Purdah


Judul: Purdah
Penulis: Joni Ariadinata
Diterbitkan: Harian Republika, 15 Januari 1995. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Sentakkan radio. Gadis-gadis. Teriak bayi dalam himpitan atap-atap berdesakan. Para lelaki dengan wajah setengah kusut manakala bangun. Angin melemparkan keraguan pada perempuan-perempuan bermulut ringan.

Bangun manakala matahari terbit bersama anak-anak: mengeluh, mencaci, menyuruki panci-panci dengan lirikan licik. Dan bayang-bayarig langit selalu melompati harapan demi harapan tentang harga sebentuk perut.

Ketika sinar pagi pecah menjadi warna-warna, ada lengkingan frekuensi mimpi melompati kabel-kabel antena. Huruf-huruf. Di kiri kanan. Lantas orang-orang saling omong menyesalkan nasib, membungkus harga diri. Tentang hari-hari berkilat dalam luapan keringat. Tentang dua ekor anjing saling tikam demi sebuah daging, begitu berarti tanpa harus bertanya. Berderet dalam lingkaran kepastian menuju akhir pendakian.

Di atas segalanya. Bekerja, berpikir, berjuang dan membunuh.

Sinting! Tompel berseru menatap puing-puing, “Tuhan tak hadir di tempat ini!”

Gamis putih sedikit bau, tak apa, kesucian lahir dan hati. Berkelebat di atas tumit, sedikit bawah sandal jepit swallow, kesaksian perjalanan panjang. Rombeng. Dan pintu ke pintu.

“Sunan Kalijaga?!” suara bertegur. Aha, Ia kenal wajah itu. Bang Samiun. Sewaktu SMA, menjadi bandar buntut. Tompel menghela napas, sabar. Menatap lembut dan berujar, “Saya, ikhwan Samiun,” salamnya. “Kenal Tompel anak Ummi Markonah? Bukan Sunan Kalijaga. Abang boleh memanggilku sekarang Abdurrahman Hisyam al-Asy’ad. Allah hanya akan memanggil nama yang baik.”

“Sebentar, kayaknya pernah gue lihat tuh?” melirik ke samping. Markum yang dilirik bengong. Markum juga Ia tahu, anak Paijah tukang warung. Mesti matanya melotot seperti mencolot. “Pangeran Diponegoro!” tiba-tiba seruan mencelat. “Samber petir gue yakin,” katanya. “Percaya enggak? Lihat, bajunya tiru-tiru Kumaeni. Sorbannya, cing! ckck-ck….”

Tompel mengusap jenggot. Satu tahun dipeliharanya, meskipun jarang. Agama ini lahir dari keasingan dan kelak akan tiba saatnya pula menjadi asing. Dan Tompel yakin. Lorong-lorong melangkah dalam kerumunan anak-anak, jendela dan daun pintu. Gadis-gadis. Perempuan. Para lelaki menggumamkan wajah naif. Berbisik, menunjuk dan ketawa. Percayalah, hingga saatnya “Dia” akan menutup semua mata, semua telinga. Pasti. Begitulah. Seperti kelak kelahiran Imam Mahdi Sang.

Pelurus kebenaran, satu di antara tiga puluh dua golongan saat matahari mendekat dan tergelincir. Dari Barat menuju Timur. Laut diangkat dan gunung-gunung diterbangkan.

“Dengarlah dulu. Dulu saya Tompel. Berapa umurmu? Enam puluh, tujuh puluh, sebelum pintu-pintu tertutup.”

“Markonah. Anak janda Markonah! Ya Ampun, kenapa jadi begitu?”

Gamis dan jenggot selalu menahan pandang kotor; terkecuali memandang perempuan kafir dengan rambut telanjang dan badan menawarkan rangsang: meludah atau mengumpat dalam hati adalah sekecil-kecil iman. Maka, demikianlah, Tompel telah meludah sejumlah tiga puluh empat. Betapa banyak perempuan kafir sedang jarak mulur jalan dengan rumah Emaknya (ummi) hanya dua ratus meter saja.

Tak boleh kau lewatkan pintu, di manapun sebab kaulah khalifah, sedang tugas khalifah menyeru kebenaran. Tak ada arti apa pun di sini kecuali kehidupan yang abadi di tempat nanti, yang akan menempatkan ahlul-sunnah di antara orang-orang selamat, “Assalamualaikum, Saudara. Tidakkah kau ingat bahwa kita semua akan mati?”

“Ya? Ah betul juga. Sama, saya percaya Kerajaan Allah. Maaf, saya orang Katolik.”

“Tompel?! Gile luh. Kuliahmu sudah rampung?”

“Saya Abdurrahman Hisyam al-Asy’ad. Allah akan bertanya arti nama-nama.”

***

Markonah nyaris tobat mendengar anaknya malah jadi ‘wali’, “Heh?! Yang betul saja kamu itu ngomong, Ijah?”

“Eh, bibi mah tidak percaya. Tuh, orangnya lagi mampir di tempat Emeh. Semua orang juga kaget, kirain siapa, eh, taunya Tompel. Kudengar, Tompel bakal berangkat ke Amerika ya Bi Anah? Saya gembira lho kalau Tompel jadi dokter ahli. Bisa suntik gratis…” kemudian berbisik pada masalah semula, “Semua rumah dimasuki!”

“Astaghfirullah al aziem, buat apa?”

“Tompel banyak hafal ayat Quran. Tompel membacakannya sambil menangis….”

Bagi Markonah itu bukan anugerah. Pengetahuan agama mengajarkan, anak adalah amanah. Untuk menjadikannya muslim itu wajib, begitu ia menerangkan berbagai pengertian di kepala anak-anak, pada pondoknya yang kecil, sama seperti ketika Markonah dulu berangkat mengaji di sebuah pesantren. Mendapat jodoh di sana, menikah, dan melahirkan anak-anak yang cerdas: Tompel dan Siti.

Andaipun Tuhan mengguratkan kodrat bahwa ia harus sendiri, ketika Kang Sadikin dipanggil menghadap-Nya pada usia Siti menginjak tiga tahun, maka itu adalah piihan. Demi segenap tumpahan kasih sayang. Biar keduanya tumbuh dengan utuh, sebagaimana angan-angan Kang Sadikin sebelum keduanya lahir: “Benar Wak Haji Ali, guru kita, Anah. Keempat anaknya tak ada yang meniru menjadi mubalig seperti ayahnya. Tapi menjadi dokter, insinyur, dan dosen. Sekaligus menjalankan syiar Islam dengan baik. Andaikan leluhur-leluhur kita semua punya pemikiran demikian, seperti kata Wak Haji, tidak terjebak dan berhenti pada masalah syariat semata, betapa kita akan memiliki kebanggaan dan harga diri, tidak terpojok dan tersisih sebagaimana orang-orang maju melecehkan kita. Bayangkan, jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat….”

Dan, itu yang diyakini Markonah. Menjadi orang pasar, dengan modal peninggalan Kang Sadikin tak seberapa, berputar, memeras, bertempur dengan waktu. Pagi dan sore. Andai pada malam-malam, dalam kesendiriannya ia bersujud, meminta dan mengharap, maka doa dan upaya menjadi jeas:

Tompel dan Siti pada akhirnya tumbuh menjadi anak-anak bagus. Disuka, cerdas, dan tahu santun.

Begitulah, tak dimengerti akhirnya kini duduk takzim di hadapannya seorang “wali”, calon dokter dengan pandangan nabi, berbaju putih dengan jenggot panjang melambai semacam rahib, pandang mata tajam pertanda keyakinan akan kebenaran sendiri, dengan sorban ala Turki. Benarkah itu Tompel, yang setahun lalu, bersama adiknya, Siti, menyerahkan kertas hasil studi dengan muka berlinangan, dengan kegemilangan beasiswa ke luar negeri? Amatlah pantas Mar- konah berkabar. “Alhamdulillah” begitulah setiap tetangga bersalam, berdecak, dan berseru: “Amerika? Ck-ck-ck, kau memang beruntung Anah!”

Heran. Markonah tergetar suaranya keluar, ya Allah. “Jadi kau berhenti kuliah, Tompel?” seolah dunia terbalik. Sedang Tompel tersenyum arif, benar-benar pandang matanya suci: “Begitulah, Ummi, tak ada ilmu yang bermanfaat selain ilmu agama. Hidup ini singkat, sedang kebahagiaan dunia sifatnya semu. Bertobatlah. Ummi sudah terlalu lama hidup dalam gelimang dosa: pasar adalah haram bagi seorang perempuan. Itu tempatnya lelaki. Ummi telah salah menentukan pilihan. Sudah seharusnya Ummi menikah lagi sejak dulu. Sebaik-baiknya tempat tinggal perempuan adalah rumah. Sedang Ummi menampakkan wajah seolah-olah telanjang….”

“Tompel…”

“Abdurrahman Hisyam al-Asy’ad,” kata Tompel tegar. Menantang. Ya Allah, Markonah jadi berkeringat. Ia tatap mata anaknya dengan asing.

“Sebagai khalifah. Keinsyafan tidak selalu harus terlambat. Saya adalah penyeru kebenaran. Hadits tentang belajar hingga ke negeri Cina seperti yang sering Ummi ajarkan ternyata meragukan. Terlalu banyak hadits palsu beredar di bumi ini. Juga untuk Siti.”

Markonah semakin tersentak dan ngungun. Wajahnya pasi. Ia biarkan anaknya terus bicara: “Siti beruntung, mendapat jodoh seorang Imam dari Madinah. Saya sebagai walinya. Tentu, ia adalah seorang perempuan dengan sebaik-baiknya perempuan. Dan dialah pertama kali saya mendapat kesadaran.”

Tak ada cerita bagi Markonah. Janda Sadikin dengan kerut-kerut ketuaan yang selalu berdiri di ambang jendela: menanti dua anaknya lewat, seperti dulu. Berangkat sekolah dan bertanya tentang angka-angka. Kini, sepertinya lenyap entah kemana. Harapan, juga impian. Hanya gambaran Sadikin yang membuatnya bisa tersenyum, lantas tertawa. Para tetangga juga sudah berhenti bicara, tidak seperti kehangatan pertama peristiwa berlangsung:

“Siti memakai cadar. Namanya diganti Arab!”

“Juga Tompel. Jelas. Sungguh sayang, padahal ia pintar. Sebentar lagi menjadi dokter. Hei, Anah! Apakah sudah ada kabar dan anakmu?”

“Aku tidak tahu! !“

Tak ada pasar. Tak ada tegur sapa. Tak ada senyum. Orang-orang curiga ketika daun pintu dan jendela rumah Markonah tertutup berhari-hari. Berminggu-minggu. Dan para tetangga lantas menemukan jawaban kepastian dan secarik kertas di sisi jasad yang terbujur kaku:

Demikianlah Allah telah memberiku anugerah. Kutanamkan bekal agama bagi dua anakku, kutanamkan pengertian sebagaimana Nabi menyuruhku untuk menjadikannya hitam atau putih. Andaikan pada akhirnya mereka membentangkan jarak seperti cadar gelombang antara perahu Nuh dan Kan’an, maka aku rela menjadi Kan’an. Bagiku Allah telah amat mengerti… (***)

~ oleh ~*~ pada 2 Agustus 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: