Pulang


Judul: Pulang
Penulis: Ratna Indraswari Ibrahim
Diterbitkan: Harian Republika, 14 Desember 1996. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Sebagai wartawan yang baru bertugas di kota ini, saya benar-benar asing di kota Malang. Karena itu, di suatu malam yang terasa membosankan, saya mencoba mencari tempat kost Bang Simon, seorang wartawan senior yang suka membantu saya dalam menuliskan berita. Menurut beberapa rekan wartawan, Simon hidupnya ‘nomaden’, walau tak pernah menumpang di rumah teman-temannya.

Kali ini ia saya temui di rumah kontrakannya, di gang yang sempit.

“Rizal, silakan masuk. Mau minum kopi? Aku lagi masak mie! Maukah kau kubuatkan sekalian?” Simon terus melanjutkan omongannya, “Abangku baru datang, mengajakku pulang kampung untuk menggarap ladang keluarga. Anak gadisku akan menikah.”

“Saya kira, Abang belum menikah.”

“Yah, aku dulu pernah menikah. Tapi siapa pula perempuan yang mau hidup dengan suami yang tidak punya gaji tetap. Kau tahu, mengapa baru sekarang aku bisa menontrak rumah ini. Karena Abangku telah memberi uang, yang seharusnya kupakai untuk ongkos pulang menghadiri pernikahan anakku. Aku pikir-pikir, aku ini ‘kan cuma bapak ayam. Sebab, sejak usia setahun, dia sudah kutinggalkan. Ayah tirinya yang masih sepupuku, lebih pantas disebut ayahnya. Dia menikahi istriku, merawat dan menyekolahkan anakku sehingga kini jadi perempuan yang sehat serta berpendidikan bagus. Sepupukulah yang berhak membimbing anakku di hadapan pendeta. Rizal, lupakan saja cerita saya tadi…”

Saya tercengang mendengar ucapan lelaki ini. Dan, ketika dia sibuk memasak mie, saya melihat banyak koran dan buku-buku bertebaran di ruang tamunya. Kemudian, kami ngobrol dengan topik melompat-lompat. Saya kira wawasan Bang Simon betul-betul luas, saat kami berdiskusi masalah agama (kami berlainan agama). Toh, kami bisa bertemu ketika membicarakan filsafat keagamaan.

“Bang, mengapa sih tidak mau pulang? ‘Kan lebih enak sebagai petani sayuran. Karena, saya dengar hasil panen sayur di daerah Abang bisa dijual ke Singapura dan Malaysia.”

“Itulah keanehanku. Aku ini merasa harus menulis terus sampai mati! Padahal di jaman ini untuk menjadi wartawan, penuh tantangan. Sebab, tidaklah mudah berjujur hati. Rizal, kau kan baru beberapa minggu menjadi wartawan. Nanti kau pasti tahu yang licik dan munafik itu bukan hanya nara sumber kita, tapi juga wartawan… Hey, ngomong-ngomong aku belum tahu, di Malang ini, kau kost di mana?”

“Saya kost di Jalan Diponegoro. Yah, mama yang menaruh saya di sana, karena kebetulan itu rumah temannya. Abang ‘kan tahu, berapa sih gaji calon wartawan… Kost saja masih dibantu mama.”

“Yah, sekalipun begitu, kau pasti akan sepertiku nanti, sangat sulit untuk beralih profesi.”

Saya terdiam. Sebetulnya mama lebih suka melihat saya bekerja di sebuah bank. Tapi, saya bilang kepada mama dan papa: Tak terbayangkan oleh saya untuk secara rutin bekerja di sebuah ruangan tertutup. Saya lebih suka bekerja dengan berjalan dari suatu tempat ke tempat lainnya, dan bertemu dengan beragam manusia.”

Suatu kali, untuk kesekian kalinya, saya mengunjungi lagi Bang Simon. Tetapi, sebelum saya mengetuk rumah kontrakannya, tiba-tiba Bu Situ pemilik rumah ini memanggilku, “Mas Rizal, bang Simon tidak ada di rumah, katanya ke luar kota. Dia titip pesan kepadaku, untuk memberikan kuncinya. ‘Kan Adik ketinggalan disket.”

Saya masuk ke kamar Bang Simon. Di kamar itu, saya melihat, mie yang sekotak tinggal beberapa bungkus lagi. Beberapa kliping tulisan barunya segera menarik minat saya untuk membaca. Artikelnya kali ini tentang SAR. Membaca artikel itu terasa sekali penulisnya memiliki pikiran yang runtut dan jernih. Saya kira, saya harus mengopi artikel itu agar lebih cermat mempelajari gaya penulisannya.

Rupaya saya terlampau lama di kamar Bang Simon, sehingga pemilik rumah datang.

“Maaf ibu, saya keasyikan membaca tulisan Bang Simon.”

“Saya tak apa-apa kok, Mas. Mas Rizal, boleh saya bertanya, Bang Simon itu pendiam ya. Sudah tiga bulan ini dia mengontrak rumah saya. Kalau ketemu saya, cuma bilang, ‘Selamat pagi, Selamat siang, Selamat malam.’ Waktu abangnya kemari, saya sempat ngobrol dengan Abangnya. Ternyata Bang Simon ini, anaknya orang kaya di kampungnya. Aneh ya, dia mau ngontrak rumah saya ini. Mas Rizal, tahu tidak, Bang Simon itu punya anak gadis, cantik lho?”

“Maaf, Bu, ini kuncinya. Saya tinggal dulu, kalau Bang Simon datang, tolong sampaikan sudah saya ambil disketnya.”

Perempuan setengah baya itu mengangguk-anggukan kepalanya.

Sekian minggu, saya tak pernah melihat Bang Simon di lobi Pemda. Menurut beberapa rekan wartawan, ada kemungkinan dia ke luar kota. (Saya memang pernah diajak Bang Simon hunting ke luar kota. Dan yang paling saya kagumi, Bang simon itu ‘ulet’ sekali menggali data dari beberapa nara sumber).

Setelah dua minggu, baru saya berjumpa Bang Simon di lobi Pemda. Dia sedang dikerubungi oleh beberapa rekan wartawan. Ternyata, Bang Simon tengah menceritakan, ada oknum Pemda yang menyalahgunakan tanah penduduk. Dan, masalah itu akan segera dilaporkan Bang Simon kepada Pak Kanjeng. (Kami para wartawan biasa menyebut orang nomor satu di jajaran Pemda ini dengan sebutan Pak Kanjeng).

Namun, Pak Kanjeng sedang tidak berada di tempat. Beberapa rekan wartawan, kelihatan mendesak Bang simon untuk bisa mengopi file berita itu. Tetapi tak seperti biasanya, Bang Simon enggan memberikannya.

“Abang sering bilang kepada kami, jangan sekali-kali melacurkan profesi. Tetapi, dengan cara menunggu Pak Kanjeng, apakah ini bukan berarti kepengecutan Abang! Apakah ini tidak bisa disebut, “Menunggu restu dan ‘amplop’ Pak Kanjeng?”

“Bah! Aku tidak pernah menjadi laki-laki pengecut. Aku berani jadi wartawan lepas, agar apresiasiku tidak terbunuh!” Rekan-rekan wartawan tetap saja mendesak. Akhirnya Bang Simon membiarkan disketnya dikopi oleh kami.

Dan, berita itu mendapat pujian dari kepala biroku. Ibu kepala biro menyuruhku untuk lebih menggali kasus tanah tersebut. Untuk keperluan itu, saya ke rumah Bang Simon. “Bang, apakah abang mau, saya bersedia membayar segala transportasinya.”

Lelaki itu lama terdiam. Lalu bicara pelan-pelan, seolah-olah takut saya tidak paham dengan ucapannya, “Rizal, Pak Kanjeng marah berat kepadaku. Karena berita itu belum dikonfirmasikan kepadanya. Lucunya, dia tahu juga, kalau sayalah yang memberikan teman-teman berita itu.”

“Bang, kalau hal itu merugikan Abang, mengapa mau juga memberikan kepada kami. Sungguh, saya salut kepada Abang yang selama ini begitu idealis dalam memperjuangkan kebenaran. Padahal, kata mama, orang idealis adalah manusia yang tidak berpijak pada bumi. Dan, cuma orang pengimpi yang menganggap salah dan benar itu ada di bumi kita.”

“Kukira mamamu benar, Rizal. Kapan-kapan saya pasti ingin kenal dengan mamamu.” Dan, katanya lebih lanjut, “Berbahagialah kau, Rizal, punya ibu yang tahu membaca zaman.”

“Saya kadang-kadang jengkel juga, melihat sikap rekan-rekan yang lebih banyak memperalat Abang, daripada bersahabat.”

Lelaki baya ini tersenyum.

Kemudian, saya jarang melihat Bang Simon di lobi Pemda. Menurut beberapa wartawan, kegusaran orang-orang Pemda kian melebar kepadanya. Karena selama ini, bila Bang Simon tidak punya uang, dengan arif mereka memberi. Apalagi, kalau tulisannya berkaitan dengan masalah pembangunan Pemda. Tetapi, dengan berita kasus tanah itu, jajaran aparat Pemda merasa dihujat dengan tidak adil. Ironisnya, melihat kemarahan Pak Kanjeng, beberapa rekan wartawan ikutan tidak mau lagi bertegur sapa dengan Bang Simon.

Saya merasa mimpi remajaku dikoyak-koyak. Sebab, keinginan saya menjadi wartawan mulai tumbuh saat remaja. Persisnya, ketika saya tertarik membaca sebuah buku koleksi mama, Skandal Watergate.

Apakah ini hanya sebuah impian remaja? Karena, sampai detik ini, kami para wartawan menganggap berani dalam membongkar semua kasus?

Suatu kali, saya mencoba ke rumah kontrakan Bang Simon, entahlah mau tak mau, mata saya tertumbuk pada kotak mie yang sudah kosong itu.

Kali ini tak banyak yang ia ucapkan, tapi ketika saya pamit pulang, dia bilang, “Rizal, kalau kau punya uang sepuluh ribu, tolong pinjami aku dulu. Aku sudah dua hari tidak makan.”

Saya tergagap-gagap, dan ia menepuk bahuku, “Rizal, sudahlah lebih baik kau pikirkan dengan serius tawaran mamamu untuk sekolah lagi mengambil S2-mu di mancanegara. Sungguh, aku selalu bayangkan, dia ibu yang bijak untukmu.”

Beberapa bulan kemudian, saya belum juga siap menerima tawaran mama.

Saya merasa harus menggali berita agar bisa masuk ke halaman satu koran saya. Dan ketika saya sedang asyik membuat berita di rumah, ibu kost bilang, “Rizal, ada tamu, ibu Siti namanya. Dia bilang temanmu Bang Simon barus saja meninggal.”

Dengan tergesa-gesa, saya pergi ke rumah Bang Simon. Saya lihat Bang Simon terbujur di kasur kamarnya. Sepertinya, tertidur tanpa beban!

Lagi-lagi mata saya tertumbuk pada kotak mie kosong. Di sampingnya, ada taburan bekas gula yang diangkut barisan semut.

Malam itu juga saya menelepon mama! (***)

~ oleh ~*~ pada 27 September 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: