Pembisik


Judul: Pembisik
Penulis: Wisran Hadi
Diterbitkan: Harian Republika, 20 Februari 2000. Dimuat dalam buku Ahmadun Yosi Herfanda (ed) Pembisik. Penerbit: Republika, Jakarta, 2002

***

Keterlibatanku dalam dunia sandiwara dimulai dan berakhir sebagai pembisik. Membisiki dialog para aktor yang sedang bermain di panggung, sekiranya mereka lupa naskah agar sandiwara itu berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh sutradara. Sebab, banyak sekali aktor yang tidak setia pada naskah. Bukan karena mereka menolak dominasi sutradara, tetapi banyak di antara mereka yang lemah ingatan, tidak dapat menghafal dialog yang ada pada naskah dengan baik. Tetapi ada juga yang karena terlalu kreatif, mereka menciptakan dialog sendiri saat mereka lupa pada dialog sesungguhnya.

Sebagai pembisik aku selalu duduk di pojok, di wing pentas, di belakang layar. Dengan sebuah senter kecil aku ikuti semua dialog para pemain yang ada dalam naskah. Bila mereka lupa naskah, biasanya mereka pura-pura berjalan ke samping pentas, ke dekatku. Lalu aku membisikinya. Setelah itu mereka kembali berlakon sesuai dengan kata atau kalimat yang kubisikkan.

Menjadi pembisik memang tidak pernah terkenal. Yang selalu disanjung penonton adalah pemain yang tampak dan berakting di panggung. Tapi aku menyadari juga, memang tidak semua orang harus terkenal. Alasan begitu sebenarnya hanya untuk menentramkan hatiku sendiri, karena aku tidak mampu berakting seperti yang lain. Aku hanya mampu sebagai pembisik. Apalagi ketika aku dipuji-puji sutradara, bahwa aku adalah penyimak teks yang sangat teliti. Kenyataannya memang, kalau tidak ada pembisik para pemain atau sutradara akan selalu dikurung kecemasan. Mereka takut kalau-kalau pertunjukan tidak lancar. Betapa konyol sebuah pertunjukan, bila para pemain lupa naskah. Lalu, apa yang akan diucapkannya?

Sebelum pertunjukan, biasanya aku ditraktir sutradara minum kopi dan dipuji-puji tapi selesai pertunjukan, jangankan ditraktir menyalami aku pun mereka sering lupa. Dan segi itu memang malang menjadi seorang pembisik. Tapi dan segi lain, aku justru yang paling banyak mendapat rezeki. Aku dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pemain-pemain wanita, biasanya pemain-pemain pembantu dan cantik-cantik, yang sedang menunggu giliran muncul biasanya mereka berdiri di samping pentas sambil memperhatikan permainan yang sedang herlangsung. Mereka tidak peduli berdiri berdempet-dempet. Aku sering kebagian dempetan itu. Bahkan lebih rapat lagi. Apalagi kalau sayap panggung pertunjukan itu sempit sekali. Siapa pun tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya kalau seorang pembisik seperti aku berdiri berdempetan dengan gadis-gadis pemain begitu rapat dan begitu lama. Apalagi hari malam dan gelap gulita pula. Aku sering ganti celana bila sampai pondokan setelah pertunjukan.

Yang menjengkelkan sebagai pembisik bila membisiki pemain yang tidak setia pada naskah. Sewaktu latihan dia begitu setianya pada naskah. Tapi dalam pertunjukan dia bicara semaunya. Mereka memperlihatkan kehebatannya di luar kontrol sutradara. Sebab mereka menyadari, tidak mungkin sutradara akan menstop seorang pemain bicara dalam sebuah pertunjukan yang sedang berlangsung. Bila sudah demikian, aku tidak dapat lagi menyimak naskah dan mengikuti apa yang dikatakannya. Aku jengkel dengan pemain-pemain seperti itu. Dengan alasan kreativitas, mereka mengubah naskah semaunya. Tapi kalau sudah kehabisan kata, mereka mendekatiku minta dibisiki.

Dalam keadaan terdesak seperti itu, aku sengaja mempergunakannya dengan baik melepas sakit hatiku pada mereka. Ketikan Leon berperan sebagai Nimrod, seorang penguasa dunia yang berlagak ingin menandingi Tuhan, dia bicara sesuka hatinya. Aku bingung. Namun ketika dia lupa teks dan seharusnya mengucapkan: “Hai, spada! Di manakah Tuhan?” dia mendekatiku minta dibisiki. Inilah kesempatan bagiku. Kubisiki, “Hai, Tuhan. Bukankah kau setan?” Leon tak sempat lagi berpikir karena dia sudah gugup karena lupa naskah. Kata itu diucapkannya dengan lantang. Penontot kaget dan gelisah. Bahkan ada yang berteriak memprotes, menyamakan Tuhan dengan setan. Cerita jadi berubah karena pemain lain juga bingung mendapat protes tiba-tiba dari penonton.

Ketika pertunjukan selesai, aku dimaki sutradara. Dikatakannya aku telah menjerumuskannya. Aku dituduk sebagai pemutar balik cerita dan musuh kesenian. “Dalam ketentaraan kau disebut desersi. Hukumannya hanya satu, termbak mati!” kata sutradara. “Penonton kita sekarang bukan orang bodoh lagi. Mereka tahu kata-kata yang masuk akal dan yang tidak,” lanjut sutradara itu lagi.

Sebaliknya Leon dan para pemain lainnya memuji-mujiku. “Kau hebat!” kata Leon dengan bangga. “Bisikan yang salah itu telah membuat aku menemukan permintaanku yang sesungguhnya,” lanjutnya lagi.

“Memang aku tidak berniat sama sekali menjerumuskan siapa pun,” kataku pelan. Dalam hati aku berkata sendiri; “Mampuslah kau! Kau selalu tidak mengacuhkanku. Menghinaku. Kini rasakan, aku robah kalimat-kalimatmu. Aku plesetkan dialogmu.”

Ketika akan mementaskan drama Tuanku Imam Bonjol, aku dibujuk lagi untuk jadi pembisik oleh sutradara. Celakanya, aku juga suka dibujuk seperti itu. Mulanya aku pura-pura menolak, tapi sutradara mengatakan kepadaku bahwa aku harus jadi pembisik.

“Kalau sempat posisi itu diambil orang lain, aku tidak tahu apa yang akan mereka bisikkan pada pemain-pemain kita. Mungkin pertunjukan bisa kacau.”

“Tapi aku tidak dipercaya lagi sebagai pembisik.”

“Siapa bilang? Ah kau! Kau jangan ikut-ikutan sentimentil seperti aktor-aktor yang banyak itu. Kau pembisik, kawan! Hanya kau yang akan dapat menentukan apa yang akan dikatakan seorang aktor. E, Bung! Semakin hebat scorang aktor, semakin dia tergantung pada pembisik. Ingat kawan, tidak semua orang yang mampu jadi pembisik. Secara filosofis, pembisik itu penyampai suara Tuhan! Ah, kau.”

Empat hari lamanya sutradara itu meyakinkanku betapa pentingnya seorang pembisik terutama dalam pertunjukan yang akan datang. Sebuah pertunjukan kolosal, melibatkan banyak pemain dan figuran. Pertunjukan akan berdarah-darah. Kisah tentang Perang Paderi. Perang saudara, perang antarsuku dan antaragama. Perang antara pribumi penganut Islam dengan penjajah yang beragama Kristen.

“Kau kan tahu, bagaimana kesulitan Tuanku Imam ketika dia harus memilih kata apakah perang Paderi itu sebuah perang saudara atau perang antaragama? Kau bisa bayangkan kawan, bila Leo, aktor kita yang memerankan Tuanku Imam itu tidak dibisiki. Dia terlalu kreatif. Dia suka bicara semaunya. Sementara naskah menuntut agar dia tetap setia pada teks. Kesalahan membaca teks sama dengan kesalahan mengungkapkan data. Jika dia tidak dibisiki, perang Paderi itu pasti akan berubah bentuk menjadi perang kemerdekaan. Padahal waktu itu belum ada niat sama sekali untuk merdeka secara sendiri-sendiri.”

Memang harus diakui, Leon yang akan memerankan Tuanku Imam Bonjol itu seorang pemain yang berbakat tapi suka uring-uringan. Kalau soal akting, wibawa, ya bolehlah. Tapi kebiasaanya memplesetkan teks, lupa, tidak suka dengan kalimat yang ada dalam naskah lalu digantinya dengan kalimatnya sendiri, sering membuat latihan jadi kacau. Di dalam naskah jelas-jelas tertulis; “Kita harus mencari penyelesaian terhadap perselisihan paham antara masyarakat Lubuk Sikaping dengan masyarakat Agam yang sudah hampir satu setengah tahun berjalan dan memakan korban banyak sekali,” tapi Leon mempersingkatnya dengan nada suatu yang penuh irama dan wibawa; “Urusan orang Lubuk Sikaping dan orang Agam harus diselesaikan oleh mereka sendiri.”

Gila! Sutradara mana pun pasti akan marah. Tapi sutradara yang sedang menangani persiapan pementasan itu hanya diam saja. Dia takut, kalau-kalau Leon yang uring-uringan itu menarik diri sementara jadwal pertunjukan ke Jakarta sudah semakin dekat.

“Coba bayangkan Bung. Sekiranya hal seperti itu dilakukannya sewaktu pertunjukan berlangsung,” kata sutradara menarik napas panjang setelah selesai latihan yang kacau itu padaku.

“Tapi apakah ada jaminan kalau aku akan membisiki secara jujur dan sesuai dengan teks naskah?”

“Aku percaya padamu. Itulah sebabnya kau kupercaya sebagai pembisik. Tugasmu hanya satu. Membisiki Tuanku Imam. Yang lain tak perlu dibisiki karena mereka harus mengikuti apa yang dimainkan Tuanku Imam.”

Pertunjukan pun berlangsung. Aku sudah siap menjadi pembisik. Aku tidak akan mau seperti membisiki Leon seperti dulu lagi. Aku sudah berjanji untuk jujur sebagai pembisik. Dengan senter kecil bersinar merah, aku duduk di balik layar merah yang membatasi korsi singgasana Tuanku Imam dengan benteng Bonjol yang terkenal ampuh dan tangguh itu.

Huru-hara terjadi. Tembakan-tembakan bertubi-tubi, siang dan malam. Teriakan-teriakan, gemerincing suara pedang beradu, tombak melayang-layang melintasi panggung sejarah, jerit dan rintihan bertahan para suhada yang dibantai tentara penjajah, pidato-pidato berapi-api dan berbagai tokoh, pengkhianat dan provokator. Asap mengepul membumbung tinggi. Berpuluh masjid, surau dan sekolah-sekolah agama dibakar. Ribuan jenazah tergeletak. Ketika jenazah-jenazah itu diusung ke luar untuk dimakamkan, semua orang menangis.

Leon yang memerankan Tuanku Imam benar-benar aktor sialan! Dia juga ikut terharu dengan adegan itu. Semestinya dia harus berdiri di atas benteng Bonjol menyaksikan dengan tegar dan semangat membara atas tragedi yang telah menimpa rakyatnya, memberi komando jihad dan menghancurkan musuh. Dia harus memperlihatkan sosok sebagai pahlawan Indonesia sejati. Tanpa mengenal air mata dan sentuhan hati! Tapi Leon, Leon. Dia ikut menangis ketika semua penontot tersedu menyaksikan pembantaian dan pembunuhan para pejuang oleh penjajah tanpa mengenal belas kasihan. Kemudian Leon maju ke depan prosenium dan berbisik dengan suara serak; “Jangan sedih. Yang terbunuh hanya lima orang.”

Gerr! Gedung pertunjukan meledak oleh tawa penonton yang tiba-tiba. Leon gugup kenapa tiba-tiba penonton tertawa, padahal bagian itu adalah bagian yang memilukan.

Selesai pertunjukan aku kembali dimaki sutradara. “Kau telah menghancurkan data sejarah! Did alam naskah yang terbunuh itu tiga ribu orang! Tiga ribu! Kau bisikkan pada Leon hanya lima orang! Gila! Kau musuh sejarah, musuh kesenian,” katanya dengan suara melengking.

Aku sakit hati dengan tuduhan itu. Padahal aku tidak membisiki apa-apa padanya. Sejak Leon berperan menjadi Tuanku Imam, dia tidak peduli denganku. Dia maju ke prosenium, artinya dia tidak lupa naskah. Kalau lupa, pasti dida mendekatku, ke pinggir pentas. Aku harus membalas makian sutradara itu pada sang Tuanku Imam.

“E, Bung! Akuk kan tidak pernah membisikimu berapa orang yang terbunuh. Kenapa kau ucapkan yang terbunuh hanya lima orang. Padahal yang mati tiga ribu! Sutradara memaki aku karena kesalahanmu. Aku tidak suka memikul dosa orang lain, bung! Kau harus klarifikasikan persoalan ini dengan sutradara!”

“Yang diusung ke luar pentas waktu pertunjukan tadi benar lima orang kan?”

“lya! Tapi kenyataan yang sesungguhnya tiga ribu! Yang lima itu hanya simbol! Masa kau tidak tahu simbol?”

“Tunggu. Apa iya aku bilang lima orang?”

“Jadi, kau tidak sadar waktu mengucapkan bilangan itu?”

Tuanku diam. Ditolakkannya gagang kacamata yang melorot di pipinya ke atas dengan punggung tangannya.

“Tenang saja, Bung,” katanya setelah lama diam. “Apa bedanya bila kusebut lima, sepuluh, seratus, atau berapa saja. Toh angka-angka yang mati itu tidak akan dapat mengubah jumlah sesungguhnya,” lanjutnya.

“Lalu, menurut pemahamanmu, berapa jumlah yang sesungguhnya itu?”

“Menurut teks dalam naskah kan tiga ribu. Ya sebanyak itu.”

“Lalu, kenapa kau ucapkan lima orang!”

“Waktu itu aku lupa, Bung. Lalu aku dibisiki — Jangan sedih. Yang mati hanya lima orang! — Aku harus mengucapkan kata itu, sebab aku sedang dalam terharu berat.”

“Dibisiki? Siapa yang membisikimu? Kan aku satu-satunya yang jadi pembisik.”

“Ah masa,” jawab Tuanku ringan. “Ada pembisik lain, tapi kau tidak tahu.”

“Siapa yang mengangkat pembisik lain? Sutradara?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku. Aku kan juga punya banyak pembisik, Bung!”

Aku pulang tanpa menoleh lagi. Sepanjang jalan aku menyumpah-nyumpah. Ternyata pertunjukan yang berdarah-darah itu sudah tidak terkendali lagi. Sutradara menunjukku sebagai pembisik. Ternyata diam-diam Tuanku Imam telah menunjuk beberapa orang pembisik lain tanpa
sepengetahuan sutradara dan tidak memberitahukan pula kepadaku. Ada pembisik lain yang lebih dipercaya Tuanku Imam daripada aku.

Sejak malam itu aku berhenti jadi pembisik, sementara Tuanku Imam terus mengadakan pertunjukan ke mana-mana.

“Selamat jalan sandiwara,” bisikku ketika kulihat Tuanku melambaikan tangan dan balik kaca buram bus yang berangkat membawa mereka ke gedung-gedung pertunjukan lain.

“Kami keliling dunia, Bung!” seru sang Tuanku. (***)

~ oleh ~*~ pada 8 November 2009.

2 Tanggapan to “Pembisik”

  1. Hebat, nggak perlu ke Gramedia nih kalau di sini ada semua🙂

  2. aku di kampung. jauh dari kota, jauh dari toko buku. Dan enggak bisa lama-lama online karena alasan finasial. Mohon ijinnya saya copy untuk keperluan sendiri dan murid-murid saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: