Emak


Judul: Emak
Penulis: Fakhrunnas MA Jabbar
Diterbitkan: Harian Republika, 12 November 2000. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Ketika surat yang baru diterimanya sudah dibaca berulang-ulang, ia hampir tak memberikan pendapat apa-apa. Ia biarkan surat itu tergeletak di atas meja, dan ia tak berpikir apa-apa lagi tentang tawaran manis yang diajukan emaknya untuk pulang barang sekejap.

Sudah 20 tahun ia tidak pulang, dan itu bukan waktu sekejap. Ia menyadari benar hal itu. Tapi kepedihan yang pernah menggores jiwanya itulah yang sulit diusir. Ia tetap menyimpan di tiap sudut hatinya yang rapuh.

“Pulang sajalah. Mungkin itu lebih baik bagimu,” kata sang istri ketika surat senada datang lagi untuk kali yang kedua, ketujuh dan entah keberapa lagi.

“Ah, jangan ajak lagi aku terlibat ceria-cerita kosong seperti itu,” ia menanggap berang.

Setelah itu, biasanya ia berlalu sambil mengisap rokok daun nipahnya dalam-dalam. Ia akan pergi ke mana saja yang mungkin ia dapat melenyapkan bayang-bayang emak yang sewaktu kecil begitu dicintainya. Selama beberapa hari, biasanya ia merasa tersiksa dengan pergulatan pikirannya sendiri. Batinnya akan membuncah-buncah. Selanjutnya, ia akan marah sejadi-jadinya.

Kali ini pun ia terombang-ambing antara nuraninya selaku anak yang pernah dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan ketegaran sikap sebagai lelaki berdarah laut. Ia dilahirkan saat angin laut menerpa celah dinding kayu rumah tua beratap daun di tepi Selat Malaka itu. Kerasnya terpaan angin dan kerasnya ombak mengalir dalam darah dagingnya. Ketegaran itu pula yang menyebabkan ia begitu cepat menyingkir. Ia tinggalkan abah, emak dan tiga saudaranya yang lebih tua.

Ia juga memberontak pada mitos emak yang selalu diagungkan. Ia sadar kalau kata-kata yang paling manjur untuk menaklukkan keberadaannya sebagai anak adalah surga berada di bawah telapak kaki emak. Tapi, emak yang dimilikinya itu amat berbeda dengan mitos keibuan itu sendiri. Emaknya sendiri tidak agung. Emaknya begitu hina dina di matanya. Emaknya telah terkubur jauh di lembah nista yang tak tahu sampai kapan akan berakhir. Ia begitu percaya dengan pendapatnya yang amat bersebrangan dengan orang kebanyakan.

“Mengalah sajalah. Mungkin itu lebih baik daripada tersiksa terus-menerus dengan bayang-bayang emak sendiri.” Sang istri membujuknya lagi dengan tata-kalimat yang diusahakan amat berhati-hati. Jadinya malah terkesan menggurui. Pasalnya, ia jadi amat tersinggung bila ada ungkapan-ungkapan yang cenderung menyalahkan posisinya.

“Tak usah mengajari aku. Aku lebih tahu tentang apa yang aku perbuat,” tangkisnya,

Ungkapan itu terasa begitu menyengat. Apalagi bisa didamparkan di dada seorang perempuan lemah-gemulai. Perempuan yang senantiasa berkata-kata jujur dan ikhlas tanpa banyak minta.

“Kau merasa terhina karena diusir emak?” tanya istrinya.

Memang sudah bertahun-tahun pertanyaan sejenis tak pernah melonggarkan kelebat rahasia yang tersimpan di batinnya. Bila dihadang lagi dengan pertanyaan semacam itu, biasanya ia mengelak. Wajahnya langsung memerah dengan kerutan di dahi yang berlapis-lapis. Ia tiba-tiba jadi marah besar untuk menutupi setiap tudingan yang menyudutkan keberadaannya.

“Aku tak pernah merasa terusir. Aku tak betah lama-lama berhadapan dengan keadaan yang menyebat harga diriku,” katanya penuh percaya diri.

“Siapa yang menyebat harga dirimu?” sanggah sang istri.

Ia diam bagai batu besar yang terperosok ke dalam lubang yang amat dalam. Kadangkala air matanya bergulir tanpa sengaja, di luar kesadaran dirinya. Kadangkala ia menjerit sejadi-jadinya sehingga kedua anaknya yang masih kecil itu jadi kecut dan ketakutan. Kadangkala ia terkesan jadi pemain wayang yang tiba-tiba memerankan sebuah cerita melodis di dalam suasana yang beringas. Atau sebaliknya, ia menjadi lebih gagah dari pangeran dalam cerita-cerita lama.

“Apa belum masanya kau berterus terang padaku. Mungkin aku dapat meringankan beban pikiranmu,” goda sang istri lagi tak pernah menyerah.

“Tidak! Aku bisa menyelesaikan persoalan yang terdedah di depanku.”

Ia bergerak ke tingkap. Dilihatnya burung-burung sore beterbangan di pucuk-pucuk pohon yang lebat di sekitar rumahnya. Terasa ada sindiran halus meraba-raba dinding hatinya yang kekar. Sedang burung-burung saja ada sarang tempatnya untuk berbalik pulang. Sedang angin dan awan punya arah yang berketetapan setiap hari. Sedang aku? Ia benar-benar tersudut saat membatin sendiri di tepi tingkap menarap hati yang kian gelap.

Pelan-pelan deburan ombak Selat Malaka menderam-deram di bilik hatinya yang kaku. Suara angin pantai yang gaming. Suara anak-anak nelayan seusianya dulu yang berjeritan saat berhasil menangkap ikan seekor-dua. Bayang-bayang masa silam itu bukan tak menggodanya setiap waktu. Tapi di balik bayang-bayang kerinduan itu selalu muncul kebencian mengenang emaknya sendiri. Ia amat terluka ketika menyaksikan mitos emaknya tak seperti dicatat sejarah yang bening. Wajah emaknya begitu keruh saat dibentang di atas hamparan kejujuran yang bening.

“Sampai berapa lama kau bertahan seperti ini? Aku melihatmu begitu tak bertenaga lagi karena didera siksaan-siksaan yang kau rakit sendirim” kata sang istri melecut batinnya. “Apa tak ingin kau dan anak-anak kita bersenda gurau dengan datuk dan neneknya. Ya, emakmu.”

“Ya, aku tahu itu.”

“Apa tak pernah kau bayangkan betapa melimpah-ruahnya rindu emak padamu karena sudah dua puluh tahun lebih tak kesampaian. Ingat, kau anak bungsu baginya. Anak bungsu selalu jadi muara kasih terdalam bagi seorang emak.”

“Bukan itu persoalannya. Aku masih mempertimbangkan, apakah aku perlu datang atau tidak?”

“Seharusnya kau yang mengalah. Kau anak bungsu bagi emak. Biasa sajalah bila anak yang mengalah.”

Ia diam. Ia hanya mengisap rokok daun nipahnya dalam-dalam dan meniupkannya ke langit-langit kamar. Suasana terasa kian pengap. Sementara benang kusut yang bergelimpangan di benaknya tak kunjung terurai juga. Bayang-bayang emak selalu jadi hantu di dalam benaknya itu.

“Kita adalah korban kesewenangan,” tiba-tiba suaranya merendah.

Sang istri langsung mendekat. Ingin sekali mendekapnya. Tapi urung ketika menatap wajahnya yang merah kehitaman.

“Maksudmu karena emak tak menyetujui pernikahan kita dulu? Lalu emak mengusir kita? Menurutku, itu pun termasuk kesewenangan yang tak terkendali. Begitu, kan, maksudmu?”

“Bukan… bukan itu.”

“Kan wajar saja bula seorang emak tak menyetujui sebuah pernikahan. Sebab, selalu terjadi pikiran seorang emak tak serempak dengan pikiran anaknya. Itu biasa terjadi.”

Ia nyaris tak mendengaran kata-kata istrinya. Ia lebih terbawa hanyut pada bayang-bayang emaknya. Ia masih ingat ketika ia minta restu emak dan abah agar pernikahannya secepatnya dilangsungkan justru emak memfitnahnya. Bahwa, ia buru-buru kawin karena telah menghamili bakal istrinya. Dan inilah yang membuat abahnya amat berang.

Sementara emak terus berupaya menggagalkan pernikahan itu, ia tetap saja bergerak maju. Selaku lelaki yang berdarah laut, ia tak takluk begitu saja. Malah tantangan emak itu justru memperbesar tenaga cinta-kasih yang berbuncah-buncah yang dimuarakan pada sang istri sampai kini. Ia membuktikan ketegarannya. Ia pergi tanpa merasa terusir dari kampung halaman yang telah membekali darah dan watak yang tegar sebagai lelaki. Ia membawa diri dan sang istri yang masih ranum dalam sedu-sedan kedukaan yang diguratkan oleh emaknya sendiri.

“Kau musuhi emak bagai memusuhi seorang perempuan yang tak pernah bertalian darah denganmu. Apa itu wajar?” Kali ini sang istri mencambuknya dengan sederetan kalimat pedas.

Ia benar-benar tersengak. Darah di dadanya bergemuruh bagai lecutan lidah ombak Selat Malaka di kampung halamannya. Gugusan pulau yang senantiasa akrab semasa kecilnya kini terasa begitu jauh untuk dijangkau kembali. Malah ia sulit menebak seberapa asin lagikah air laut yang pernah membubui kristal garam di tubuhnya saat usai bermandi-mandi dulu.

***

Kali ini sang istri mengulurkan sepucuk surat lagi dari emaknya. Tawaran emak tetap saja manis. Terpapar jelas kerinduannya untuk memeluk sang anak dan membelai para cucu. Tapi ia masih berat juga. Meskipun sempat dijelaskan dalam surat terakhir itu bahwa emak sakit keras. “Bagaimana seandainya emak ‘mendahului’ kita?” kata sang istri.

“Ini hanya sandiwara. Sebab, emak memang seorang pelakon yang tiada duanya.” Ia sedikit tersenyum. Sinis nadanya.

“Bersandiwara?”

“Kataku, ya! Aku bisa buktikan karena aku menyaksikan sendiri. Emak secara gemilang telah menggelar sebuah sandiwara besar yang menjadikan diriku makin kerdil di atas kebenaran.”

“Ceritakan agar pikiranmu tak semak terus-menerus. Aku ingin ketenangan di rumah ini.”

Lama ia terdiam. Matanya menerawang. Pelan-pelan bayangannya terbang juga ke silam yang kelam itu. Kali ini bukan lagi soal fitnah itu yang memualkan ulu hatinya. Lebih jauh dan sangat jauh dari itu. Ada sandiwara lebih besar yang telah digelar emak di bilik kehidupannya. Sandiwara itu pula yang telah meluluh-lantakkan mitos emak yang selama ini diagungkannya.

Terpampang sekelabat di ruang matanya. Hujan lebat di kelam buta. Lampu di ruang tengah remang-remang. Lampu bilik benar-benar padam. Abah dan saudara-saudaranya sedang melaut saat itu. Ia sendiri masih terlalu kecil untuk berhadapan dengan gelombang dan hujan. Makanya ia ditinggalkan abah untuk menemani emak. Tapi belum setengah hari keberangkatan abah dan saudara-saudaranya, ia saksikanlah sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia menyaksikan gelombang dan badai lebih dahsyat di dalam rumah. Ia menyaksikan sebuah sandiwara terbesar yang menyilaukan mata. Ia menyaksikan rubuhnya mitos emak yang semestinya dimuliakan. Ia menemukan emak sedang bercumbuan di katil bersama teman abahnya sendiri. Ia terlalu kecil ketika itu. Masih belasan tahun. Tapi peristiwa di depan matanya malam itu telah mendewasakannya seketika.

Dan seketika emak mengetahui bahwa ia tahu persis penyelewengan emak itu, ia pun terus dikucilkan. Ia dihardik dan dipaksa untuk bungkam. Pembungkaman itu berlanjut terus sampai emak tak memberikan restu dan lebih dari itu ia difitnah telah menghamili calon istrinya, kehinaan yang tak mungkin dimaafkan abahnya.

Haruskah itu diceritakannya pada sang istri? Ia tak kuasa membuat keputusan selama puluhan tahun. Sampai saat abang sulungnya mengabarkan emak telah berpulang untuk selama-lamanya. Ia nyaris saja tak menangis. Rasanya ia merasa tak perlu menangis. Sebab, yang ditangisinya hanyalah sosok semu seorang emak yang tak patut dimuliakan. Sikap tegarnya mengemas rapi semua rahasia masa silam emak, membuat abang sulungnya marah besar. Ia dituduh durhaka.

Lalu airmatanya pun runtuh juga. Hanya sebutir airmata saja. Ia pun berupaya setegar karang di Selat Malaka untuk mengungkapkan segalanya lebih terbuka. Di depan abang sulung dan istri serta kedua anaknya yang masih kecil, ia tuturkan segalanya secara jelas. Sampai-sampai abang sulungnya tak mampu beranjak pulang. Mulut dan langkahnya kaku.

“Tak sanggup aku memandang wajah emak lagi,” katanya terbata-bata. Langit berubah jadi gelap. Burung-burung pulang ke sarangnya. Angin pun mempertautkan malam di sela awan. (***)

~ oleh ~*~ pada 5 Juli 2009.

Satu Tanggapan to “Emak”

  1. Terimakasih, Bung.
    Akhirnya saya bisa mengcopy cerpen ini. Sebab, naskah aslinya sudah tak ketemu lagi karena belum pernah diketik ulang melalui komputer. salam kreatif selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: