Libertella


Judul: Libertella
Penulis: Sori Siregar
Diterbitkan: Harian Republika, 5 Desember 1999. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Wajahnya keruh. Beban berat seakan menindih kepalanya. Tubuhnya yang tinggi dan kekar tak mampu lagi menyangga beban berat itu. Ia terhenyak di sofa di ruang tamunya yang luas. “Samuel anakmu adalah harimau liar.” Deretan kala itu sering mengganggunya. Padahal, Bavo melontarkannya sambil bercanda.

Bavo benar, pikir Samuel. Putranya yang cuma seorang itu sangat merepotkannya. Sepak terjangnya sebagai aktivis sebuah LSM benar-benar memojokkan Samuel. Ia merasa hampir setiap saat anak yang diberinya nama Libertella itu mendorongniya dengan paksa mendekati pinggir jurang.

Samuel berpaling ke dinding di sebelah kiri sofanya. Foto seorang pemuda berwajah tampan mengenakan toga tersenyum kepadanya. Samuel membalas senyum itu. Kemudian ia melihat ke sekelilingnya. Ruang tamu berukuran tujuh kali tujuh meter itu ditata oleh tangan yang cekatan.

Pojok kanan ruang tamu berlantai keramik buatan Italia itu hanya diisi perangkat sofa berwarna krem tempatnya duduk. Di pojok kiri belakang berhampiran dengan dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, empat buah kursi juga berwarna krem dan sebuah meja kaca bulat telah siap pula menunggu kedatangan tamu. Sebuah akuarium berukuran 1,5 x  0,5 meter dipajang di pojok kiri depan yang sejajar dengan tempat Samuel duduk. Sebuah pesawat telpon terletak di sebuah meja kecil di antara akuarium dan perangkat kursi di pojok kiri belakang.

Lampu kristal buatan Swiss tergantung di langit-langit dan foto Libertella yang berukuran 1,25 x 0,75 meter bertengger di dinding tepat di atas pintu masuk menuju ruang keluarga.

Setelah menatap ke sekelilingnya, Samuel merasakan sesuatu yang aneh. Ruang tamu itu hanya memajang sebuah foto, foto Libertella. Foto-foto lain hanya mengisi ruang keluarga. Ia kembali menatap foto anak yang merepotkan tapi dibanggakannya itu. Sarjana sosial politik jurusan hubungan internasional itu tampak menawan dengan senyum yang khas.

Molog dalam diri Samuel kemudian muncul begitu saja. Anak setampak dan seterpelajar itu disebut Bavo harimau liar. Candanya menyimpan makna serius. Libertella memiliki pendirian dan sikap yang tak mudah tergoyahkan. Pendirian dan sikap itu lahir dari kancah darah muda yang gemuruh. Mungkin ini yang sering disebut idealisme. Sikap yang dianggap ideal oleh pemiliknya.

Begitu meninggalkan kampus, Libertella tidak berupaya mengisi lapangan kerja yang ditawarkan beberapa temanku. Ia bahkan menolaknya dengan tegas. Ia menjatuhkan pilihan pada sesuatu yang selama ini tak pernah singgah dalam pikiranku, menjadi pekerja sosial. Ia bergabung dengan sebuah aktivis yang secara rutin mengadakan penelitian, membuat berkala, menyampaikan pemikiran alternatif, melancarkan kritik, memprotes, mengirimkan delegasi ke DPR bahkan berdemontrasi di jalan raya.

Tetapi, Libertella tetap juga seorang anak. Setiap bulan ia meminta uang kepadaku untuk keperluannya. Aku sadar, sebagian besar uang yang kuberikan itu digunakan untuk melaksanakan kegiatannya. Namun aku tidak dapat menolaknya. Bahkan, di luar keinginanku aku merasa melakukan sesuatu yang benar. Sesuatu yang berguna untuk anakku. Tapi, pada saat yang sama aku merasa sangat direpotkan oleh anak ini.

Terutama karena istriku ikut-ikutan mendukung semua aktivitas anaknya, “Tella berbuat kebajikan yang tidak pernah kita perbuat,” katanya dengan bangga. Lebih jauh ia mencoba mengingatkan, “Dulu kita sepakat memberikan nama itu kepadanya. Libertella, nama yang kita ambil maknanya dari kata Liberty, agar anak kita bebas menentukan pilihannya tanpa campur tangan kita. Patut sekali kalau kita bangga.”

Sebenarnya, aku juga tidak dapat mendustai nuraniku. Kebanggaan itu menyusup pelan-pelan ke dalam diriku dan mengental. Libertella memiliki cita-cita yang ingin digapainya walaupun dengan susah payah. Di sini perbedaan terasa mencolok antara kami. Aku sama sekali tidak memiliki cita-cita. Yang penting buatku adalah menjangkau kehidupan yang lebih jauh dari kemelaratan dan mempertahankannya. Untuk itu aku siap melakukan apa saja. Cita-cita buatku adalah sesuatu yang sangat mahal. Dan, idealisme adalah kata yang sangat asing buatku.

Libertella dibesarkan dalam keluarga yang bersikap seperti ini ternyata menyempal dan berpegang teguh pada pendiriannya. Ia sering berdiskusi dengan ibunya, tapi tidak denganku. Sekilas kutangkap percikan-percikan diskusi itu. Libertella menginginkan sebuah masyarakat yang lain. Masyarakat di mana sesama dapat saling menyapa dan mengingatkan tanpa rasa takut. Masyarakat di mana anak-anak dapat menikmati masa kanak-kanak mereka tanpa harus dibebani sebagian tanggung jawab orangtua mereka. Sebuah masyarakat di mana orang tahu kapan harus mendengar dan kapan harus didengar. Sebuah masyarakat dengan lingkungan sosial yang dinamis dan senantiasa mencari pelbagai pilihan yang paling baik bagi masyarakat itu. Pokoknya, sebuah masyarakat ideal yang mungkin hanya tercipta di atas kertas atau dalam benak manusia.

Anehnya, Libertella yakin bahwa masyarakat seperti itu akan dapat terwujud bila ada upaya sungguh-sungguh untuk mencapainya. Yang dilakukannya bersama teman-temannya adalah upaya ke arah itu. Ia merasa dirinya pejuang karena yang dilakukannya adalah ibadah.

Aku menilai Libertella dan rekan-rekannya begitu pula para pemuda dari generasinya yang menyimpan obsesi seperti itu sebagai para pemuda romantik yang menolak realitas. Konsep, strategi dan taktik yang mereka laksanakan merupakan hasil pemikiran setengah matang. Semua itu diwarnai emosi yang sukar dikekang.

Bagaimana mereka dapat menyembuhkan borok dalam masyarakat dan mengoperasi wajah bopeng seperti yang mereka kampanyekan itu? Memang, upaya mereka mungkin layak dicatat, tetapi tidak akan dapat mengubah keadaan.

Monolog terhenti di sini ketika telepon berdering. Samuel bangkit dan melangkah menuju telepon.

***

Wajah Samuel semakin keruh begitu meletakkan pesawat telepon. Peringatan terakhir itu menghadapkannya pada pilihannya yang sangat berat. Menolak berarti melepaskan jabatan yang kini dipegangnya. Mematuhi sama artinya memaksakan keinginan pihak lain ke pundak sang anak. Betapapun keputusan harus diambil.

Ketika berunding dengan istrinya, kata sepakat tidak tercapai. Samuel berunding lagi dengan istrinya untuk memecahkan jalan buntu ini. Istrinya tetap mendukung kegiatan Libertella.

“Jalan keluar yang kuusulkan cukup masuk akal. Dulu Tella ingin melanjutkan pendidikannya ke S2 di Amerika, tapi kita melarangnya, karena ia satu-satunya anak laki-laki di rumah ini. Aku rasa itu satu-satunya anak laki-laki di rumah ini. Aku rasa itu sebabnya ia tidak mau menerima berbagai peluang yang ditawarkan teman-temanku. Ya, semacam proteslah. Nah, kalau sekarang keinginannya itu kita penuhi aku rasa ia akan menyetujuinya,” ujar Samuel.

Istrinya diam. Kemudian ia menatap Samuel. Sang suami yang menerima tatapan seperti itu merasa akan mendengar suatu keputusan yang menggembirakan. Tapi keputusan itu tak juga keluar dan mulut istninya.

Apa yang harus kukatakan kepada lelaki yang satu ini, pikir istrinya. Di mata anaknya ia tidak lain dan seorang pesuruh yang patuh dan setia. Pesuruh yang melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya seperti yang diperintahkan. Pesuruh yang keinginannya untuk bertanya telah lama mati. Putranya, Libertella, tidak menyalahkan ayahnya, yang di luar keinginannya telah terbentuk seperti itu. Di mata Libertella, ayahnya telah menjadi makhluk aneh dengan sikap dan suara yang aneh pula sehingga ia tidak dapat memahaminya.

Sebagai istrinya, aku juga baru merasakan itu setelah Tella menyandang gelar sarjananya dan sering berdiskusi denganku. Tidak ada lagi tempat dalam diri Samuel yang dapat menerima sesuatu yang lain, di luar jalan yang ditempuhnya selama mi. Ia besar dan rnenjadi tokoh penting dalam sebuah bisnis milik bangsa. l.a ingin mewariskan kebesaran itu kepada anaknya. Tapi, anak im menyempal dan menggoyahkan kebesarannya.

Puncaknya adalah ketika organisasi kemasyarakatan tempat sang anak berkiprah menyebarkan hasil penelitian yang sangat mencemarkan nama baik bisnis yang ikut dikelolanya. Hasil penelitian ini disiarkan banyak media dan sangat memukulnya. Sebagai orang tua yang merasa sangat mengenal anaknya ia menyimpulkan, protes sang anak harus dihentikan dengan mengabulkan keinginannya. Sebuah kesimpulan yang ditarik dan penalaran sederhana.

“Bagaimana? Kamu setuju?” tanyanya kepada istrinya.

Istrinya menggeleng.

“Bukan aku yang harus memberikan persetujuan, tapi anakmu. Panggil Tella dan ajak berbicara.”

***

Begitu Tella muncul di ruang makan, ibunya menyapanya.

“Sudah ada kesepakatan?”

“Sudah,” jawab Tella ringan sambil tertawa.

Ibunya yang tidak menduga masalah rumit ini dapat dipecahkan dalam waktu singkat — hanya dengan pembicaraan setengah jam — tidak yakin pada pendengarannya. Tella memahami apa yang berkecamuk dalam benak ibunya.

“Semula Bapak didamprat habis-habisan oleh bosnya karena hasil penelitian yang disiarkan koran-koran itu. Satu jam setelah itu bosnya dimutasikan dan Bapak menggantikan kedudukannya. Minggu depan Bapak dilantik.”

Penjelasan itu ternyata masih membingungkan ibunya.

“Bapak telah membaca hasil penelitian kami. Sebagai orang kedua di perusahaan, ternyata Bapak tidak banyak tahu tentang sepak terjang atasannya. Hasil penelitian kami telah membuka mata Bapak. Mulai minggu depan Bapak menjadi orang pertama di sana. Bapak yang diberi tugas untuk membenahi perusahaan itu.”

Ibunya yang tidak menduga kisahnya akan menjadi seperti itu benar-benar terperanjat. “Akibatnya akan buruk buat Bapakmu. Isu akan menyebar bahwa kamu diperalat Bapakmu untuk merebut jabatan itu.”

“Kalau memang benar begitu, memangnya kenapa?” ujar Tella mengusik karena ingin tahu reaksi ibunya.

“Kenapa?” sahut ibunya membelalak. “Itu namanya licik, curang, selingkuh. Orang yang berbuat seperti itu tidak akan selamat seumur hidupnya.”

“Aku dan Tella tidak serendah itu,” ujar Samuel yang tiba-tiba masuk ke ruang makan. “Kalau itu tugasnya bulan depan ia sudah berangkat ke Amenika, karena ia sukses dan perlu mendapat imbalan. Tapi, anakmu tidak akan pergi bulan depan. Ia baru berangkat tiga tahun lagi, setelah program kerja yang mereka rumuskan dengan susah payah telah mereka laksanakan. Dan ia akan berangkat bukan dengan biaya yang kuberikan, tetapi karena ada tawaran dan sebuah yayasan pendidikan asing.”

Istri Samuel menatap Tella. Anak muda itu mengangguk. Samuel yang sebenarnya selama ini menyadari bagaimana penilaian istri dan anaknya terhadap dirinya menutup keraguan istrinya.

“Aku juga sudah bosan menjadi pesuruh. Sekarang aku ingin menyuruh.” (***)

~ oleh ~*~ pada 18 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: