Telaga


Judul: Telaga
Penulis: Oka Rusmini
Diterbitkan: Harian Republika, 26 Novedmber 2000. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Namanya Ida Ayu Telaga, biasa dipanggil Dayu Telaga, karena matanya seindah telaga. Ia hidup di sebuah dusun di lereng gunung, di antara sawah dan kebun kelapa yang luar biasa luasnya.

Suatu hari dusun Telaga kedatangan tiga sosok makhluk aneh. Tubuh mereka kurus pucat. Pakaiannya compang-camping. Konon ketiga makhluk aneh itu dikejar-kejar tentara Jepang untuk dihabisi.

Ayah Telaga menampung mereka, memberi mereka makan dan minum. Orang-orang dusun kemudian memberi nama Bape Wayan untuk makhluk aneh yang paling tua. Sedangkan makhluk yang paling kecil dijuluki Wayan Berag, artinya “Wayan kurus”.

Wayan sering mengajari Telaga membaca. Diperkenalkannya Telaga pada nama HC Andersen.

“Siapa Andersen itu, Wayan? Pamanmu atau saudaramu?”

“O, dia pendongeng hebat. Wajahnya buruk. Dia sering dijauhi teman-temannya. Tapi dia memiliki beratus-ratus teman sejati yang tidak pernah melihat tubuh dan wajahnya yang buruk. Mereka adalah tokoh-tokoh dalam dongengnya.”

Telaga menyukai mata Wayan yang memancarkan warna yang lain dibanding mata laki-laki sebayanya. Mata itu sebening langit dan begitu menyejukkan. Setiap Telaga menanamkan matanya di mata Wayan, ia selalu hanyut. Ia merasa memiliki cerita yang jauh lebih indah daripada dongeng-dongeng Wayan. Cerita yang dimasukkannya dengan cepat ke dalam peti hatinya dan dikuncinya rapat-rapat agar tak seorang makhluk pun menyentuhnya.

Agaknya ibu Telaga menangkap gelagat aneh pada diri anak gadisnya. Perempuan itu selalu menghalangi setiap Telaga bermaksud mendekati Wayan. “Kau harus membuat sesajen untuk upacara besok!” katanya. Dan banyak pekerjaan lagi yang harus Telaga lakukan. Telaga merasa ibunya berubah jadi sangat menjengkelkan.

Suatu hari Telaga menangis di merajan, tempat sembahyang keluarga. Waktu itu ibunya sedang pergi ke desa seberang. Wayan datang untuk menghampirinya. Untuk pertama kalinya kulit mereka bersentuhan, mempertanyakan kekuatan alam semesta. Ternyata keindahan itu tidak hanya bunga-bunga, sawah yang menghijau atau menguning. Keindahan juga ada dalam tubuh manusia. Tubuh Wayan, tubuh Telaga,

Dulu Telaga selalu berdoa pada Hyang Widhi agar secantik bunga-bunga yang dirangkai untuk upacara. Tetapi begitu menyentuh tubuh Wayan, ia merasa kecantikan bunga-bunga itu tumbang. Ada kenikmatan yang mencair dari tubuhnya, meleleh dan melukainya. Nikmatnya luar biasa. Wayan begitu pandai melepas satu demi satu kelopak keperempuanan Telaga. Telaga bangga menjadi seorang perempuan.

***

Usiaku dua belas tahun ketika tangan-tangan kasar itu rnerenggutku. Aku tidak bisa meronta. Bahkan aku tidak ingat berada di mana. Ketika sadar, aku sudah tergolek di sebuah kasur lebar di lantai. Tubuhku penuh luka dan darah. Pintu dan dinding ruangan disekat triplek. Seorang perempuan menggeser pintu, menyuguhkan nasi hangat. Hyang Jagat! Sudah lama keluarga dan warga desa tempatku tinggal tidak pernah melihat nasi seputih itu. Aku hanya bisa diam sambil menahan rasa sakit.

Tak lama kemudian pintu kembali berderak. Lima orang laki-laki berpakaian serdadu menyergapku. Dan kejadian yang sama terus berulang. Sampai tak bisa kubedakan kapan aku mengalami menstruasi dan kapan tidak. Darah terus-menerus keluar, mengering, keluar lagi dan kembali kering. Berpuluh-puluh tubuh menyantapku. Menari gila di atas tubuhku yang kurus kecil.

***

Pintu bilik terbuka.

“Kau sakit?”

“Ya, Dayu.”

“Siapa yang tidak pulang hari ini?”

“Semprug dan Taglig.”

Begitulah yang terjadi setiap malam. Perempuan-perempuan muda itu dibantai di medan ranjang. Mereka harus melayani puluhan laki-laki tiap hari. Tubuh kecil mereka digigiti. Mereka ditelanjangi. Diikat. Dihirup. Ditusuk berkali-kali. Para laki-laki kuning bermandikan tubuh mereka dengan sake, lalu menyikatnya dengan rakus.

Dan Ida Ayu Telaga mulai bercerita pada perempuan-perempuan kecil yang berkerumun dekat kakinya, “Perempuan buruk rupa itu kembali berteduh di sebuah pohon. Pohon yang penuh ranting-ranting ramping dengan lekuk tubuh yang indah…”

“Tiang membenci tubuh Tiang. Andaikata Tiang tidak memiliki tubuh, tentara-tentara Jepang itu tentu tidak akan pernah menyeret Tiang. Tidakkah mereka punya anak atau istri, Dayu?”

Telada terdiam. Dia pun sering bertanya seperti itu. Makin hari pertanyaannya menumpuk makin tinggi. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuatnya tetap hidup.

Telaga hidup dengan pikiran-pikirannya, dengan dongeng-dongengnya. Dia bisa menghidupkan daun, bunga, buah dan seluruh keluarga sebuah pohon. Ternyata dongeng-dongeng itu mampu menghibur lima belas perempuan yang hidup bersamanya dalam bilik 3 x 4 meter. Sel sempit yang tiap minggu penghuninya selalu ada yang baru, karena selalu ada yang mati.

“Dayu jangan melamun. Tiang takut…” bisik perempuan kecil yang baru datang kemarin pagi.

“Jangan! Aku akan bercerita. Di sebuah hutan yang sunyi tumbuhlah sebuah pohon. Kulitnya begitu indah, sehingga banyak manusia, binatang, juga tumbuhan yang iri kepadanya. Pohon itu juga memiliki ranting-ranting yang cantik. Daunnya lembut. Ia pohon yang sangat baik hati. Satu saja daunnya jatuh, pohon itu akan menangis. Lalu daun akan berkata, “Jangan menangis, Pohon, aku akan tetap bersamamu. Kematianku akan memberimu kehidupan yang lebih panjang. Suatu hari pohon itu berbungna. Orang-orang berdatangan dan tak habis-habisnya memuji keindahan bunga-bunganya. Bahkan ada seorang laki-laki yang bertahan di bawah pohon menunggu jatuhnya bunga-bunga. Satu, dua, tiga, empat bulan sudah berlalu, sang pohon tidak mau menjatuhkan bunganya. Laki-laki itu menjadi marah. Dengan bengis ditebangnya sang pohon. Akhirnya pohon itu mati. Dan terjadilah keajaiban. Bunga-bunga yang jatuh menjelma buah. Ketika menyentuh tanah, bunga-bunga itu menjelma pohon-pohon baru yang tumbuh dengan cepat. Laki-laki penebang itu segera terkepung oleh pohon-pohon besar. Dia tidak bisa lolos dan binasa. Tubuhnya menjadi pupuk bagi pohon-pohon baru.”

“Indah sekali!”

“Besok pagi, Tiang akan mengumpulkan daun-daun dan menaruhnya di balik tikar agar kita tetap hidup dan keluar dari hutan ini,” kata seorang anak sambil mendekap selembar kain. Bau kain itu anyir. Darah kering menghiasi tepi-tepinya yang telah koyak.

***

Di sinilah aku. Telaga si pencerita, si pendongeng. Aku berusaha menghibur perempuan-perempuan kecil yang dipaksa untuk membenci tubuhnya sendiri.

Kami, anak-anak yang seharusnya masih dalam dekapan ibu-bapak, tidak punya kekuatan dan jalan keluar untuk lolos dari lubang mengerikan ini. Kami pohon-pohon yang siap dimasak dalam sebuah kuali besar dan disantap ramai-ramai di sebuah restoran murahan, dengan garpu, sendok dan pisau karatan. Karat yang menempel pada diri kami membuat kami tidak berani menghargai tubuh dan wujud perempuan kami.

***

Kehidupan dalam kerangkeng telah memaksa para tawanan untuk saling mempertontonkan tubuh mereka, meski dengan malu-malu. Satu-satunya yang tidak malu adalah Segre. Perempuan tiga belas tahun itu suka membiarkan tubuhnya tanpa busana atau sekedar pakaian dalam pun. Busana favoritnya hanyalah sehelai kain coklat yang dipenuhi noda darah dan baunya sangat menyengat.

“Dua bukit ini, kalau tumbuh di dadamu, peras! Jangan sampai tumbuhnya jadi sesubur ini!” Suatu hari Segre berdiri dengan dada membusung penuh. Diambilnya stagen hitam dan dililitkan ke dadanya. Kemudian ia menyurus seorang anak menariknya keras-keras. “Stagen akan menghambat pertumbuhan dadamu. Kalau dadamu makin menggunung, berarti bahaya datang padamu!”

Segre memang paling montok, sehingga paling digilai oleh laki-laki Jepang. Pernah suatu hari dia dilempar ke kamar dalam keadaan tidak sadar. Sepasang batang kakinya dialiri darah segar. Para tawanan bergantian merawat sampai Segre siuman dua hari kemudian.

***

Perempuan-perempuan di sel ini percaya bahwa aku dilahirkan sebagai perempuan pembawa berkah. Dalam tubuhku mengalir darah Brahmana, kasta yang dianggap mampu memberikan jalan keluar. Atau mungkin juga mereka berpikir, kebangsawanan yang melumuri darahku membuat diriku lebih dekat dengan Hyang Jagat. Ah, mungkinkah itu? Mungkinkan dalam tubuhku ada energi yang membuatku lebih dekat dengan Jagat Raya? Sehingga seluruh perempuan di sini percaya bahwa bila aku berdoa doaku akan lebih didengar dibanding mereka? Benarkah dalam darahku mengalir darah bangsawan? Kalau benar, kenapa aku juga diculik dan diperlakukan sama dengan mereka? Tidakkah penderitaan ini hanya untuk perempuan Sudra?

***

Menginjak usia tiga belas, Telaga mulai dicampakkan. Banyak yang bilang, Telaga berpenyakit kotor. Tubuhnya makin kurus dan tak terawat. Suatu pagi, sehabis pingsan melayani entah berapa laki-laki, Telaga membuka mata. Didapatinya semua gelap. Tak terlihat setitik pun cahaya. Ia menggigil. Berteriak ketakutan. Berpuluh-puluh tangan kecil mencengkram tubuhnya.

“Dayu kenapa?”

Telaga terus berteriak histeris. Sebuah tangan kecil menyekap mulutnya.

“Jangan biarkan dia berteriak. Nanti mereka datang dan menembaknya!” sahut perempuan lain. Mulut Telaga disumpal bantal. Nafasnya sesak. Ia mulai tak sadarkan diri.

“Dayu jangan berteriak-teriak. Nanti Dayu ditembak.”

“Aku buta…” bisik Telaga. Suaranya bergetar. Mereka mendekap Telaga beramai-ramai. Menangis bersama sampai hari mulai gelap, sampai ruangan berangsur-angsur kembali kosong. Perempuan-perempuan kecil itu harus berangkat menghidangkan tubuh mereka.

***

Kegelapan yang melingkari hidupku mengingatkanku pada Tilem, bulan mati. Biasanya setiap Tilem aku selalu bersembahyang di Pura Desa untuk minta keselamatan dan kebahagiaan. Tapi kondisiku saat ini jauh berbeda. Setiap kali para perempuan di ruangan itu berbicara tentang Tilem, aku merasa sebuah penghinaan besar ditujukan kepadaku. Keadaanku begitu buruk. Setiap benda yang kumasukkan ke tubuhku selalu membuatku menggigil. Aku tahu aku sudah habis. Makin sering kudengar suara-suara itu: “Buang perempuan penyakitan itu ke laut! Nafasnya menyebar penyakit. Buang!”

***

Jam dua pagi. Pintu terbuka. Perempuan-perempuan berdatangan dengan langkah terhuyung.

“Dia mati!”

“Diam kamu!”

“Mati sungguhan?”

“Jangan bicara seperti itu!”

“Biarkan tubuhnya di sini. Jangan sampai mereka membuangnya ke laut!”

Seorang perempuan yang tubuhnya masih segar oleh luka mengusap jasad dingin Telaga. “Dia tidak mati. Dengar, dia mulai bercerita tentang Putri Buruk Rupa itu…”

Perempuan-perempuan lain mengangguk. Serpih air makin deras mengupas kulit wajah mereka. (***)

~ oleh ~*~ pada 13 September 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: