Malam Seribu Bulan


Judul: Malam Seribu Bulan
Penulis: Hamsad Rangkuti
Diterbitkan: Harian Republika, 21 Maret 1993. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Aku adalah orang yang suka menikmati berbuka puasa di rumah makan atau warung-warung pinggir jalan. Selesai berbuka aku berjalan-jalan melihat para pedagang kaki lima. Menyusuri gang becek dan bersenggolan dengan para pembeli. Aku mendengar tawar-menawar dalam jumlah yang tak berarti. Dalam keliaranku menyusuri keramaian pasar kaki lima tertumbuklah aku pada salah satu pojok keramaian. Kulihat banyak orang berkerubung membentuk satu lingkaran. Aku tertarik dan bergabung dengan orang banyak itu. Aku memngambil tempat dan melihat ke tengah arena. Ternyata di dalam arena seseorang tengah beraksi. Orang itu adalah Ibnu, seorang pedagang obat kaki lima.

Ibnu menggelar dagangannya di emperan toko sepatu. Kulihat dia sedang mempromosikan keampuhan obat yang dijualnya. Para pendengar di sekelilingnya membentuk tiga perempat lingkaran. Seperempat lingkaran yang lain adalah dinding toko sepatu itu. Lampu petromaks diletakkannya di tengah lingkaran, ditaruh di atas peti bekas. Cahaya lampu menyuluh wajahnya yang mandi peluh. Bayangannya jatuh di dinding bergerak kian kemari bagai wayang di atas layar.

Para pengunjung ternyata asyik juga menyimak kata-katanya, dan sesekali ada di antara mereka tertawa mendengar guyon cabulnya. Dia memang pintar membumbui uraian panjang seorang pedagang obat kaki lima.

Pedagang obat itu adalah sahabatku. Dia bernama Ibnu Talib. Talib adalah nama ayahnya. Aku dan dia sama-sama dibesarkan di sebuah kota kecil di Sumatera. Sudah sejak kedil bakatnya sebagai seorang dokter tampak. Kalau ekonomi orang tuanya mengizinkan barangkali bakat dan cita-cita itu telah terwujud. Tetapi karena ekonomi orang tuanya kandas di tengah jalan maka jadilah dia dokter pinggir jalan.

Bergaya seperti dokter selalu dia tunjukkan ketika kami bermain semasa kecil. Diambilnya beberapa tangkai daun pepaya. Dijalinnya menjadi satu bentuk tiruan alat pendengar detak jantung. Diperagakannya kepada kami seperti yang mungkin pernah dilihatnya diperagakan seorang dokter. Rongga tangkai daun pepaya itu memang benar-benar mengantar detak jantung ke telinga kami masing-masing yang mencobanya.

Yang mematahkan cita-citanya adalah gerombolan pemberontak di daerah kami. Ayahnya gugur di medan perang sebagai tentara Republik yang setia. Sejak itu ekonomi keluarganya patah. Ibunya menjadi janda seorang prajurit yang gugur melawan pemberontak. Janda itu tidak rnampu mewujudkan cita-cita anaknya. Selesai SMA, Ibnu ikut merantau bersama seorang pedagang obat keliling.

Ibnu sadar, uraian panjang yang dipaparkannya mulai ditinggalkan para peminatnya. Dia mulai menyinggung kemampuan dan kemujaraban obat yang dijualnya. Orang rupanya tidak tertarik pada inti pembicaraannya. Mereka mundur satu per satu. Pada akhirnya tinggal aku sendiri yang memperhatikannya. Dia lantas mengakhiri upacara cari makannya itu. Ia menggulung kabel yang dari tadi mengantar suaranya ke pengeras suara. Dipungutnya satu per satu bungkus-bungkus obat dalam plastik yang tidak terjual. Dimasukkannya ke dalam tas tangan.

“Banyak laku?” tegurku. Mungkin dia belum tahu kalau aku ada di antara para penonton. Dia menoleh kepadaku.

“Bagaimana kau lihat penampilanku? Masih boleh?” Disekanya peluh dengan handuk leher. Aku ikut mengemas lampu petromaks yang telah dimatikannya dan memasukkanya ke dalam peti.

“Kaulah seorang aktor panggung,” kataku menghibur.

“Aktor panggung? Mana ada aktor panggung sekarang ini. Semua mereka sekarang ini telah menjadi tukang obat. Sama seperti aku. Tapi mereka dapatkan juga yang lain. Di mana kau berbuka?”

“Biasa, masak kau lupa kebiasaan kita. Berbuka di warung pinggir jalan sambil memperhatikan tingkah laku para haus dan dahaga. Di dekat stasiun. Aku hanya baru minum teh manis panas dan semangkuk kolak. Aku masih menunggu sepiring nasi dengan lauk ayam panggang.”

“Kalau begitu kutraktir kau. Kita makan di warung Ajo.”

“Ada duit kau?”

“Malam Lailatul Qadar tidak pernah lewat dalam hidupku setiap Ramadhan. Masih mau ikut dengan aku? Menunggu yang spektakuler, Ramadhan tahun ini monumen nasional itu akan merunduk, malam lebih indah dan seribu bulan itu terwujud dalam lentur menara bingkai emas itu. Aku akan memperoleh Lailatul Qadar Ramadhan tahun ini. Ini merupakan pengalaman keagamaanku yang luar biasa. Anugerah Lailatul Qadar terwujud di lapangan Monas.”

“Kau masih saja mengartikan peristiwa Lailatul Qadar itu menurut angan-anganmu. Waktu masih kecil dulu kita mengartikannya dalam wujud pohon merunduk. Sampai sekarang pun kau masih mengartikannya seperti kita pulang tadarus dulu. Kau masih saja mengingat-ingat bagaimana kita berlari di malam-malam 17, 19, atau 23 Ramadhan ke dalam hutan kelapa. Kita mengharapkan Lailatul Qadar turun di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lailatul Qadar tidak diberi tapi dicari, kata guru mengaji kita. Kita tidak akan memperolehnya bila kita tidak mencarinya. Begitu kata ustadz kita setiap kita selesai tadarus. Kita pun mencarinya dalam salah satu ujud yang dimisalkan ustadz. Pohon kelapa yang merunduk. Tapi sesungguhnya yang dimaksud guru mengaji kita itu adalah Lailatul Qadar dicari melalui pendekatan kepada Allah. Bisa dengan shalat, dengan dzikir atau memberi sedekah kepada fakir miskin. Aku telah mengartikannya begitu sekarang. Ramadhan tahun ini aku tidak mau ikut bersamamu mencari Lailatul Qadar dalam ujud lenturan menara berbingkai emas itu.”

“Tahun ini Monas akan merunduk di depanku. Aku akan mengikis kepingan emasnya sampai serbuknya sepanci penuh.”

“Astaghfirullahalaziim. Masih juga kau mengartikannya menurut angan-anganmu. Beramalah kau. Pahala yang kau dapatkan akan sebanyak seribu bulan. Lupakanlah ujud keinginan kita masa lalu itu. Shalat jangan ditinggalkan. Beramal shaleh. Memberi sedikit dari yang sedikit kita peroleh. Jangan menunggu banyak baru menjadi pemberi.”

“Siapa guru rohanimu sehingga bisa memberi fatwa seperti itu?”

“Kaset para juru dakvah.”

“Sakit telingaku mendengarnya.”

“Itu menandakan telingamu rusak. Ada iblis di dalamnya.”

“Jadi keputusannya, kau tidak ikut begadang di Monas Ramadhan ini?”

“Tidak. Capek aku berembun tiap tahun. Monas tetap saja tegak kekar tak tergoyahkan.”

“Aku yakin, Ramadhan inilah saatnya.”

“Kau mau traktir makan apa tidak? Kalau tidak, ayo kita naik bus itu. Nanti kita kehabisan bus.”

“Ayo kita ke warung si Ajo.”

***

Sejak hari kesepuluh menjelang akhir Ramadhan tak pernah kutemukan lagi Ibnu berdagang obat. Kudatangi rumahnya. Kata istrinya, dia belum pulang. Aku pun melupakannya.

Shalat id kulaksanakan di lapangan olah raga. Dan jauh kulihat Ibnu melambai-lambai. Diajaknya aku duduk di sebelahnya. Aku melintasi beberapa sap untuk sampai ke tempatnya.

“Salamualaikum,” sapaku. Disambutnya uluran tanganku.

“Alaikumsalam. Alhamdulillah kita telah lulus memerangi hawa nafsu.”

“Mengapa? Penuh puasamu?”

“Alhamdulillah. Shalatku tak pernah tinggal.”

“Alhamdulillah. Kita sama di Ramadhan tahun ini. Aku pun tak pernah kalah dan shalatku utuh lima waktu sehari semalam. Tetapi terus terang, aku tidak ikut tarawih. Ke mana saja kau akhir-akhir inii? Kata istrimu kau pulang menjelang subuh.”

“Mengulang kebiasaan lama. Begadang di lapangan Monas. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Kuharap kau percaya dan yakin. Inii adalah peristiwa keagamaan yang spektakuler.”

“Apa itu?”

Seharusnya kau ikut ke Monas pada malam-malam ganjil mendekati akhir Ramadhan. Aku dikaruniai malam lebih indah dan senibu bulan. Lailatul Qadar.”

“AstaghfiruUahataziim. Jangan kau permainkan malam suci itu Ibnu. Mengucaplah kau. Ayo mengucaplah!”

“Tak seberkas angin pun terasa. Tak seucap suara pun yang terdengar. Menara Monas itu merunduk. Sungguh suatu keajaiban yang luar biasa. Kusentuh kepingan emas itu. Kuelus dengan tawadhuk. Aku tafakur. Aku mengheningkan cipta. Aku tiba-tiba tersentak dan keterpukauanku. Aku sadar peristiwa itu hanya sesaat. Aku keluarkan pisau yang telah kupersiapkan. Kukikis kepingan emas itu. Kulakukan sedikit demi sedikit. Serbuk emas itu kutampung dalam panci yang telah kusiapkan. Aku tidak tahu berapa lama aku mengikisnya. Ketika aku sadar, serbuk emas itu telah tertampung sepanci penuh, dan ketika hendak mengambil panci yang kedua, menara itu berdiri meninggalkanku. Dia tegak lurus seperti sediakala.”

“Astaghfirullahalaziim. Mengucap kau Ibnu. jangan kau permainkan malam sakral itu. Jangan kauceritakan mimpimu kepadaku.”

“Serbuk emas itu sekarang kusembunyikan di rumah. Istriku pun belum tahu. Aku pulang mereka masih tidur. Selesai shalat id, datanglah kau ke rumah. Kita telah puluhan kali menunggu peristiwa itu. Kita telah puluhan kali begadang. Kita telah puluhan kali berembun. Justru ketika kau tidak ikut, menara itu merunduk. Ternyata peristiwa Lailatul Qadar itu hanya untukku seorang. Tapi datanglah kau ke rumah. Kau boleh lihat serbuk emas itu. Aku tidak akan melupakanmu, telah kuniatkan untuk memberimu segenggam.Tapi hanya segenggam yang akan kuberikan padamu. Sekepal serbuk emas jangan kau samakan dengan sekepal nasi kuning. Itu sudah cukup banyak jika kau tukarkan dengan uang.”

“Ya Allah, ampunilah sahabatku mi. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang telah diucapkannya. Ampunlah dia seperti Engkau mengampuni orang-orang yang bertaubat.”

“Jangan kauceritakan pada siapa-siapa. Nanti kalau ada orang yang mendengar, jiwaku bisa terancam. Kalau kau mau datang mengambil segenggam itu, jangan kau bawa siapa-siapa.”

Selesai shalat Id aku langsung pulang ke rumah. Aku terus-menerus membaca Istighfar. Aku mendoakan semoga Ibnu tidak terganggu jiwanya.

Setiba di rumah aku menyambut salam semua tetangga yang bertemu di jalan maupun yang datang ke rumah. Aku menyibukkan diri dengan suasana lebaran untuk melupakan cerita Ibnu. Tetapi bagaimanapun yang kulakukan, pikiranku terganggu oleh cerita si Ibnu. Aku merasa imanku mulai goyah. Segenggam serbuk emas. Kekuatan iman yang kubina selama Ramadhan mulai goyah di hari pertama bulan Syawal. Mengapa begitu cepat aku goyah?

Aku merenung seorang diri di dalam kamar. Ketukan pintu terdengar. Para tetangga datang mengucapkan selamat lebaran. Kubuka pintu dan yang tampak olehku adalah si Ibnu dengan sebaskom serbuk emas. Aku sudah tak dapat menguasai diri. Sesuatu mulai menggoda. Segenggam serbuk emas.

Kupanggil istriku. Kutanyakan padanya seberapa berat segenggam serbuk emas.

“Apa-apaan Ayah ini. Sebatang emas barangkali.”

“Tidak ini sungguh-sungguh. Segenggam serbuk emas.”

“Mana aku tahu berat segenggam serbuk emas. Harus dibawa ke tukang emas. harus ditimbang dengan timbangan emas.”

“Ah kalau begitu aku pergi dulu.”

“Mau ke mana? Ke rumah teman? Siapa?”

“Pokoknya aku mau pergi.”

“Kalau kalian mau ikut, ayolah. Kita pergi ke Monas.”

“Ke Monas? Masak pagi lebaran kok pergi ke Monas.”

“Mana anak-anak?”

“Keliing mengunjungi rumah tetangga.”

“Panggil mereka. Kita pergi ke Monas. Bergegaslah. Kita segera berangkat. Jangan lupa bawa keker. Di mana keker disimpan?”

“Di lemari buku. Untuk apa keker?”

“Aku mau melihat Monas?” (***)

~ oleh ~*~ pada 19 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: