Copet 93


Judul: Copet 93
Penulis: S. Sinansari Ecip
Diterbitkan: Harian Republika, 2 Mei 1993. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

“Saya bukan pencopet, tapi jika Adik ingin tahu seluk beluk percopetan, saya mau jadi penunjuk jalan,” laki-laki itu berusaha meyakinkan.

Laki-laki yang lebih muda, dengan tubuh lebih ringan karena tipis seperti papan, menganggukkan kepala.

“Bagus,” jawabnya pendek. Lalu dia menarik lengan laki-laki pertama, mengajaknya mampir duduk di bangku warung.

“Kopi atau teh?” tanyanya menawarkan.

“Saya belum makan.”

Wah, lelaki ini lebih mujur daripada yang saya duga, batin laki-laki kedua. Di dalam hati dia berterima kasih kepada temannya yang telah menunjukkan orang yang tepat, kepada siapa dia akan minta bantuan untuk melacak dunia copet-mencopet.

“Beri dua nasi rawon,” kata laki-laki kedua. Agar komunikasi lebih lancar akan lebih baik kalau tamu minta makan, saya juga ikut makan makanan yang sama, dia memberi alasan kepada diri sendiri.

“Kalau Adik ingin mengamati pencopetan dalam bus kota, mudah. Kaum pencopet profesional tersebut berpakaian rapi. Usianya antara 20-40 tahun. Tubuhnya sehat. Di tangannya kalau tidak membawa jaket, ada map atau tas. Alat-alat itu untuk menutupi gerakannya. Mereka biasanya berkelompok, lebih dari dua orang. Anggota yang satu akan mengamankan yang lain.”

“Apa tidak ada pencopet yang menjalankan tugasnya seorang diri?”

“Hampir tidak ada. Kalau ada, dia pencopet pendatang, belum punya teman atau pencopet yang memang sudah jago. Pencopet jagoan ini bergerak seorang diri karena tidak ingin hasilnya dibagi dengan orang lain.”

“Saya sebenarnya ingin berkenalan dengan pencopet yang sudah jagoan itu. Darinya akan diperoleh pengalaman yang jauh lebih menarik.”

“Itu bisa diatur. Tapi untuk perkenalan, kita amati dulu mereka yang berkelompok. Saya punya kenalan beberapa pencopet yang betul-betul mandiri. Saya dapat melacak barang-barang hasil copetan mereka.”

“Abang mau menemani saya?”

“Mengapa tidak?”

“Sekarang?”

“Boleh, tapi setengah hari saja dan sasaran pertama adalah pencopet yang berombongan.”

“Kita naik bus mana?”

Laki-laki pertama menuju jalur bus di Blok M yang cantik itu. Dia naik ke dalam bus tingkat. Si Krempeng yang bertugas sebagai wartawan mengikutinya. Laki-laki pertama lalu mengambil tempat di dekat anak tangga yang menuju ke lantai dua. Beberapa orang sudah mengambil tempat di anak tangga.

Si wartawan berpikir, tentulah mereka itu kawanan pencopet. Bus sudah berisi penuh. Pelan-pelan bus meninggalkan Blok M, menuju Kalideres. Laki-laki pertama memainkan matanya, meminta kepada si wartawan agar perhatiannya ditujukan ke anak tangga.

Bus sudah beberapa waktu bergerak. Ada seorang ibu ingin naik ke lantai dua. Dengan susah payah dia merambat. Mata si wartawan yang tajam dapat menyaksikan dompet kulit buaya pindah dari dalam tas ibu ke tangan seorang pencopet. Pencopet tersebut kemudian memindahkan hasil copetannya ke temannya. Temannya ini segera bergeser sedikit. Pada pemberhentian di CSW, banyak penumpang naik, membuat bus menjadi lebih sesak.

Bus hampir mendekati pemberhentian di depan Balai Sidang Senayan. Seorang mahasiswa mengaduh. Lengannya mengeluarkan darah. Si Krempeng tidak tahu persis, apa yang telah terjadi. Darah mengalir itu karena apa, dia tergores apa. Mahasiswa tersebut tampaknya tidak mau ribut. Dengan menyikut ke kiri dan ke kanan, dia menuju pintu dan melompat turun meski bus belum berhenti benar. Para penumpang tidak ada yang peduli.

Bus maju terseok-seok di Jalan S. Parman. Matahari sedang berada di tengah langit. Sengatannya membuat keringat bercucuran. Keringat para penumpang juga mengalir. Si Krempeng dan orang pertama juga mengeluarkan keringat.

Di dekat Tomang, terdengar jeritan seorang perempuan muda. “Copet, copet!” Sebelum bus berhenti karena lampu merah, beberapa laki-laki yang tercurigai berlompatan turun.

Tangan si Krempeng digamit oleh temannya.

“Kita turun di sini saja. Ada yang lain ingin saya tunjukkan.”

Mereka berdua berbelok ke kiri ke perumahan berjejal di sebuah kampung. Setelah berkelok-kelok di lorong sempit di antara himpitan rumah, laki-laki pertama memasuki sebuah rumah. Tanpa beruluk salam dia langsung masuk dan terus ke ruang belakang.

Wartawan Krempeng masih berada di ambang pintu. Dia berdiri di situ karena tidak dipersilakan masuk.

Masih terbengong-bengong itu, laki-laki pertama muncul sambil membawa dua dompet dan satu jam tangan. Si Krempeng ingin bertanya tapi temannya itu sudah berkata.

“Mereka cepat bergerak. Hasil mereka sudah berada di rumah belakang hampir bersamaan dengan datangnya bus. Mereka luar biasa!”

Si Wartawan tanpa diminta lalu duduk. Diamatinya kedua dompet dan jam tangan itu.

“Benar,” kata temannya, “Yang kulit buaya ini milik ibu yang tidak merasakan barangnya dicopet.”

“Yang ini?” Si Wartawan mengangkat dompet kedua.

“Itu dompet laki-laki yang tangannya digores pisau tadi.”

“Dan ini jam tangan cewek yang berteriak?” tanya si wartawan Krempeng.

“Adik benar.”

Si Wartawan merasa beruntung sekali mendapat pengalaman yang sangat berharga. Dia sudah sering melihat pencopet beraksi. Yang belum dialaminya adalah menyaksikan barang hasil copetan itu di tempat penadahnya.

Dicobanya membuka kedua dompet. Dompet-dompet itu sudah tidak ada isinya.

“Isinya sudah diambil,” kata laki-laki pertama.
“Kapan membaginya?”

“Belum dibagi, masih terkumpul pada seseorang. Nanti malam keseluruhan hasil dibagi.”

“Para pencopet tadi turun semua di Tomang?”

“Tidak. Sebagian sudah turun di Senayan. Pencopet pertama yang mengambil dornpet kulit buaya malah sudah turun di CSW.”

“Luar biasa!” puji si Wartawan.

“Saya cuma pesan, jangan sekali-kali menuliskan atau melibatkan nama saya dalam tulisan Adik. Bagian itu dilarang muat, pakai istilah Pak Harmoko. Bagian itu adalah off the record. Rumah ini jangan jelas-jelas disebutkan tempatnya, nanti saya yang akan kena getahnya.”

“Baik, saya akan patuhi permintaan sumber berita.”

“Jaga benar-benar sumber berita sesuai kode etik, ya Dik. Adik kan punya Kode Etik Jurnalistik PWI. Sumber berita harus dilindungi. Terpuji betul kode etik itu. Kalau ke pengadilan, misalnya, tolong taati Hak Ingkar, alias jangan mengaku. Wartawan yang melaksanakan kode etiknya adalah wartawan yang perlu dikagumi.”

“Kok Abang tahu soal kode etik sampai rinci?”

“Lho, saya ini bekas wartawan, Dik. Tapi lantaran saya gemar uang amplop maka saya dipecat,”jawabnya ningan tanpa beban diikuti tertawanya yang renyah.

“Lain kali saya ingin wawancara dengan pencopet yang menjalankan operasinya secara perseorangan.”

“Ya, pencopet juga punya hak menyatakan pendapat, lho. Hak kehadirannya dan hak menyatakan pendapatnya tertulis atau lisan, perlu diperhatikan lantaran diakui oleh Undang-Undang Dasar 45.”

“Itu jelas, Bang. Kita kan sama-sama penjunjung konstitusi.”

“Dengan hak menyatakan pendapat itu kan berarti pula para pencopet boleh berbeda pendapat.”

“Benar, Bang. Siapa pun orangnya karena berada di dalam negara yang berkonstitusi dan konstitusi itu menjamin pernyataan pendapat maka sekaligus diberi hak berbeda pendapat.”

“Bagus.”

“Kalau begitu kita berpisah di sini. Besok pagi saya ingin memberi hadiah untuk Abang.”

“Benar?”

“Ya.”

“Itu penghargaan besar buat saya.”

Keduanya berjalan keluar kampung. Si wartawan naik bus menuju Grogol.”

Ketika dia menoleh ke belakang, laki-laki pertama itu masih berada di pinggir jalan.

Si Krempeng memang merasa sungguh-sungguh beruntung bisa bertemu dengan laki-laki pertama tersebut. Seorang temannya, reserse di Polda menunjukkan nama orang tersebut untuk dihubungi. Laki-laki pertama itu adalah informan polisi.

Sesampai di kantor redaksinya, segera si Krempeng menceritakan pengalaman sampai berbuih-buih. Sembari bercerita tangannya berseliweran mengasyikkan, memperkuat visualisasi ceritanya. Janji untuk bertemu dan wawancara dengan pencopet yang mandiri juga diceritakannya. Selain pemimpin redaksi yang dilaporinya, beberapa redaktur ikut mengelilinginya.

“Ini laporan yang cukup baik. Buatlah yang hidup, hingga pembaca merasa menyaksikan sendiri peristiwa itu. Pokoknya liputan ini setelah lengkap benar harus bisa merebut hadiah Kalam Kencana dan Dewan Pers atau sedikitnya hadiah Adinegoro dan PWI Jaya,”kata seorang redaktur senior.

“Saya setuju,” sahut pemimpin redaksi, “Tunggu dulu. Kalau kamu dapat menyuguhkan foto-fotonya dengan baik, kamu saya beri hadiah tiket berlibur ke Bali.”

Tiba-tiba Si Krempeng pucat wajahnya. Keningnya dipukulnya setengah keras. “Bodoh sekali saya, mengapa saya tidak memotret peristiwa itu?”

“Masih ada kesempatan. Ulangi besok pagi!”

Wajah si Krempeng bertambah pucat. Keringat dinginnya mengalir di punggung. Diraba-rabanya pinggangnya. Foto tustel yang biasa digantungkan di situ sudah lenyap. Di saku celananya pun, dompetnya telah tidak ada.

Dia buru-buru mengangkat telepon ke Polda. Syukur, dia dapat sambungan langsung. Setelah mengadu sebentar, dan seberang sana terdengar suara polisi temannya itu sedang ngakak. Diterimanya keterangan, informan tersebut memang pencopet. Dia tidak suka bekerja dalam kelompok, kata reserse tersebut, tapi juga tidak menolak bekerja berkelompok. (***)

~ oleh ~*~ pada 4 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: