Saat Yang Indah Untuk Mati


Judul: Saat Yang Indah Untuk Mati
Penulis: Hudan Hidayat
Diterbitkan: Harian Republika, 29 Juli 2001. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Waktu kecil mungkin pernah terlintas di otakku tentang negeri Korea, dari cerita silat yang pernah kubaca. Sudah lama sekali. Seperti timbunan dalam kenangan. Aku tak menyangka, 30 tahun kemudian aku harus mengembara ke Korea.

Korea negeri yang asing bagiku. Seasing jiwaku sendiri. Di atas pesawat terbang tengah malam aku memikirkan Korea. Apa yang kucari di sana? Apa yang kudapatkan? Waktu bangun tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kemarin aku telah berenang, nonton film di bioskop yang sepi, lalu kencan dengan Dini – cewek yang mulai beranjak dewasa, tapi sangat membuatku bahagia kalau aku berkata-kata padanya. Sebab aku merasa melihat diriku sendiri waktu muda, saat aku memiliki harapan dan dendam. Tapi kini semua telah padam. Dengan berlalunya waktu, aku mengerti semua itu hanya ilusi.

Seorang ibu tua lewat dan menumpahkan birku. Mungkin ia berkata maaf, aku tidak tahu. Ia memakai bahasa Korea. Ia mengangguk-angguk dan wajahnya nampak menyesal. “No problem,” kataku. Tiba-tiba ia nyerocos dalam bahasa Inggris. Ia bertanya aku mau kemana. Ke Korea. Ia amat senang dengan jawabanku. Ia tersenyum dan berkata, “Good bye.” Aku mengangguk. Ia berlalu dan duduk di pojok pesawat Korean Air yang kami tumpangi.

Aku ingin segera sampai. Aku mulai merasa menyesal telah naik pesawat terbang ini. Seharusnya aku tidak jauh-jauh dari rumah. Dekat-dekat saja. Tapi aku telah terbang untuk sekitar enam atau tujuh jam. Aku takut pesawat ini meledak dan kematian akan merenggutkanku dari hal-hal yang kusenangi. Kalau aku mati, aku tidak bisa lagi membaca setelah lelah bekerja. Juga nonton film dan jalan-jalan di pelabuhan, saat matahari terbenam. Aku tidak bisa lagi melihat kapal-kapal berlabuh menurunkan jangkar. Camar yang menyambar. Pelaut-pelaut turun dengan kegembiraan – juga kesedihan. Atau kesenangan lain yang rutin.

Kalau aku mati, akan kemanakah aku? Dari ada menjadi tiada. Aku ingin tak percaya pada kematian. Tapi aku melihat orang mati dan aku tidak bisa mengabaikan fakta ini. Robert mati tadi pagi. Juga Susi. Nafas mereka berhenti. Kemanakah mereka? Menuju Tuhan? Bagaimana yang tidak nampak rupa dapat mengatur yang nampak nyata? Ke-tiada-an mengatur ke-ada-an. Sudah. Berhentilah berpikir. Pikir saja apa yang kau buat bila sampai di Korea.

Matahari Korea menyambut kami. Inchoen sepi. Bandara Internasional Korea seperti menyimpan misteri. Apa yang pernah terjadi di sini? Seorang lelaki terpojok, akhirnya terbunuh di malam hari? Atau sebuah perselingkuhan, dengan bayang tangis sang istri? Atau seorang yang tidak mengerti apa yang harus dilakukan? Seperti aku saat ini. Aku bergegas menuju Tourist Information. Aku berlari menuju mesin. Kupencet tombol. Hotel. Karaoke. Pub. Napasku tersengal. Aku berpikir mengapa aku harus berlari. Tapi aku telah berlari dan segera kuurungkan berpikir tentang ini.

Aku pencet tombol lagi. Sebuah universitas muncul di layar – Kyung Hee University. The Graduate Institute Of Peace Studies. Di Namyangju. Jadi aku harus ke sana. Baiklah. Aku naik taksi dan kukatakan pada sopir taksi aku ingin sampai ke sana sekarang juga. Sopir itu bertanya, “Mengapa, Tuan harus bergegas seperti ini? Adakah seseorang yang harus Tuan temui?”

Aku berkata, “Ya, aku ingin menemui seseorang. Kami membuat janji hari ini. Dapatkah anda memacu mobil ini dalam tempo dua jam?”

Sopir itu mengangguk dan segera tancap gas. Aku tertidur sepanjang jalan. Terbangun ketika jalan mulai menikung, dan nampak batu-batu kali dari sebuah sungai yang kering, serta pohon-pohon rindang di sepanjang jalan masuk ke Graduate Institute. Graduate Institute sepi. Aku berjalan dan merasa heran kenapa tidak pernah berpapasan dengan mahasiswa dengan ransel di pundaknya. Kampus apakah ini? Mengapa demikian sepi?

Sebuah gedung menarik perhatianku. Aku masuk melalui pintu kaca berputar. Di dalam gedung itu terpampang tulisan Magna Carta yang besar. Aku tidak tertarik pada Magna Carta. Untuk apa. Aku segera bergegas dan meneliti satu-dua orang di sana. Seorang wanita mengamatiku dan tersenyum padaku. Aku jadi agak malu. Aku menghindar dari wanita itu. Aku mengambil jalan memutar, di sana nampaklah padang rumput dan hutan. Aku berjalan santai melintasi padang rumput itu. Alangkah senangnya. Burung-burung turun, hinggap di rumput dan daun-daun. Aku mendekat ke sekumpulan burung. Mereka berkicau berlarian memandangku. Aku terus berjalan. Aku mendengar deru mobil yang datang dari jauh. Bunyi itu dan bunyi alam di hutan yang sepi itu membuatku serasa di surga. Kesepian yang sempurna. Barangkali beginilah saat Adam turun ke dunia.

Wanita yang kutemui di gedung tadi mendadak muncul di depanku. Kami sudah di tepi hutan. Di belakang kami padang rumput dan bayang gedung-gedung Institue. Kulihat juga bayang seorang lelaki, mengikuti. “Halo, hay,” kata perempuan itu menyapaku. Ia bukan perempuan Korea. Juga bukan Cina. Tapi matanya sipit dan wajahnya memancarkan misteri kematian. Semacam senyum tak jadi. Aku merasa maut bertengger di matanya.

“Kamu dari mana?”

“Indonesia. Kamu?”

“Thailand.”

“Oh.”

“Apa kerjamu di sini? Apa yang kamu cari?”

“Aku? Oh, tidak apa-apa. Tadi aku berharap dapat menemui seseorang. Tapi sekarang, entahlah. Aku tidak begitu yakin.”

“Kamu selalu begitu? Jauh-jauh dari Indonesia.”

Aku ingin menjawab, tapi perempuan itu mengajukan pertanyaan lain. Ia bertanya namaku. Aku menyebutkan namaku. Sambil tertawa ia menyebutkan namanya, “Pimchan.”

Ia mengajakku masuk jauh ke dalam hutan. Di sebuah pohon besar kami duduk. Matahari berhenti pada daun-daun.

“Duduklah di sini. Di dekatku.”

Aku mencium bau wangi yang aneh meruap dari tubuhnya. Pimchan tahu itu, tanpa kuminta menerangkan, bahwa yang dipakainya adalah bunga kematian. Lalu ia bercerita, bahwa keturunannya dahulu selalu meramu bunga kematian dengan beberapa rempah-rempah, sehingga meruapkan bau seperti yang tercium olehku. Ia menambahkan, bunga kematian dipakai kalau kita sedang berkabung, atau berperang.

“Bunga kematian juga dipakai untuk menyambut kematian kita sendiri.”

“Oh, mengerikan sekali. Tapi, siapa yang mati?”

“Tidak ada.”

Pimchan tersenyum, aku merasa senyumnya amat aneh. Aku mendapat firasat sesuatu akan terjadi. Sudah dari Indonesia aku mendapat firasat ini. Tapi apa. Apa yang akan terjadi, Pimchan?

Entah siapa yang memulai, kami sudah saling peluk dan kulingkarkan tanganku ke pinggangnya yang kecil. Ia mendesah dalam pelukanku dan aku mendengar semacam tangis tak sampai. Sedu yang naik ke kerongkongan tapi diputus karena takut ketahuan. Jadi Pimchan menangis, pikirku. Tapi apa sebabnya? Adakah sesuatu yang mengganggu pikirannya?

“Kamu menangis, Pimchan?”

Pimchan mengerjak-ngerjapkan matanya. Ia tersenyum dan berkata bahwa ia menangis karena bahagia.

“Tahukah kamu, aku sudah lama merindukan saat-saat seperti ini.”

“Oh.”

“Dan inilah saat yang selalu muncul dalam mimpi-mimpiku. Saat yang indah untuk mati.”

Aku belum menyadari ucapannya sepenuhnya. Aku kira Pimchan agak terlena karena suasana. Tapi ia lalu menambahkan:

“Mati dalam pelukanmu, sayang.”

Pelan-pelan Pimchan mengeluarkan belati pendek yang melengkung. Belati itu dingin dan aku masih juga belum menyadari apa yang terjadi, saat Pimchan melepas sarung belati dan sekarang nampaklah pisau itu, tajam berkilau dan perlahan-lahan Pimchan menusukkannya ke perutnya sendiri. Ia memohon dengan sangat agar aku ikut mendiorong pisau itu.

Aku tidak tahan mendengar rintihannya. Aku kasihan padanya. Lagi pula semangatnya untuk mati membuatku tidak sampai hati dan aku merasa wajib membantunya. Ada pula dorongan lain. Darahku berdebar. Maka aku pun ikut menekankan belati ke dalam perutnya. Tangan kami bekerja sama dengan baik. Belati itu merobek baju hitam yang dipakai Pimchan, terus menembus kulit perut, usus dan bagian-bagian dalam tubuh Pimchan. Darah merembes dari tangannya dan tanganku. Pimchan memelukku dan tubuhnya jadi dingin. Matanya meredup. Ia masih memelukku dan aku merasa Pimchan ingin menciumku. Aku mendekatkan bibirku. Aku ingin bertanya mengapa Pimchan mau bunuh diri, tapi ia menyuruhkan jangan bertanya, melalui matanya, sehingga aku urung menanyakannya.

Pada saat itulah aku mendengar bentakan dan beberapa orang polisi mengacungkan senjatanya padaku. Kukira mereka datang bersama bayang lelaki yang mengikuti kami. Salah seorang dari polisi itu menyuruhku membuang pisau dan segera mengangkat tangan. Aku mengangkat tangan, membiarkan Pimchan tumbang, seperti pohon tercabut dari akarnya.

Di depan polisi-polisi itu aku menerangkan kejadianny. Tapi mereka tak percaya, dan tetap menuduh aku adalah pembunuh. Selanjutnya mereka ingin tahu mengapa aku sampai membunuh.

“Sebenarnya, anda ini siapa? Mengapa jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk membunuh?”

Aku berkata bahwa aku bukan pembunuh.

“Pimchan ingin bunuh diri. Dan dia ingin aku membantunya.”

Polisi-polisi itu tersenyum dingin, dan tetap menyangka aku adalah pembunuh. Untuk itu mereka akan membuktikannya di pengadilan. Lalu mereka mendorongku ke dalam sel kembali. Lampu sel yang muram menyambut tubuhku, memantulkannya ke dinding-dinding yang sepi. (***)

~ oleh ~*~ pada 26 Juli 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: