Pada Terangnya Bulan


Judul: Pada Terangnya Bulan
Penulis: Sutardji Calzoum Bachri
Diterbitkan: Horison, No I/6 Desember 1966. Dimuat dalam buku Sutardji Calzoum Bachri, Hujan Menulis Ayam. Penerbit: Indonesia Tera, Magelang, 2001

***

Bila bulan terang seperti ini, tiga orang lelaki muda dengan tiga gitar dan tiga suara dari sebuah lagu berjalan di jalan itu. Bulan memeluk mereka dan berjalan bersama mereka. Di bawah pepohonan di samping jalan sekali-kali bayangan memisahkan bulan dari mereka. Tapi, tidaklah lama. Pepohonan tidak banyak cabang-cabangnya dan cabang-cabang tidak banyak daunnya, jadi takkan banyak bayangan di bawah pepohonan dan bulan selalu lagi bersama mereka.

Bila bulan terang seperti malam ini, seorang gadis muda keluar ke halaman depan rumahnya, melihat jalan dan bulan. Dia sangat senang pada bulan. Bulan menciumnya dengan puluhan ciuman pada rambut, tengkuk, pipi dan punggungnya. Dia kelihatan lebih cantik lagi dengan ciuman bulan dan dia merasakan sedapnya dingin bulan ke seluruh badan. Gadis itu senang nyanyi-nyanyinya lelaki bergitar. Lagu-lagu itu sedap dan mereka menyanyikannya sedap dan bulan jadi lebih sedap kelihatan di langit telinganya.

Tidaklah lama melewati jalan di depan halaman rumah si gadis bagi mereka yang bergitar itu. Tidak memakan sebuah lagu. Karenanya si gadis cepat menunggu di halaman, memaku telinganya pada ujung sana dari jalan tempat keluarnya lagu dari mereka itu. Demikianlah si gadis dapat beberapa buah lagu. Setelah melewati halaman para lelaki itu mengikuti kelokan jalan ke kanan dan si gadis akan kehilangan mereka pada pandangan dalam pepohonan di tikungan.

Sekarang gadis itu ada di halaman lagi melihat bulan dan jalan di depan dan lagi menunggu sepoi malam dan datangnya lagu. Dia membiarkan bahunya terbuka pada malam, agar sepoi malam berbisik di sana mengusapkan kesepian yang lunak di halaman dan sedapnya cahaya bulan.

Sepoi malam sangat tipis meniup tubuhnya. Dia jadi tak puas. Dia menghisap napasnya dalam-dalam dan panjang. Dia merasakan lapis angin agak tebal pada puncak hidungnya dan dia merasa sedap demikian.

Dalam menghisap dalam-dalam si gadis merasa penuh dengan segalanya. Matanya terpejam dan rerumputan dan bunga-bungaan di halaman dan segala yang di sekitar penuh dalam dirinya. Dua tumpukan cahaya bulan di atas dadanya diam sebentar, karena dia menarik napasnya lambat-lambat dan panjang. Tapi, dia tidaklah seperti mati dan tidak seperti patung di halaman. Bulan menyinarkan cahayanya pada mata yang terpejam dan dia tetap hidup kelihatan.

Dari ujung sana, suara lagu dan gitar datang pelan-pelan. Si gadis membuka mata dan memalingkan kepala pada lagu yang datang. Lagu yang masih lemah memasuki halaman. Dia berjingkat-jingkat pelan, agar tidak memijak lagu, pikirnya menuju ke ujung halaman yang paling dekat dengan arah suara datang.

Bila dia sampai di situ bayangan memeluk seluruh tubuhnya karena dia dekat pohon besar yang tegak rindang di halaman. Hanya leher dan kepalanya keluar dari bayangan bersama bulan.

Lagu semakin datang dan datang. Si gadis mulai mengguman lagu yang datang. Dia melampaikan lehernya untuk menjenguk lagu yang datang. Dan kau akan melihatnya bagai seekor angsa putih yang tolol dalam keingintahuan menjenguk ke semak-semak dongeng kanak-kanakmu.

Lagu semakin jelas datangnya. Si gadis tak lagi bergumam. Dia menyanyi terang-terang dengan lagu yang datang. Tiga orang lelaki muncul dalam pandangnya. Pelan dan pelan langkah mereka, mereka masih jauh. Sekali-sekali bayang pepohonan menyembunyikan mereka dari gadis itu. Tapi, bulan selalu lagi bersama mereka.

Si gadis sekarang sudah dapat membedakan mereka. Yang tinggi, besar badannya. Suaranya rendah, segar dan basah. Seperti anak sungai lunak mengalir jauh di lembah, pikir gadis itu. Yang itu, yang kanan, dialah siul burung menggapai awan, pikirnya. Dan yang satu lagi si kumis. Kumisnya belum kelihatan rapi tapi si gadis tahu dia si kumis. Suara si kumis tidak tinggi dan tidak rendah. Si gadis berpikir sebentar mencari persamaan suara lelaki itu. Ah, sepoi angin! Sepoi angin di halaman, pikirnya. Pandangnya sekejap memutar halaman. Tentulah tak sangat tepat, tapi aku suka sepoi angin dan suara itu, pikirnya.

Mereka sangat dekat dan mulai melewati halaman. Si gadis mengikuti mereka, berjalan di samping dalam pagar halaman dan di samping sana sejajar, para lelaki bergitar. Dia menyanyi selepas-lepasnya. Dia merasa hilang ditarik lagu. Tapi, kau dapat melihatnya tetap bersama bulan di halaman dan di seberang sana para lelaki bergitar.

Mereka yang bergitar menyanyi sedap sedap-sedapnya sambil lepas dari kesejajaran halaman dan mulai meninggalkannya. Si gadis sekarang merasa akan kehilangan mereka dan dia meneriakkan hei pada mereka.

Mereka terus menyanyi sedap sedap-sedapnya, si gadis mulai menahan pelan-pelan nyanyinya. Mereka mengikuti tikungan lalu hilang di balik pepohonan yang rapat tumbuhnya di sana.

Lagu mereka masih kedengaran di halaman, makin pelan dan pelan. Dan si gadis makin pelan dan pelan berlagu akhirnya hilang dalam gumam dan diam. Nyanyi mereka lenyap sekarang.

Si gadis itu merasa sesuatu yang kosong, sepi, dan berat memboboti dadanya. Dia merasa persendian tulang-tulangnya kendur sekarang. Dia menyandarkan tubuhnya di pagar, Kau juga dapat merasa demikian bila kau direnggutkan dari puncak kepuasan. Sesuatu dalam tubuhmu jadi kosong dan kau tertatih-tatih kehilangan.

Dia merasa cahaya bulan terlalu dingin pada tubuhnya yang tersandar dan angin malam keterlaluan. Dia melangkah cepat-cepat masuk ke rumahnya meninggalkan sepi halaman.

Ketiga lelaki itu terus menyusur malam dengan bulan, lagu, dan gitar. Ketiga lelaki itu suka pada perempuan dan sering ke dokter minta suntikan. Ketiga lelaki itu tahu ada gadis di halaman, ikut menyanyi, dan meneriakkan hei pada mereka.

Bila bulan seterang ini, bila bulan seterang-terangnya bulan, mereka selalu menyanyi dan bergitar. Dan bila demikian tak satu pun yang lain mereka pedulikan. (***)

~ oleh ~*~ pada 12 April 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: