Pengkhianat


Judul: Pengkhianat
Penulis: Titie Said
Diterbitkan: Harian Republika, 3 Maret 1996. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Wanita tua yang duduk bersedeku itu menundukkan kepalanya sampai rambutnya menyentuh lutut. Ia tak dapat menguasai pemberontakan air matanya, seperti air yang meluap dari kali Ciliwung dan menyebabkan banjir bandang Jakarta. Ia ingat suami, ipar, anak ketika ia membaca berita tentang kematian Hussein Kamel Hassan dan Saddam Kamel Hassan. Kematian Hussein dan Saddam oleh ‘orang luar’ dipercaya direkayasa oleh Saddam Hussein.

Hati keibuannya menjerit. Sebagai ibu ia pernah merasakan kepedihan seperti yang dialami oleh para wanita dari keluarga Hassan yang sekaligus kehilangan tiga anak lelaki dan suami. Empat tiang keluarga dalam waktu yang bersamaan hilang. Kematian bukanlah hal yang aneh, sebab tiap manusia akan mati. Kematian tidak menjadi puncak kesedihan. Ternyata duka paling dalam bagi seorang ibu adalah ketika anak yang dilahirkan dicap sebagai pengkhianat oleh bangsanya.

Ibu tua ini telah merasakan pahitnya kehilangan ketika suaminya gugur diberondong Belanda. Tragis, karena yang mengkhianati adalah adik terkecil suaminya. Bagaimana si kecil bisa pro Belanda? Mengapa tega menunjukkan di mana markas BKR? Imbalan apa yang diharapkan cuma keselamatan!

“Sungguh mati aku tidak tahu kalau Mas di desa itu,” iparnya bersumpah.

“Lagipula aku diancam akan disiksa oleh Nica. Aku bisa mati,” jelasnya lagi.

“Bisa,” ulang ibu itu dengan sinis. “Hampir mati saja kau sudah takut. Dan kau buka mulut. Kau seorang ko, koperator, tahu! Kau seorang hina. Ulahmu itu menyebabkan kakakmu sendiri mati. Kau akan dikutuk oleh rakyat selama hidup. Kau tak akan mendapat tempat di mana pun. Lebih-lebih di antara kita, orang non koperator, republiken tulen.”

Sebagai istri ia melanjutkan perjuangan suaminya, berjuang dalam barisan Palang Merah. Keempat anaknya (tiga kali melahirkan dan ada yang kembar) dititipkan pada ibunya. Ia muak mendengar adik iparnya sekolah di HBS di Surabaya, sekolah Belanda. Ia muak melihat pemuda itu enak-enak sekolah sedangkan pelajar lain bergabung dalam Tentara Pelajar Brigade 17.

Ketika pengakuan kedaulatan, ia memasuki kota bersama pejuang lainnya. Rakyat mengelu-elukan pahlawan dari medan laga. Ia melirik adik ipar yang berdiri di pinggir jalan menundukkan wajahnya. Tidak tahan di kota yang mengecapnya sebagai co adik itu pindah ke Jakarta kemudian melanjutkan kuliah di negeri Belanda. Setelah itu tidak ada beritanya sampai bertahun-tahun. Ya, bertahun-tahun itu ternyata telah menghapus kenangan pada pengkhianatan iparnya. Sepuluh tahun sejak pengakuan kedaulatan, adik ipar ini menjadi pejabat, semakin naik pangkat derajatnya. Sekali lagi ibu ini hanya menelan kepahitan hidup. Ia tak bisa lagi membedakan mana yang pejuang mana yang pengkhianat, sebab banyak penjuang yang hidupnya menderita sedangkan yang ikut Belanda mendapat kesempatan memegang jabatan. Hatinya memberontak, tapi apa daya?

Bagaimana pun Ibu ini konsekuen dan harus berjuang membesarkan empat anaknya. Angin kemerdekaan telah menghembus di dadanya, ia ingin memberikan pendidikan merdeka berpikir kepada ketiga anaknya. Anak-anaknya merdeka dan berhak memilih jalan kehidupannya.

Duka pertama kuhirup ketika anak pertama dalam usia 17 tahun, anak kebanggaan dan amat saleh. Ia bersahabat dengan seseorang yang kemudian ternyata pengikut Kartosuwiryo. Aku sudah menasihati anak-anakku untuk tidak ikut-ikutan politik, supaya ia belajar seperti pamannya yang pernah berkhianat dan kemudian menjadi pejabat. Tetapi darah ayahnya yang keras, kukuh dan kokoh mengalir deras di nadi anakku. Ia tak mendengar kataku. Ia ingin bebas dalam keyakinannya akan kebenaran pilihannya. Ia pergi ke daerah Jawa Barat. Dan tidak pernah kembali. Sebagai ibunya aku tahu bahwa anakku telah mati. Aku menyesal telah memberinya kebebasan memilih dan ternyata yang dipilihnya tidak benar. Aku pindah karena di daerah kecil ini semua orang tahu kalau aku adalah ibu dari anggota gerombolan DI/TII. Aku tidak tahan. Aku pindah ke Jakarta karena kota itu dapat menelan segala kepahitan yang pernah kualami dan manusianya tidak usil tentang riwayat seseorang. Walau satu kota tetapi aku tidak pernah menemui adik ipar yang sekarang semakin jaya.

Ibu tua itu membaca koran lagi. Ia bahkan mengkliping berita tentang kematian Letjen Hussein Kamal Hassan dan Kolonel Saddam Kamal Hassan. Kalau ia membaca berita itu selalu matanya basah, sebab ia mengalami hal yang sama: menjadi ibu pengkhianat. Sama dengan Hussein dan Saddam yang dianggap sebagai pengkhianat oleh bangsanya.

Kepedihan kedua, yang merupakan puncak kepedihan kualami ketika pemberontakan G30S PKI. Aku menyaksikan dua anak kembarku berdiri di kubu yang berlawanan. Yang satu ekstrim kiri dan satunya lagi menjadi anggota ABRI. Aku menjadi saksi ketika anakku – karena tugasnya – memburu kakaknya. Aku dapat merasakan ketika anakku yang ke dua mati.

Sebagai ibu aku merasa dadaku seperti dimartil dan tali jantungku putus.

Aku meratapi nasibku sebagai seorang ibu pengkhianat secara diam-diam. Aku menyembunyikan jati diriku. Aku harus melindungi kedua anakku. Kalau ketahuan bahwa saudaranya ikut pemberontak PKI, akan menggores mereka sebagai tak bersih lingkungan. Sebagai ibu aku merasa berdosa karena aku pernah bersyukur ketika anakku kedua meninggal dan tak ada makamnya sehingga aku tak perlu membawa kembang dan ‘nyekar’. Tetapi sebagai ibu aku wajib mendoakan arwahnya. Aku tak dapat mengingkari bahwa ia adalah anak yang lahir dari rahimku.

Tuhan rupanya memberikan penghibur dalam duka dan lara. Ketika menumpas gerombolan pengacau, anakku ketika gugur. Ia disambut sebagai pahlawan. Seluruh warga Jakarta mengantarkan jasadnya. Aku pun disanjung sebagai ibu pahlawan. Tetapi aku menangis, menangis dan menangis. Barangkali tangisku tak kalah derasnya dengan tangis keluarga Majid di Iraq, yang kehilangan dua putranya ketika mereka menghabisi Hussein dan Saddam. Walaupun keduanya disanjung sebagai pahlawan yang menebas akar pengkhianat dalam keluarga tetapi ibu mereka pasti menangis seperti diriku. Airmata darah seorang ibu yang kehilangan anak.

Aku tak dapat mengingkari bahwa dua anakku yang lahir dari rahimku menjadi pengkhianat. Pernah aku merasa beruntung ada anakku yang merelakan nyawa menjadi pembela Republik. Ah, mengapa aku mengatakan ‘untung’? Aku merasa berdosa karena terlepas mulutku mensyukuri hal ini. Aku menjadi ibu dengan dua wajah, ibu pengkhianat bangsa dan juga ibu pahlawan bangsa.

Pikiran ibu tua ini kembali melayang ke pinggir kota Bagdad. Ia dapat merasakan dua keluarga Hassan yang dicap sebagai pengkhianat oleh sebagian besar bangsnya sendiri. Ia pun ingat kisah mata-mata Amerika yang menjual rahasia negara kepada Rusia, sampai ia harus lari ke negeri tirai besi. Tetapi di sana di sebuah flat yang sederhana ia kesepian, merasa asing dan diasingkan dan rindu anak isteri. Akhirnya mata-mata ini kembali ke negerinya. Lebih baik hidup di penjara negeri sendiri. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri asing. Seorang pengkhianat tak pernah dihargai baik oleh anak bangsa yang dikhianati maupun yang menerima pengkhianatannya.

Kembali ibu tua ini menangis. Ternyata sumber airmatanya tak pernah kering. Ia menyesali diri karena secara langsung maupun tidak langsung sebagai ibu ternyata ia menjadi sumber mala petaka keluarga. Ia menyesal karena menebarkan kebebasan kepada anak-anaknya sehingga mereka merasa mempunyai hak untuk bebas memilih dan bertindak sesuai dengan hati nuraninya. Kini ia menuai badai dari keluarga yang terpecah belah dalam pandangan politik dan keyakinan. Hal ini mengalirkan duka yang amat dalam.

Sekarang pun ketika waktu mampu menghapus sebagian kepedihannya dan kedamaian merayapi hati, masih saja ada masalah keluarga. Anaknya yang terkecil membawa serta gejolak orang muda. Anak ini sering membantahnya. Apa yang dikatakan Paklik (adik ibu) yang menjadi pimpinan sebuah organisasi sebagai sukses hasil pembangunan selalu dicela oleh anaknya. Dua sudut pandang yang berbeda tetapi perbedaan ini justru disubur-suburkan sebab mereka berdiri di dua wawasan politik yang berbeda, walaupun dua-duanya mengatakan landasannya adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45.

Hidupku tidak tenteram. Aku ingin anakku yang cuma semata wayang ini diam saja. Bahkan aku pernah berpikir lebih baik anakku lumpuh sehingga aku bisa merawatnya dan mengasihinya tanpa takut kehilangan. Aku trauma telah kehilangan tiga anak lelaki. Tetapi anakku tertawa. Ia bilang bukankah dulu ibu yang mengobarkan kemandirian padaku? Yang menyuruh anak-anak merdeka memilih? O, Tuhan, mengapa semua ini berbalik padaku? Telah kutanamkan demokrasi secara tak tepat. Juga kebebasan yang melibas anak-anakku. Aku menyemai dan menuai badai dalam keluarga.

Adikku mengatakan semua ini adalah salahku. Ia mendidik anak-anaknya dengan tangan besi, ya kata dia ya pula kata anak-anaknya. Anak-anaknya menjadi anak yang penurut sekaligus penakut. Tetapi anak-anaknya selamat semuanya dan hidup normal.

Ibu tua ini terpuruk dalam duduknya yang semakin merunduk. Koran yang memuat berita kematian Hussein dan Saddam sampai basah. Ia membayangkan dua anak perempuan Presiden Saddam Hussein yang kini menjadi janda, karena minta cerai sebelum terjadi pembunuhan. Dibayangkan apa jawab dua ibu muda ini ketika anak-anaknya bertanya tentang ayahnya. Apakah mereka akan mengatakan ayahnya pengkhianat atau pahlawan? Bagaimana perasaan anak-anak itu ketika mengetahui bahwa ayahnya dicap pengkhianat?

Ah, mengapa aku memikirkan Raghda dan Rana serta keluarga Letnan Jenderal Hussein Kamal Hassan dan adiknya? Aku sudah pusing dengan keadaanku. Yang kutahu hanya sebuah kata: terlalu getir apabila menjadi ibu pengkhianat. Sebab seorang ibu tidak hanya ibu bagi anaknya tetapi harus menjadi ibu bangsa.

Ibu tua ini mengambil kliping koran kemudian membakarnya. Ia ingin kenangan pahitnya menjadi abu. Ia tidak mau mengingatnya lagi, walaupun ia menyadari tak bisa begitu saja menghapus bayang-bayang kehidupan. (***)

~ oleh ~*~ pada 25 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: