Impian Di Tengah Musim


Judul: Impian Di Tengah Musim
Penulis: Bakdi Soemanto
Diterbitkan: Harian Republika, 21 Januari 2001. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dan luar dengan mendadak. Seorang perempuan, sepertinya istrinya, masuk dan langsung menjatuhkan di lantal sebuah bungkusan besar dan taplak meja. Buzz ingat, di dalamnya setumpuk kain batik. Lalu, perempuan itu, mungkin istrinya, duduk di sebelahnya, di pinggiran tempat tidur.

Ia mengatakan turis-turis itu tiba-tiba pulang. Kerusuhan di kota membuat mereka takut. Ada perintah dari Kedutaan supaya mereka kembali ke tanah air masing-masing selekasnya. “Aku tak dapat uang sepeser pun. Malah ngutang sama Jeng Witri buat bayar becak pulang,” katanya dengan nada putus asa. “Aku tak beli lauk buat kamu. Kalau mau makan, pakai lauk biasanya saja. Sambal bawang. Asal pedas dan asin kan sudah. Tapi, nasinya jangan dihabiskan. Kalau belum kenyang, ketela bisa direbus. Hanya saja, jangan semuanya.”

“Kamu mau ke mana lagi,” tanya Buzz.

“Mengembalikan kain-kain ini. Mau dijual ke mana lagi. Aku nggak ngerti. Kain-kain seperti itu kan cuma turis bule yang mau. Mana ada orang kita beli kain begituan,” jawab si perempuan sambil menendang bungkusan itu. Ia lalu mengumpat si Minten. Menurutnya, perempuan itu suka menjerumuskan. Dasar!

Perempuan itu, mungkin istrinya, berdiri cepat. Tangkas. Tubuhnya gendut lagi ringan. Kakinya kayak nggak nyentuh lantai. Dijinjingnya bungkusan itu lalu lari keluar. Daun pintu ditutup keras. Keras sekali. Buzz kaget. Lho, kok marah? Ia pengin berdiri mau lihat perempuan itu dari jendela. Tapi pantat lengket dengan kasur. Malah tarikannya makin kuat. Makin kuat.

Ini edan. Kasur edan! Lalu tangannya lengket juga. Kemudian tubuhnya seperti ditarik oleh kasur itu. Semakin ia meronta, semakin kuat tarikan kasurnya. Akhirnya kembali Buzz terlentang di tempat tidur. Ia ingin berteriak minta tolong. Tapi mulut seperti terbungkam dan kerongkongannya serasa dicekik. Lalu, tempat tidurnya terguncang-guncang. Tiba-tiba, bel wekkerklok berdering keras sekali. Luar biasa keras. Disusul dering telepon. Keras sekali. Berulang-ulang.

Sesudah itu, loceng gereja di klokkentoren itu berkeleneng keras-keras. Disusul sirine meraung-raung. Tempat tidurnya terguncang-guncang dan semua deringan dan dentangan berbunyi bersama, memekakkan telinga. Dan Buzz terjaga. Ia lega. Lega sekali. Ternyata semuanya hanya mimpi. Perempuan yang sepertinya istrinya tidak ada lagi.

Hah, hah, hah. Ia terengah-engah. Puji Tuhan, turis-turis mesti tak tiba-tiba pulang. Kerusuhan kota itu tak ada. Ia hanya mimpi. Mimpi buruk. Tak benar itu.

Tapi di mana aku? Lho? Buzz kaget. Lho kok seperti ini rumahnya. Ia berdiri melihat ke luar jendela. Lho, pohori jambunya nggak ada. Ia meraba wajahnya. Lho, kok kumisnya nggak ada. Lho, kok ia mengenakan kortebroek, bukan sarung atau celana panjang. Ia membuka celananya dan meraba dalamnya. Lho, kok aku belum sunat?

Ia lari ke luar kamar. Persis seorang perempuan muda mau masuk. Mereka berpapasan di tengah pintu.

“Astaga. Baru bangun kamu. Ayo, cepat mandi. Itu kakak-kakakmu sudah menunggu di sumur.” Kata perempuan itu. Apakah dia ibunya. Kok muda banget.

“Ayo cepat. Kok bengong. Kayak Bagong plompang-plompong. Ayo.” Perempuan itu menarik tangannya kuat-kuat. Astaga. Ia melihat saudara-saudara sepupunya sudah pada bertelanjang bulat di sumur. Mereka mandi bersama-sama.

“Ayo lepas baju dan celananya,” Buzz menurut. Ia melakukan apa yang diminta perempuan itu. Kemudian, perempuan itu memerintahkan agar si Manyar mengguyurnya dengan air, seperti saudara-saudara sepupunya.

“Nih, sabunnya.” Perempuan itu memberikan sabun besar yang biasa untuk mencuci. “Yang bersih. Titit-nya disabun. Terus sikatan. Pakai arang dulu, seperti biasanya. Baru pakai gosok gigi. Lidahnya digosok sampai dalam. Mau muntah dikit nggak apa. Jangan banyak-banyak gosok giginya. Ini Kolinox, oleh-oleh oom Banto dari Nederland.”

Perintah perempuan itu bertubi-tubi. Buzz mulai mengenali kembali ibunya. Guyuran air sumur berkali-kali membuatnva benar-benar merasa terbangun. Ia mulai bicara-bicara dengan saudara-saudara sepupunya. Mereka ngomong tentang sekolah yang belum dibuka. Harus tunggu beberapa bulan lagi. “Kalau sekolah kamu malah sudah buka. Sekoah froebel,” kata Emon.

“Tapi bapakmu nggak boleh kamu sekolah. Bapakmu mau kasih pelajaran sendiri. Soalnya kamu suka takut kalau lihat guru bawa tongkat.”

Buzz hanya mengangguk. Itu memang benar bahwa ia takut. Tapi, ia bilang bahwa ketika bapaknya membawanya ke rumah Bu Har, guru froebel itu, ia senang. Cantik banget. Ada tahi lalat di dagunya. Sayangnya, Buzz masih terlalu kecil. Jadi, tidak benar kalau dikatakan bapaknya melarangnya sekolah.

“Tidak. Bapakku boleh kok. Cuma saja, mesti belajar menari juga sama pak de Ripto Magito-Gito…”

“Aku tak mau menari. Aku mau main sepakbola kayak Yasid. Yasid, Yasid … ye, ye, ya. ..“ Kakak sepupunya yang laki-laki menari-nari.

“Kamu pernah lihat sepakbola di stadion, apa?” tanya Buzz jengkel.

“Belum. Bapakku yang cerita kalau malam.”

Mereka selesai mandi. Lalu lari ke kamar masing-masing. Buzz ke arah belakang sumur, melewati dapur besar sekali. Ia kaget. Tampak beberapa perempuan sedang sibuk memasak. Ada Rabiyem, Maryuni, Sumar, Si Sri, Murwani, Bu Joyo, Ginah, Dilem. Siwuh, Kasinem, Tami Teles, Nantiyem.

“Cepet,” bentak perempuan itu lagi.

“Kok cepet-cepet terus.” Buzz mulai protes.

“Ibu mau bantu bikin tempe kering. Banyaaaak. Mau dikirim ke garis depan.”

“Garis depan apa itu?”

“Ah, tentara kita perang melawan Belanda. Nica mau masuk lagi.”

Buzz terdiam. Tiba-tiba ia ingat, Pak Joyo sering cerita tentang seorang lelaki ganteng, pintar, muda dan faseh ngomong banyak bahasa asing, namanya Bung Karno. Lelaki itu seperti tokoh dalam dongeng. Ia bisa membakar dengan kata-katanya. Ia sangat luas pandangannya karena bacaannya banyaaaak sekali. Ia masuk sekolah Belanda dan kemudian menghantam Belanda dengan ilmu Belanda.

Selesai tubuhnya dikeringkan dengan handoek, perempuan Wi lalu membedaki tubuhnya, terutama di jepitan-jepitan supaya tidak bau. Juga di bagian yang disebutnya “titit” itu. Buzz lalu diajaknya ke dapur. Begitu melihat Buzz, Sumar langsung mendekapnya dan menciuminya. Demikian pula Si Sri, Dilem, dan Tami Teles. Sambil menggoreng tempe mereka ngobrol tentang perang. Murwani menyebut-nyebut bahwa Mas Arzam kena tembak. Buzz kaget.

“Mas Arzam yang…“ Tanya Buzz.

“Ya. Yang biasa berteriak nyaring Allaahu Akbar pada waktu adzan maghrib dan subuh.”

Buzz terdiam. Dia sayang sekali kepadanya. Sebab, ia sering mendongeng banyak cerita kepada Buzz. Yang terakhir, sebelum berangkat ke garis depan, Mas Arzam cerita tentang pangeran Denmark. Sebelum itu, ia cerita kisah percintaan Omar Khayyam, yang ãlili ilmu bintang-bintang itu.

“Mas Arzam luka?”

“Ya. Tapi luka ringan.”

Buzz lega mendengarnya.

“Di mana letaknya garis depan itu?” Buzz tanya lagi.

“Banyak. Antara lain di Srondol,” jawab Sumar.

“Di mana itu Srondol?” Buzz mengejar.

“Wah, jauh sekali dan sini. Di sana, di arah Utara…” Tami Teles merentangkan lengannya menuding ke arah Utara.

“Mas Arzam melindungi temannya dan ia sendiri kena,” Si Sri menyambung.

Buzz tersentuh hatinya. Rasanya ia ingin lan dan mendekap lelaki yang sangat disayanginya. Ia ingin sekali menciumi tangan yang luka itu.

“Mas Arzam tidak akan mati, ya?”

“Tidak. Hanya luka sangat ringan,” Murwani menenangkan hatinya.

“Ia tak boleh mati.” Buzz menggumam. Tiba-tiba ia merasa tak tahan menahan desakan perasaannya. Ia lari dari dapur ke kamarnya. Ia ingin menangis di tempat tidurnya. Akan tetapi, begitu ia tiba di ambang pintu, Buzz melihat ayahnya sedang membaca majalah Pantja Raja.

“Dan mana kamu?”

“Dari dapur, yah.”

“Ibumu di sana?”

“Ya. Ia membantu memasak tempe kering.”

“Banyak ya?”

“Banyak sekali. Buanyaaaak sekali.”

“Bagus. Bagus. Nih, kamu sudah bisa baca ta?”

Buzz menggeleng.

“Dengar. Tanggal empat belas Januari lalu, Jatinegara dibakar serdadu Belanda. Enam ratus lima puluh keluarga kehilangan rumah. Saudara-saudara Tionghoa membantu penduduk yang kehilangan tempat tinggal.” Ayahnya membaca.

Buzz mendengarkan dengan takzim.

“Dengar lagi ini. Di kota Bogor, dan di beberapa kota lainnya di Jawa, Nica dan kaki-tangannya terus menerus melakukan provokasi.”

“Apa provokasi, yah?”

“Ya … pokoknya bikin desas-desus atau memancing-mancing biar keadaan keruh,”

“Nica itu Belanda, yah?”

“Ya. Jelas,” Ayah Buzz terus membaca.

“Ada yang lain, yah?”

“Nih. Dengar. Seorang pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia, namanya Daan Anwar ditembak oleh Nica. Tapi tidak rnati, hanya matanya buta.”

“Wah, kok…”

“Ya, gimana lagi. Ini keadaan perang. Musuh kita Belanda. Kita harus bantu tentara kita yang bertempur melawan Nica. Dengar, ini lebih menarik. Dengar ya.”

“Ya, ayah.”

“Pcgawai-pegawai Indonesia yang bekerja pada Nica mengirimkan memorandum kepada pemerintah Belanda yang berisi pernyataan bahwa satu-satunya jalan untuk memecahkan masalah Indonesia adalah pengakuan pemerintah Belanda atas Republik Indonesia.”

“Maksudnya gimana, yah?”

“Begini. Kita kan sudah merdeka. Tapi, pemerintah Belanda be1um mengakui. Karena itu bikin rusuh terus. Nah, pegawai-pegawai itu mendesak agar pemenintah Belanda mengakui. Kalau sudah mengakui bahwa negeri kita berdaulat kan dengan sendirinya tidak mengacau lagi.”

“Belum jelas, yah. Tolong diterangkan lagi, yah.”

“Ah, kamu. Nanti saja. Ayah mau mandi dulu.” Ayahnya melemparkan tumpukan majalah-majalah.

“Sebentar, yah. Satu lagi saja. Ini apa yah.”

“Ah…“ Ayahnya mengambil majalah yang dibaca Buzz. “Dengar ya. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta hijrah ke Yogyakarta untuk menyelamatkan diri dari tindak kekerasan yang semakin meningkat di Jakarta. Cukup?”

“Sebentar yah. Jakarta rusuh, ya. Dikacau Nica?”

“Iya. Ah, kamu. Sudah, ayah mau mandi dulu.”

Buzz terdiam. Ia membayangkan Mas Arzam yang luka. Darah tampak di matanya. Lalu terdengar bunyi tembakan senapan, ledakan granat dan bahkan bom. Buzz tak tahan. Ia meloncat ke tempat tidur dan membenamkan wajahnya di bawah tumpukan bantal. Tiba-tiba, bel wekkerklok berdering lagi. Juga lonceng gereja berkeleneng dengan keras. Lalu disusul dening telepon yang luar biasa keras. Sesudah itu, tempat tidurnya terguncang-guncang. Buzz berteriak-teriak. Kakinya terasa ada yang memegangi. Ia terbangun. Tampak perempuan berdiri di depannya.

“Bangun. Mimpi apa lagi?” tanya perempuan itu.

Buzz memandanginya.

“Kamu ini gimana sih. Aku ini istrimu.”

“Sebentar. Jangan main-main, kamu. Dengar: Sjahrir diculik.”

“Apa?” Istrinya bengong.

“Nica membom. Mas Arzam kena tangannya. Tapi tempe keringnya kan sudah dikirim semua?”

“Pak, bangun, Pak.” Istrinya mengguncang tubuh Buzz.

“Yang aman Yogya. Pemenintah pindah ke Yogya,” kata Buzz.

“Nggak. Masak bapak lupa, kan ada bom meledak di rumah sakit,” kata istrinya.

“Di mana? Di Yogya?”

“Iya.” Istrinya menegaskan.

“Itu pasti Nica. Paling tidak, antek-angek Nica. Kalau tidak, mana mungkin mengacau kita. Mereka belum mengakui kemerdekaan kita. Makanya ngaco terus. Kurang ajar itu. Nica itu. Jelas. Nica membom. Nica.”

“Pak, bangun, Pak.”

“Nica. Kurang ajar itu. Nica, Nica. Kita hanus bersatu melawan Nica. Siapkan bambu runcing.”

“Pak, bangun, Pak. Ah, gimana ini.”

Istni Buzz bingung. Ia berdiri di depan pintu dan berteriak sekuat tenaga, “Toloooong. Toloooong. Tolooooong.”

“Ya. Toloooong. Toloooong. Nica membom. Nica menculik. Nica membuat provokasi. Kata Sukarno, kita harus bersatu melawan Nica. Bersatu, bersatu, bersatu…!”

Orang-orang kampung mulai berdatangan mencoba menenangkan Buzz. Ada yang punya ide mau memanggil ambulans. Yang lain usul agar segera menghubungi dokter Akar Poteng yang ahli syaraf itu. Buleneng berpikir lain lagi. Ia menilai bahwa Buzz kemasukan roh jahat. Oleh karena itu, orang harus segera membakar kemenyan. Demikianlah, malam itu, rumah Buzz niuh rendah.

Baru kira-kira menjelang pukui dua belas tengah malam lelaki itu tenang dengan sendirinya. Ia terengah-engah. Mula-mula, kepalanya disandarkan pada tembok. Kemudian ingin bersandar pada bahu istninya. Tangan Buzz meraba tangan istrinya.

“Kamu istriku, kan”

“Iya, sayang.”

Orang-orang kampung tersenyum-senyum melihat adegan romantis itu.

“Aku lapar. Tolong ambilkan tempe kering sedikit saja. Mintakan pada Sumar, Si Sri atau Maryuni…”

“Tempo kering apa?” Istrinya bengong lagi.

“Di dapur. Dikit saja. Tempe kering yang mau dikirim ke garis depan.”
“Garis depan apa? Bangunlah, Pak, aku mohon. Istrimu bingung. Lihatlah bapak-bapak yang pada datang malam-malam begini. Bangunlah, Pak, bangun.” bujuk istrinya mulai berlinang air matanya.

“Ya, Pak. Nyebut, Pak, nyebut.” bujuk Arwan.

“Tempe kering, bom, ganis depan, tempe kering, bom, garis”

“Ingat Tuhan, Pak, nyebut sebisanya.”

“Bom, tempe kening, garis depan, Nica kurang ajar…”

Demikian seterusnya. Tak begitu jelas beritanya, apakah Buzz begitu terus hingga pagi. Kalau ia benar-benar terjaga, ia juga akan mendengar benita born beneran, perkelahian, perpecahan di mana-mana. Kalau ia tidur lagi, ia bertemu lagi dengan masa kanaknya pada zaman revolusi.

“Sepertinya, de kiok achteruit zetten,” kata Pak Ramelan, mantan guru pada zaman Belanda.

Orang kampung memandangnya karena tak paham maksudnya.

“Maksud saya, jam diputar kembali ke zaman lampau.” Ia menjelaskan. Tapi Pak Ramelan tidak menerangkan apakah seluruh situasi yang diputar kembali ataukah hanya jalan pikiran Buzz.

“Ceritanya memang bergerak ke depan, tetapi plotnya mundur,“ tukas Pak Imran, seorang ahli sastra terkemuka di kampung itu. (***)

~ oleh ~*~ pada 31 Mei 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: