Pada Hari Kematian Seekor Kerbau


Judul: Pada Hari Kematian Seekor Kerbau
Penulis: Kuntowijoyo
Diterbitkan: Harian Republika, 30 Januari 2000. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Ketika pagi-pagi aku sedang mengeluarkan sepeda mau berangkat sekolah, seorang utusan dari desa ayah datang. Dia mengatakan bahwa Kakek sakit keras — yang belakangan aku tahu itu artinya bahwa Kakek sedang sekarat, menuju kematian. Kakek jadi lurah di desanya.

“Jangan pergi sekolah,” kata ibu.

“Pergilah sekolah, nanti pulangnya terus ke Kakek,” kata ayah.

Mereka terus ke kamar dengan maksud aku tidak mendengar perdebatan, begitulah biasanya kalau mereka berbeda pendapat. Tetapi, kamar kami hanya berdinding kayu, jadi pertengkaran mereka kudengar juga.

“Dia harus belajar bahwa Kakek ayah dari ayahnya,” kata ibu.

“Ya, tapi bagi laki-laki seperti dia sekolah itu lebih penting,” kata ayah.

“Mati hanya sekali, sedangkan sekolah itu setiap hari.”

“Laki-laki harus rasional, tidak emosional.”

“Ini bukan soal emosi dan rasio tapi cinta keluarga.”

Perdebatan itu diakhiri – seperti biasanya – dengan tangis ibu. Tetapi rupanya ayah berkeras, “Bagaimana pun Kakek adalah ayahku, jadi akulah yang berhak menentukan,” dengan penekanan pada kata “ku” dan “aku”. Ayah keluar kamar dan memerintahkan supaya aku segera berangkat lalu pulangnya ke desa kakek.

Pulang sekolah siang itu aku ke desa Kakek, 12 kilometer dari sekolah dan tiga kilometer dari desaku. Orang-orang sudah berkumpul. Kakek terbujur di dimpil, sedang lelaku, menghadapi sakaratul maut. Dimpil adalah sayap tambahan sebelah kanan rumah. Tujuh orang membaca Surat Yasin di dekatnya. Ibu membawaku ke belakang untuk makan dan shalat. Aku tahu matanya sembab karena menangis.

Selesai makan dan shalat aku terus ke kamar Kakek. Kudapatkan bahwa Bude dan Bulik menangis di sisi dipan. Melihat aku datang, ayah bangkit dari duduknya di tikar. Dia memberi isyarat supaya aku mengikutinya. Aku mengikutinya ke kamar lain.

“Kau laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

“Nah kalau begitu, kau tidak boleh menangis kayak para perempuan itu.” Maksudnya tentu Bude dan Bulik.

“Apa Kakek akan mati?”

“Pasti. Semua yang hidup pasti mati. Hanya saatnya yang kita tidak tahu. Kalau waktunya tiba, tidak bisa dimajukan atau diundurkan sedetik pun.”

Aku mengambil buku Yasin yang tersedia dan ikut membacanya. Berulang-ulang. Sampai Ashar tiba, sampai Maghrib tiba, sampai Isya’ tiba. Kakek masih terbaring, tak sadar kanan-kiri.

Orang-orang tua lalu berkumpul di pendapa. Mereka prihatin karena Kakek tidak mati-mati. Menurut mereka, mati yang sempurna ialah yang cepat, sederhana, dan tidak menyusahkan orang.

“Ada yang ditunggunya?” tanya seorang.

“Ya, Si Bungsu belum datang.” Yang dimaksud adalah Paman, anak yang konon paling dicintainya. Ia bekerja di pemboran minyak lepas pantai. Maka ketika Paman datang menjelang tengah malam, orang-orang berharap bahwa Kakek akan dengan sukarela meninggalkan dunia ini. Tetapi tidak. Tetap saja Kakek terbaring lelaku. Kata ustadz di surau itu tanda mati yang tidak sempurna. Aku jatuh kasihan pada Kakek. Menurut ingatan saya Kakek adalah orang yang saleh, peramah, dan tidak pernah menyakiti hati orang.

“Kasihan,” bisik seorang.

“Mati saja kok susah,” bisik yang lain. Dini hari orang-orang tua berkumpul lagi.

“Sudah sehari lebih.”

“Ini luar biasa.”

“Pasti ada yang salah.”

“Apa dia punya jimat?”

“Apa dia punya ilmu?”

“Kalau ada harus dilepas.”

Ayah diminta datang dan ditanya soal jimat dan ilmu itu. Ayah mengatakan kalau sepanjang pengetahuannya Kakek tidak punya jimat dan ilmu apa pun, malah dapat dikatakan bahwa Kakek anti-jimat dan anti-ilmu. Sebangsa batu mulia, besi aji, dan senjata Kakek tidak suka.

“Dulu memang orang perlu bawa senjata, karena desa-desa masih berupa hutan. Sekarang, senjata tidak diperlukan lagi. Senjata kita adalah ini,” kata Kakek suatu kali sambil menunjuk ke jidatnya. Orang-orang yang sepermainan dengan Kakek waktu kecil, remaja, dan jejaka juga angkat saksi bahwa Kakek tidak punya jimat dan ilmu. “Ditanggung dia bersih,” kata mereka.

Orang-orang tua bingung. “Bagaimana mungkin bisa seperti ini?” Mereka hanya mondar-mandir dari kamar Kakek ke pendapa. Menjelang pagi mereka memutuskan untuk mengundang orang pintar, seorang kiai terkenal. Habis subuh orang pintar itu datang. Dia langsung ke dimpil tempat Kakek terbaring. Termenung sejenak, lalu dikatakannya, “Ada hutang yang belum dibayar, maka dia tak mau pergi.”

Orang pintar menuju pendapa untuk bermusyawarah dengan orang-orang tua.

“Coba umumkan ke seluruh desa apakah dia punya hutang.” Pemuda-pemuda disebar. Orang-orang kaya di desa dihubungi. Tidak seorang pun melaporkan hutang itu. Orang pintar berkata: “Panggil Pak Carik.” Carik adalah sekdes.

Pak Carik datang.

“Apakah dia menjanjikan sesuatu untuk desa?”

Pak Carik mengernyitkan dahi.

“Sepertinya tidak.”

“Coba diingat-ingat dulu.”

Kembali Pak Carik mengernyitkan dahi, mengingat-ingat.

“Ini bukan janji, cuma rasanan.”

“Ya, apa?”

“Dia rasanan untuk mengeraskan jalan desa dengan batu.”

“Ya, itu. Dia menganggapnya sebagai hutang yang dibayar.

Sekarang begini saja. Pak Carik mengucapkan keras-keras, berjanji untuk meneruskan rencana itu.”

Menuruti nasehat orang pintar, Pak Carik menuju dimpil. Didekatkannya mulutnya ke telinga Kakek. Lalu dengan keras dikatakannya:”Jangan khawatir, Pak. Kami akan bangun jalan desa kita!”

Orang-orang berharap kata-kata itu akan membuat Kakek senang, dan mcninggalkan dunia fana dengan tenang. Orang menahan napas, memandang tubuh yang terbujur. Setelah agak lama menunggu, Kakek masih juga lelaku, orang pintar mundur pelan-pelan. Demikian juga orang-orang tua. Mereka bermusyawarah lagi di pendapa. Orang pintar minta kepala-kepala dusun berkumpul. Mereka pun kumpul.

“Coba diingat-ingat, apakah ada di antara kalian mendengar dia menjanjikan sesuatu?”

Mereka semua terdiam. Seseorang menunjuk jari.

“Ada,” katanya.

“Apa?” tanya orang pintar.

“Ini sungguh-sungguh janji. Dia berjanji untuk membangun jembatan yang menghubungkan dusun kami dengan pasar.”

Plong! Ketemu sudah. Orang-orang merasa pasti bahwa persoalan akan segera selesai. Maka, sama seperti yang ditempuh Pak Carik, kepala dusun harus berjanji keras-keras bahwa pembangunan jembatan akan dilaksanakan. Demikianlah kepala dusun mendekat dan ke telinga kakek dikatakan keras-keras, “Akan kami bangun jembatan itu, Lurah.”

Begitu banyak orang ingin menyaksikan bagaimana Kakek menghembuskan napas yang penghabisan, sehingga dimpil jadi panas, orang-orang yang mengaji berhenti, ingin tahu apa yang kemudian terjadi. Orang-orang terdiam, hanya napas Kakek yang terdengar. Mereka menunggu lama, tapi tak ada perubahan. Orang mulai meninggalkan kamar, satu per satu.

Akhirnya orang pintar meninggalkan kamar menuju pendapa. Ia tidak menduga bahwa pekerjaannya sesulit itu.

“Coba semua anak-anak dan cucu suruh ngumpul di sini,” pintanya.

Keluarga pun berkumpul. Bude, Bulik, ayah, Paman, dan aku sebagai satu-satunya cucu yang sudah paham alif-ba-ta. Setelah semua kumpul, kata orang pintar:

“Adakah dl antara kalian pernah dijanjikan sesuatu oleh Bapak?”

“Tidak,” Bude.

“Tidak,” Bulik.

“Tidak,” Paman.

“Tidak,” ayah.

“Kok semua tidak. Coba diingat-ingat lagi,” kata orang pintar.

Kata-kata “tidak” terdengar lagi.

“Mesti ada seorang di antara kalian.”

Kembali gelengan kepala dan “tidak” terdengar. Kemudian mata orang pintar itu menatap saya.
“Kaulah yang belum bicara, cucu,” katanya.

Semua yang hadir memandang aku. Dengan jujur kukatakan:

“Ya, sebenarnya ada. Tapi sudah lama sekali.”

Orang-orang bergumam. “Katakan, nak. Katakan, cucu,” desak orang.

Sebentar aku melihat wajah-wajah yang penuh harap.
“Kau sudah siap mengatakan, cucu?” tanya orang pintar.
Pertanyaan itu kujawab dengan anggukan.

“Kalau begitu katakan.”

Aku pun bilang, “Kakek pernah berjanji padaku, akan membelikan seekor kerbau.”

Terdengar gumam panjang.

“Sekarang tugasmu ialah melepaskan Kakek dan penderitaan. Kau katakan keras-keras di telinganya bahwa yang kau perlukan ialah sepeda. Dan kau sudah punya. Kerbau tidak lagi diperlukan,” kata orang pintar.

Aku tidak setuju, lalu kukakatan, “Tapi ….“

“Tapi apa, cucu?”

“Tapi, mmm, Kakek bilang kalau kerbau itu sebagai modal pertama. Kakek mengatakan bahwa aku kelak akan jadi belantik besar.”

“Nah,” rupanya orang pintar sudah menemukan jawabnya, kemudian katanya, “kalau besar kau ingin jadi apa?”

“Dokter.”

“Kalau begitu katakan pada Kakek bahwa kau tidak perlu kerbau, sebab kau ingin jadi dokter.”

Kulihat ibu menyibak kerumunan menuju aku. Ia berbisik, katanya aku harus mengikutinya. Aku berdiri, dan mengikuti ibu ke kamar. Kulihat ayah juga ikut bangkit dan mengikuti kami. Kami bertiga masuk kamar.

“Jangan dikerjakan,” kata ibu.

“Kerjakan,” kata ayah dengan tenang.

Aku hanya terbengong-bengong.

“Aku tak mau dia jadi sebab kematian Kakek.”

“Aku mau dia menyegerakan kematian Kakek.”

Aku sungguh tak tahu siapa yang harus diturut. Ayah memungut tanganku dan membawaku keluar kamar. Ibu menangis di kamar. Masih kudengar sambil menangis dia berteniak, “Aku tak rela anakku jadi pembunuh Kakeknya!” Dengan keras ayah bilang, “Kau laki-laki. Ikuti ayah.” Seperti kerbau dicocok hidun. aku mengikuti avah.

Aku mengerjakan seperti dikerjakan Pak Carik dan kepala dusun, sesuai dengan anjuran orang pintar. Orang-orang terdiam, menahan napas. Napas Kakek semakin pelan, lalu bernapas untuk yang terakhir kali. Kemudian orang.orang mengucap, “Alhamdulillah!” Ayah mengelus-elus kepalaku.

Aku menangis sejadi-jadinya, diikuti Bude dan Bulik. Tangisku semakin keras, selalu terngiang-ngiang kata-kata ibuku, “Anakku jadi pembunuh Kakeknya! Anakku jadi pembunuh Kakeknya!” Kata-kata itu kedengarannya makin lama makin nyaring saja. (***)

~ oleh ~*~ pada 16 Agustus 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: