-anak sialan, gerutu Is lagi tentang anak-anaknya.

Dan sekarang mereka kan sedang kedinginan di Alpen. Di Alpen (!), gerutu Is lagi. Berapa ongkosnya ke tempat yang semahal itu. Dan gaji-gaji mereka yang masih jatah junior itu! Dibayar dengan kartu kredit? Huh, anak zaman sekarang di mana uang plastik mengatur jalan hidup mereka! Dan kemudian pada gambar pemandangan lanskap Puerto Rico dari Suryo anaknya sulung. Dan anaknya ini rupanya juga akan siap dilarikan pacarnya yang hitam legam dari Puerto Rico.

Is menarik napasanya panjang-panjang. Rasanya baru kemarin anak-anak itu menjadi milik mereka bersama Rani. Di mana mereka masih begitu membutuhkan pertolongan penyelesaian studi dan pencarian kerja dan nafkah mereka. Sekarang mereka sudah menjadi pemilik pohon mandiri mereka. Ia menggerendeng bercampur sungut: kalau begitui naga-naganya, apa aku masih akan ketemu dengan keluarga dan anak-anak mereka. Satu kali waktu nanti. Ah.

***

Pada hari Lebaran, pagi-pagi sesudah shalat Ied, Pak Sumo dan Bu Sumo pergi ke Depok menengok keluarga jauhnya yang juga sudah tua. Sebelum mereka pergi, meja makan di ruang makan sudah ditutup rapi lengkap sdengan berbagai piring, pinggan, penuh berbagai macam hidangan lauk pauk khas Lebaran. Ada ketupat, rendang daging dan paru yang merah kecoklatan, tapi membayang merah dan kepedasannya, sambal goreng hati dan jantung ayam di antara lautan santan kental dan taburan petai dan cabai, opor ayam yang berwarna kekuningan yang bergelimang santan pula.

Is sambil menyedot bau harum masakan pembantunya tidak urung mengumpat orang tua yang baik hati itu. Makanan sebanyak itu siapa yang akan menghabiskannya nanti…

Sesudah mandi dan berganti pakaian bersih dilahapnya sarapan pagi hidangan pembantunya yang baik hati itu. Kemudian Is berjalan bergegas ke garasi. Hari sudah mulai kesiangan sedikit. Jalan sudah mulai ramai dilewati kendaraan bermotor. Is mulai menyadari bahwa orang mulai bergerak dalam arus Lebaran. Pelan-pelan Is membuka garasinya, kemudian dengan pelan pula mendorong mobil Toyota tua dari kantornya dengan terengah-engah. Sambil terengah-engah karena khabisan napas dia masih mencoba tersenyum menyadari ketuaannya dan keteringatannya pula waktu dia dan Rani masih menaiki Impala pribadi mereka.

Waktu akhirnya dia duduk di belakang stir, siap untuk menghidupkan starter tiba-tiba dia harus berpikir keras. Mau ke mana? Ke makam Jeruk Purut atau ke Karet? Dia berhenti berpikir. Tiba-tiba Is terkenang akan diskusi di kamar tidur mereka. Rani ingin dimakamkan di Karet. Pemakaman yang paling terkenal di Jakarta itu. Juga semua orang dimakamkan di Jakarta. Iya, kan? Di Jakarta, di Jakarta…

Dengan tegas Is menghidupkan starternya jrek-ejrek-ejeerk sreek-sreek-jreeeng dan hidup mesin itu. Dengan ketegasan sopir pribadi New York, mobil dinas Toyota Deparlu itu mengebut keluar jalan raya. Dengan tegas berhenti sebentar kemudian membanting stirnya ke arah jurusan kiri. Ke Karet, ke Karet – tidak ke Jeruk Purut ke tempat Rani – melainkan ke Karet, ke Karet… Rani pasti setuju dan senang. (***)

~ oleh ~*~ pada 15 Februari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: