Beras


Judul: Beras
Penulis: Gus tf Sakai
Diterbitkan: Harian Republika, 19 Juli 1998. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Aku telah lama berpikir tentang api. Api yang besar. Berkobar-kobar. Kubayangkan ia melahap huller, penggilingan padi, menjadikannya gosong dan tinggal debu. Kutiup, pufff, bukankah akan sangat indah wahai Rajab?

Kota-kota rusuh, orang-orang menjarah, kulihat api dalam televisi. Kutunggu, kutunggu dengan dada berdebar. Rasa senang, luapan riang, juga tak sabar. Kutunggu — berhari-hari berminggu-minggu. Tapi tak, tak ada api. Para perusuh ternyata tak sampai ke kota ini. Dan huller itu, dan tumpukan padi, seolah menghantam bagian yang peka pada benakku. Semakin hari, setiap waktu. Tak peduli apakah aku tengah lewat atau tidak di jalan itu. Tak peduli apakah wajah Rajab ada atau tidak di hadapanku. Sungguh heran, bagaimana mungkin nasib baik selalu berpihak kepada seorang dungu?

Aku belum selesai dengan kopiku, ketika Cu Manah — istri Pak Sareb pemilik kedai — masuk dengan cemberut. Tak ada lirikan genit. Tak ada senyum menggoda.

“Ada apa?” Pak Sareb meletakkan lap.

“Beras!”

“Naik!”

“Naik lagi?! Baru kemarin…“

Gelas kopiku terhenti., tertegun di dagu. Hilang sudah pagi yang cerah. Lenyap telah hari yang indah.

Kuempaskan gelas. Berdiri. Ada rasa geram. Rasa benci. Seseorang mengingatkan kopiku belum habis tapi aku tak peduli. Hilang pagi cerah. Lenyap hari indah. Cu Mariah — bibir rekah pinggul padat rambut basah — bukan lagi sumber gairah pertamaku di awal hari. Di luar kedai, udara sengak langit sesak. Membuatku muak. Si dungu itu, apakah ia memang menahan beras di hullernya?

Empat hari yang lalu aku bertemu Kidun, tengkulak ojek pengumpul beras dari kecamatan sebelah. Ia seorang yang riang dan selalu ramah. Ia sangat tahu siapa aku, bagaimana menghormatiku. Tapi hari itu ia tampak seperti tak beres. Ia menyapaku, takut dan bagai ragu. Ia bercerita berbelit-belit, mengungkapkan betapa hidup telah sangat sulit. Nilai uang menyusut. Harga barang meninggi. Sungguh tolol, karena siapa pun tahu. Tapi lalu, apa urusannya dengan aku?

“Tapi ini soal Rajab….”

Dadaku berdebar. “Ada apa dengan Rajab?”

“Maaf, Bang… sebetulnya bukan sepenuhnya soal Rajab dan aku. Mungkin lebih tepat bila disebut Rajab dengan masyarakat. Bahkan mungkin dengan pemerintah.”

“Sudah! Langsung saja. Ada apa dengan Rajab?”

“Begini. Abang tahu daerah kita kini rawan beras. Beras didatangkan dari luar daerah dan pemerintah terpaksa membeli beras – dengan harga gila-gilaan – dari luar negeri. Telah berulang-ulang pemerintah mengimbau agar petani tidak menahan beras. Jangan berspekulasi dan mempersusah masyarakat. Tapi Rajab…”

Aku segera tahu. Si dungu itu. Bajingan itu! Seharusnya, saat itu aku memang tidak menunda. Kidun memintaku menyampaikan ke Rajab. Menyampaikan? Aku terbayang akan televisi. Kerusuhan itu. Api. Kuhela napas. Udara sengak langit sesak. Aku melangkah ke mobilku. Datsunku.

Kulupakan pagiku. Cu Mariahku. Tapi saat kunci kuputar dan pedal gas kutekan, mesin mobil tak kunjung hidup. Mogok lagi? Bahkan mesin mobil pun tak berpihak padaku.

***

Akhirnya hidup, meski terbatuk-batuk. Datsun tuaku. Berkelebat wajah Rajab dengan mobil baru. Benar-benar baru. Bukan mobil bekas seperti milikku. Sungguh tak dapat aku mengerti: Bagaimana uang bisa mengejar seorang lelaki terbelakang seperti itu?

Rajab, kata Ayah, adalah adikku. Tapi bagiku ia sampah. Bukan hanya karena memang dipungut di jalan. Tapi karena ia selalu jadi bagian yang memalukan dari diriku.

Entah umur berapa ia dipungut, aku tak begitu ingat. Tapi saat itu aku belum sekolah dan ibu baru saja mati. Entah bagaimana awalnya kami begitu berbeda. Tapi saat aku masuk SD, ia mengutarakan kepada ayah: bahwa ia tak ingin sekolah. Dan dari sanalah segalanya bermula. Aku jadi makhluk luar, ia jadi makhluk rumah. Aku terkenal berteman banyak, ia hanya berkawan ternak. Aku berkelahi, ia cepat sembunyi. Aku suka wanita, ia malah bagai banci. Dan yang paling membuatku muak: ayah selalu memintaku untuk mengajari Rajab tulis-baca. Padahal ia sangat bodoh.

Sebelum Ayah juga mati, Rajab diberi sebidang sawah. Sebidang kecil, tapi itulah cikal bakal segalanya. Tak masuk di akalku bagaimana Rajab bisa berbulan-bulan hanya di situ, tapi bertahun-tahun sesudahnya, entah kapan, aku terkejut ketika tahu bahwa sawah kecil itu telah menjelma berbidang-bidang. Bagaimana caranya? Sangat busuk walau sederhana: orang-orang berutang lalu menggadaikan sawah kepadanya. Seperti juga aku dan semua sawah warisan ayah, satu demi satu beralih, jadi miliknya, karena aku tak pernah mendapatkan rejeki yang cukup – untuk membayar utangku.

Sekarang lihatlah. Sampai ke sana, nyaris semua adalah sawahnya. Dan huller itu, setiap hari, beratus-ratus kilo menelan padi. Menjadikan beras. Mengucur uang. Sungguh heran. Di kota ini, bukankah tidak hanya ia yang berdagang beras, memiliki sawah dan gilingan padi? Tapi kenapa Rajab? Kenapa hanya si dungu? Bahkan harga beras bisa tiba-tiba naik cuma karena ia menahannya.

Datsun tuaku kembali terbatuk-batuk. Saat aku menukar gigi di jalan yang sedikit menanjak, ia mati. Aku geram. Benci. Kuputuskan untuk berjalan kaki. Tak begitu jauh. Toh atap huller telah tampak. Ada pula jalan pintas lewat tiga petak sawah dan ladang singkong.

Semakin dekat, tapi tak terdengar pop-pop gilingan. Pintu huller tampak tertutup, tak ada bentangan padi. Bajingan! Ia sengaja menutup hullernya. Membiarkan harga terus naik. Di dalam sana, kupastikan, tentulah tengah menumpuk berkilo-kilo atau bahkan berton-ton gabah.

Aku tertegun. Gigiku gemeretak. Aku sudah akan melangkah ketika lapat-lapat terdengar suara bercakap-cakap. Kusibakkan daun. Kujulurkan leher. Ada beberapa orang, keluar dari samping belakang huller. Memang ada pintu lain di situ.

“Terima kasih Tuha. Bang Rajab menepati janji. Ia tak menjualnya.”

“Sungguh berbudi. Kalau beras yang sekarang ini bukan untuk kita, coba dengan apa kita harus membeli?”

“Ia bukan pedagang. Tetapi nabi. Orang-orang seperti itu memang selalu didatangkan Tuhan pada zaman-zaman sulit.

“Andai tidak kemarau. Andai panen tidak gagal…”

“Jangan berandai-andai. Berdoa saja agar musim tanam di muka kembali normal.”

Aku terpaku. Percakapan mereka. Aku kenal dua tiga orang. Anak buah Rajab. Para petaninya.

Memang kemarau. Kabut asap. Hutan terbakar. Kenapa aku tak terpikir itu? Tapi Rajab. Tetapi Rajab! Apakah mereka tak salah? Nabi. Pufff… kelaparan membuat orang-orang jadi buta.

***

Tapi, tak lama juga aku terpaku. Tapi tidak, Rajab itu memang busuk. Pastilah baru sekali ini ia berbuat baik. Dan lagi pula kepada pekerjanya. Tentulah akal bulus saja. Biar anak buahnya semakin rajin. Biar bisa ia perah lebih ampas lagi.

Orang-orang itu telah lenyap, hilang di tikungan. Aku melangkah, tapi kembali termangu di tengah penjemuran. Ah tidak Tidak. Rajab memang bajingan. Terbayang olehku televisi. Kerusuhan itu. Api. Aku berpikir. Tapi tiba-tiba merasa muak kenapa harus berpikir. Angin bertiup dan kesunyian tiba-tiba dirambati oleh suara tangis. Tangisan bayi, halus, lalu meninggi.

Kulayangkan pandang. Ada pondok di sebelah sana. Meski dipisah oleh sepetak sawah dan ladang singkong yang lain, pondok itu harus kuperhitungkan. Dan, walau benci — sangat benci — dengan tangis bayi, kulangkahkan juga kaki ke sana.

Sangat kecil. Berdinding bambu berlantai tanah. Kuintip. Seorang ibu. Seorang bayi. Aneh, si bayi dibiarkan tergeletak di balai-balai, sementara si ibu bersandar ke tonggak — bagai tak peduli. Tidak. Si ibu, ibu muda itu, bukan hanya bersandar. Tapi seperti bayinya ia juga menangis. Tangis diam. Hanya airmata. Aku juga benci dengan pemandangan ini.

Kudorong pintu. Perempuan itu terkejut. Gelagapan menyusut mata.

“Aku lewat. Tangis bayi…”

“Oh Abang! Abang Sarman! Kukira siapa.”

Ia kenal aku? Apakah aku kenal ia? Tapi memang banyak orang yang mengenalku. Entahlah.

“Bayi kau menangis. Engkau juga menangis. Ada apa?”

“Sungguh kebetulan. Oh Tuhan….” Bibirnya gemet.ar. Tapi kembali menangis.

Aku tak suka tangis. Berhentilah. Sudah. Coba ceritakan. Kenapa kebetulan?”

Ia menarik napas. Menahan senggukan. “Aku… aku bekerja pada Bang Rajab. Tapi panen kemarin sungguh sangat buruk. Hanya ada sedikit beras. Hanya ada sedikit uang. Kata Bang Rajab….”

Aku segera menjadi muak. Rajab. Rajab! Tapi mudah-mudahan yang ini berbeda. “Apa kata Rajab?”

“Cadangan beras sisa panen yang lama memang masih ada. Tapi, kata Bang Rajab lagi, kita tak boleh memutus pasokan beras ke pasar. Apakah memang begitu, Bang? Sudah beberapa hari ini kami hanya makan singkong. Kami sudah…”

Bajingan. Sama saja. Apakah perempuan ini belum tahu bahwa Rajab-nya telah jadi nabi? Aku menelan ludah.

“Selain singkong, kami sudah tak punya apa-apa. Bisakah Bang Sarman membantu kami, agar Bang Rajab….”

Memang bajingan. “Aku tahu,” kataku cepat. “Tapi sudah. Semua sudah selesai.”

“Maksud Abang?”

“Cadangan beras takkan dijual. Tenanglah. Aku katakan itu ke Rajab. Ia setuju.”

“Oh Tuhan! Terima kasih! Terima kasih Abang.”

Dan seperti kuduga, tubuhnya terlompat ke arahku. Aku meresponnya dengan gerakan yang khas milikku. Profesional. Meski sedikit kotor… ia sebenarnya cantik. Ada busungan rapat ke dada. Kunikmati. Ada bayangan televisi di kepala. Api?

Bajingan. Aku sangat ingin.. (***)

~ oleh ~*~ pada 12 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: