Jakarta Sunyi Sekali Di Malam Hari


Judul: Jakarta Sunyi Sekali Di Malam Hari
Penulis: Jujur Prananto
Diterbitkan: Harian Kompas, 16 Januari 2000. Dimuat dalam buku Mata Yang Indah, Cerpen Pilihan Kompas 2001. Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001

***

Jam besar di atas peron stasiun Tanahabang menunjuk pukul dua kurang delapan menit. Kereta api luar biasa jurusan Kutoarjo sudah setengah jam lebih berangkat lagi ke arah selatan diserbu oleh sisa-sisa penumpang yang terpaksa bertahan menanti hingga dini hari untuk mudik di hari ketiga Lebaran, meninggalkan sampah koran alas tidur, robekan kertas bungkus nasi, plastik minuman, sengatan bau pesing dan aroma anyir sisa muntahan. Setelah itu segalanya menjadi sunyi. Tak kedengaran lagi lengkingan peluit kondektur, deru lokomotif, maupun tangis bayi kehausan, kecuali sayup-sayup alunan dangdut yang terpancar dari radio kaset murahan dari kejauhan sana.

Dengan satu tarikan napas panjang Mudakir berdiri, menjinjing kotak kartun berisi berbagai makanan dengan tangan kanan dan menempatkan tas besar berisi beberapa lembar pakaian di bahu kiri, lalu berjalan melintasi gerbang menuju jalan raya depan stasiun yang remang oleh banyaknya lampu penerangan yang mati.

Namun tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Orang-orang yang biasa berlalu-lalang seperti begitu saja menghilang tanpa bekas. Beberapa kendaraan roda tiga memangkal di depan bengkel tambal ban tanpa ada yang menjaga, sementara empat truk besar parkir malang-melintang di sisi dinding sebelah utara dengan sebagian awak yang tertidur lelap di dalam kabin.
Maka Mudakir pun terpaksa sendirian berjalan kaki menuju rumah Wanti yang terletak di sebuah gang di ujung jalan stasiun ini. Matanya yang sudah berlapis katarak tebal dipaksanya terbuka lebar untuk menghindarkan diri dari kerikil-kerikil tajam dan bebatuan licin di permukaan jalan yang dilaluinya.

AH, sudah sebesar apa cucuku sekarang,” pikirnya dalam hati. Terakhir kali bertemu empat tahun yang lalu, kalau tak salah Bayu berumur tiga tahun. Waktu itu untuk pertama kali pula Hasmanan, suami Wanti, berkunjung ke rumah di Magelang setelah sebelum-sebelumnya selalu mudik ke Bukittinggi saat lebaran. Namun tahun berikutnya dan berikutnya lagi, mereka tidak pernah lagi muncul, bukan karena Hasmanan mengajak Wanti berhalal-bihalal di kota kelahirannya, melainkan menurut pengakuan Wanti lewat suratnya yang terakhir – “kondisi tidak memungkinkan kami melakukan perjalanan ke luar kota bersama-sama”, tanpa menjelaskan lebih lanjut pengertian “kondisi” yang disebutkannya.

Meski tahu hidup zaman sekarang serba susah, Mudakir tidak yakin benar anak dan menantunya menjadi sedemikian miskin sampai tak mampu mengongkosi perjalanan pulang kampung. Tetapi ia juga tak mau membahas hal ini dengan Wanti lewat surat balasan yang ditulisnya, demi menjaga perasaan anak perempuannya ini. Ia tidak ingin Wanti menjadi semakin bersedih atau merasa bersalah pada diri sendiri, kalau ternyata “kondisi” yang dia maksud memang kondisi ekonomi.

Begitulah, setelah dua kali lebaran, Wanti sama-sekali tak terkabar, Mudakir sangat ingin mengetahui secara persis nasib anak bungsunya ini, dan memutuskan untuk sendirian ke Jakarta tanpa pemberitahuan sebelumnya, khawatir Wanti justru menutup-nutupi kekurangannya kalau sudah tahu ayahnya akan datang.

***

Namun setelah tak kurang dari setengah jam Mudakir berjalan tertatih-tatih, ternyata rumah Wanti tak kunjung ditemukannya. Jalan raya di seberang ujung gang yang telah berubah menjadi jalan layang membuatnya begitu gamang, seolah memasuki daerah yang sama-sekali baru. Dia juga merasa begitu banyak bangunan baru yang tak pernah dikenalnya, dan banyak bangunan lama yang dulu bisa dimanfaatkannya sebagai pedoman perjalanan kini tak bisa ditemukannya lagi. Mudakir pun terpaksa berjalan kembali ke arah stasiun, bermaksud ingin melepas lelah dan menunggu terbitnya matahari di sana.

Alunan dangdut yang saat ia meninggalkan stasiun tadi didengarnya samar-samar, kini kedengaran lagi dan kian lama kian keras.

Suara ini berkumandang dari sebuah hotel murahan beberapa belas meter dari seberang stasiun, disetel oleh seorang wanita berumur lima puluhan yang duduk di atas tikar di lantai lobi hotel ini, mengenakan daster batik merah tua untuk menutupi tubuhnya yang tambun. Meski terkantuk-kantuk, matanya ternyata masih cukup tajam untuk melihat Mudakir melintas beberapa meter di hadapannya.

“Sendirian, nih?”

Mudakir menghentikan langkahnya, merasa kaget karena mengira teguran itu diucapkan oleh orang yang mengenalnya. “Siapa, ya?”

“Nggak usah nanya siapa, kalau mau mampir, mampir aja.”

Mudakir merasa penasaran dan mendekati wanita ini, namun ia agak kecewa karena ternyata wanita ini sama-sekali tak dikenalnya, meski kemudian timbul rasa syukur juga bahwa pada akhirnya ia menemukan teman bicara.

Wanita ini lalu memperkenalkan diri sebagai pengganti resepsionis hotel yang sudah seminggu pulang kampung, dan bercerita bahwa hotel yang ditunggunya ini sudah hampir seminggu tak ada tamu. “Makanya saya heran, orang-orang pada pulang kampung, Bapak ini malah ke Jakarta,” katanya.

Setelah Mudakir menceritakan tujuannya ke Jakarta, wanita ini menawarkan fasilitas penginapan di hotel yang dijaganya. Mudakir mengaku tak punya cukup uang untuk membayar kamar, namun wanita ini terus merayu dan mendesak, sampai akhirnya Mudakir menjawab “ya”, sebab ia memang merasa terlalu letih dan ingin berbaring di tempat yang layak.

***

Tempat yang layak” itu ialah sebuah kamar hotel ukuran tiga kali tiga meter dengan penerangan lampu pijar lima watt berdinding warna cokelat muda. Dinding yang remang-remang tampak kusam oleh coretan-coretan tulisan dan gambar yang hampir semuanya bicara tentang petualangan seks dan cinta. “Desahmu di antara derit ranjang takkan pernah kulupa… Di sini pertama kali benih bersemi…” berikut belasan ilustrasi pasangan pria-wanita bersenggama dengan berbagai cara. Mudakir cuma bisa menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang berlapis kasur tipis yang sangat lembab serta penuh noda berbentuk peta kepulauan. Beberapa saat kemudian si wanita tambun masuk untuk memasang sprei berwarna putih kecokelatan, dan Mudakir menyingkir dengan pergi ke toilet bermaksud buang air.

Namun begitu masuk ke dalam langkah Mudakir langsung tertahan.

“Pompa airnya belum saya nyalakan,” kata wanita ini tanpa ditanya, seolah ingin lebih dulu memberi penjelasan sebelum tamunya mempertanyakan bak air yang kering-kerontang. Mudakir lalu membuka sepotong tripleks yang menutupi lubang WC, dan tampaklah betapa lubang WC itu sama-sekali tersumbat gumpalan kotoran manusia yang sebagian sudah mulai mengering. Mudakir buru-buru menutupnya lagi untuk segera kembali ke kamar, menjumpai wanita itu sudah selesai memasang sprei dan kini duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok.

“Mau langsung tidur apa mau dipijat dulu?”

***

Pijatan perempuan tua ini sebenarnya terlalu lembut, tetapi Mudakir memilih diam dan mencoba menikmatinya.

“Memang sebelum kemari Bapak tidak kirim surat atau menelepon ke puterinya, supaya bisa menjemput Bapak di stasiun?”

“Buat apa pakai menelepon segala. Seperti orang penting saja.”

“Lebih baik seperti orang penting daripada seperti orang telantar.”

“Ah, ndak apa-apalah semalam jadi orang telantar. Besok pagi kalau hari sudah terang pasti saya bisa menemukan rumah anak bungsu saya itu.”

“Memang anaknya semua berapa, Pak?”

“Empat. Yang sulung sama yang nomor dua kerja di luar negeri.”

“Wah, hebat ya?”

“Yang sulung kerja di kapal, yang nomor dua kerja di pabrik mobil di Korea. Yang ketiga mengikuti jejak bapaknya jadi pegawai negeri.”

“Enak ya Pak, jadi pegawai negeri. Sudah tua nggak perlu kerja seperti saya. Tinggal tunggu uang pensiun tiap bulan bersama istri di rumah.”

“Istri sudah meninggal.”

“Oooh. Kalau yang bungsu ini kerja di mana?”

“Di rumah saja. Suaminya punya restoran di daerah Roxy. Saya sebenarnya merasa sayang anak saya itu akhirnya cuma tinggal di rumah saja selepas nikah. Di SMA dulu dia termasuk bintang kelas. Otaknya encer, mana cantik, lagi. Di antara kakak-kakaknya cuma dia yang kuliah sampai sarjana muda.”

“Maaf, tangannya mau dipijat, nggak?”

“Tidak usah.”

“Kepalanya?”

“Tidak usah.”

“Lalu… sekarang mau apa lagi?”

“Mau tidur. Saya ngantuk sekali.”

“Kalau gitu buat kamarnya tolong dibayar sekarang saja.”

“Oh,” Mudakir buru-buru mengambil dompet dari kopornya. “Berapa?”

“Empat puluh.”

“Lho? Saya baca di loket tadi semalam dua puluh lima?”

“Malam lebaran, Paaak, harganya pasti lain.”

Mudakir merasa tak enak. Hati-hati sekali diambilnya empat lembar puluhan ribu, seperti takut ada lembaran lain yang ikut terbawa di luar perhitungannya. Setelah dihitung ulang tiga kali, uang itu diserahkannya ke wanita ini.

“Lha buat saya mana?”

“Katanya empat puluh?”

“Empat puluh buat hotelnya, Pak. Masa saya sudah capek-capek mijit nggak dapet apa-apa.”
Kali ini Mudakir mulai panik. “Berapa?”

“Terserah Bapak. Asal pantas saja.”

Beberapa saat Mudakir terpaku diam. Tangannya yang memegang dompet gemetar di luar sadar. Sampai akhirnya ia hati-hati ia mencabut selembar lima ribuan dan diserahkannya pada wanita ini. “Maaf, ya. Saya cuma bisa ngasih segini.”

“Malam lebaran, Paaak, jangan pelit-pelit sama orang miskin seperti saya.”

“Kalau lebih dari ini, buat beli karcis pulang nanti bakalan kurang.”

“Kan bisa minta sama anaknya?”

“Kalau begitu nanti saja, kalau sudah ketemu anak saya, saya mampir lagi buat bayar kekurangannya.”

“Nggak bagus lebaran punya utang. Sudah, buat saya dua puluh saja sini.”

Wanita tambun ini menyodorkan tangannya dekat-dekat ke tangan Mudakir hingga Mudakir merasa terpojok. Terpaksa Mudakir mengeluarkan lagi dua lembar puluhan ribu dan langsung diberikannya pada wanita ini, yang kemudian segera meninggalkan Mudakir sambil bergumam keras, “Lain kali kalau bokek nggak usah menginap di hotel segala, Pak.”

***

Setelah itu Jakarta terasa kian sunyi di malam hari. Namun keramaian yang amat riuh dalam pikiran Mudakir membuat lelaki tua ini bertambah lelah sekaligus kehilangan kantuknya, dan baru jatuh tertidur setelah langit di ufuk timur memerah.

Mudakir terbangun oleh peluit kereta api yang melengking nyaring, saat hari sudah terang. Ia bangkit berdiri dan hendak mandi, tetapi menjumpai bak air masih kering kerontang. Ia lalu membenahi barang-barang bawaannya, termasuk mengambil dompetnya yang terjatuh di lantai dan secara sambil lalu meneliti isinya.

Masya Allah! Sisa uang yang tinggal empat puluh ribu di dalamnya raib pula! Mudakir buru-buru ke lobi, namun wanita tambun itu sudah menghilang entah ke mana. Akhirnya, dengan segala kepasrahan, ia memutuskan segera meninggalkan hotel untuk mencari rumah Wanti yang semalam gagal ditemukannya.

Ternyata di pagi yang terang-benderang dengan mudah Mudakir bisa menemukannya. Namun, seperti rumah-rumah lain di lingkungan ini, pintu depan dan jendelanya pada rapat terkunci. Mudakir mengetuknya beberapa kali, dan tak terdengar jawaban sama-sekali.

Mudakir berjalan ke sana-kemari mencari-cari orang yang bisa ditanyai, tetapi tak ada satu pun dia temui. Mungkin masih pada tidur, pikirnya menghibur diri. Atau jangan-jangan semuanya pada pulang kampung. Akhirnya ia kembali ke rumah Wanti, duduk di tangga luar dan hanya bisa menanti. “Mudah-mudahan Hasmanan tidak mudik ke Bukittinggi,” begitu ia berharap dalam hati.

***

Kurang lebih dua bulan kemudian, Hasmanan mengajak Wanti dan kedua anaknya ke Semarang dalam rangka pembukaan cabang baru restorannya di daerah Gombel, naik sedan baru yang mereka beli menjelang lebaran. Selesai acara di sana Hasmanan bertanya pada istrinya. “Kita mampir ke Magelang apa tidak?”

Wanti tidak segera menjawab.

“Sudahlah. Sekali-sekali tengoklah ayahmu. Soal ada perempuan di rumah itu jangan terlalu kamu hiraukan. Kalau dia memang pacar Bapak, biarkan saja. Apa salah Bapak mempersiapkan diri untuk menikah lagi?”

“Menikah lagi setelah bertahun-tahun membuat Ibu menderita?”

“Mungkin Bapak gagal membahagiakan Ibu, tetapi jangan pernah menuduh dia sengaja membuat Ibu menderita. Bapak cuma tidak pintar mencari uang. Terlalu jujur sebagai seorang pegawai negeri. Di sisi lain ibumu bercita-cita tinggi menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana tetapi tak kesampaian karena ketidakpandaian ayah mencari uang itu tadi, lalu diam-diam memendam penderitaan batin sampai benar-benar sakit dan meninggal dunia. Intinya itu ‘kan, masalahnya?”

Wanti tidak mengiyakan atau pun membantah pendapat suaminya, tetapi juga tidak melarang ketika akhirnya Hasmanan meluncurkan sedan barunya memasuki Kota Magelang.

***

Para mantan tetangga kaget melihat Wanti turun dari sedan baru dengan penampilannya yang cantik. Bergantian mereka menyalami dan memuji-muji keberhasilan hidup Wanti di Jakarta. Namun setelah semua penumpang sedan turun, mereka pada bertanya. “Mana Bapak?”

Wanti seketika merasa heran. “Memang Bapak ke mana?”

“Lebaran kemarin Bapak ‘kan ke Jakarta, ke rumah kamu.”

“Lalu sekarang di mana?”

“Lho, kita mengira kamu kemari ini dalam rangka mengantar Bapak pulang.”

“Bapak tidak pernah datang ke rumahku di Jakarta”.

“Kalau tidak ke Jakarta lalu ke mana?” semua pada bertanya-tanya. Wanti mulai berpikir ke arah kemungkinan yang terburuk. “Atau… jangan-jangan Bapak ke tempat perempuan itu untuk menikah diam-diam?”

“Maksudmu yu Ijum yang pernah kamu lihat waktu terakhir kamu kemari? Dia sudah kawin sama orang lain setelah ayahmu mengaku tak mau menikah lagi.”

Wanti merasa lemas. “Jadi Bapak ke mana???”

Setelah berpikir beberapa saat, jantung Wanti sekonyong-konyong berdegup keras.

“Ya Allah! Saya belum pernah kirim kabar ke Bapak kalau kita sudah pindah dari Tanahabang!”

Jakarta, 20 Desember 1999

~ oleh ~*~ pada 22 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: