Kemerdekaan


Judul: Kemerdekaan
Penulis: Putu Wijaya
Diterbitkan: Harian Republika. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Ateng bertanya kepada seorang pembantu rumah tangga, apa arti kemerdekaan. Tetapi yang ditanya diam saja menatap Ateng seperti ayam menunggu diserakin gabah. “Apa artinya kemerdekaan buat kamu?” tanya Ateng sekali lagi. Tetapi pembantu itu masih saja melongo.

Ateng lantas mengambil sapu di tangan pembantu itu. Menyuruhnya berdiri di pojok. Lalu menyorongkan lagi pertanyaan itu. “Apa arti kemerdekaan bagi kamu?”

Sekarang pembantu itu mesem-mesem. “Ah, masak yang begitu ditanyakan. Tahu sendirilah,” katanya dengan geli dan genit. Kemudian ia menjiwit Ateng. Ateng serta merta menepiskan tangan itu, lalu bertanya sekali lagi dengan muka yang lebih bersungguh-sungguh.

“Ini bukan main-main. Apa arti kemerdekaan bagi kamu? Apakah sesudah lima puluh tahun kita merdeka, kamu merasa diri kamu benar-benar merdeka? Apa arti kemerdekaan itu buat kamu?”

Digertak macam itu, pembantu itu bukannya takut. Ia memang berasal dari Jawa, tapi mentalnya sudah bukan mental abdi dalem. Ia pembantu masa kini. Langsung saja ia merebut sapunya lalu pergi.

Ateng mencoba mengejar dengan penjelasan. “Eeee tunggu, bahenol! Kita sebentar lagi merayakan hari proklamasi, hari ulang tahun kemerdekaan kita. Nah untuk menyambut peringatan hari kebebasan kita, apa pendapat kamu tentang kebebasan?”

Tetapi pembantu itu sudah masuk rumah, langsung mengunci pintu. Ateng hanya bisa mendengar buntut omelannya yang cekikikan seakan-akan ia sedang diburu-buru mau diperkosa. Nyonya rumahnya nampak menyorongkan kepala keluar jendela, melihat kepada Ateng dengan mata sengit. Ateng terpaksa mencelup di balik pagar sebelum ketahuan.

Kemudia Ateng memburu pembantu lain yang lebih tua dan bisa diajak tst. Namun seperti pembantu yang pertama, pembantu yang kedua juga geli mendengar pertanyaan itu. Baru setelah disogok dengan selembar ribuan dan janji keterangannya tidak akan disebarluaskan wanita itu mulai merespon. Tapi ia nampak malu-malu mengeluarkan suaranya sendiri di depan tape recorder yang dihunus Ateng.

Ateng terpaksa memancing. “Apa kemerdekaan bagi mbak ini artinya kebebasan?”

Pembantu itu mengangguk disertai suara lirih, “Ya.”

“Apakah arti kebebasan bagi mbak?”

Wanita itu bingung. Ateng mengubah pertanyaannya.

“Apakah di dalam kemerdekaan ini mbak merasa bebas?”

“Nggak tahu.”

Ateng mematikan tape recorder. Ia memberikan penjelasan, karena menganggap ada salah pengertian.

“Begini mbak, coba dengar baik-baik. Mbak kalau ditanya jawabnya tidak boleh tidak tahu. Harus menjawab ya atau tidak. Paham?”

“Ya.”

Ateng memasang lagi tape recorder.

“Apa arti kemerdekaan bagi mbak?”

Wanita itu terdiam. Nampak bingung. Ateng menunggu. Tapi kebingungan wanita itu tidak berkurang. Terpaksa Ateng mengganti lagi pertanyaannya.

“Oke begini. Apakah mbak merasa diri mbak merdeka?”

“Tidak.”

“Nah itu bagus. Begitu kalau menjawab. Baik, sekarang, mengapa mbak merasa tidak merdeka?”

Ateng terpaksa mematikan kembali tape recordernya. Dia minta uangnya kembali, karena wawancara dianggap gagal. Sambil misuh-misuh, ia mencari pembantu lain.

Memang sulit mencari pembantu yang mau diwawancarai. Ada yang mau, tapi waktunya tak ada. Ada yang sudah diwawancarai, tetapi jawabannya kacau. Untung akhirnya Ateng bertemu dengan mantan seorang pembantu yang sudah berwiraswasta.

Wanita itu menjawab pertanyaan Ateng dengan menggebu-gebu. “Kemerdekaan artinya adalah kebebasan,” katanya dengan sengit, seperti penjudi yang sedang jalah total. “Kemerdekaan bagi kita ada kebebasan,” katanya mengulangi pernyataannya. Tapi kemudian ia tidak mampu melanjutkan. Hanya matanya saja yang berkejap-kejap seperti hendak menangkap sesuatu.

Ateng kembali turun tangan.

“Oke, Bu, kalau kemerdekaan adalah kebebasan. Kebebasan itu apa?”
“Kebebasan?”

“Ya, apa arti kebebasan buat ibu?”

“Ya, kemerdekaan!”

Ateng tiba-tiba merasa dipermainkan. Tetapi mantan pembantu itu cuma ketawa. Ketika Ateng mau bertanya lagi, wanita itu menadahkan tangan. Sambil menyumpah-nyumpahi dunia bahwa segalanya sudah serba mata duitan, Ateng terpaksa mengeluarkan selembar ribuan lagi.

Wanita itu menolak. Dia mengacungkan dua jari. Terpaksa Ateng mengulurkan satu lembar lagi.

“Itu sudah semuanya,” katanya. “Jadi, apa anti kebebasan buat ibu?”

“Kebebasan?”

Ateng diam sejenak, tak menanggapi. Wanita itu mulai merasa Ateng kesal.

Kemudian ia menjawab dengan lebih sungguh-sungguh.

“Apa arti kebebasan itu, apa ya? Ya kebebasan, begitu. Seperti biasanya saja. Ya bebas. Bebas artinya ya merdeka. Ya kan?”

Ateng tidak menjawab. Dia mendengarkan saja.

“Kebebasan itu apa ya? Masak disitu tidak tahu. Kan mestinya lebih tahu. Kebebasan itu kan kemerdekaan. Apa iya? Contohnya saja, kalau Tuan dan Nyonya kita lagi tidak di rumah, kita baru merasa diri kita merdeka,” kata wanita itu mulai lancar berbicara.”Sebab kalau mereka tidak ada, kita bisa bangun jam berapa saja. Kita bisa makan apa saja. Kita bisa duduk di atas sofa dimana mereka biasanya duduk nonton film-film porno. Kita bisa nyetel kaset dangdut sambil goyang-goyang. Kita bisa bebas memukuli anjing piarannya yang manja tidak ketulungan itu. Bahkan kita bisa tidur di atas tempat tidurnya. Pokoknya kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Tapi ini semua rahasia, jangan bilang-bilang sama mereka, nanti kita bisa kontan dipecat.”

“Jadi menurut ibu, kebebasan dan kemerdekaan itu berarti kamu dapat berbuat semena-mena?”

Sekarang wanita itu bengong.

“Apa?”

“Jadi ibu baru merasa merdeka dan bebas, kalau ibu bisa berbuat seenak perut ibu sendiri?”

Pembantu itu tercengang. Ateng jadi penasaran.

“Lho itu kan baru saja ibu katakan sendiri tadi. Ini, kalau tidak percaya dengerin lagi!”

Ateng mengeluarkan tape yang sejak tadi disembunyikannya. Memutar ulang pitanya.

“Itu suara kita?”

“Ya, suara ibu.”

Mantan pembantu itu merebut tape recorder dari tangan Ateng, lalu memegang lebih dekat ke kupingnya. Beberapa lama kemudian ia tertawa kesenangan.

“Lucu ya suara kita, kok cemeng begitu,” katanya sambil terus menikmati suaranya sendiri.

Ateng merebut kembali tape itu.

“Jadi buat ibu kebebasan dan kemerdekaan itu adalah kalau ibu bisa berbuat suka-suka ibu sendiri?”

Wanita itu senyum-senyum.

“Ya atau tidak?”

“Nggak tahu!”

“Lha itu di rekaman tadi ibu bicara begitu!”

“Habis direkam sih, siapa yang suruh. Jadi lucu begitu. Kok bisa cemeng sekali. Genit, kenes lagi, Ha-ha-ha. Coba dengerin sekali lagi!“

Sebelum Ateng sempat berkelit, wanita itu merebut tape itu dan menyetelnya. Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba saja ia lari masuk ke dalam rumah memanggil temannya. Tak lama kernudian terdengar sepasang ketawa berderai-derai. Ateng yakin mereka hanya menertawai bunyi yang keluar dari tape itu. Mereka sama sekali tidak peduli apa artinya.

***

Beberapa lama kemudian, Ateng menemui seorang guru. Kepada lelaki yang sudah mengabdi selama 25 tahun itu, ia menanyakan pertanyaan yang sama.

“Apa artinya kemerdekaan bagi bapak, Pak Guru?” Guru sekolah itu terdiam lama sekali. Jelas ia sedang berusaha untuk merumuskan kemerdekaannya seakan-akan takut keseleo. Ateng tak sabar, “Saya bukan murid sekolah, Pak,” ucapnya, “Saya juga bukan pejabat yang mau memancing-mancing. Saya hanya seorang yang dahaga pada informasi.”

Guru itu kaget mendengar penjelasan Ateng. Ia malah jadi kecut. Ateng terpaksa buru-buru memberikan keterangan.

“Coba dengar, Pak. Begini. Maksud Ateng bukan mencari rumus kemerdekaan dengan kata-kata yang baku dan kemudian seperti biasanya ternyata hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Tidak. Ateng hanya ingin mencari arti kemerdekaan yang spontan keluar dari seorang guru yang pada hakekatnya juga seorang manusia. Manusia yang sama dengan manusia lainnya, manusia yang setiap saat bisa bikin kesalahan. Dan ini bukan untuk apa-apa. Bukan untuk ditulis di koran, karena saya bukan wartawan. Saya menanyakan ini semua untuk arsip sendiri, untuk menambah pengertian saya sendiri tentang makna kemerdekaan.”

Guru itu mengerti. Tapi tidak mengerti apa perlunya arsip-arsip kemerdekaan buat Ateng.

“Buat apa mencari arti kemerdekaan bagi orang lain, kan lebih baik menghayati sendiri arti kemerdekaan buat diri sendiri, Pak Ateng?”

Ateng terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia cepat menyerap dan kemudian mempergunakannya.

“Ya memang, maksud saya memang begitu. Agar saya bisa menghayati kemerdekaan secara lebih afdol, saya memerlukan bandingan dan masukan arti kemerdekaan bagi orang lain. Bagi seorang pembantu, misalnya. Bagi seorang pelacur, misalnya. Bagi seorang jenderal, gubernur atau menteri, misalnya?”

“Menteri juga?”

“Ya dong!”

“Apa kata mereka?”

Ateng tentu saja belum sempat menanyakan itu kepada menteri, sebab baik gagasan mewawancarai jenderal maupun gubernur itu baru hinggap di kepalanya saat sedang bicara untuk meyakinkan guru itu. Kini tiba-tiba ia merasa, itu gagasan yang baik juga.

“Jenderal dan gubernur juga?”

“O ya, pokoknya semuanya, Pak. Apa arti kebebasan dan kemerdekaan buat semua lapisan masyarakat. Nah, setelah itu, saya baru akan bisa menyerap dengan lebih sungguh-sungguh lagi apa makna kemerdekaan itu. Sebab setelah setengah abad merdeka, kita semua harus tahu apa yang kita miliki itu. Benar tidak, pak?”

Guru itu setuju. Ia nampak tertarik pada usaha Ateng. Lalu ia mengusulkan sederet nama yang katanya tidak boleh tidak mesti ditanya.

“Apa arti kemerdekaan dari seorang tukang becak, harus ditanyakan sekarang cepat-cepat. Kalau tidak, nanti tukang becaknya keburu habis. Apa arti kemerdekaan bagi seorang pemulung juga penting, karena siapa tahu pemulung juga sebentar lagi tergusur rumahnya, kena pembebasan tanah yang mau dipakai sebagai real estate. Itu penting sekali, sebab nanti pada tahun 2000 mungkin semua orang sudah digusur, jadi tak ada yang bisa ditanyai lagi. Juga penting ditanyai apa arti kemerdekaan buat Angkatan 45 yang sudah berjuang di dalam revolusi dulu, sebab sebentar lagi Angkatan 45 juga semuanya pasti akan meninggal dunia. Sekarang mumpung masih sehat-sehat, ditanyai saja. Juga apa arti kemerdekaan bagi istri-istri kedua, istri-istri simpanan. Apa arti kemerdekaan bagi pemimpin politik, pemimpin partai. Dan, tidak kalah pentingnya adalah apa arti kemerdekaan buat…”

Guru terdiam.

“Buat siapa Pak?”

“Buat seorang Guru.”

Ateng lalu menyodorkan tapenya.

“Ya, apa artinya kemerdekaan buat seorang guru pak?”

Guru itu cepat-cepat menghindari tape tersebut.

“Lho-lho jangan saya. Saya ini bukan seorang guru yang baik. Walaupun saya sudah menjadi guru selama 40 tahun, tapi saya tidak bisa mewakili guru-guru lain untuk memberikan rumusan mengenai kemerdekaan. Itu masalah besar yang memerlukan sebuah seminar yang akbar. Jangan, jangan!”

Agak lama juga Ateng membujuk, baru guru itu dapat ditenangkan. Baru ia mengerti apa sebenarnya maksud Ateng. Lalu dari mulutnya mengucur keterangan seperti ban sepeda yang bocor.

“Tentang kemerdekaan, itu sudah jelas. Itu artinya independence dalam bahasa Inggris kan? Liberty dan independence. Ya buat siapa saja arti kemerdekaan adalah memperoleh semua hak-hak yang memang menjadi haknya. Lalu menjadi mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri. Jangan kaki orang lain. Apalagi kepala orang lain, atau kemiskinan orang lain. Itu saja. Itu secara umum saja, rumusannya pasti begitu, lebih kurang. Nah kalau ditanyakan apa arti kemerdekaan bagi pribadi-pribadi, nah itu bisa rame.”

“Memang itu maksud Ateng, Pak. Apa arti kemerdekaan bagi bapak pribadi?”

“Bagi saya sebagai apa? Sebagai seorang lelaki? Sebagai seorang bapak? Sebagai seorang anggota masyarakat? Sebagai seorang pemilik kios? Lho, mesti jelas, sebab jawabannya bisa lain-lain. Ya tidak?”

“Bapak sebagai guru.”

“Sebagai guru?”

Ateng mengangguk

“Tapi ini jawaban pnibadi iho. Dan ini jelas bukan pernyataan. Ini adalah jawaban biasanya, karena bapak ditanya. Tahu kan beda pernyataan dan jawaban biasa?”

“Bedanya, apa?”

“Ya pernyataan itu adalah proklamasi, sedangkan jawaban itu adalah pernyataan juga, tetapi dinyatakan sesudah ditanyai. Lho Ateng ini kan menanya, jadi saya menjawab saja. Ya kan?”

“Betul. Jadi kemerdekaan itu menurut bapak bagaimana?”

‘Kemerdekaan? Kemerdekaan itu bagi bapak adalah keleluasaan untuk mengutarakan pendapat-pendapat yang berbeda. Keleluasaan untuk melakukan hal-hal yang menurut keyakinan kita benar, meskipun buat orang lain mungkin tidak. Keleluasaan untuk mengajarkan apa yang kita yakini. Menyebarkan apa yang kita sukai dan kita percayai kepada murid-murid, jadi bukannya keharusan untuk mengajarkan sesuatu yang sudah dianggap sebagai pelajaran baku, padahal sebenarnya kita tidak setujui.”

“Kita baru merasakan kemerdekaan kalau kita diberikan kesempatan. Kalau kita diberikan imbalan yang cukup dan semestinya dengan pekerjaan dan jasa-jasa yang sudah kita berikan. Agar kita bisa bebas dari perasaan minder, perasaan serba kekurangan. Dengan begitu baru kita akan memiliki harga diri seperti manusia lain. Guru harus diberikan kesempatan untuk hadir sebagai manusia biasa, baru dia akan menjadi guru yang baik. Guru harus dibebaskan dari hukuman yang mengutuk dia menjadi orang suci. Itu terlalu berat. Guru mesti diberikan keringanan supaya bisa bebas, keringanan untuk menjalankan apa saja yang diyakininya. Termasuk keringanan untuk…”

“Untuk apa, Pak”

“Untuk kawin dengan munidnya sendiri, misalnya. Lho, ya tidak. Itu kan hak asasi manusia. Kalau seorang guru misalnya mencintai dan dicintai oleh muridnya, apa salahnya kalau mereka menikah. Tapi nyatanya di dalam masyarakat kita itu dicela, bahkan dikutuk. Guru selalu ditimbun dengan bermacam-macam tugas dan larangan-larangan, sehingga sebenarnya sebelum menjalankan tugasnya, ia sudah cacat sebagai manusia. Lha, bagaimana dia akan menjadi pengajar yang baik kalau dia sudah dalam keadaan tidak sempurna? Coba bayangkan saja. Bisa tidak Ateng membayangkan, bahwa semua guru-guru TK sampai ke perguruan tinggi sekarang sebenarnya orang-orang cacat. Hasilnya ya pasti saja cacat semuanya. Makanya, kalau ingin memperbaiki mutu pendidikan kita, perbaiki dulu posisi seorang guru. Ini semua tolong diperhatikan betul. Dan jangan lupa semuanya yang saya katakan tadi off the record. Sudah ah!”

Ateng manggut-manggut lalu mematikan tape recordernya yang sejak awal sekali rupanya salah pijit: bukannya record tapi pause. Ia terpaksa membujuk guru itu untuk berbicara sekali lagi tentang hal yang sama, tetapi ditolak, karena guru itu tidak ingat lagi apa yang sudah dikatakan nya.

“Mungkin bukan tidak ingat, tapi saya malu,” kata guru itu dengan lugu. (***)

~ oleh ~*~ pada 20 September 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: