Ninja


Judul: Ninja
Penulis: M. Fudoli Zaini
Diterbitkan: Harian Republika, 14 Februari 1999. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Tiba-tiba dadanya terasa amat nyeri. Tasbih kiai itu telah sempat menyabet bagian dada kirinya. Ia batuk-batuk sebentar, undur sedikit ke belakang. Ternyata kiai itu cukup tangguh juga. Sejak tadi ia hanya mengelak-ngelak saja dari serangan-serangannya dan serangan dua orang temannya. Ketika kiai itu mulai menggebrak, langsung saja ia lolos menyabet dadanya. Terasa sakit dan nyeri sekali. Jadinya ia memutuskan untuk undur dari halaman itu. Dengan dua kali lompatan ia dan kedua temannya telah berhasil sampai di serumpun pepohonan di pinggir halaman. Langsung dari situ ia mabur dari kampung itu menuju pinggiran hutan.

“Kiai itu boleh juga,” katanya mengguman.

“Gerakan-gerakannya cepat sekali,” sahut seorang temannya.

“Ia tidak boleh kita entengkan,” kata yang satunya lagi.

“Kita istirahat dulu sebentar,” kata yang kena sabet itu.

Mereka bersembunyi di rimbunan pepohonan hutan itu. Tak perlu khawatir, kiai itu agaknya memang sengaja membiarkan ia dan kedua temannya itu lari. Melihat gerakan-gerakannya, kalau mau, sesungguhnya kiai itu sanggup mengejar dan menghajarnya lebih parah lagi. Ia telah menyaksikan kemampuan kiai itu. Tidak seperti delapan orang guru ngaji dan ustadz yang telah dibunuhnya. Mereka memang sama sekali tidak menampakkan ketakutan dan melakukan perlawanan yang cukup gigih. Tapi kiai ini lain. Selain sama sekali tidak takut, ia juga hanya tersenyum tatkala dibentak untuk dibunuh.

“Kamu telah membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Namun kamu tidak punya kekuatan apa pun,” katanya pasti!

“Bangsat! Malam ini kamu akan tergeletak di tanganku!”

“Kamu sama sekali tak punya kekuatan, sebab yang kuat hanyalah Dia itu. Malam ini kaulah yang akan celaka!”

“Bangsat, nampaknya aku memang naas malam ini. Berkali-kali bacokan, kiai itu hanya mengelak-ngelak saja. Dan benar juga, tasbihnya telah lolos menotok dadaku. Tak kusangka sama sekali sabetannya yang sangat cepat itu. Waduuuh, sakitnya! Nyerinya! Tambah nyeri saja dari taaadiii!”

Ia batuk-batuk lagi sekarang. Dan tiba-tiba muntah, muntah darah.

“Bangsat! Darah? Aku muntah darah?!”

“Bang Danu, kau baik-baik saja?” tanya seorang temannya.

“Tak apa-apa, sedikit nyeri saja. Oya Cokot, tolong aku sedikit dipapah. Kita langsung pulang.”

“Kita tidak kembali menghabisi kiai itu?”

“Parto, malam ini aku ingin istirahat dulu. Kiai itu nampaknya bukan lawan kita. Ia begitu tenang dan percaya diri. Dan mengatakan aku tak punya kekuatan apa pun. Bangsat! Dan katanya lagi, malam ini akulah yang akan celaka. Hm, hei Cokot dan Parto! Apa betul aku telah celaka oleh sabetan kiai itu?”

“Paling-paling luka dalam sedikit saja. Sekali minum jamu, itu akan sudah beres. Tak usah khawatir, Bang.”

Mereka terus memasuki hutan, menyeberangi sebuah anak sungai, lalu tiba di sebuah pondok yang tersembunyi di balik rimbunan pepohonan. Sebelum memasuki pondok itu, lelaki yang dipapah itu terbatuk-batuk lagi dan muntah darah hangat. Tubuhnya nampak mulai melemas. Agaknya ia seperti memang mulai kehilangan kekuatannya, walau ia mencoba untuk selalu  biasa-biasa saja.

Tiba di dalam pondok, lelaki itu langsung didudukkan di atas sebuah kursi bambu. Semua mereka pada mencopot bebatan kain hitam yang menutupi wajah mereka. Pakaian mereka juga serba hitam. Orang-orang dan media massa menyebut mereka sebagai ninja. Sebutan yang agak seram juga. Namun lelaki di atas kursi bambu itu makin keras juga keluhannya. Rasa nyeri di dadanya makin bertambah saja, dan ia seperti makin tak tahan dibuatnya.

“Mana jamu itu, Cokot?”

“Sebentar kuambilkan.”

Lelaki itu mereguk jamunya agak cepat. Seperti ingin secepatnya ia melepas rasa nyeri dan sakitnya. Ia ingat lagi pada wajah kiai itu. Raut wajahnya tenang sekali dan penuh percaya diri. Dan kata-katanya selalu mengiang-ngiang di telinganya. Kamu tak punya kekuatan apa pun! Apa betul, memang ia tak punya kekuatan apa pun? Hm, mungkin juga. Sekarang saja ia merasa mulai lemas setelah muntah darah hangat beberapa kali. Sepertinya kekuatannya berangsur-angsur mulai hilang. Kiai itu begitu yakin akan kata-katanya. Dan katanya lagi: karena yang kuat hanyalah Dia itu!

Tak pernah ia mendengar kata-kata seperti itu dari delapan orang ustadz yang telah ia bantai sebelumnya. Apa benar pula kata-kata kiai itu, bahwa ia telah membunuh orang-orang yang tak bersalah? Bukankah para ustadz dan kiai itu adalah para duku santet? Setidak-tidaknya begitu kata orang yang memberi daftar nama-nama mereka itu, dengan disertai buntalan uang yang cukup banyak. Namun, nampaknya wajah-wajah mereka yang terbunuh itu seperti jembar-jembar dan polos-polos. Apalagi kiai yang mestinya korban yang kesembilan ini! Nampak seperti selalu senyum dan penuh keyakinan yang begitu tinggi. Apa memang mereka itu orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah?

“Bangsat! Nyeriku tetap bertambah saja! Jamu itu agaknya sama sekali tidak mempan!” Lelaki itu batuk-batuk lagi, kali ini agak lama. Tiba-tiba ia muntah darah hangat di pangkuannya. Kemudian ia terhenyak lagi di kursi bambu itu.

“Cokot! Parto! Kiai itu bilang, sebenarnya aku telah membunuh orang-orang yang tak bersalah! Apa itu betul?”

“Heh, itu hanya bacotnya kiai itu saja!”

“Hm sebentar. Bagiku nampaknya kata-katanya begitu apa adanya dan meyakinkan. Menurutmu?”

“Tak lebih dari bacotan orang kepepet!”

“Hm tapi mereka kan tidak ketakutan waktu kita serang?”

“Oo ya ya. Wajah mereka nampak biasa-biasa saja.”

“Apa betul mereka itu para tukang santet?”

“Menurut daftar yang kita terima memang begitu.”

“Namun saat ini aku kok mulai ragu.”

“Sejak kena sabet kiai itu tadi?”

Batuk-batuk lagi lelaki itu, lalu muntah.

“Jamu ini seperti tidak ada efeknya saja. Aku malah bertambah lemas.”

“Kalau begitu istirahat sajalah. Besok kita kembali membereskan kiai itu.”

Kalau ada hari esok, pikir lelaki itu, sambil menghenyakkan diri di kursi bambu. Dadanya terasa makin sakit dan nyeri. Ya, ia memang mulai ragu akan beberapa hal yang selama ini ia yakini kebenarannya. Bahwa para guru ngaji, para ustadz, dan para kiai itu tak lain adalah para tukang santet yang berkedok orang-orang sok suci. Nampak mereka itu seperti orang-orang tak bersalah. Wajah mereka nampak begitu jembar. Bangsat! Mungkin saja aku memang telah salah! Mungkin saja aku memang telah membunuh orang-orang tak berdosa! Mungkin saja kiai itu memang benar! Aduuuh, dadaku sakit sekali! Mungkin juga ia benar bahwa aku akan celaka hari ini, ya hari ini! Dadaku nyeri sekaliii!

Lelaki itu batuk-batuk lagi, lalu muntah seperti tadi. Dua orang temannya telah terbaring di balai-balai bambu tak jauh dari situ.

“Cokot! Parto! Apa tak ada jamu lainnya yang lebih manjur?”

“Hm heeeiiih.”

“Bangsat! Kalian sudah nyaris tidur ya?” Sekiranya ada jamu yang sekali teguk saja sudah membereskan rasa sakit dan nyerinya ini! Bangsat! Mungkin benar juga kata-kata kiai itu! Masa hanya kata-kata para pejabat itu saja yang benar? Mungkin bukan para ustadz dan guru ngaji itu yang seharusnya kubantai. Mungkin lebih pantas para pejabat penjilat dan munafik itu! Macam pejabat yang menembak mati para petani di Nipah itu, oknum pembunuh Marsinah, pejabat pembunuh Udin, pejabat yang kerjanya hanya menjegal orang lain dan lalu pura-pura menangis dan berbela sungkawa atas kematian yang terjegal tadi. Pejabat yang murah sekali dengan senyum, namun hari-harinya penuh dengan omong kosong dan kemunafikan. Betapa busuk dan munafiknya mereka itu! Mereka yang membantai orang-orang di Tanjung Priok, membantai orang-orang Aceh, membantai orang-orang Irian Jaya dan masih banyak lagi. Alangkah kejinya mereka itu! Sudah begitu, masih saja ada pejabat yang menyatakan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang telah kulakukan itu tak lebih hanya masalah kriminal murni, padahal aku sama sekali tak mengenal para korban itu. Bangsat! Bodoh juga mereka itu, atau pura-pura bersikap bodoh. Mestinya para penjilat busuk itu yang harus kubantai, yang harus kubunuh satu-persatu!

“Cokot! Parto! Mestinya bukan mereka itu yang harus kita bunuh! Waduh, mana jamu yang tadi itu lagi? Bangsat! Nyerinyaaa!”

“Hm heeeiiih.”

“Kalian sudah benar-benar teler ya?!”

Hm jangan-jangan kata-kata kiai itu memang benar, bahwa aku akan celaka hari ini! Tidak, tidaaak! Berilah aku kesempatan sedikit saja, hanya beberapa hari. Aku masih ingin melaksanakan keinginan yang satu ini! Aku masih ingin menghabisi para pejabat penjilat dan para munafik busuk itu! Para pejabat congkak dan sombong yang tidak mau meminta maaf kepada rakyat setelah puluhan tahun melakukan dosa-dosa besar dan kemudian menyengsarakan seluruh rakyat! Bangsat benar! Oooh dadaku sakit sekali. Aku tambah lemas, lemas sekali! Mana kekuatanku yang tadi itu? Mana tenagaku yang telah kupunyai selama ini? Oooh nyerinya dadaku.

“Cokot, Parto. Tolonglah.”

Yang dimintai tolong telah tertidur, seperti terjengkang di atas balai-balai bambu itu. Hanya suara napas mereka yang terdengar naik turun.

“Aku masih ingin…”

Tiba-tiba seorang laki-laki telah berdiri di hadapannya. Laki-laki dengan perawakan tinggi besar, berjubah hitam, juga dengan serban hitam.

“Kau… kau si…a…pa?”

“Hm, coba terka siapa?”

“Tidak tahu.”

“Akulah… Ninjanya ninja!”

“Siii…aaa…paaa?”

“Aku malaikat maut yang akan mencabut nyawamu!”

Lelaki yang terhenyak lemas di kursi bambu itu seperti tercekik sebentar dan kemudian menggelepar beberapa saat, dan akhirnya terkulai lemas tak bernyawa. Sementara dua orang temannya yang tidur seperti terjengkang itu sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. (***)

~ oleh ~*~ pada 23 Agustus 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: