Sepotong Bulan Luka


Judul: Sepotong Bulan Luka
Penulis: Dorothea Rosa Herliany
Diterbitkan: Harian Republika, 23 Maret 1999. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Melalui surat-suratnya yang mengalir padaku, aku mulai tahu bahwa suamiku sudah sampai pada batas pencariannya. Sebenarnya aku sudah menangkap gelagat demikian sejak ia hendak meninggalkan rumah. Tokh aku tetap berhak berharap ada hal yang mengejutkan dan semua yang akan dilakukan suamiku di kota besar — yang menelan nyali kecilnya itu.

Tapi, tokh akhirnya aku harus selalu kembali pada keyakinan burukku sendiri tentang Munif. Sekarang ia harus pulang tanpa sesuatu yang akan membuat perubahan menjadi baik. Bahkan suamiku pasti akan pulang dengan perasaan menjadi siput.

“Sudah buntet pikiranku, Rin. Sekarang, tenaga muda yang masih bujangan dan lebih hebat-hebat otak dan ijazahnya pun masih banyak yang mengantri peluang. Rasanya aku tidak mungkin bersaing lagi dengan mereka. Kau pasti sudah menduga, aku kalah total,” kata Munif dalam surat terakhirnya.

Kubayangkan Munif dengan segala kediriannya, lalu kubayangkan belantara metropolitan. Mungkin benar bahwa selama ini yang selalu kudengar tentang sisi buruk wajah kota-kota besar adalah suatu kenyataan pahit yang bisa menimpa siapa pun, lebih-lebih bagi seorang Munif —suamiku. Kalau benar begitu, kenapa aku selalu melihat begitu banyak orang membuat segala kemungkinan dengan hidup di kota-kota dengan sisi buruk seperti itu?

Kupikir, aku tak perlu banyak bermimpi lagi tentang Munif dan masa depan kami. Tapi aku menyesal karena membiarkan suamiku pergi juga waktu itu, sementara sebenarnya aku sudah yakin dengan dugaanku tentang apa yang bakal terjadi.

Mungkin ini sudah salahku. Sejak ia hendak berangkat pergi, empat bulan lalu, aku sudah menahannya karena aku tahu apa kira-kira yang akan menimpa Munif nanti. Meskipun begitu, akhirnya ia nekat berangkat dengan modal uang hasil jual motor.

“Lebih baik hasil jual motor itu digunakan untuk modal usaha kedil-kecilan saja, mas. Pakde Kastoyo kan mau menyediakan tempat buat buka warung makan. Tempatnya bagus, kataku.

“Mau usaha apa dengan uang segini. Lagi pula, kenapa harus sia-siakan diploma yang kuburu lebih tiga tahun, Rin? Kita bisa lebih dari hanya usaha kecil-kecilan,” selalu begitu setiap kali aku mcndesaknya untuk tak menyia-nyiakan kesempatan kecil.

“Tapi aku tak pernah melihat kamu akan berusaha keras mendapatkan apa yang kauinginkan, Mas. Lagi pula, apa salahnya kita mencoba dari yang ada di depan mata?”

Munif hanya mendengus. Lalu ia pergi begitu saja, entah ke mana. Baru menjelang maghrib ia pulang.

Aku senang jika memang Munif hendak pulang, daripada lebih lama menyia-nyiakan waktu. Persetan semua uang yang dibawanya sudah ludes.

Tapi, masih juga aku harus menyimpan rasa jengkel yang sangat. Pada setiap surat, ia selalu menulis, “Rasa ingin pulang itu hanya mandek sebagai keinginan saja, Rin. Mau dikemanakan mukaku jika nanti saudara-saudaramu tanya banyak hal tentang apa yang kudapat selama di kota? Lebih-lebih Bapak sama Ibumu yang tak pernah kehabisan cara untuk bersikap sinis pada menantunya ini. Jadi, kupikir, aku perlu menunggu hari baik. Malah siapa tahu aku mengalami hal yang tak pernah kita duga.”

Aku melipat surat itu, sambil belajar memahami kenyataan yang sedang kami hadapi. Oleh karenanya, aku tak pernah berharap suamiku pulang tanpa sesuatu yang bisa membuat orang-orang di sekitar kami berubah pandangan tentangnya.

***

Kalau suamiku merasa aman di tempatnya sekarang, aku benar-benar tahu dan bahkan mengertinya. Kalau aku bukan orang tebal kuping, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya.

“Kalau kamu mikirin suamimu terus, kamu bisa kurus. Lihat tulangmu. Sudah bertonjolan di mana-mana. Sudahlah. Biarkan saja kalau memang ia hanya mau cari senang sendiri,” kata ibuku.

Aku hanya diam.

“Sudah bertahun-tahun kok tidak juga sadar lakimu itu. Apa dengan minggat begitu lalu sudah merasa aman dan tanggung jawab,” sahut Bapak.

Aku mencari kesempatan untuk menghindari mereka.

Aku sendiri sebenarnya sudah sangat ingin suamiku pulang meski tanpa basil apa-apa. Kupikir, dengan apa yang dilakukannya sekarang, kalau hanya untuk menghindari keadaan yang tak mengenakkan di rumah, tak akan bisa menyelesaikan masalah. Tapi, aku sendiri tak tahu suamiku tinggal di mana. Surat-surat yang dikirimnya juga tanpa alamat. Waktu hendak berangkat, aku tanya ia mau tinggal di mana, selalu jawabnya “Jangan khawatir. Pokoknya tidak sulit kalau hanya mencari tempat untuk nginap sementara.”

Jadi, tak ada jalan lain kecuali hanya menunggu.

Tidak seperti tiga sampai lima bulan pertama, surat-surat Munif sekarang juga mulai jarang kuterima. Kupikir ia tahu betapa aku sudah bosan membaca hal sama yang ditulisnya. Ketika ia tak mengirim surat, aku pun akhirnya beranggapan memang ia tak mengalami sesuatu yang baru, yang bisa ditulisnya.

Diam-diam aku selalu kinim doa, semoga ada keajaiban yang menimpa suamiku. Meski diam-diam juga aku masih belum beranjak dan rasa pesimis yang sangat.

Pada bulan pertama tahun ketiga, inilah surat pertama yang kuterima dan Munif, setelah lebih setahun aku menunggu-nunggunya. Surat itu pun bukan surat khusus, karena semua orang bisa membaca isinya. Sebuah kartu pos bergambar sebuah taman musim gugur di Eropa.

“Jangan kaget, Rin. Surat ini kukirim dan sebuah kota pelabuhan di Jerman. Diam-diam aku sudah keliling Eropa. Jangan sangka jadi imigran gelap. Tapi mula-mula memang begitu pengalamanku. Tidak pernah menyangka, memang benar kisah temanku. Mula-mula menyelundup di kapal asing, lalu nasib akan berubah.”

Munif membuat aku bertanya-tanya banyak hal. Munif membuat aku ingin ia cerita lebih banyak. Munif membuat aku menangis.

Apa maksudnya dengan kartu pos itu, lalu apa artinya ia di negara-negara Eropa? Apa artinya kalau ia masih seorang suami, dan di sini istrinya hampir-hampir cuma tinggal punya tulang? Apa artinya kartu pos begitu, dengan selarik kebanggaan dan kesombongan, sementara istrinya dicekam ketakpastian?

Yah, hanya selembar kartu pos itu saja. Selebihnya, aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, pada angin lewat, pada apa pun, tanpa bisa terkabul keinginanku mendengar cerita panjang tentang Munif, dan juga tentang negara-negara di Eropa yang ia kisahkan.

“Cobalah kamu ingat. Siapa teman Munif di kota. Mungkin ia tahu mula-mula Munif menginap. Siapa tahu juga mereka tahu bagaimana sebenarnya kisah Munif,” kata Ibuku suatu ketika.

“Siapa tahu juga cah edan itu cuma membohongimu dengan kartu pos itu. Siapa tahu ia masih mendekam di pojok-pojok pertokoan kota, atau di bawah kolong-kolong. Siapa tahu…”

Aku menjerit. “Bapak ini tidak juga puas sepanjang hidup merendah-rendahkan menantu. Apa pun, dia kan bukan hewan piaraan, Paak. Dia manusia. Sama seperti kita. Bagaimana rasanya direndahkan begitu, apa Bapak tak pernah merasakannya?” ini kata-kata keras yang baru sekali ini kuucapkan di depan kedua orang tuaku. Tapi benar-benar karena aku sudah kehabisan kesabaran. Sehingga tak punya keseimbangan lagi.

Dan itu yang terakhir. Setelah kejadian buruk itu pun aku lalu meninggalkan rumah orang tuaku. Untuk beberapa lama, sementara, aku mendompleng di tempat keluarga kakakku. Untung suaminya sangat baik dan penuh pengertian. Sehingga aku tidak merasa rikuh beberapa waktu pun tinggal di tempat itu.

Tapi aku berpikir sebisa mungkin secepatnya harus mendapatkan tempat sendiri. Dan aku harap Muniflah yang akan menjadi penyelamat.

Agaknya benar. Lebih setahun setelah kartu pos ‘musim gugur’ itu, sesuatu yang kutunggu datang juga. Ibu datang, di wajahnya penuh dengan wajah penyesalan. Ia mengantarkan sebuah surat dan Munif. Kali ini surat tertutup. Pasti ia akan bercerita banyak.

“Aku ingin terus terang, Rin. Selama ini aku bekerja di kapal pesiar rnilik perusahaan Jerman. Untuk itu aku harus keliling dan kota pelabuhan ke kota pelabuhan di Eropa dan Amerika. Aku rnenyelesaikan kontrak dua tahun pertama. Dan sekarang aku memperpanjang kontrak itu. Nanti kalau tabunganku sudah banyak, aku akan belikan kamu rumah mungil. Aku juga ingin mengumpulkan modal untuk usaha.”

Ibu dan kakakku seperti melihat ekspresi wajahku ketika membaca surat itu.

“Setahun gajiku 17.000 dolar AS, atau sekitar tigapuluh lima juta rupiah. Hitung saja berapa kalau dua tahun. Tapi kami semua seperti bujangan saja. Biaya hidup jadinya mahal.”

Dahiku berkerut.

“Hanya saja kau tak perlu khawatir. Untuk pendapatanku dua tahun kedua ini nanti aku akan hemat.”

Aku tersenyum.

“Bagaimana kamu sekarang? Belum kawin lagi, kan? Kupikir terlalu karna kutinggalkan, kamu berniat kawin lagi. Tapi kalau benar, aku pasti maklum. Kalaupun kamu tergoda laki-laki lain, aku pun juga pasti maklum.” Lalu sambungnya, “Seperti juga teman-teman, di sini aku juga punya teman istimewa. Kuharap kamu tidak cemburu kalau nanti kuperkenalkan. Aku sendiri takut terpikat padanya…”

Aku tak mampu membaca surat itu sampai usai. Menunggu Munif demikian lama, mungkin tak cukup untuk ditulis lalu kukirim dengan pos kilat. Seperti betapa sederhananya jalan pikiran Munif. Aku sendiri tak tahu, apakah sia-sia atau tidak aku telah melakukan semuanya sekarang ini. Entahlah! (***)

~ oleh ~*~ pada 28 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: