Bom


Judul: Bom
Penulis: Beni Setia
Diterbitkan: Harian Republika, 10 Juni 2001. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

1

Pasangan itu naik ketika para penumpang yang lain sudah pada mapan duduk dan atau ribut berceloteh dengan para pengantar. Aku sendiri – kebagian nomor gang dan terletak di tengah gerbong – duduk pada pegangan tangan. Berangin-angin sambil memperhatikan lerotan yang berdatangan dari hadapan. Abai menyulut rokok. Sedang lelaki beruban yang kebagian nomor jendela itu menghenyak sambil berkipas-kipas denhgan koran sore. “Panas sekali, ya?” kataku.

Lelaki itu mengangguk. Mencoba beradaptasi dengan kursi untuk sepuluh atau dua belas jam ke timur. Ia, mungkin, seperti aku, penumpang sendiri yang tidak bisa bebas meninggalkan tas dan bawaan di rak bagasi sehingga tidak bisa bebas mencari angin di peron.

Beberapa penumpang, seperti yang sangat terlambat, bergegas dengan tas yang menggelembung dan atau mengiringi kuli yang memanggul beban. Berbegas dan liat menyelinap. Seseorang kembali menyalakan kipas angin, menyebabkan udara panas didorong keluar. Tapi sepertinya cuma memberi sentuhan di kulit sementara syaraf masih didera panas. Mungkin karena angin hanya menggelesar di atas logam yang berbentuk lengkungan, yang melindung peron, jajaran rel dan deretan gerbong dari panas dan hujan. Lelaki di sebelah itu resah melihat jam. “Kalau sudah berangkat pasti tak akan panas,” katanya.

Aku mengiyakan. Kemudian pasangan itu muncul dengan tas kecil dan tentengan tas kresek hitam berisi botol minuman dan jajan. Menyorongkan karcis dan santun mengiyakan ketikan ditunjukkan ke hadapan.

2

“Sebelas D?” kata yang lelaki.

Dengan jempol aku menunjuk ke belakang pundak dan mengisyaratkan kursi di belakang. Lelaki itu mengucapkan terima kasih lagi. Aku mengangguk sambil memperhatikan perempuan yang mengikutinya, yang memakai baju hamil krem dan dengan perut yang terlihat mulai menggembung. Ia tersenyum. Aku tersenyum. Turun dan berdiri memperhatikan si lelaki itu minta izin menaikkan tas pada lelaki yang terhenyak di dekat jendela. Sesaat ia menanyakan nomor kursi dan minta tak berganti.

“Istri saya biasanya beser. Maklum,” katanya, “Oya, bapak sendiri?” Lelaki itu mengangguk. Ia tertawa, riang menengok kepada si wanita yang sabar mengikutinya. Mengerdip mesra.

“Saya mau titip istri saya, Pak,”katanya, “Ia mau ke Solo. Ia dipaksa harus pulang untuk acara Tujuh Bulanan. Padahal sudah lebih dari tujuh bulan, padahal saya tidak bisa mengantarnya. Hak cuti saya untuk tahun ini sudah habis untuk cuti kawin dan mudik lebaran. Boleh saya titip, Pak?”

Saya tersenyum. Apakah orang bisa dionggokkan seperti sekarung beras atau diselipkan seperti selembar surat? Mungkin, maksudnya, ia minta agar istrinya ikut ditilik dan dijaga selama perjalanan malam ke timur. Memang. Dan aku tersenyum, “Jangan khawatir, Mas. Saya juga mau ke Solo,” kataku.

Ia tertawa. Mengulurkan tangan menyalami. Melirik kepada si istri dan melebarkan senyum peneguhan dan penyejuk. “Alhamdulillah. Subhanallah,” katanya. “Lihat, Dik. Ini kemurahan Allah. Kami bisa turun bersama, menunggu jemputan atau mencari taksi bersama. Ya kan, Pak? Oya, Solo-nya di mana, Pak? Kalangan, Jagalan. Kami di Joyokusumo, Gajahan. Ha ha … saya akan merepotkan bapak. Tapi … tolong ya, Pak.”

3

“Orang Jawa itu rumit,” katanya, tertawa, “Maaf. Saya sendiri wong Solo – Jawa tulen. Tapi rasanya tak pernah bisa sehari penuh menjadi orang Jawa. Sekali waktu, keseringannya, harus jadi kuli, jadi cacah empyekan yang harus manut pada aturan perusahaan dan keinginan bos. Celakanya ibu mertua tak mau tahu. Pokoknya harus ada acara adat tujuh bulanan. Bila tidak di Bandung sini ya di Solo situ. Biar slamet, biar si jebeng tenang. Saya terjepit. Dan terpikirkan bahwa acaranya di Solo mungkin lebih murah, meski saya sendiri tidak bisa mengantarnya ke Solo. Mungkin akan diilokno sebagai si mentolo dan tegen. Tapi mau apa? Tapi bisa apa?”

Orang itu nyerocos saja seperti pengamen kesasar atau tukang jual obat kaki lima yang mabuk. Tertawa. Menggeleng-gelengkan kepala. Mendekat ke orang yang duduk di deretan A-B. Tersenyum. Memperkenalkan diri. Menitipkan istrinya. Lalu beranjak pada pasangan suami-istri lewat setengah baya yang duduk di belakangnya. Omong. Memperkenalkan diri. Menitipkan istrinya. Manggut. Tersenyum. Lantas ia beranjak kepada dua orang lelaki muda yang duduk tepat di belakang kursi istrinya. Memperkenalkan diri. Omong. Memperkenalkan istrinya. Tak bosannya. Tak ada hentinya. Tetapi di dalam posisinya, apa lagi yang bisa dilakukannya selain mengharapkan simpati dan pengertian orang lain?

4

“Maaf. Maaf,” katanya, “Kami jadi merepotkan.”

“Yang tenang saja, Mas. Pokoknya beres. Insya Allah!”

Ia pamit dan menyalamiku. Juga lelaki di sampingku. Ia pamit dan menyalami orang di bangku samping. Pamit dan menyalami sepasang suami istri yang separuh baya itu. Pamit dan menyalami empat orang di belakang kursi mereka. Dan empat orang lagi di depan kursiku.

Aku tersenyum. Diam-diam bertukar tawa ditahan dengan banyak orang yang enteng menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin kesemua itu manifestasi rasa terima kasih karena orang-orang itu akan menjaga istrinya dalam perjalanan panjang ke timur. Mungkin juga itu permintaan maaf dan manifestasi rasa bersalah karena merasa menitipkan istrinya dan merepotkan banyak orang di dalam satu perjalanan panjang semalaman ke timur. Mungkin. Tetapi apa wanita itu memang akan banyak merepotkan banyak orang?

Usianya di sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya semampai dengan pertanda amat terurus – sehat dan memikat. Dan itu menunjukkan bahwa ia wanita yang terdidik dan mungkin lulusan PT. Mungkin bila tidak hamil dan terpaksa bertugas domestik ia pasti bisa berkarir cemerlang di kantor. Dan bila melihat kualitas kain dan halus jahitan baju hamilnya pasti mereka tak mengalami kesulitan ekonomi di zaman yang serba sulit ini. Karenanya mungkin suaminya benar-benar tak bisa mengantarkannya pulang ke Solo. Sekaligus ulahnya itu membuatnya jengkel karena ia merasa teramat disangsikan akan bisa mandiri, tak amat tergantung orang lain di kereta api. Tipe wanita modern yang tidak sepenuhnya lepas dari jaring tradisi keluarga. Mungkin.

5

“Sudah, Mas. Ojo stres begitu.”

“Aku tak mencemaskan kamu. Aku mencemaskan tuyulku iku – kata USD ia itu lanang lho. Jangan GR begitu, Dik.”

Ia tertawa. Kami tertawa. Si istri itu tersipu-sipu. Dan kembali ia pamit lagi, dan kembali ia menitipkannya kepada setiap orang. Kemudian, ragu-ragu, ia melangkah sehingga diikuti si istri di antara lerotan para pengantar yang mulai beranjak turun. Si lelaki membalik dan menyuruhnya untuk balik ke kursi dan duduk di sana. Si istri menggeleng. Si lelaki mengangkat bahu. Jalan diikuti si wanita dari belakang – diam-diam, romantis. Lelaki itu membalik dan si istri itu – mungkin membalasnya tersenyum, tak jelas karena aku tak bisa menandainya – menggoyangkan kepalanya. Manja. Lantas kedunya menghilang ketika mengelok di bordes. Lenyap. Tertimbun oleh lerotan para pengantar yang terburu-buru menjelang kereta diberangkatkan.

Dan sesaat, di dalam keremangan petang, aku mulai membayangkan angin dan pemandangan menjelang penghujung senja. Perumahan, jalan-jalan, kendaraan, orang, dan pepohonan yang seperti tercabut dan disapu dari belakang. Pesawahan dan latar pegunungan yang meredup. Dan bayangan yang serupa ketika pagi menjelang dan segalanya menggejala menjadi terang. Keharuan yang selalu membetot dan terus memanggil pulang, yang menyebabkan aku selalu enggan meninggalkan Bandung meski sebenarnya sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Solo. Karenanya isi hati dari setiap orang itu adalah rindu?

6

Peluit melengking – disusul terompet loko – menyahut perintah KS. Aku ingat pada pasangan itu. Tapi apa perlu? Tapi apa itu bukan turut campur? Aku menyulut rokok baru. Aku bersandar dan merasakan laju kereta yang bagaikan tertegun-tegun enggan meninggalkan Bandung. Mungkin juga karena merasakan tarikan komunitas dan lahan yang tidak ingin melepaskan pergi. Keterikatan yang percuma karena hakikat manusia adalah serbuk biji yang ditaboki angin hingga tersebar dan thukul di areal yang tak terhingga lainnya. Memang. Tapi kemana pasangan itu? Aku bangkit dan jalan ke bordes. Pintu masih terbuka. Angin deras. Aku meloncat ke gerbong di belakangnya. Melongok. Pintu tertutup. Aku melongok ke gerbing sebelum berbalik ke gerbong sendiri.

Kursinya kosong. Aku menatap lelaki di sisi jendela dan ia balik menatap. Aku mengiyakan. Ia bangkit. Berdiri menatap ke arah pintu di depan dan belakang. “Ia pasti ketinggalan kereta,” katanya.

Orang-orang tersentak. “Endel…,” kata seseorang.

“Mungkin di gerbong belakang. Tunggu saja dulu,” kata seseorang.

Aku bersandar sambil duduk di pegangan kursi. Petugas teknik kereta, berbaju oranye, muncul untuk mengontrol pintu. Kami mencegatnya. Mengabarkan ihwal tas tertinggal dan si pemiliknya mungkin ketinggalan kereta. Lelaki itu tersenyum. “Gampang,” katanya, “Nanti dititipkan di stasiun terdekat. Tenang saja.”

Aku mengangkat bahu. Menitipkan tas di bagasi dan beranjak mencari gerbong restoran di depan. Aku ingin makan, minum es jeruk, dan beranjak setelah gelap melulur keluasan untuk menghenyak – menelan pil tidur hingga bisa terlelap sampai di Yogya nanti. Seperti biasanya. Ya! Dan aku tersenyum. Minta gado-gado sambil tetap merokok. Di luar hamparan mulai memudar ditelan remang ketika kereta mulai terengah meninggalkan Cicalengka. Kemudian terdengar ledakan. Kereta terdorong. Terguncang. Berguling dan terhempas ke tebing.

7

Ada bom. Ada ledakan besar di gerbong keenam. Tepatnya dari sebuah tas yang sengaja disimpan di rak bagasi tepat di atas jajaran kursi nomor sebelas. Menjebol atap dan dinding. Mendorong gerbong yang terkoyak itu ke depan dan ke belakang. Dua gerbong belakang – seperti terantuk – terdongak dan jatuh menimbun gerbong di depannya. Tiga gerbong di depan terdorong dan putus terbanting-banting.

Menurut TV ada sebelas orang mati dan tiga puluh tujuh luka. Menurut koran ada sepuluh orang mati, dua puluh lima luka parah, dan sembilan belas luka ringan. Dan juga pernyataan yang dikirim via internet ke Mabes Polri. Bunyinya – setelah salam: Kami sedang menegakkan Syariat dengan konsekuen menggusur segala maksiat dan kemunafikan dari Bumi Indonesia. Agar Laknatullah tidak jatuh merajam kita. Ini adalah peringatan pertama. Dan akan ada lainnya. Dan setelah salam tertulis nama diri organisasi: Al-Abdal.

Tapi, entah bagaimana, aku malahan teringat dan terbayang akan lelaki yang amat santun dan banyak menyalami orang-orang itu, juga akan wanita yang diakuinya sebagai si istri dan sedang hamil delapan bulan. Tapi benarkah mereka suami-istri? Tapi benarkah wanita hamil? Atau justru Ibu Pertiwi yang sedang hamil tua? (***)

~ oleh ~*~ pada 7 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: