Kuda Putih


Judul: Kuda Putih
Penulis: Motinggo Busye
Diterbitkan: Harian Republika, 27 Juni 1999. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Kuda putih itu adalah satu-satunya kuda putih di seluruh Wonosari. Setiap orang menyebutnya “Jaran Sikil”. Memang pemilik kuda putih itu bernama Sikil, pemuda yang sering bercakap-cakap dengan sang kuda.

Suatu hari, sehabis sarapan pagi, dengan santun Sikil bicara pada Bu De Sundari: “Bu De, saya mau pamit pagi ini.”

“Mau ke mana?”

“Ke Yogya. Mau melamar jadi bintang film.”

“Pantesnya kamu jadi Kepala Polisi Wonosari, mengikuti jejak bapakmu.”

“Ah, Kepala Polisi itu jabatan rendah, Bu De.”

Bu De berdiam diri sejenak, lalu bertanya:

“Katanya kamu naksir Sri Susiami? Dia menerima cintamu nggak?”

“Menolak, Bu De. Saya malah dibilangnya gendeng. Tapi dia pasti suka sama saya. Saya akan naik kuda pagi ini, dan di depan asrama putri di Jalan Sayidan, saya akan putarkan kuda putihku dan berseru: Even God can not change the past.”

“Apa artinya itu, Sikil?”

“Artinya, jangankan Sri Susiami, bahkan Tuhan pun tak dapat mengubah masa lalu. Masa lalu Bapakku sudah tercatat sebagai masa lalu. Itu sudah tak dapat diubah. Dan aku, diriku, punya waktu untuk masa laluku sendiri. Dan ini sebagai pengumuman bahwa saya tak akan punya dua selir seperti Bapakku.”

Bu De Sundari terperanyak agak menyesal. Sikil terdiam sejenak. Bu De agak prihatin melihat wajah  Sikil penuh kegeraman.

“Bu De tahu aku tidak akan sama seperti Bapakku!”

“Tentu tidak!”

“Mestinya Sri Susiami tidak melecehkanku.”

Bu De Sundari hanya berdiam diri. Lalu meninggalkan Sikil, anak tunggal adiknya Komisaris Polisi RM Soekidjo yang sudah meninggal. Sewaktu Bu De masih mikir, suara hentakan telapak kaki kuda merentak kedengaran. Bu De mengusap dada seraya menyebut nama Gusti Allah tiga kali.

Dan Sikil yang menunggangi si Bhuto putih pun memasuki batas kota Yogya. Kuda putih itu menapak menuju jalan Sayidan. Ketika itu, mahasiswa asrama putri serentak mendekati pagar sekolah. Mereka melihat seekor kuda putih sedang berputar-putar di muka asrama mereka, ditunggang oleh seorang lelaki. Hanya Sri Susiami yang berwajah jengkel ketika menyaksikan itu, seraya berkata dalam batinnya: Gendeng. Saru. Ndesa. Dasar anak Wonosari!”

Ketika itu pulalah, Sikil memutar kudanya dan mendekati pagar asrama. Suaranya lantang berseru, “Even God can not change the past”

Kalimat itu diucapkannya tiga kali. Semua mahasiswi Kursus B-1 Bahasa Inggris itu tahu artinya. Sri Susiami menggerutu sendiri, “Dasar over-acting. Perlu-perlunya dia pakai naik kuda mau mendaftar jadi calon bintang film.”

Kuda putih itu lalu melingkar sejenak, menghindari kuda andong yang sedang menuruni jalan. Lalu merentaklah kuda putih itu menuju Gondomanan. Di sini dia menjadi tontonan anak-anak Fakultas Sastra. Lalu, menuju Sitihinggil dan bermain-main di alun-alun utara. Kemudian kuda putih itu mau ke arah Malioboro. Tapi si Bhuto – kuda putih itu – disuruh Sikil agar minum sejenak di kolam depan Kantor Pos. Kemudian, menuju Malioboro. Kali ini si Bhuto tidak dipacu.

Tiba-tiba ada seorang polisi yang menyetop perjalanan kuda putih itu. “Bung tidak merasa salah naik kuda di jalan umum?” tanya polisi.

“Siapa bilang salah. Mata kamu yang salah,” jawab Sikil.

“Boleh saya mengetahui siapa saudara? Mahasiswa, atlit, pegawai negeri, atau preman?”

“Nama saya Sikil. Sikil artinya kaki. Itu cukup.” Lalu dengan satu tarikan tali, si Bhuto melangkah.

Sampailah kuda putih menjelang Hotel Garuda. Sikil sudah melihat banyak orang antre mendaftar
untuk dites jadi bintang film. Dibelokkannya kuda putihnya agar masuk ke pekarangan Hotel Garuda. Tapi Sikil cuma duduk di sadel. Matanya melihat lagi betapa berebutnya pemuda-pemuda dan gadis-gadis, mendaftar dengan histeris.

Masih diperlukan nyali? pikirnya.

Tidak perlu, kata hati Sikil. Hatinya segera hambar. Ia akan kembali saja ke Wonosari dan memberi tahu: “Bu De, aku punya nyali. Tapi hatiku hambar saja melihat manusia-manusia yang butuh menjadi bintang terkenal. Wajah mereka rakus. Ketenaran dan kerakusan adalah jenis yang berbeda, tapi tujuannya sama. Nyali memang kadangkala diperlukan untuk hal-hal yang ambisius, Bu De.”

Kini kuda putih itu dituntunnya menuju selatan. Berhenti ia di depan pasar Bringhardjo. Dicarinya
mantri pasar. Begitu mantri pasar melihatnya, Sikil langsung dihormat. “Oh. Den Sikil Anabrang. Mau nitip kuda, ya? Biar ndalem yang jaga.”

Sikil pergi lagi ke Hotel Garuda. Ia pergi ke resepsionis hotel dan mendaftar menginap. Dia dapat di tingkat dua, kamar no. 201.

Dia hanya ingin duduk makan bersama dengan orang-orang Jakarta. Dia melihat satu bintang perempuan, yang tak henti-henti menatapnya. Juga ada seorang bintang lelaki. Seorang lagi mungkin produser. Dan yang seorang lagi mungkin juga sutradara.

Malamnya dia melihat di lobi hotel begitu banyak anak-anak muda yang menonton orang-orang Jakarta. Sikil kurang menyukai tingkah laku seperti monyet itu.

Paginya, ketika sarapan, Sikil bertatapan lagi dengan seorang bintang film perempuan. Dan bintang itu berbisik-bisik pada seorang lelaki agak tua. Mungkin sutradara. Lalu, dengan sombong lelaki tua itu datang mendekati Sikil.

“Saudara menginap di sini?”

“Ya.”

“Di kamar berapa?”

“Di kamar 201.”

Lalu orang itu kembali ke tempat duduknya. Sehabis sarapan pagi, Sikil membayar rekening.

“Saya akan check-out sebelum pukul 12.”

Dia meninggalkan hotel. Di Pasar Bringhardjo, dia temui mantri pasar. Dengan sangat hormat, mantri pasar menyerahkan kudanya yang berada di antara kuda-kuda andong.

Kembali Sikil melompat ke punggung kuda putih itu. Dia lewati lagi Jalan Sayidan. Kebetulan juga mahasiswi di asrama itu menyukai kuda putih itu, atau penunggang kuda itu, kecuali mahasiswi yang bernama Sri Susiami.

“Sikil gendeng,” kata Sri Susiami mengomeli.

Tapi sekali ini, Sikil tidak over acting. Dengan lamban saja kuda putih itu menuju Desa Wonosari.

Bu De sampai berlari-lari menyambut keponakannya! Tapi Sikil adem ayem saja.

“Kalah ya?”

“Menang.”

“Wah, selamet-selamet, Kil.”

“Saya menang karena saya tidak mau merendah-rendahkan daripada orang-orang Jakarta itu. Walaupun saya batal jadi bintang film, tapi malam saya tidur di kamar 201 Hotel Garuda, Bu De. Maklum, orang kaya.”

Bude Sundari tahu, sebagaimana sikap Bapaknya, Sikil pantang ditanyai lagi. Itulah cara menghargai orang pandai dan sombong, tuturnya pada hati sendiri. Tak berapa lama, beberapa orang datang, naik sedan, mencari Sikil.

“Sekarang mereka yang mencari saya,” katanya dalam hati. Mereka “kulo-nuwun” yang disahuti
“monggo…” oleh Bu De. Sikil menjabat santun semua tamu. Wartawan-wartawan pun memotret. Perundingan agak macet mengenai honorarium. Sikil minta honorarium yang sama dengan bintang lain, ”Walaupun saya newcomer,” kata Sikil.

Agaknya produser itu tidak bisa berkutik. Dari mata Sikil, tampak bahwa dia orang yang tegar lahir batin, meyakinkan dan bakal menjadi bintang besar.

“Jadi saudara tidak bisa mundur dalam soal honor?”

“Ya.”

“Betul-betul tidak bisa?”

“Tidak bisa.”

Rupanya yang berbicara itu produser. Tuan produser itu memanggil seorang anak muda, disuruhnya mengambil mesin ketik di mobil.

“Coba tuliskan nama saudara selengkapnya di sini,” kata lelaki berdasi itu. “Untuk diketik dikontrak.”

Tentu Sikil akan menulis Sikil Anabrang. Bukan main. Tapi, produser itu berkata, “Lebih baik nama saudara diganti. Nama Sikil itu bukan nama bintang film. Bisa-bisa film kita tidak laku.”

Sikil hanya diam.

“Dan orang Jawa ‘kan mengartikan, sikil itu kaki,” katanya.

“Kaki ya tetap kaki. Bisa jalan. Bisa juga nendang kayak gini, Tuan,” kaki Sikil berputar cepat di atas meja hampir mengenai kening produser itu. Orang Wonosari tahu bahwa Sikil pesilat hebat.

“Maaf, Tuan Produser. Ini cerita pribadi.Gara-gara nama Sikil ini, cinta saya pernah ditolak. Soal kontrak, tak jadi main film pun tidak apa, Tuan. Asalkan janganlah nama Siki bapak ganti dengan Kaki atau Mister Long Leg. Saya sangat tersinggung karena Tuan menyuruh saya mengubah nama.”

Telinga produser itu langsung merah. Belum pernah dia temui manusia sesombong ini. Biasanya, para bintang film yang ‘menyerah’ kepadanya, termasuk bintang film besar. Tapi orang yang belum punya nama seperti Sikil ini? Uh.

“Kita break,” katanya.

Semua berdiri, Bu De mengurut dada. Sikil tenang-tenang saja.

Seorang wartawan menyalami Sikil dan berkata: “Dik Sikil. Ini baru berita. Kalau produser menolak bintang film , itu biasa. Tapi kalau bintang film menolak produser itu berita. Apalagi pendatang baru! Foto Dik Sikil akan saya muat di surat kabar saya, besok!”

Orang-orang Jakarta itu pun meninggalkan Desa Wonosari. Kuda putih meringkik nyaring, seraya mengangkat kedua kakinya.

Keesokan harinya di asrama, ketika membaca berita dan foto Sikil di suratkabar, Sri Susiami ingin sekali datang ke Wonosari. Tiba-tiba saja ia ingin sekali menemui Sikil Anabrang. (***)

~ oleh ~*~ pada 30 Agustus 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: