Kuala Kapuas


Judul: Kuala Kapuas
Penulis: Korrie Layun Rampan
Diterbitkan: Harian Republika, 24 Juni 2001. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Apakah yang akan aku katakan dengan habisnya kerbau rawa milik Ayah karena proyek sejuta hektar yang gagal? Hutan dan kebun yang dipelihara sejak zaman baheula ikut lenyap bersama lenyapnya lahan karena terkena kawasan yang dibebaskan.

Petuga yang mempromosikan lahan itu seakan-akan tak punya beban apa-apa meskipun rakyat yang dikatakan akan segera sejahtera justru terpuruk ke dalam lobang kesengsaraan. Aku sendiri, karena Ayah kehabisan biaya, harus merelakan cita-cita meraih gelar kesarjanaan, dan meninggalkan kampus yang aku banggakan, di Jakarta.

Lahan yang tak sepeser pun mendapat penggantian, sementara kebun buah-buahan dan hutannya sudah dirusakkan, membuat ayah depresi berat yang mengarah kepada kekurangwarasan. Karena kerbau-kerbau tak lagi punya tempat untuk berenang dan mencari makanan di rawa-rawa, Ayah memutuskan untuk menjualnya. Karena kepercayaan yang ditanamnya di dalam hati, Ayah merelakan dua puluh ekor kerbau itu dibawa pembelinya hanya dengan uang panjar lima juta rupiah.

Nasib kami sebenarnya hanya tergantung pada kerbau rawa. Lahan sawah yang tergusur oleh proyek, dan janji penggantian yang terus menggantung, membuat kami seperti ngengat mengerat uang lima juta sedikit demi sedikit, sambil menunggu pelunasan sembilan belas kerbau dilakikan lima juta rupiah. Tapi, entah nasib selalu berpihak kepada kesusahan, uang kerbau tak pernah datang, dan janji pembayaran lahan tak pernah ada kabar beritanya.

Apakah memang begini nasib rakyat jelata? Selalu dipuruki oleh derita?

Aku sendiri tak mau terpuruk ke dalam kecengengan karena penderitaan. Aku datangi alamat yang diberikan Ayah, seorang pemberli kerbau rawa. Tapi belum sempat aku tiba di tujuan, koran setempat menulis besar-besar nama seorang raja penampung kerbau rawa mati karena kecelakaan pesawat udara.

“Naasnya, Tuan Walikukun bersama istri, justru sedang terbang ke Jakarta untuk melunasi harga dua puluh ekor kerbau rawa yang dibeli dari warga Kuala Kapuas,” tulis koran itu. “Menurut kabar, masih beberapa ratus ekor lagi milik warga di Paliungkau, dan kampung-kampung yang terkena proyek lahan sejuta hektare, belum dibayar, dan uangnya ikut terbakar bersama pesawat yang terbakar dan jatuh di tengah lautan,” lanjut koran itu di alinea selanjutnya.

Aku terhenyak hampir terjatuh di bangku tunggu terminal bus antarkota. Dengan cara apa aku menagih ahliwaris Tuan Walikukun? Ia memberli bukan atas nama perusahaan, CV atau PT, tetapi pembelian atas nama pribadi, tak juga meninggalkan surat perjanjian secarik pun. Seperti juga lahan kami yang digusur, semua surat-menyuratnya ada di kelurahan, sementara lurahnya sendiri sudah ngacir entah kemana, sejak proyek itu menampakkan gejala gagal total!

Apakah aku harus menjual diri demi sesuap nasi?

Pusing aku dengan nasib buruk yang menimpa kami. Aku kasihan pada Ibu yang terus membanting tulang menjual pecal di malam hari dan menjadi pembantu sebagai pencuci di pagi hari dengan mengharapkan upah yang tak seberapa. Sementara kakakku lelaki satu-satunya, harus pula meringkuk dalam penjara karena terlibat penebangan dan penjualan kayu bundar dari Taman Nasional Tanjung Puting.

Entah mengapa, kurasa ada semacam diskriminasi dari aparat keamanan, mengapa bos kayu itu justru lepas, sementara yang dijebloskan ke dalam penjara justru rakyat kecil yang bekerja hanya untuk sesuap nasi. Mengapa raja kayu sebagai otak pencuri justru lepas bebas bergentayangan, dan terus saja menjadi penjarah hutan dengan cara bekerja sama dengan orang-orang yang punya kuasa. Apakah ini namanya negara hukum? Apakah ini namanya rakyat belum merdeka, karena hanya para bos dan petinggi negara, serta mereka yang memiliki uang yang sudah menikmati kemerdekaan. Rakyat kecil tetap saja terpuruk berada di pinggir, dan belum merasa bagaimana enaknya hidup di alam merdeka.

Pada dasarnya Kuala Kapuas membuat aku senang. Alamnya yang unik karena bertanah gambut, sungguh lain dari kawasan lain. Jika saja Anda berlayar menyusuri air yang luasnya tak terkira, Anda akan merasa kagum, bagaimana alam membangun dirinya sendiri menciptakan keindahan yang tak bertara. Adakah kesengsaraan di alam yang kaya menyimpan sejuta rahasia yang Mahakuasa?

Jika aku menyusuri sungai ke arah hulu atau hilir di masa kanakku, aku merasakan bahwa aku sungguh-sungguh sebagai anak alam yang gemilang di zaman merdeka. Aku dapat menikmati pendidikan yang baik dan bermutu di tengah keindahan Tanah Airku, dan dapat pula aku mengenyam rasa hormat memiliki bumi yang menyimpan harta terpendam. Sampai aku meninggalkan bangku SMA dan melanjutkan kuliahku di Jakarta, dan sampai rencana lahan sejuta hektar, nasibku dan nasib keluargaku serasa hanya dipenuhi mesra karena dicumbui harapan kecukupan.

Akan tetapi harapan kemaslahatan kemudian tinggal kenangan. Memangkah harus begini nasib rakyat yang mempercayai rencana pembangunan masa depan dan kebijakan pemerintahnya, tapi justru hanya menemukan jalan buntu?! Hanya menemukan kepahitan empedu? Dan selebihnya menuai petaka?

Aku mendongak ke atas cakrawala. Sawang luas membentang, burung-burung bebas mengepak di atas luasan bentangan air yang maha luas. Adakah nasib dan peruntungan harus hilang terbang ke luasan tak bertepi? Adakah aku harus menyerahkan hidupku demi sesuap nasi ke comberan yang bau dan butek kotoran berulat nafsu durjana? Bukankah kemarin datang lagi si Gigi Emas yang loba, menjanjikan kehidupan yang mewah dengan emas permata yang mengilau terkena cahaya dunia, jika saja aku menjadi madu istri-istrinya yang sudah tiga?

“Jika pun tidak,” suara si Gigi Emas, “apa maumu saja. Bisa kuatur, asal kau suka. Apa kau tinggal di Kuala Kapuas sini, di Banjarmasin, atau di Palangkaraya?”

Apakah aku harus mengorbankan tubuh dan jiwaku yang lebih menghargai kemerdekaan pikiran hanya demi makanan? Demi harta dunia? Bukankah ayahku telah membuktikan bahwa tanah kebun dan kerbaunya hilang karena semua benda itu maya adanya?

Tapi aku juga harus hidup. Dapatkah aku hanya hidup dari cita-cita, tanpa realisasi yang dijalani secara nyata? Bukankah hidup ini tak mungkin hanya dibayangkan? Hidup ini harus dijalani setiap hari? Kata orang mati itu pasti, sehingga tak perlu diperjuangkan, tetapi hidup ini yang tak pasti sehingga membutuhkan kekuatan untuk memperjuangkannya?

Tak kuberi jawaban pada si Gigi Emas. Adakah jawaban untuk sesuatu yang berada di luar rencana?

Tapi jika ia datang lagi? Jika si Gigi Emas itu nekat? Bukankah ia lelaki konglomerat di kotaku yang akhir-akhir ini ramai dengan berita pengadilan para petinggi kebijakan salah lahan sejuta hektar? Jika saja ia menggunakan kekerasan? Jika ia menggunakan tipu daya? Tapi, bukankah aku ini warga negara Republik Indonesia? Bukankah aku pernah sekolah di perguruan tinggi, perlukah kusembunyikan akal dan perlukah kutaruh pengetahuan jika untuk membela diri?

Inginku kekasihku Mas Suroso mendadak datang dari Jawa dan bagaikan pangeran tampan yang baik hati, ia segera memelukku dan membawaku ke atas kudanya untuk terbang ke Negeri Embuh. Aku akan menjadi ratu di negeri yang cahaya mataharinya begitu lembut, selembut sutra, jauh dari cahaya panas yang menyirami bumi. Tapi adakah Mas Suroso tahu bahwa aku sedang berada di dalam bahaya? Bahwa jiwaku terancam, dan terutama kehormatanku sedang kritis karena ancaman hawa nafsu?

Kurasa badanku melayang ringan seperti segulungan kapas putih yang dimainkan angin senja. Adakah nyawaku masih di badan dan jiwaku masih bersemayam di dalam diri? Dalam mataku lautan air bermain dalam kilau yang indah, seperti sejak dahulu aku lihat kilauan itu memainkan cahaya matahari. Tanda kotaku, Kuala Kapuas, sebuah hamparan air yang menjadi hamparan kehidupan bagi seluruh warga. Tapi mengapa badanku seakan-akan tanpa memiliki gaya berat bumi? Apakah aku sudah mati?

“Kau jangan terlalu memikirkan ayah dan kakakmu, Suliansa,” kutangkap suara ibuku. Tangannya meraba pundakku. “Batuk darahmu akan parah lagi. Biar kita masing-masing menanggung apa yang harus ditanggungnya sendiri. Jangan kau tanggung segala yang bukan tanggunganmu.”

Sesaat kutangkap wajah ibu. Begitu tua dan lusuh. Dan aku? TBC-ku kumat lagi? Karena derita ayah. Karena derita kakakku. Karena derita ibu? TBC-ku parah lagi? Dan deritaku sendiri? Dari mana kudapatkan uang pengobatan TBC-ku? Akhir-akhir ini aku sering berhalusinasi? Apakah itu tandanya aku dekat mati? Siapakah yang akan melakukan pembayaran ganti rugi, karena TBC menggerogoti paru-paruku sebagai akibat kebijakan lahan sejuta hektare!

Untung para perokok pasif di Barat dapat meminta ganti rugi, aku yang berada di Timur, kepada siapa aku minta ganti rugi karena TBC yang kuderita disebabkan kebijakan negara? Mungkinkah negara memperhatikan rakyat kecil seperti aku? Seperti Ibu yang tukang cuci? Seperti Ayah yang sampai berubah ingatan akibat ulah suatu rezim otoriter yang pongah?

Senja turun di atas permukaan air. Angin tipis bertiup dari arah daratan membuat batukku makin menjadi-jadi, dan darah segar muncrat mengalir membasahi setangan lusuh pemberian Mas Suroso. Kurasa mataku berkunang-kunang… (***)

~ oleh ~*~ pada 9 Agustus 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: