Meiling


Judul: Meiling
Penulis: NH Dini
Diterbitkan: Harian Republika, 2 Mei 1993. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Ketika Meiling baru tiba dari barak pengungsian di Hongkong, bibinya pernah bercerita: “Pamanmu pintar dalam urusan tanah, jual-beli di bidang itu. Hampir seluruh Paris 13 kini menjadi kawasan masyarakat kita, berkat pamanmu bersama kelompoknya. Secara berangsur, perlahan tetapi pasti mereka menawarkan pembelian usaha-usaha dan apartemen penduduk asli di Paris 13.”

Setelah bekerja dan tinggal satu tahun di Paris 16, tiap hari Meiling menuju ke bagian kota Paris yang kini disebut pecinan itu. Atau Kampung Kuning bagi masyarakat pendatang itu sendiri. Keluar dari kereta bawah tanah yang datang dari Rue de La Pompe, Meiling menerobos desakan penumpang menuju tangga.

Stasiun Chatelet mempunyai lororng-lorong dan tangga berliku naik-turun amat panjang. Tetapi Meiling tidak dapat menghindari, setiap hari harus melewati tempat itu untuk mengejar lanjutan metro menuju ke Place d’Italie. Dari stasiun tersebut, dia berjalan di udara terbuka guna mencapai flat dan restoran bibinya.

“Dua franc, Nona! Buat tambah-tambah,” lelaki berpakaian lusuh itu mencegat, mengulurkan telapak tangan. Seperti penumpang-penumpang lain, Meiling menghindar. Kerumunan pejalan di lorong itu pun tersibak bagaikan air yang terhalang oleh batu besar. Dua franc memang bukan jumlah yang besar. Meiling punya recehan itu di dompetnya. Memberilah jika kamu berkecukupan, dulu ibunya sering berpesan kepadanya. Ingat ibunya, Meiing merasakan cubitan nyeri di dadanya. Di manakah orang tua dan ketiga adiknya sekarang? Perjalanan terakhir mereka sekeluarga yang membahagiakan adalah menghadiri syukuran di rumah bibi

Meling di Pnom-Penh. Dari Battambang mereka naik kereta api ke ibu kota. Adik-adiknya amat gembira walaupun gugup karena mereka baru kali mi bepergian dengan gerbong-gerbong berkepala aneh itu. Itu adalah pertemuan berpesta terakhir dengan saudara-saudara dan teman dekat ibu Meiling.

Sebulan setelah perjalanan yang mengesankan itu, pada suatu pagi mereka diseret keluar rumah oleh pasukan revolusi. Nama itu asing, baru pagi itu mereka dengar. Seragam lelaki dan perempuan yang menggedor rumah dan menggiring bahkan memukuli penduduk itu bewarna merah, berloreng-loreng seperti pakaian tentara. Semua membawa senjata tetapi tidak hanya satu jenisnya. Senapan, kelewang, tongkat berat, juga potongan-potongan bambu panjang.

Dan sanalah awal perjalanan panjang Meling sebelum terdampar di barak penampungan di perbatasan Siam-Kamboja, kemudian diangkut ke tangsi pengelompokan di Bangkok. Terpisah dari ayah-ibu dan tiga adiknya, diperkosa entah berapa puluh kali oleh anak-anak belasan tahun dari pasukan berkelakuan serigala, Meiling tidak juga menyadari bahwa itu benar-benar terjadi. Dia selalu menyebut nama Buddha Sang Pengasih dengan penuh harapan, bahwa suatu pagi dia akan terbangun, berada di rumah mereka bersama ayah-ibu serta tiga adiknya.

Suatu ketika, tanpa sengaja, dia berada terlalu jauh dari gubuk tahanan. Tidak mengetahui mana utara mana selatan, dia meneruskan berjalan mengikuti sumber suara aliran air. Langkahnya terseret ke kelompok pelarian yang sedang bersembunyi di semak-semak menunggu matahari terbenam. Seperti dalam mimpi, Meiling mengikuti rombongan itu menelusuri sungai ke arah hulu sambil menghindari ranjau, peluru dan berbagai jebakan tentara Khmer Merah.

Meiling sampai di barak pengungsian Hongkong. Suatu hari, petugas Palang Merah Internasional menyodorkan daftar nama orang-orang Kamboja dan Vietnam yang sudah mapan di berbagai negara. Meiling disuruh membaca, kalau-kalau ada yang dia kenali, supaya bisa diberitahu mengenai kehadirannya di pengungsian tersebut. Karena suka memasak, dia langsung diperbantukan di dapur tangsi. Di sana dia segera menjadi sahabat satu keluarga yang sedikit banyak bertanggung jawab atas makanan bagi barak sebelah barat. Engsrun, alangkah baiknya mereka berempat kepada dirinya. Dua setengah tahun Meiling menunggu kedatangan mereka. Sebegitu bibinya mengenali namanya, Palang Merah langsung mengurus tiket perjalanan Meiling ke Paris.

***

Sejak liburan Hari Raya Tet tiga bulan lalu, Meiling mendapat kegairahan hidup yang lain. Setiba di Paris, bibinya mendapatkan pekerjaan untuknya di sebuah rumah makan milik orang Kamboja di Paris 16. Ketika liburan, Bibi meminta agar dia menginap di Paris 13. Rupanya ada pembicaraan serius. Bibinya akan membuka restoran kedua di Porte de Choisy, tidak jauh dan apartemen dan usaha pertamanya:

“Umurrnu sudah cukup matang untuk mengelola usaha sendiri. Aku tidak rela kau terus-menerus bergantung kepada orang lain.”

“Mengapa saya yang disuruh memegang rumah makan itu? Anak-anak Bibi dan Paman bagaimana? Mengapa tidak memanggil Seulan dari Amerika? Atau Builong dari Belanda?” Meiling berusaha menghindar dari tanggung jawab yang dia anggap terlalu berat baginya.

“Tidak mungkin, bibinya menyahut. “Seulan sudah nyaman hidupnya di Los Angeles. Anak-anaknya mapan bersekolah, restorannya berjalan mulus. Builong di Scheveningen juga kurang pintar berbahasa Prancis. Mereka tidak bisa kita ganggu. Saudaraku terdekat tinggal kamu yang belum mapan.”

Meiling merasa matanya memanas. Berusaha menekan keharusannya, dia bertanya kepada pamannya:

“Paman bagaimana?”

“Kau tidak berurusan dengan pamanmu melainkan dengan aku. Restoran adalah bisnisku pribadi. Kalau perumahan, tanah, ya kamu bertanya kepadanya.”

“Aku setuju, Mel,” kata paman itu singkat.

“Apa saya mampu, Bi? Saya takut….”

“Takut apa?”

“Mengurus uang begitu banyak, orang gajian, belanja besar….”

“Belum soal pajaknya…,” pamannya menyela. Meiling menoleh ke arah pamannya. Walaupun pipanya telah padam, lelaki itu masih terus menghisap-hisap benda tersebut.

Bibi Meiling melambaikan tangannya, berteriak lembut: “Jangan kami takut-takuti dia! Belum-belum sudah merasa terancam dia karena kau!” kemudian ganti memandangi Meiling.

“Bibi akan terus membimbing saya?”

“Mana mungkin aku akan tega melepasmu? Nanti sore kubawa kau melihat lokasinya, restoran dan apatemen di atasnya.”

Bibi adalah satu-satunya saudara ibu Meiling. Dan dia kini memikirkan semuanya itu untuk Meiling. Semakin besar cintanya kepada wanita itu. Dan Meiling merasa bahwa ikatan kedekatan yang tulus terjali erat di antara mereka berdua.

Sejak sore itu, segalanya berjalan cepat. Sangat cepat. Diputuskan bahwa Meiling segera dibantu kendaraan dengan bak terbuka untuk memindah barang-barang besar. Dia tidak dapat hidup tanpa tanaman. Sebab itu, popt-pot besar kecil sudah berdesakan di dalam kamar sewaan di Paris 16.

Hari-hari berikutnya, Meiling dibawa berkenalan dengan banyak relasi bibinya. Wanita itu mengetahui semua gudang dan toko penjual berbagai alat elektronik, barang-barang biasa maupun tradisional. Untuk menata ruangan, Meiling memberikan usul sentuhan artistik. Bibinya tampak senang dengan pilihan-pilihannya itu.

“Restoran itu akan kita beri nama Mekhong. Kamu setuju?” tanya bibi itu. Di Place d’Italie, rumah makan bibinya dinamakan Pnom-Penh. Untuk yang kedua, Meiling kira juga akan bernama sama. Tapi Mekhong memang sangat cocok, karena sungai itu melewati ibukota Kamboja sebelum memanjang terus ke timur memasuki wilayah Vietnam.

Semua kenangan itu membantu Meiling merasa cepat tiba di stasiun tujuan. Sebelum menapak tangga listrik ke arah mulut metro di jalan Bobillot, Meiling mengeluarkan logam 5 franc. Itu dia berikan kepada lelaki Vietnam yang selalu mengemis pejalan di sekeliling tangga. Tiba di udara terbuka, Meiling menyebut nama Yang Maha Suci, berterima kasih karena perjalanannya pagi itu lancar dan selamat. Seperti biasa, dia menuju ke apartemen bibinya sebelum ke Rue de Choisy. Ketika pintu flat terbuka, di luar dugaannya, bukan Cihaai yang berdiri di depannya. Dia tidak segera mengenali suami bibinya.

“Tidak ada orang di rumah,” kata lelaki itu. “Makanan disiapkan di dapur. Lihatlah sendiri! Kata Cihaai, kamu sudah biasa.”

Setelah mencuci tangan dan mengambil makanan, Meiling duduk di arah depan pamannya. Laki-laki itu telah berubah. Tidak hanya rambutnya yang dicat terlalu hitam, pakaiannya pun tidak seperti dulu. Hemnya bukan model klasik biasa, rnelainkan berkerut-kerut di kanan-kiri kancing. Lengannya menggembung, dihiasi saku-saku panjang sempit di bagian atas. Keseluruhan bentuk baju itu seperti kostum pangeran yang dikenakan di saat pentas teater.

“Bibimu berpesan, dia membayar ticket pesawat Engsrun hari ini. Jadi dapat diharapkan, mereka datang pekan depan. Sekarang kamu kutinggal. Jangan lupa mengunci pintu sebelum pergi.”

Bau wangi yang terlalu manis masih menyebar di ruangan walaupun paman itu telah keluar. Meiling bergegas. Pagi itu akan datang beberapa barang dipesan. Mulai malam itu, dia akan tidur di apartemen Rue de Choisy.

***

Namun, belum sampai seminggu berlalu Meiling bergairah mengikuti bibinya, saudara satu-satunya ibu Meiling itu mendadak dihempaskan oleh ketentuan nasib. Ketika itu bibinya sedang antre untuk membayar ticket pesawat terbang untuk menjemput keluarga Engsrun. Tiba-tiba bom meledak, menghancurkan salah satu perwakilan perusahaan penerbangan besar di Prancis. Bibi Meiling mati seketika bersama sebelas korban lainnya.

Belum lepas dari kejutan ditinggal bibi tercinta, keesokan upacara di kuil dan kremasi, paman Meiling datang ke bakal restoran di Rue de Choisy.

“Kuperkenalkan ini Sibao, kawanku” langsung paman itu berkata sambil mengedarkan pandangannya.

“Silakan naik, paman. Saya buatkan teh”.

“Ada teh? Sudah punya peralatan dapur?”

“Sudah lengkap. Saya sudah hampir seminggu tinggal di sini. Telepon juga ada”.

Meiling melihat pamannya berpandangan dengan teman yang bernama Sibao itu. Dia merasa ada kata-kata yang tidak diucapkan. Waktu itu dia baru sadar bahwa kedua lelaki itu mempunyai kesamaan, sekaligus berbeda. Sibao berumur paling banyak 22-23 tahun. Pamannya mendekati 70 tahun. Tetapi keduanya berdandan dan berpakaian secara identik. Hanya Sibao lebih berkilauan karena selain mengenakan kalung, dia juga memakai gelang, dua giwang di satu telinga, dan empat entah lima jari diingkari cincin.

“Kami hanya sebentar. Di sini saja,” kata paman itu.

Seolah-olah merupakan isyarat, Sibao keluar ke patio. Tanaman Meiling ditempatkan di sana.

“Aku mempunyai gagasan, Mei,” kata paman Meiling setelah mereka duduk. “Lebih mudah bagimu kalau yang memegang restoran ini Sibao. Kamu sudah terlanjur pindah ke sini. Itu tidak apa-apa buat sementara. Nanti aku carikan pondokan lain di dekat sini. Tentu saja kau bisa bekerja di sini juga.”

Meiling terkejut. Cepat komputer di kepalanya mengemukakan prakiraan-prakiraan. Jelas sekali hubungan apa yang terjalin antara paman itu dan anak semuda Sibao. Sebentar Meiling gugup. Tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sekilas, terbayang wajah bibinya, lalu Tante Susan. Secepat itu pula Meiling berkata: “Ini dapat dirundingkan, Paman. Apakah tidak lebih baik jika kita menunggu pembacaan surat wasiat? Bukankah kita disuruh berkumpul di kantor notaris bibi besok pukul sepuluh pagi?”

Meiling tidak mengharapkan warisan dan saudara ibunya itu. Namun, semalam suntuk ia tidak bisa tidur. Pikiran saling berbantahan mengganggu ketenangan jiwanya. Benar juga paman itu. Ada sedikit kelegaan di hati Meiling seandainya dia tidak jadi mengelola restoran. Sangat tenang menjadi karyawati saja. Bibi meninggal, pastilah semua jatuh ke tangan suami dan anak-anaknya. Seandainya Meiling termasuk di dalam surat wasiat, jumlah uang bagiannya pasti tidak bakal mencukupi untuk modal suatu usaha baru.

Malam itu Meiling mulai mengemas kembali barang-barangnya. Keputusannya: dia tidak akan mampu menjalankan restoran bibinya karena yang memegang modal adalah pamannya. Oh, Sang Maha Suci, lindungilah semua pengungsi di dunia mi. Termasuk diri Meiing. Begitu dia terus menggumamkan doanya sambil mengumpulkan pakaian, kaset dan buku-bukunya. Tanpa dikehendaki, air mata membanjir, deras berderai di pipinya. Bertahun-tahun bertapa di barak pengungsian setelah terlepas dari aniayaan Khmer Merah, sebenarnya sudah sangat baik nasib Meiling: menjadi pelayan rumah makan. Ya, benar. Masih banyak pengungsi yang bernasib jauh lebih buruk. (***)

~ oleh ~*~ pada 6 September 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: