Di Atas Kereta Listrik


Judul: Di Atas Kereta Listrik
Penulis: Hamsad Rangkuti
Diterbitkan: Harian Kompas, 20 Juni 1999.

***

DI atas kereta rel listrik, aku sedang memanfaatkan jasa perjalanannya untuk pulang. Penumpang tidak banyak. Dua bangku panjang yang menempel di kedua dinding gerbong hanya diduduki beberapa penumpang. Di sebelahku duduk seorang gadis remaja. Di sebelah yang lain, tidak ada penumpang. Sedang di seberang kami, persis berada di depanku duduk sepasang remaja yang tampak segar dan bergembira, membawa kotak kardus bergambar pesawat elektronik, teprekoder. Dari kotak kemasannya yang baru kelihatan kalau teprekorder itu baru saja mereka beli.

Kereta rel listrik itu memperlambat jalannya dan berhenti di sebuah stasiun yang sedang disinggahinya. Tiga pintu katup di salah satu dindingnya terbuka secara otomatis. Seorang remaja sekolah menengah umum naik dan duduk di sebelahku. Kemudian ketiga pintu katup itu tertutup kembali secara otomatis dan kereta rel listrik itu pun melanjutkan perjalanannya.

Tidak lama setelah itu, sekawanan remaja sekolah menengah umum seusia anak yang duduk di sebelahku itu muncul dari gerbong yang berasal di depan gerbong kami. Mereka masuk dengan sikap yang beringas dan tidak menunjukkan sikap sopan. Inilah awal malapetaka itu.
Melihat kedatangan sekawanan anak sekolah itu, anak laki-laki yang baru naik itu dan yang duduk di sebelahku, jadi gelisah. Dia bergeser rapat ke dekatku.

“Tolong lindungi saya, Pak”, katanya. “Saya sama sekali tidak ikut terlibat perkelahian itu. Aku tidak ikut-ikutan.”

Dia menjadi cemas dan semakin gelisah. Mungkin dia menyadari kalau dia sedang berhadapan dengan bahaya, dan dia sudah terperangkap di antara langit-langit dan dinding gerbong. Tak ada tempat untuk menghindar. Pindah ke gerbong lain, sudah tidak mungkin. Gerbong yang kami tumpangi adalah gerbong terakhir. Sedangkan kalau dia mau pindah ke gerbong berikutnya, tindakan itu sama artinya menyongsong kedatangan mereka. Satu-satunya jalan yang terbaik, dan itu tidak mungkin, adalah melompat lewat jendela. Maka pilihan yang terbaik menurut dia, berlindung padaku.

“Murid-murid di sekolah kami berkelahi dengan murid-murid di sekolah mereka. Ada tiga korban yang terbunuh dari pihak mereka. Saya tidak ikut-ikutan dalam perkelahian itu. Tolong lindungi saya, Pak.”

“Kalau begitu persoalannya, duduklah dengan tenang di sebelahku. Tak ada yang perlu dicemaskan. Bersikaplah seolah kau anakku.”

“Terima kasih,” katanya.

Namun semuanya terjadi di luar perhitunganku. Dan tak dapat dihindarkan mereka pun melihat anak itu dan dapat menandai dari seragam sekolah yang dikenakannya. Seorang dari mereka datang ke arah kami, mencengkeram dan merenggut kerah baju di bagian lehernya. Terdengar benang tetas di bagian kerah yang direnggut itu. Mereka menyeretnya dari sisiku. Aku langsung bertindak mencegahnya. Tetapi mereka mendorongku dengan kasar, membiarkan aku terjungkal di atas lantai. Kemudian dengan sangat brutal mereka melakukan penganiayaan padanya. Sekarang, gerbong itu telah berubah menjadi arena penyiksaan.

“Saya tidak ikut-ikutan.” Kata anak yang disiksa itu dalam rintihnya. Seragam sekolah yang dipakainya direntap mereka dan sobek memanjang memperlihatkan baju dalamnya. Darah menetes dari bibirnya. Melihat penyiksaan itu aku tak bisa berdiam diri. Aku bangkit dan bertindak mencegah kesewenang-wenangan mereka.

“Apa permasalahannya. Mari kita selesaikan dengan baik-baik. Jangan bertindak seperti itu. Siapa tahu dia bukanlah orang yang kalian maksud.”

“Bapak jangan ikut campur,” kata salah seorang dari mereka. Dia memegang besi lancip seperti obeng. “Siapa pun di antara kalian yang mencoba ikut campur, kami tidak akan segan-segan melukainya. Tiga teman kami mereka bunuh dengan cara yang kejam. Tanda pengenal sekolah mereka, mereka ikat di leher teman-teman kami itu seperti dasi kematian. Kekejaman harus dibalas dengan kekejaman yang sama!”

“Aku tidak ikut berkelahi. Aku tidak ikut membunuh. Aku hanya dari sekolah yang sama. Tolong, jangan bunuh aku,” kata anak itu.

“Diam! Tiga teman kami telah kalian bunuh dengan cara yang kejam. Apa pun yang kau katakan sekarang, aku tidak percaya. Kau dusta! Sekarang, jangan coba-coba berlindung di balik kata-kata bohongmu!”

“Biarkan dia bicara, supaya jelas duduk soalnya,” kataku.

“Diam kau orang tua!” hardik mereka. Sebuah tendangan yang luar biasa kuatnya menghantam mukaku. Aku tersungkur di lantai. Ceceran darah terasa hangat menjalar di bawah hidungku. Salah seorang dari mereka menghunus belati, diarahkan kepadaku. Sementara anak yang menendang mukaku, mengayunkan ujung tajam sepotong besi penghancur batu es, dalam jarak yang sedemikian dekat. “Sekali lagi ikut campur, ini akan melukaimu, Pak Tua.” Diayunkannya benda tajam itu semakin dekat. “Ini adalah perkelahian antar-pelajar! Orang tua tak perlu campur. Mengerti!”

Anak gadis yang duduk di sebelahku bergegas menghampiriku dan melindungiku dari amukan mereka. Memapahku ke tempat duduk semula. Dikeluarkannya kertas tisu, dihapusnya darah yang menetes di bibirku.

“Semua yang ada di sini jangan coba-coba ikut campur. Ini perkelahian antarpelajar! Sebaiknya kalian duduk saja di bangku kalian dengan tenang dan saksikan pembalasan ini.”
Salah seorang dari mereka merobek seragam sekolahnya sendiri dalam satu sobekan panjang, mengambil tanda pengenal sekolah yang menempel di lengan bajunya. Cabikan panjang itu dia lilitkan di leher anak laki-laki itu, seperti simpul sebuah dasi. “Biar mereka tahu siapa yang melemparkannya dari atas kereta rel listrik ini. Hanya tinggal beberapa detik saja lagi, dendam akan terbalas!” Dia berpaling ke arah pintu. “Buka pintu itu!”

Murid-murid sekolah menengah umum itu memasukkan alat pencongkel ke bagian celah tempat bertemunya kedua daun pintu katup itu. Alat pencongkel itu mereka tekan ke satu arah dan pertemuan kedua daun pintu katup merenggang. Sebuah celah tegak lurus tercipta di tengah bingkai pintu. Dua kekuatan yang berlawanan memperlebar celah itu. Dan sekarang, bingkai pintu kereta rel listrik itu terbuka lebar. Angin keras mendesak masuk melalui pintu yang telah terbuka itu, lalu menyerang muka para penumpang, mempermainkan ujung baju, dan menyisir rambut. Angin membawa masuk bau perkampungan miskin yang padat yang tumbuh di sepanjang kedua sisi rel. Pemandangan itu menyentak dan menyadarkanku. Anak laki-laki itu berada dalam ambang kematiannya. Aku mencium bau kematian itu. Dan sekarang, kulihat mereka menyeret anak laki-laki itu ke arah pintu. Aku ambil keputusan yang amat sangat mengandung risiko. Tidak akan aku biarkan pintu kereta rel listrik itu menjadi lubang menuju kematiannya. Maka, tak ada yang bisa kulakukan kecuali meminta belas kasihan mereka. Aku melompat dan merangkul kedua kaki anak laki-laki yang memegang besi penghancur batu es. Aku menangis memohon belas kasihan kepadanya, meminta agar dia dan kawan-kawannya mengurungkan niat mereka.

Tetapi mereka ternyata telah menjadi iblis. Dengan beringas dia tendang tubuhku. Membiarkan aku terjungkal di lantai. Aku segera bangkit, merangkak mendekati kedua kaki yang terseret di lantai. Aku melompat menerkam kedua kaki yang terseret itu. Merangkulnya, menahan kedua kaki itu di dalam dekapanku sekuat tenaga. Aku tidak ubahnya seperti lantai kereta rel listrik itu dan kedua kaki yang berada di dalam dekapanku adalah tiang yang melekat di atasnya. Tetapi mereka banyak dan lebih kuat. Aku terseret di atas lantai gerbong itu. Aku sekarang tak ubahnya seperti hewan yang terseret di ujung seutas tali yang ditarik pemiliknya. Pada saat seperti itulah, mereka meletakkan tapak-tapak sepatu mereka di bahuku, menahan tubuhku saat mereka mencabut kedua kaki itu. Kedua kaki itu terlepas dalam rentapan tangan-tangan mereka. Sebelah dari sepatu yang dikenakannya, tertinggal di dalam dekapanku, seperti umbi patah dari batangnya, saat dicabut si petani. Setelah itu, mereka seret anak laki-laki itu ke pintu, mereka lemparkan ke luar gerbong.

Jerit kematian terdengar menyudahi eksekusi itu. Kemudian pintu rel kereta rel listrik itu terkatup kembali. Tak terdengar ada suara setelah itu, kecuali bunyi roda bergelinding di bawah lantai, melindas sambungan rel yang renggang di kedua rentangannya, makin memperjauh jarak antara sepatu dan pemiliknya.

Maut tak bisa dilawan. Hidup hanya untuk masa yang singkat. Semuanya tentu akan menghembuskan napas penghabisan. Kematian selalu datang dengan caranya. Sangat beragam. Rencana Tuhan tak pernah bisa diterka. Semua telah menjadi kemauan takdir.

DI atas kereta rel listrik itu, di gerbong terakhir yang kami naiki, telah berkurang satu penumpang. Tak ada di antara kami yang bicara. Kami seperti orang-orang kalah. Semua membisu. Tergambar duka yang tak terlukiskan. Semua masih terguncang oleh peristiwa pembunuhan itu. Sangat mengejutkan. Mencekam dalam kengerian yang teriris. Mungkin karena itu pulalah penyebab segalanya maka tiba-tiba anak muda yang membawa teprekorder itu mengatasinya dengan hal yang aneh. Dia tiba-tiba berdiri dan berkata lantang.

“Bapak-bapak. Ibu-ibu. Rekan-rekan. Mari kita lupakan sejenak segala tindak kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Mari kita lupakan sejenak segala duka! Segala perih! Segala kepengecutan kita. Sekarang, mari kita bergembira.”

Dikeluarkannya teprekorder itu dari dalam kotak pembungkusnya. Kami semua memperhatikannya.

“Saudara-saudaraku sekalian, marilah kita kendurkan sejenak ketegangan saraf kita. Mari kita lupakan sejenak segala teror yang diberondongkan kepada kita. Mari kita lupakan sejenak segala kesewenang-wenangan. Segala kekejaman. Kebengisan. Dan kebrutalan. Aku dan kekasihku baru saja membeli sebuah teprekorder. Suaranya sangat bagus untuk sejenisnya. Sekarang, mari kita bergembira!”

Dikeluarkannya teprekorder itu dari dalam kotak pembungkusnya. Dimasukkannya sebuah pita rekaman. Dipencetnya sebuah tombol di sana dan dalam volume tinggi, mengumandanglah sebuah lagu. Dia raih tangan kekasihnya yang duduk bersamanya. Diajaknya berdiri. Dan keduanya pun menari. Mereka di atas kereta rel listrik yang sedang berjalan laju.

“Ayo semua menari,” ajaknya. “Mari kita lupakan sejenak segala duka. Duka yang diakibatkan segala macam kekerasan. Duka yang terjadi di ladang-ladang pembantaian. Mari kita menari. Mari kita lupakan sejenak semua itu. Mari kita menari bersama.”

Melihat tingkah kedua remaja itu, ditambah ajakannya yang menggoda, serta musik pengiringnya yang merangsang, penumpang-penumpang yang tidak banyak itu pun tergelitik untuk turut menari. Semua mereka sekarang menari. Anak gadis yang duduk di sebelahku itu mungkin tergoda pula untuk ikut menari. Dia menoleh kepadaku dan berkata:

“Mari kita ikut menari, Pak.”

“Taklah. Badan Bapak masih terasa sakit. Kau sajalah yang menari.”

“Tapi tak ada pasangan yang tersisa untukku. Ayolah. Temani saya. Tak apalah sakit-sakit sedikit. Apa kata anak muda itu? Lupakan sejenak segala duka! Ayo. Mari kita sejenak ikut berlupa-lupa.”

“Bapak tidak pantas menari bersamamu. Malu dilihat orang. Apa kata mereka nanti? Si tua yang tak tahu di tuanya!”

“Semua orang sekarang ini sedang gila menari! Tak pantas kalau kita tidak ikut menari di tengah orang yang sedang menari. Ayolah, Pak. Ayolah. Malu bukan lagi milik orang sekarang ini. Ayolah. Lupakan sejenak segala duka! Mari bergembira.” Ditariknya tanganku. “Saya ingin sekali menari di atas kereta rel listrik yang berjalan. Bagaimana rasanya melenggok di atas lantai yang bergoyang. Tak pernah saya temukan suasana gila seperti ini, seumur-umur. Ayolah, Pak. Mumpung ada orang yang mengambil inisiatif.”

Makin ditariknya tanganku. Betul juga katanya itu, tak pantas berdiam diri di tengah orang yang menari. Aku pun mengikuti ajakannya. Aku ikut gila di tengah kegilaan yang gila. Gadis belia itu tersenyum melihat aku melenggok dalam kerapuhan yang dimiliki seorang yang telah tua. Ia tersenyum melihat aku berlenggok mengimbangi gerak lincah yang remaja.

“Ternyata Bapak pintar menari. Tidak kusangka,” katanya berseloroh.

“Jangan terlampau memuji. Di atas lantai bergoyang semua orang pintar menari.”

“Tetapi, tampak Bapak memang pintar menari. Barangkali Bapak adalah seorang pecinta seni. Khususnya seni tari.”

Kereta rel listrik itu tiba-tiba berjalan perlahan dan berhenti. Pasangan remaja itu turun, tanpa mematikan musik yang mengumandang dari dalam teprekorder yang dibawanya. Orang-orang yang menari itu ikut pula turun, sambil terus menari seolah tersihir musik yang terus mengumandang dari teprekorder itu. Aku pun ikut terpukau, ikut turun dari gerbong, mengikuti irama musik yang terus mengumandang itu. Kami seolah telah menjadi tikus-tikus dalam sebuah dongeng mengikuti tiupan suling seorang pangeran.

Begitu kakiku menginjak peron, tiba-tiba aku teringat akan sepatu anak laki-laki yang tertinggal di dalam gerbong. Aku seperti diingatkan. Aku dikembalikan pada niatku. Aku telah memutuskan hendak membawa sepatu itu ke rumah. Aku akan tunjukkan kepada anak-anakku di rumah, bahwa sepatu itu merupakan wujud sebuah duka yang sangat memilukan dari hasil perkelahian antarpelajar seusia mereka.

DI atas kereta rel listrik itu banyak orang menggunakannya untuk segala kepentingan yang berbeda. Selain sebagai alat transportasi yang murah dan lancar, ada pula yang memperlakukannya sebagai tempat untuk mencari makan, baik yang halal maupun yang tidak halal. Pencopet berkeliaran di sana pada jam-jam padat. Mereka merogoh saku penumpang tanpa ada perlawanan. Pedagang minuman menjual pembasah kerongkongan yang haus, pedagang permen menjual sarana penyegar mulut. Pokoknya banyak pedagang yang memanfaatkan keberadaan kereta rel listrik itu. Pedagang mainan, pedagang koran, semua berteriak dan berlalu-lalang menambah pengap suasana di dalam gerbong. Kepengapan itu dijejali lagi oleh para pengamen yang melantunkan lagu-lagu sumbang. Yang terbanyak dari mereka adalah pengemis buta. Mereka mengetuk hati para penumpang dengan alat bantu pengeras suara, lengkap dengan musik pengiring yang telah dirancang mengiringi sebuah lagu. Namun di antara pengemis buta itu masih ada juga yang menggunakan cara lama. Memperlakukan ayat suci Al-Quran sebagai alat bantu.

Di atas kereta rel listrik itu banyak kesempatan untuk tempat beraneka ragam kebutuhan.

Di stasiun kecil itu tak ada penumpang yang naik, kecuali seorang pengemis buta. Dengan demikian cuma aku dan pengemis buta itu saja yang berada di dalam gerbong. Di masih menggunakan cara lama, menggunakan ayat suci Al-Quran sebagai alat bantu untuk mengetuk hati penumpang. Begitu ketiga pintu katup itu tertutup dan kereta rel listrik itu berjalan, pengemis buta itu pun mulai mengambil ancang-ancang untuk mulai usahanya. Kedua tangannya direntangkan menengadah ke sebelah kiri dan ke sebelah kanan. Dia melangkah sambil menjaga keseimbangan.

Aku tersenyum melihat kedua telapak tangan yang menengadah itu. Suatu perbuatan yang sia-sia. Matanya yang buta itu, saat ini merupakan sebuah karunia dalam bentuk lain. Kebutaan yang dimilikinya telah menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya. Timbul keinginan dalam hatiku untuk menyembunyikan realitas yang ada di sekitarnya itu. Aku bisa menyulap semua itu hanya dengan sekeping logam. Tentu saja aku harus merelakan beberapa keping logam untuk itu, di tengah ayat suci Al-Quran yang sedang dikumandangkannya.

Aku hampiri pengemis buta itu. Kuletakkan sekeping logam di telapak tangan kanannya. Dia berhenti sejenak dan berpaling ke kanan, menunduk dan berterima kasih. Setelah itu dia melangkah.

Kuletakkan sekeping logam lagi di telapak tangan kirinya. Dia berhenti sejenak dan berpaling ke kiri, menunduk dan berterima kasih. Aku tersenyum pada tipuan itu. Kuletakkan lagi sekeping logam di tangan kanannya, dia sejenak berpaling ke kanan dan berterima kasih. Kuletakkan lagi sekeping di tangan kirinya, ia pun berpaling ke kiri. Begitu kulakukan berulang-ulang hingga ia sampai di dekat sepatu anak laki-laki itu kuletakkan. Sekeping uang logam kuletakkan di telapak tangan kanannya, dia pun berpaling ke kanan. Ke arah sepatu itu.

“Di sebelah kanan Bapak ada sebelah sepatu. Pemilik sepatu itu adalah seorang anak lelaki. Dia adalah murid salah satu sekolah yang sedang terlibat perkelahian dengan sekolah lain. Tadi, sejumlah anak dari sekolah yang menjadi seteru sekolahnya, memergokinya di sini dan melemparkannya ke luar gerbong. Dia merupakan korban balas dendam dari dua kelompok sekolah yang berseteru itu. Aku tak berhasil menyelamatkan nyawanya, kecuali sebelah dari sepatu yang dipakainya. Sepatu itu tertinggal di dalam dekapanku, waktu anak itu kupertaruhkan saat mereka akan melemparkannya ke luar gerbong. Menurut keyakinanku, pemilik sepatu ini telah meninggal.”

Dia berhenti melangkah. Tampak dia terguncang mendengar penjelasanku. Dia meraba ke arah sepatu itu. Tangannya masih jauh dari sepatu itu. Aku mendekatinya. Kutuntun tangannya ke sepatu itu. Dia merenung dan meraba sepatu itu. Dipegangnya agak lama.

“Tolong bacakan Al Faatihah untuk almarhum, si pemilik sepatu ini,” kataku.

“Siapa nama almarhum”

“Tak ada di antara kami yang tahu.”

Dia tarik tangannya dari sepatu itu. Dia berkonsentrasi memusatkan pikiran untuk sebuah upacara yang sakral. Dipertemukannya kedua sisi telapak tangannya di bawah dagu. Dia pun memulai membaca surat Al Faatihah itu. Setelah dia selesai melakukan upacara membaca Al Faatihah itu, kusentuh bahunya. Kukantungkan selembar uang ke dalam saku bajunya.

“Uang apa ini?” katanya seperti tersentak dan meraba saku baju itu. “Aku tidak sebagai pengemis untuk Al Faatihah itu. Biarkan aku membaca untuk almarhum bukan karena upah.”

“Ambillah, beri kesempatan aku bersedekah untuk almarhum.”

Sebelum pergi, dia sentuh dulu sepatu itu, seperti orang menyentuh batu nisan. Kemudian dia pergi dari sepatu itu, melangkah setapak demi setapak, hingga dia pindah ke gerbong lain. (***)

~ oleh ~*~ pada 29 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: